Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

5 Juni 2026 | 13:02

Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar

4 Juni 2026 | 07:27

HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa

3 Juni 2026 | 05:22
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara
  • Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar
  • HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa
  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?
  • Komunitas Supermoto Makassar Jelajahi Wisata Ikonik Sulsel
  • Inovasi Gigabyte Computex 2026: Era Baru Teknologi AI
  • HP Gaming Terbaik 2026: 6 Pilihan Performa Monster Rp2 Jutaan
  • Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota
Kamis, Juli 2
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » Asal-usul Hajar Aswad secara Ilmiah: Benarkah dari Meteorit?
Berita Tekno

Asal-usul Hajar Aswad secara Ilmiah: Benarkah dari Meteorit?

Ana OctarinAna Octarin18 Mei 2026 | 06:55
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Asal-usul Hajar Aswad secara ilmiah
Asal-usul Hajar Aswad secara ilmiah (Foto: www.cnbcindonesia.com)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Asal-usul Hajar Aswad secara ilmiah terus menjadi topik diskusi yang menarik di kalangan peneliti internasional dan arkeolog. Sebagai batu yang menempati posisi paling sakral di sudut Ka’bah, Hajar Aswad tidak hanya menjadi simbol spiritualitas bagi umat Islam, tetapi juga objek observasi bagi para pakar geologi. Selama berabad-abad, banyak orang bertanya-tanya apakah batuan berwarna hitam pekat ini merupakan material asli bumi atau benda yang jatuh dari langit.

Berbagai studi mencoba membedah karakteristik fisik dan kimiawi dari batu tersebut. Secara visual, Hajar Aswad memiliki tekstur yang unik dengan permukaan yang tampak seperti fragmen-fragmen batuan yang disatukan oleh bingkai perak. Para ilmuwan mencoba mencocokkan ciri-ciri ini dengan berbagai jenis batuan yang ada di alam semesta, mulai dari batuan vulkanik hingga objek antariksa.

Teori Meteorit dan Asal-usul Hajar Aswad secara Ilmiah

Salah satu teori yang paling populer mengenai Asal-usul Hajar Aswad secara ilmiah adalah hipotesis meteorit. Teori ini menguat karena adanya kesesuaian antara narasi sejarah dan bukti-bukti geologis di wilayah Jazirah Arab. Dalam literatur Islam, batu ini disebut berasal dari surga, yang dalam bahasa sains sering kali diterjemahkan sebagai benda jatuh dari luar angkasa.

Baca Juga

  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara
  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Advertisement

Pada tahun 1980, seorang peneliti bernama E. Thomsen menerbitkan studi berjudul “New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka’ba”. Thomsen menyoroti penemuan penting oleh Harry St John Philby pada tahun 1932. Saat itu, Philby menemukan sebuah lokasi kawah tumbukan meteorit di wilayah Al-Hadidah, Gurun Rub’ al Khali, Arab Saudi. Lokasi ini kemudian dikenal dengan nama Kawah Wabar.

Penelitian di Kawah Wabar memberikan petunjuk signifikan. Kawah tersebut memiliki diameter lebih dari 100 meter dan menyimpan banyak pecahan material kaca yang terbentuk akibat suhu ekstrem saat meteorit menghantam pasir gurun. Proses ini menciptakan lelehan silika yang bercampur dengan logam nikel dan besi, menghasilkan batuan hitam yang memiliki karakteristik sangat mirip dengan deskripsi fisik Hajar Aswad.

Analisis Material: Nikel dan Silika

Para ahli geologi menjelaskan bahwa benturan meteorit dengan kecepatan tinggi dapat menghasilkan energi panas yang luar biasa. Panas ini mampu melelehkan pasir di sekitar lokasi tumbukan hingga menjadi kaca berwarna gelap. Thomsen mencatat bahwa pecahan dari Kawah Wabar memiliki lapisan dalam yang berwarna putih, namun terbungkus oleh cangkang luar yang berwarna hitam mengkilap akibat oksidasi nikel dan besi.

Baca Juga

  • Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota
  • Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Advertisement

Fakta ini seolah memberikan penjelasan logis terhadap riwayat yang menyebutkan bahwa Hajar Aswad awalnya berwarna putih. Secara kimiawi, kandungan nikel yang tinggi dalam meteorit memang dapat menyebabkan perubahan warna pada permukaan batu seiring berjalannya waktu dan interaksi dengan lingkungan. Hal inilah yang memperkuat argumen mengenai Asal-usul Hajar Aswad secara ilmiah sebagai fragmen dari peristiwa kosmik di masa lampau.

Selain itu, bintik-bintik putih yang masih terlihat pada permukaan Hajar Aswad saat ini diduga merupakan sisa-sisa kaca atau kristal pasir yang tidak meleleh sempurna saat proses pembentukan batuan tersebut. Para peneliti meyakini bahwa struktur granular ini sangat identik dengan spesimen yang ditemukan di situs-situs jatuhnya meteorit di berbagai belahan dunia.

Tantangan dan Teori Alternatif

Meskipun teori meteorit sangat kuat, Asal-usul Hajar Aswad secara ilmiah tetap menghadapi beberapa tantangan pembuktian. Beberapa ilmuwan meragukan teori meteorit karena karakteristik fisik tertentu. Sebagai contoh, sebagian besar meteorit memiliki massa jenis yang sangat berat sehingga tidak mungkin mengapung di air. Namun, dalam beberapa catatan sejarah, Hajar Aswad pernah disebut memiliki kemampuan untuk mengapung.

