Technonesia - Performa smartphone flagship kini tidak lagi ditentukan hanya oleh angka clock speed atau jumlah inti CPU. Justru, cara setiap inti bekerja dan bagaimana prosesor membagi beban menjadi semakin penting.
MediaTek menjadi salah satu produsen chipset yang berani mengambil jalur berbeda lewat desain Dimensity All Big Core. Pendekatan ini mulai diperkenalkan ke kelas flagship melalui Dimensity 9300, lalu dikembangkan pada Dimensity 9400 hingga generasi terbaru, Dimensity 9500.
Sekilas, konsep tersebut terdengar sederhana: semua inti CPU yang digunakan memiliki orientasi performa. Namun, di balik istilah All Big Core terdapat strategi arsitektur yang cukup menarik.
Baca Juga :
Pasalnya, MediaTek tidak sekadar memasukkan inti CPU berperforma tinggi sebanyak mungkin. Setiap inti tetap memiliki kemampuan dan karakter berbeda, kemudian sistem mengatur penggunaannya sesuai kebutuhan.
Hasilnya, chipset tidak hanya dituntut kencang ketika membuka aplikasi atau menjalankan benchmark, tetapi juga harus mampu mempertahankan performa ketika digunakan untuk gaming, multitasking, pemrosesan kamera, hingga fitur berbasis AI.
Lantas, mengapa pendekatan ini begitu menarik untuk smartphone flagship?
Baca Juga :
Apa Itu Dimensity All Big Core?
Secara sederhana, Dimensity All Big Core adalah pendekatan desain CPU yang mengandalkan inti-inti berorientasi performa, bukan konfigurasi konvensional yang mencampurkan inti performa tinggi dengan inti kecil yang fokus pada efisiensi daya.
Pada desain tradisional, prosesor smartphone biasanya memiliki beberapa jenis inti. Inti performa digunakan ketika smartphone membutuhkan tenaga besar, sedangkan inti efisiensi menangani pekerjaan yang lebih ringan untuk membantu menghemat baterai.
MediaTek mengambil pendekatan berbeda. Pada keluarga Dimensity flagship, perusahaan menggunakan lebih banyak inti berkemampuan tinggi sehingga prosesor memiliki lebih banyak pilihan ketika harus menangani pekerjaan berat.
Baca Juga :
Namun, istilah "All Big Core" tidak berarti semua inti memiliki spesifikasi identik.
Justru sebaliknya, setiap inti bisa mempunyai kemampuan, arsitektur, dan kecepatan berbeda. Sistem kemudian dapat memilih inti yang paling sesuai dengan beban kerja yang sedang berlangsung.
Contohnya terlihat pada Dimensity 9400. Chipset tersebut menggunakan satu Arm Cortex-X925 dengan kecepatan hingga 3,62 GHz, tiga Cortex-X4, dan empat Cortex-A720.
Baca Juga :
Ketiga jenis inti tersebut sama-sama berorientasi pada performa, tetapi berada pada kelas kemampuan yang berbeda.
Dengan konfigurasi tersebut, CPU memiliki lebih banyak ruang untuk menyesuaikan tenaga sesuai kebutuhan. Pekerjaan berat dapat diarahkan ke inti yang lebih bertenaga, sementara tugas yang tidak terlalu kompleks tidak harus selalu menggunakan inti tercepat.
Bagaimana CPU All Big Core Bekerja?
Cara kerja CPU All Big Core sebenarnya lebih mudah dipahami melalui aktivitas sehari-hari.
Baca Juga :
Ketika pengguna hanya membuka aplikasi pesan atau membaca artikel, beban CPU relatif ringan. Sistem tidak perlu memaksa seluruh kemampuan prosesor bekerja pada tingkat tertinggi.