Technonesia - Ancaman kejahatan siber memasuki fase baru. Kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan produktif, tetapi juga mempercepat berbagai tahapan serangan yang dilakukan peretas di kawasan Asia Pasifik.
Berdasarkan edisi ketujuh 2026 Cyber Threat Landscape Report dari Ensign InfoSecurity, AI dimanfaatkan pelaku untuk mempercepat proses pengintaian, pemindaian kerentanan, hingga membuat umpan phishing yang semakin meyakinkan.
Perubahan tersebut turut mendorong pergeseran pola serangan siber di kawasan regional. Bahkan, aktivitas ransomware di ASEAN menunjukkan peningkatan yang signifikan sepanjang 2025.
Baca Juga :
Ransomware Berbasis AI Melonjak di ASEAN
Aktivitas ransomware di kawasan ASEAN meningkat dua kali lipat sepanjang 2025. Serangan tersebut didominasi oleh 18 kelompok peretas utama.
Tidak berhenti di ASEAN, kawasan Australasia dan Asia Timur juga mencatat lonjakan aktivitas ransomware masing-masing lebih dari 600% dan 400%.
Di saat yang sama, pola kejahatan siber juga mulai berubah. Pelaku kini lebih memprioritaskan pencurian data dibandingkan hanya mengunci atau mengenkripsi sistem korban.
Baca Juga :
Artinya, ancaman tidak lagi berhenti ketika sebuah sistem berhasil dikunci. Data yang berhasil dicuri justru menjadi sasaran penting dalam aktivitas serangan tersebut.
Serangan Siber Indonesia Tembus 5,5 Miliar Aktivitas
Indonesia juga menghadapi ancaman yang tidak kalah serius. Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat sebanyak 5,5 miliar aktivitas serangan siber sepanjang 2025.
Angka tersebut melonjak lebih dari tujuh kali lipat dibandingkan rata-rata tahunan pada periode 2020–2024.
Baca Juga :
Sementara itu, ancaman digital tidak hanya berasal dari ransomware atau serangan terhadap sistem. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan total kerugian masyarakat akibat penipuan digital telah mencapai Rp7,5 triliun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman siber dapat berdampak langsung terhadap masyarakat, selain menyasar organisasi dan infrastruktur digital.
Hacktivisme Sasar Infrastruktur Penting
Perubahan pola serangan juga terlihat dari aktivitas hacktivisme. ASEAN mencatat tingkat hacktivisme tertinggi sebesar 19,1%.
Baca Juga :
Targetnya pun semakin luas. Serangan tidak hanya menyasar sektor pemerintah, tetapi juga infrastruktur penting seperti energi, transportasi, telekomunikasi, dan perbankan.
Dengan demikian, meluasnya target menunjukkan bahwa perlindungan keamanan siber perlu mencakup lebih banyak aset yang terhubung ke internet.
AI Membuat Pertahanan Siber Harus Lebih Cepat
Head of Consulting PT Ensign InfoSecurity Indonesia, Adithya Nugraputra, mengingatkan bahwa kemampuan AI berkembang dengan sangat cepat. Siklus pembaruan kemampuannya berlangsung sekitar dua bulan sekali.
Baca Juga :
“Organisasi tidak dapat lagi mengandalkan kontrol keamanan yang statis. Penting untuk memprioritaskan pemindaian dan penerapan patch pada aset yang terhubung ke internet, serta menguji pertahanan secara berkala terhadap model AI terbaru,” tegas Adithya, di Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Karena itu, perkembangan AI membuat organisasi perlu menyesuaikan strategi keamanan secara berkala. Pemindaian aset yang terhubung ke internet, penerapan patch, serta pengujian pertahanan menjadi bagian penting untuk menghadapi perubahan ancaman siber yang berlangsung cepat.