Baca Juga

  • Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!
  • Potensi Gempa Besar Ciremai Terlacak dari Struktur Tanah Terbalik

Advertisement

Karakteristik ini memunculkan teori alternatif. Beberapa pakar berpendapat bahwa batu tersebut mungkin merupakan jenis batu kaca yang disebut tektite atau bahkan batu obsidian (batuan vulkanik). Batuan obsidian memiliki sifat yang ringan, keras, dan berwarna hitam mengkilap. Namun, lokasi Makkah yang secara geologis bukan merupakan wilayah aktif vulkanik membuat teori obsidian ini sulit diterima tanpa adanya bukti transportasi batuan dari wilayah lain.

  • Meteorit: Didukung oleh penemuan Kawah Wabar dan kandungan nikel.
  • Tektite: Batuan kaca yang terbentuk dari dampak meteorit, menjelaskan tekstur pecahannya.
  • Obsidian: Batuan vulkanik yang menjelaskan warna hitam, namun kurang didukung data lokasi geologis.
  • Batu Sedimen: Teori yang paling lemah karena tidak menjelaskan kilau dan kekerasan batu.

Selain aspek material, peneliti juga menyoroti usia batuan tersebut. Berdasarkan analisis stratigrafi di sekitar wilayah Arab, batu tersebut diperkirakan sudah ada dan dikenal oleh masyarakat Arab kuno jauh sebelum era kenabian. Ada kemungkinan besar batu ini dibawa dari wilayah Oman atau bagian dalam gurun menuju Makkah sebagai benda yang sangat berharga pada masa itu.

Signifikansi Sejarah dan Sains

Memahami Asal-usul Hajar Aswad secara ilmiah bukan bertujuan untuk mendiskreditkan nilai religiusnya. Sebaliknya, kajian sains justru memberikan dimensi baru dalam menghargai keajaiban alam yang tersimpan di balik sejarah Islam. Integrasi antara data arkeologi dan teks-teks sejarah membantu kita menyusun kepingan puzzle mengenai bagaimana batu ini menjadi pusat perhatian jutaan manusia selama ribuan tahun.

Baca Juga

  • Pekerja Penutup Pintu Taksi Otonom Raup Ratusan Ribu
  • Penyebab Manusia Jarang Kidal Menurut Penelitian Terbaru

Advertisement

Hingga saat ini, Hajar Aswad tetap terlindungi dengan baik di sudut tenggara Ka’bah. Meskipun para ilmuwan belum diizinkan untuk mengambil sampel secara invasif demi menjaga keutuhan batu, kemajuan teknologi pemindaian non-destruktif di masa depan mungkin akan memberikan jawaban yang lebih pasti. Untuk saat ini, teori kawah meteorit Wabar tetap menjadi penjelasan yang paling mendekati kebenaran ilmiah.

Sebagai penutup, pencarian mengenai Asal-usul Hajar Aswad secara ilmiah membuktikan bahwa agama dan sains sering kali berjalan beriringan. Fenomena alam yang luar biasa, seperti jatuhnya meteorit, sering kali menjadi bagian dari narasi besar sejarah manusia yang penuh makna. Terlepas dari apakah batu ini murni berasal dari luar angkasa atau hasil proses geologi bumi yang langka, keberadaannya tetap menjadi bukti nyata keagungan sejarah yang melampaui batas waktu.

Baca Juga

  • Penyelundupan Chip AI Nvidia ke China Diselidiki Taiwan
  • Krisis Chip Smartphone Global Bikin Penjualan HP Anjlok

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Arkeologi Islam Hajar Aswad Meteorit Sains Sejarah Makkah
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleDampak Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Bagi Sektor Otomotif
Next Article Tablet OPPO Pad Air: Layar 2K dan Performa Handal Harga 3 Jutaan
Ana Octarin
  • Website

Ana Octarin adalah seorang Penulis Berita yang fokus pada teknologi, otomotif, serta tips dan trik seputar kehidupan digital. Dengan gaya bahasa yang lugas, informatif, dan mudah dipahami, Ana mampu menghadirkan konten yang tidak hanya relevan tetapi juga bermanfaat bagi pembaca. Berbekal pengalaman dalam menulis artikel SEO-friendly, Ana konsisten menyajikan berita terkini, ulasan mendalam, hingga panduan praktis yang membantu audiens tetap update dan melek teknologi.

Artikel Terkait

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37

Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!

Iphan S2 Juni 2026 | 19:37

Potensi Gempa Besar Ciremai Terlacak dari Struktur Tanah Terbalik

Ana Octarin2 Juni 2026 | 16:37
Pilihan Redaksi
Aplikasi

7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Olin Sianturi1 Februari 2026 | 00:59

Persaingan di dunia konten digital semakin memanas. Khususnya di TikTok, platform video pendek yang kini…

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

5 Juni 2026 | 13:02

Cara Pakai WhatsApp di Garmin, Balas Chat Tanpa Smartphone

26 Maret 2026 | 23:39

5 Fakta Mengejutkan Sarang Penipu Online Myanmar Dibongkar

26 November 2025 | 11:38

Cara Pasang Cat Gatekeeper untuk Berhenti Scrolling di Chrome

30 April 2026 | 08:55
Terbaru

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37

Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!

Iphan S2 Juni 2026 | 19:37
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.