Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Tablet Murah Layar 2K: Advan Tab VX Lite Gebrak Pasar 2026

26 Maret 2026 | 10:00

Aturan Batas Usia Media Sosial Berlaku, 70 Juta Anak Dilarang

26 Maret 2026 | 09:55

Tablet Murah Itel Pad 1: Spek Lengkap Harga Cuma 1 Jutaan

26 Maret 2026 | 09:50
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Tablet Murah Layar 2K: Advan Tab VX Lite Gebrak Pasar 2026
  • Aturan Batas Usia Media Sosial Berlaku, 70 Juta Anak Dilarang
  • Tablet Murah Itel Pad 1: Spek Lengkap Harga Cuma 1 Jutaan
  • Fosil Spinosaurus S. mirabilis Ditemukan di Sahara, Mirip Unicorn!
  • Snapdragon 8 Elite Gen 6 Bocor, Usung Fabrikasi 2nm dan LPDDR6
  • PHK Massal Meta Platforms Dipicu Lonjakan Biaya Investasi AI
  • SUV Listrik Model Boxy Terbaru 2026: Intip Chery J6 & iCAR V23
  • Era MIUI Resmi Berakhir, Redmi A2 Jadi Penutup Sejarah Xiaomi
Kamis, Maret 26
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » Persaingan Antariksa AS dan China: NASA Kucurkan Rp 337 Triliun
Berita Tekno

Persaingan Antariksa AS dan China: NASA Kucurkan Rp 337 Triliun

Iphan SIphan S26 Maret 2026 | 08:35
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Persaingan antariksa AS dan China
Persaingan antariksa AS dan China (Foto: www.cnbcindonesia.com)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Persaingan antariksa AS dan China kini memasuki babak baru yang sangat kompetitif setelah Amerika Serikat mengumumkan alokasi anggaran fantastis mencapai Rp 337 triliun (sekitar US$ 21 miliar). Langkah berani ini diambil untuk memastikan Amerika Serikat tetap memimpin dalam perlombaan menuju Bulan dan Mars, sekaligus merespons kemajuan pesat program luar angkasa Beijing. NASA secara resmi merevisi strategi mereka guna mempercepat pendaratan astronaut sebelum ambisi China terwujud pada tahun 2030.

Kepala NASA, Jared Isaacman, menegaskan bahwa perubahan strategi ini merupakan upaya krusial untuk mempertahankan dominasi Amerika di luar angkasa. Menurutnya, pendekatan bertahap yang kini mereka terapkan mengadopsi semangat efisiensi yang pernah membawa NASA mencapai keberhasilan mustahil pada era 1960-an. Isaacman menyebut bahwa kecepatan dan ketepatan adalah kunci utama dalam memenangkan perlombaan teknologi di masa depan.

Mengapa Persaingan Antariksa AS dan China Semakin Memanas?

Ketegangan dalam persaingan antariksa AS dan China bukan sekadar soal gengsi nasional, melainkan juga penguasaan sumber daya dan teknologi masa depan. China telah menunjukkan kemajuan signifikan melalui misi Chang’e yang berhasil membawa sampel dari sisi jauh Bulan. Hal ini memicu kekhawatiran di Washington bahwa Beijing mungkin akan mendahului AS dalam membangun pangkalan permanen di kutub selatan Bulan, wilayah yang kaya akan es air.

Baca Juga

  • Aturan Batas Usia Media Sosial Berlaku, 70 Juta Anak Dilarang
  • Fosil Spinosaurus S. mirabilis Ditemukan di Sahara, Mirip Unicorn!

Advertisement

Untuk menandingi hal tersebut, NASA melakukan perombakan besar-besaran pada program Artemis. Mereka kini memfokuskan seluruh sumber daya untuk mempercepat pendaratan manusia di permukaan Bulan. Isaacman menjelaskan bahwa revisi kontrak bernilai miliaran dolar telah dilakukan dalam beberapa pekan terakhir. Perusahaan-perusahaan kedirgantaraan swasta kini dituntut untuk menyesuaikan jadwal mereka demi mendukung target pendaratan astronaut yang kini dipatok pada tahun 2028.

