- Alexandria, Mesir: Sebagai hub perdagangan penting, kota ini terancam kehilangan 30% wilayahnya pada 2050. Dampaknya dapat memicu pengungsian massal hingga 1,5 juta orang di Delta Nil.
- Miami, Amerika Serikat: Dengan ketinggian hanya 6 kaki di atas permukaan laut, sekitar 60% wilayah Miami diprediksi akan terendam pada 2060. Pembangunan gedung mewah di pesisir justru memperburuk beban tanah.
- Lagos, Nigeria: Kota terbesar di Afrika ini mengalami penurunan tanah lebih dari 3 inci per tahun, yang sering mengakibatkan banjir bandang saat musim hujan.
- Dhaka, Bangladesh: Ibu kota ini tenggelam sekitar setengah inci setiap tahun akibat perubahan iklim dan kenaikan air laut di Teluk Benggala.
- Yangon, Myanmar: Selain ancaman air laut, posisi kota yang dekat dengan sesar Sagaing membuat risiko bencana ganda jika terjadi gempa bumi yang merusak sumur air tanah.
Fenomena kota besar terancam tenggelam juga menghantui Bangkok, Thailand. Kota ini memiliki struktur tanah yang lunak dan berada sangat dekat dengan permukaan laut. Upaya pembangunan tanggul raksasa terus dilakukan, namun banyak ahli meragukan efektivitas jangka panjangnya jika suhu bumi terus meningkat dan es kutub terus mencair tanpa henti.
Dampak Ekonomi dan Sosial Global
Tenggelamnya pusat-pusat kota ini bukan hanya masalah lingkungan, melainkan bencana ekonomi global. Miami, misalnya, diprediksi akan menjadi pusat bencana finansial terbesar jika properti bernilai miliaran dolar di pinggir pantai tidak lagi bisa dihuni. Hal yang sama berlaku untuk wilayah Megalopolis Guangdong di China, yang menjadi jantung manufaktur dunia.
Baca Juga :
Migrasi iklim akan menjadi isu kemanusiaan terbesar di abad ini. Jutaan orang akan terpaksa mencari tempat tinggal baru di wilayah yang lebih tinggi, yang berpotensi memicu konflik sosial dan tekanan ekonomi di daerah tujuan pengungsian. Oleh karena itu, kesadaran bahwa banyak kota besar terancam tenggelam harus diikuti dengan kebijakan energi hijau yang lebih agresif.
Pengurangan emisi karbon dan penghentian penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap adalah kunci utama untuk memperlambat laju pencairan gletser. Jika suhu global berhasil ditekan di bawah ambang batas 1,5 derajat Celcius, harapan untuk menyelamatkan kota-kota bersejarah ini masih tetap ada.
Pada akhirnya, laporan NASA ini merupakan alarm bagi seluruh pemimpin dunia untuk segera bertindak. Kenaikan permukaan laut tidak akan menunggu kesiapan manusia untuk berubah. Adaptasi infrastruktur dan perlindungan ekosistem pesisir seperti hutan bakau menjadi langkah darurat yang harus segera diambil demi masa depan kota besar terancam tenggelam di seluruh dunia.