Namun, jalan menuju puncak industri internet luar angkasa tidaklah mudah. Amazon saat ini masih tertinggal cukup jauh di belakang Starlink milik Elon Musk. Hingga saat ini, Starlink telah berhasil meluncurkan lebih dari 10.000 satelit ke orbit rendah bumi (LEO) dan melayani lebih dari 9 juta pengguna aktif di berbagai negara. Sebaliknya, Amazon baru meluncurkan sekitar 240 satelit sebagai bagian dari tahap uji coba mereka.
Tantangan Melawan Dominasi SpaceX dan Starlink
Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, Amazon tidak main-main dalam urusan peluncuran. Mereka telah menjalin kerja sama dengan United Launch Alliance (ULA) dan bahkan secara mengejutkan menyewa jasa SpaceX, pesaing utamanya, untuk membantu mengirimkan satelit-satelit Kuiper ke orbit. Meski terlihat kontradiktif, hal ini menunjukkan betapa mendesaknya strategi satelit internet Amazon untuk segera mengudara demi mengamankan pangsa pasar yang kian menyempit.
Baca Juga :
Layanan internet satelit Amazon nantinya akan menawarkan terminal berbentuk persegi yang diklaim memiliki latensi rendah dan kecepatan tinggi. Fokus utamanya adalah memberikan solusi bagi masyarakat di daerah pedesaan, sektor korporasi yang membutuhkan koneksi stabil di tengah laut atau hutan, hingga instansi pemerintah. Dengan modal finansial yang hampir tak terbatas, Amazon memiliki napas panjang untuk terus melakukan inovasi hingga layanannya benar-benar siap menantang Starlink secara langsung pada akhir dekade ini.
Pada akhirnya, keberhasilan strategi satelit internet Amazon akan sangat bergantung pada seberapa cepat mereka mampu melakukan skalabilitas produksi dan peluncuran satelit. Akuisisi Globalstar senilai Rp181 triliun ini hanyalah langkah awal dari perang teknologi di ruang angkasa yang akan semakin memanas dalam beberapa tahun ke depan. Persaingan ini tentu menguntungkan konsumen, karena pilihan akses internet global akan semakin beragam dengan harga yang lebih kompetitif.