Langkah ini menempatkan Amerika Serikat dua tahun lebih awal dari target pendaratan China pada 2030. Namun, percepatan ini tidak datang tanpa pengorbanan. NASA harus mengambil keputusan sulit dengan menghentikan sementara proyek Lunar Gateway, stasiun luar angkasa yang rencananya akan mengorbit Bulan sebagai titik transit. Keputusan ini diambil agar anggaran dan fokus teknis dapat dialihkan sepenuhnya ke pendaratan permukaan yang lebih mendesak.

Misi Nuklir ke Mars: Senjata Rahasia NASA

Selain fokus pada Bulan, strategi baru ini juga mencakup lompatan teknologi yang revolusioner. NASA berencana mengirim pesawat luar angkasa bertenaga nuklir ke Mars sebelum tahun 2028 melalui misi yang diberi nama Space Reactor 1 Freedom. Teknologi ini dianggap sebagai “game changer” dalam persaingan antariksa AS dan China karena mampu memangkas waktu perjalanan ke Planet Merah secara signifikan.

Baca Juga

  • PHK Massal Meta Platforms Dipicu Lonjakan Biaya Investasi AI
  • Akuisisi Foodpanda Taiwan oleh Grab Senilai Rp10 Triliun

Advertisement

Penggunaan tenaga nuklir di luar angkasa bukan lagi sekadar eksperimen laboratorium, melainkan akan menjadi implementasi nyata. Mesin termal nuklir menawarkan efisiensi dua kali lipat dibandingkan roket kimia konvensional. Dengan durasi perjalanan yang lebih singkat, risiko paparan radiasi bagi astronaut dapat diminimalisir, sekaligus meningkatkan kapasitas kargo untuk misi eksplorasi jangka panjang. Keunggulan teknologi inilah yang diharapkan AS dapat menjatuhkan mental kompetisi lawan-lawannya.

Investasi besar-besaran ini juga mencerminkan bagaimana pemerintah AS melihat luar angkasa sebagai domain keamanan nasional. Dengan menguasai teknologi transportasi nuklir, Amerika Serikat berupaya mengunci posisi sebagai penyedia infrastruktur utama di ruang angkasa dalam, meninggalkan China yang saat ini masih sangat bergantung pada teknologi roket cair tradisional.

Dampak Diplomatik dan Peran Mitra Internasional

Namun, ambisi besar dalam persaingan antariksa AS dan China ini memicu ketidakpastian bagi mitra internasional Amerika. Dihentikannya proyek Lunar Gateway membuat posisi negara-negara seperti Jepang, Kanada, dan European Space Agency (ESA) menjadi menggantung. Sebelumnya, negara-negara tersebut telah menginvestasikan sumber daya yang besar untuk membangun modul-modul stasiun luar angkasa tersebut.

Baca Juga

  • HP Murah Kamera Terbaik 2026: Daftar di Bawah Rp 3 Jutaan
  • Kecepatan Internet Mudik 2026 Tembus 95 Mbps Secara Nasional

Advertisement

Kepala ESA, Josef Aschbacher, menyatakan pihaknya akan segera mempelajari rencana baru NASA tersebut. Meskipun ada kekecewaan, NASA mencoba meredam situasi dengan menawarkan peran baru bagi mitra internasional. Isaacman menyatakan bahwa peralatan dan komitmen yang sudah ada dapat dialihkan untuk mendukung operasi langsung di permukaan Bulan atau program eksplorasi lainnya yang lebih mendesak.

  • Pengalihan fokus dari orbit ke pendaratan langsung di permukaan Bulan.
  • Penggunaan teknologi nuklir untuk mempercepat misi Mars 2028.
  • Restrukturisasi kontrak dengan perusahaan swasta seperti SpaceX dan Blue Origin.
  • Negosiasi ulang peran mitra internasional dalam ekosistem Artemis.

Perubahan mendadak ini memaksa industri kedirgantaraan global untuk bergerak lebih cepat. Perusahaan-perusahaan besar kini harus merancang ulang perangkat keras mereka agar sesuai dengan visi baru NASA yang lebih agresif. Hal ini menciptakan dinamika pasar baru yang sangat kompetitif, di mana inovasi yang lambat berarti kehilangan kontrak bernilai triliunan rupiah.

