Technonesia - Harga Pertamax kini menghadapi ancaman serius. Ketika harga minyak mentah dunia terus melonjak dan sudah mencapai 100 dolar AS per barel, Pertamina Patra Niaga mulai menghadapi tekanan untuk mempertahankan harga BBM non-subsidi tersebut.
Bahkan, harga Pertamax berpotensi melonjak ke kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter jika kondisi geopolitik global tidak kunjung membaik.
Situasi ini membuat posisi Pertamina semakin sulit. Pasalnya, harga BBM non-subsidi harus mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia. Jika harga jual tetap dipertahankan ketika harga minyak naik, Pertamina harus menanggung selisihnya.
Baca Juga :
Harga Pertamax Terancam Tembus Rp20.000
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto mengungkapkan, kondisi geopolitik menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga minyak mentah dunia.
Menurutnya, perang di Timur Tengah dan ketegangan di Selat Hormuz kini memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan perang Ukraina-Rusia.
“Dulu waktu perang Ukraina-Rusia tidak separah ini. Dengan adanya perang di Timur Tengah, ternyata dampaknya secara global, selain ketersediaan energi di dunia, juga terhadap harga yang saat ini belum stabil ya,” kata Eko kepada wartawan, dikutip Sabtu, 12 September 2026.
Baca Juga :
Karena itu, harga Pertamax masih sangat bergantung pada perkembangan situasi global. Jika tekanan geopolitik belum mereda, peluang kenaikan harga BBM non-subsidi semakin terbuka.
“Harga Pertamax, Dex, dan lain-lain itu akan di kisaran antara di angka Rp18.000 sampai Rp20.000 karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia,” ujarnya.
Artinya, konsumen saat ini menghadapi potensi perubahan harga yang cukup signifikan apabila harga minyak mentah dunia tetap bertahan di level tinggi.
Baca Juga :
BBM Non-Subsidi Tertekan Harga Minyak 100 Dolar AS
Untuk diketahui, harga minyak mentah dunia saat ini telah mencapai 100 dolar AS per barel. Level tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat harga BBM non-subsidi berada dalam tekanan.
Pertamina sendiri berharap harga minyak dunia dapat kembali turun ke kisaran 60-70 dolar AS per barel. Jika harapan tersebut terwujud, Pertamina memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan harga Pertamax dan BBM lainnya seperti yang telah dipasarkan saat ini.
“Jadi kalau berharap turun ke US$ 70 per barel atau US$ 60 dolar per barel seperti sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera,” ucapnya.
Baca Juga :
Dengan kata lain, arah harga minyak dunia akan menjadi penentu penting bagi harga BBM non-subsidi ke depan.
Pertamax Masih Rp15.950 per Liter
Di tengah tekanan tersebut, Pertamax masih menjadi satu-satunya BBM non-subsidi yang tidak mengalami kenaikan harga saat ini.
Harga Pertamax masih berada di level Rp15.950 per liter. Namun, posisi ini bisa berubah apabila harga minyak dunia tetap tinggi dan kondisi geopolitik global belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Baca Juga :
Sementara itu, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex telah lebih dulu mengalami penyesuaian harga pada awal September 2026. Setelahnya, penyesuaian juga diikuti Pertamax Green.
Kondisi tersebut membuat harga Pertamax menjadi perhatian berikutnya. Jika minyak mentah dunia tetap berada di angka 100 dolar AS per barel, kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter menjadi angka yang disebut Pertamina sebagai kemungkinan harga BBM non-subsidi.