Meski mendukung efisiensi, Anis memberikan catatan kritis agar pemotongan anggaran tidak mengorbankan kualitas gizi makanan atau memangkas jumlah anak penerima manfaat. Keberhasilan program ini tidak diukur dari besarnya dana yang digelontorkan, melainkan dari efektivitas hasil dalam meningkatkan kecerdasan dan kesehatan generasi muda.
Baca Juga :
Senada dengan DPR, Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, menekankan pentingnya akurasi data penerima bantuan. Celios juga menyarankan agar penyaluran anggaran Makan Bergizi Gratis difokuskan hanya pada kelompok masyarakat miskin yang benar-benar membutuhkan bantuan gizi. Jika pemerintah memperketat kriteria penerima, potensi penghematan anggaran negara bahkan bisa mencapai ratusan triliun rupiah tanpa mengurangi esensi program.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, pengelolaan anggaran Makan Bergizi Gratis secara bijak akan menentukan keberhasilan jangka panjang pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Sinergi antara akurasi data penerima dan pengawasan distribusi yang ketat menjadi kunci utama agar program prioritas ini tetap berjalan optimal tanpa membebani APBN.