Pada akhirnya, segala upaya yang dilakukan NASA melalui anggaran Rp 337 triliun ini bertujuan untuk satu hal: memastikan bahwa bendera Amerika Serikat tetap menjadi yang pertama berkibar kembali di Bulan dalam abad ke-21. Dinamika persaingan antariksa AS dan China akan terus menjadi sorotan dunia, mengingat hasil dari perlombaan ini akan menentukan siapa yang memegang kendali atas ekonomi luar angkasa di masa depan.

Baca Juga

  • Platform Apple Business Terbaru Hadir di 200 Negara April 2026
  • Misteri Kuno Lapisan Es Mencair: Dunia Masa Lalu Terungkap

Advertisement

Dengan teknologi nuklir dan strategi pendaratan yang lebih cepat, Amerika Serikat berharap dapat menutup celah persaingan yang sempat menyempit. Meski tantangan teknis dan jadwal sangat nyata, optimisme tinggi menyelimuti NASA untuk memenangkan babak krusial ini. Keberhasilan misi ini nantinya akan menjadi bukti apakah anggaran jumbo dan perubahan strategi mampu memastikan dominasi dalam persaingan antariksa AS dan China tetap berpihak pada Washington.


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
astronomi China Misi Bulan NASA Teknologi Nuklir
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleHarga Honda PCX 160 Bekas 2025, Skutik Premium Paling Dicari
Next Article Harga Samsung Galaxy A57 dan A37 Bocor, Ini Spesifikasinya
Iphan S
  • Website

Artikel Terkait

Aturan Batas Usia Media Sosial Berlaku, 70 Juta Anak Dilarang

Ana Octarin26 Maret 2026 | 09:55

Fosil Spinosaurus S. mirabilis Ditemukan di Sahara, Mirip Unicorn!

Iphan S26 Maret 2026 | 09:45

PHK Massal Meta Platforms Dipicu Lonjakan Biaya Investasi AI

Ana Octarin26 Maret 2026 | 09:35

Akuisisi Foodpanda Taiwan oleh Grab Senilai Rp10 Triliun

Ana Octarin26 Maret 2026 | 09:20

HP Murah Kamera Terbaik 2026: Daftar di Bawah Rp 3 Jutaan

Iphan S26 Maret 2026 | 09:05

Kecepatan Internet Mudik 2026 Tembus 95 Mbps Secara Nasional

Ana Octarin26 Maret 2026 | 08:50
Pilihan Redaksi
Gadget

HP Kamera Mid-range Terbaik untuk Foto Lebaran Ciamik

Olin Sianturi21 Maret 2026 | 03:46

HP kamera mid-range terbaik menjadi incaran utama menjelang momen libur Lebaran yang penuh dengan aktivitas…

Jaringan AI Grid Global Akamai-NVIDIA: Revolusi Komputasi Edge

20 Maret 2026 | 01:19

Rice Cooker Digital vs Manual: Mana Paling Untung di 2026?

26 Maret 2026 | 07:55

Misteri Kuno Lapisan Es Mencair: Dunia Masa Lalu Terungkap

26 Maret 2026 | 08:05

Layanan Motorist Pertamina 2026 Siaga Bantu Pemudik Kehabisan BBM

26 Maret 2026 | 07:30
Terbaru

Aturan Batas Usia Media Sosial Berlaku, 70 Juta Anak Dilarang

Ana Octarin26 Maret 2026 | 09:55

Fosil Spinosaurus S. mirabilis Ditemukan di Sahara, Mirip Unicorn!

Iphan S26 Maret 2026 | 09:45

PHK Massal Meta Platforms Dipicu Lonjakan Biaya Investasi AI

Ana Octarin26 Maret 2026 | 09:35

Akuisisi Foodpanda Taiwan oleh Grab Senilai Rp10 Triliun

Ana Octarin26 Maret 2026 | 09:20

HP Murah Kamera Terbaik 2026: Daftar di Bawah Rp 3 Jutaan

Iphan S26 Maret 2026 | 09:05
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.