Technonesia - Rencana BYD membangun fasilitas pabrik kendaraan listrik di Tanjong Malim, Perak, Malaysia, dipastikan tidak akan dilanjutkan. Keputusan ini menjadi perubahan penting dalam strategi produsen mobil listrik asal China tersebut di Negeri Jiran.
Meski begitu, BYD menegaskan keputusan tersebut bukan berarti perusahaan meninggalkan rencana produksi lokal. Sebaliknya, BYD tetap berkomitmen melakukan perakitan kendaraan secara lokal melalui skema Completely Knocked Down (CKD).
Kepastian ini disampaikan Managing Director BYD Malaysia Jacob Ma saat peluncuran BYD Atto 3 Performance edisi terbatas. Menurutnya, perubahan rencana pembangunan fasilitas sendiri tidak menghapus komitmen BYD terhadap kegiatan perakitan lokal di Malaysia.
Baca Juga :
“Untuk memperjelas hal ini, fasilitas Tanjong Malim tidak akan dilanjutkan. Namun, keputusan tersebut bukan berarti BYD membatalkan rencana perakitan lokal di Malaysia. Komitmen kami terhadap perakitan lokal tetap ada,” kata Jacob seperti dilansir Paultan.
BYD Tetap Siapkan Perakitan Lokal di Malaysia
Perubahan strategi tersebut membuat BYD kini memilih pendekatan berbeda. Alih-alih melanjutkan pembangunan fasilitas sendiri di Tanjong Malim, perusahaan sedang mencari mitra perakitan lokal yang telah memiliki pengalaman.
Jacob menjelaskan, mitra tersebut harus mempunyai kapasitas dan kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan BYD. Selain itu, perusahaan mitra juga harus mampu mendukung seluruh kegiatan perakitan kendaraan secara lokal.
Baca Juga :
“Kami sedang bekerja sama dengan mitra perakitan lokal yang sudah mapan, memiliki kapasitas dan kemampuan untuk memenuhi persyaratan BYD serta mendukung seluruh kegiatan perakitan lokal kami. Pembahasannya sudah berada pada tahap yang sangat lanjut dan kami sedang menyelesaikan dokumen yang diperlukan,” ujarnya.
Dengan demikian, perubahan ini lebih mengarah pada penyesuaian model produksi. BYD tetap ingin menjalankan perakitan lokal, tetapi pelaksanaannya tidak lagi melalui fasilitas yang dibangun sendiri di Tanjong Malim.
Pabrik BYD di Tanjong Malim Tak Dilanjutkan
Sebelumnya, BYD telah mengonfirmasi rencana pembangunan pabrik CKD sendiri di Tanjong Malim pada Agustus 2025. Fasilitas tersebut awalnya menjadi bagian dari rencana BYD untuk memperkuat kegiatan produksi kendaraan listriknya di Malaysia.
Baca Juga :
Namun, perkembangan proyek tersebut dalam beberapa waktu terakhir mulai tidak terlihat. Bahkan, pada Agustus 2026, Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia atau MITI menyatakan belum ada keputusan resmi mengenai pembangunan fasilitas tersebut.
Seiring berjalannya waktu, opsi untuk melakukan perakitan dengan menggandeng mitra lokal pun semakin menguat.
Perubahan tersebut akhirnya dikonfirmasi BYD melalui pernyataan Jacob Ma. Dengan keputusan terbaru ini, fasilitas Tanjong Malim tidak akan diteruskan, sementara komitmen terhadap perakitan lokal tetap dipertahankan.
Baca Juga :
Sime Motors Diduga Jadi Mitra BYD
Salah satu nama yang kemudian dikaitkan dengan rencana baru BYD adalah Sime Motors.
Pada Mei 2026, Wakil Presiden sekaligus General Manager Divisi Penjualan Mobil Asia Pasifik BYD, Liu Xueliang, diketahui mengunjungi fasilitas Inokom milik Sime Motors di Kulim, Kedah.
Kunjungan tersebut kemudian memunculkan dugaan bahwa Sime Motors berpotensi menjadi mitra BYD untuk kegiatan perakitan kendaraan di Malaysia.
Baca Juga :
Dugaan itu semakin kuat setelah jajaran pimpinan Sime Motors dilaporkan mengunjungi kantor pusat BYD di Shenzhen, China.
Kunjungan tersebut disebut berkaitan dengan pembahasan sejumlah prioritas strategis serta peluang kerja sama antara kedua perusahaan.
Namun demikian, BYD belum mengonfirmasi identitas mitra perakitan lokal yang akan dipilih.
BYD Belum Ungkap Nama Mitra Perakitan
Jacob Ma mengatakan identitas mitra tersebut belum dapat diumumkan karena kesepakatan kerja sama masih dalam tahap finalisasi.
BYD baru akan memberikan pengumuman resmi setelah seluruh dokumen dan perjanjian kerja sama selesai ditandatangani.
Artinya, meskipun pembahasannya disebut sudah berada pada tahap yang sangat lanjut, nama perusahaan yang akan menjadi mitra resmi BYD di Malaysia masih harus menunggu pengumuman berikutnya.
Langkah ini juga menunjukkan bahwa strategi BYD di Malaysia masih terus berkembang mengikuti kondisi dan kebutuhan perusahaan.
BYD Tegaskan Tetap Investasi di Malaysia
Meski membatalkan pembangunan fasilitas Tanjong Malim, BYD memastikan perubahan tersebut tidak mengurangi komitmennya terhadap pasar Malaysia.
Jacob menegaskan bahwa perubahan lokasi maupun strategi merupakan bagian dari perkembangan rencana perusahaan.
“Rencana dapat berkembang, lokasi dapat berubah, dan strategi dapat disempurnakan. Namun, yang tetap sama adalah komitmen kami terhadap pasar ini. Kami akan terus berinvestasi. BYD akan tetap berada di sini dan terus tumbuh bersama Malaysia,” tuturnya.
Dengan demikian, batalnya pembangunan fasilitas BYD di Tanjong Malim bukan berarti perusahaan menghentikan rencana perakitan lokal. BYD justru sedang mengarahkan strategi tersebut melalui kerja sama dengan mitra perakitan lokal yang telah berpengalaman.
Untuk saat ini, fokus berikutnya adalah menunggu finalisasi dokumen dan perjanjian sebelum BYD mengumumkan secara resmi siapa mitra yang akan menjalankan kegiatan perakitan lokal tersebut.