Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Direstui Trump, China Borong Chip AS Rp 238 T: 3 Alasan Balik Arah

1 Januari 2026 | 20:00

5 Bocoran Heboh Spesifikasi Realme Neo8 Infinite: Layar Realme Neo8 165Hz!

1 Januari 2026 | 18:00

5 Keunggulan TCL Note A1 NxtPaper: Spesifikasi Pesaing Kindle Scribe

1 Januari 2026 | 16:00
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Direstui Trump, China Borong Chip AS Rp 238 T: 3 Alasan Balik Arah
  • 5 Bocoran Heboh Spesifikasi Realme Neo8 Infinite: Layar Realme Neo8 165Hz!
  • 5 Keunggulan TCL Note A1 NxtPaper: Spesifikasi Pesaing Kindle Scribe
  • Terbongkar! Harga dan 5 Spesifikasi Poco M8 & M8 Pro dari Bocoran Retailer
  • 113% Lebih Cerdas! 3 Alasan Upgrade AI Galaxy S26 Wajib Ditunggu
  • 10 Perangkat Sedot Listrik Standby, Musuh Utama Tagihan Listrik Anda
  • 7 Fakta Ilmiah Kenapa Benua Afrika Terbelah Dua dan Samudra Baru Muncul
  • Fakta 1 Penemuan Botol Palung Mariana: Sampah Terdalam Dunia 10,7 KM
Kamis, Januari 1
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Tech » Direstui Trump, China Borong Chip AS Rp 238 T: 3 Alasan Balik Arah
Tech

Direstui Trump, China Borong Chip AS Rp 238 T: 3 Alasan Balik Arah

Olin SianturiOlin Sianturi1 Januari 2026 | 20:00
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Pembelian Chip AS China, Kebijakan Ekspor Chip AS
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Donald Trump merestui Pembelian Chip AS China (Nvidia H200) senilai Rp 238 T! Ini sinyal dramatis soal Kebijakan Ekspor Chip AS. Simak 3 alasan balik arahnya Trump!

TechnonesiaID - Geopolitik dan teknologi selalu menjadi dua sisi mata uang yang saling memengaruhi. Selama bertahun-tahun, konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok (China) berpusat pada satu komoditas krusial: chip AI canggih.

Mulai dari era Presiden Joe Biden hingga kebijakan keras yang sempat diusung oleh Donald Trump, Washington secara konsisten membatasi ekspor semikonduktor canggih—terutama yang dibuat oleh raksasa seperti Nvidia—ke China. Kekhawatiran utamanya adalah pemanfaatan AI untuk memperkuat kemampuan militer Beijing.

Baca Juga

  • Bukan Polusi! Ini 5 Alasan Bumi Panas Mendidih Menurut Ilmuwan
  • 5 Strategi Kunci Peningkatan Kompetensi ASN Lewat ASN DIGITAL

Advertisement

Namun, dalam sebuah manuver yang mengejutkan dunia, kebijakan tersebut mendadak melunak. Menjelang akhir tahun 2025 (berdasarkan konteks artikel asli), Donald Trump dilaporkan menyetujui penjualan besar-besaran chip Nvidia H200 ke Tiongkok. Dampaknya? China segera melakukan Pembelian Chip AS China dengan nilai yang fantastis, mencapai Rp 238 triliun.

Pembelian Chip AS China Senilai Rp 238 Triliun: Sinyal Geopolitik Terbaru

Angka Rp 238 triliun (setara dengan miliaran dolar AS) bukanlah sekadar transaksi komersial biasa; ini adalah indikasi kuat bahwa perang dagang teknologi, khususnya di sektor semikonduktor, mungkin memasuki fase baru. Persetujuan ini secara efektif membuka keran ekspor yang selama ini dikunci rapat oleh Washington.

Chip yang menjadi fokus utama dalam transaksi raksasa ini adalah Nvidia H200. Meskipun chip ini canggih, penting untuk dipahami bahwa H200 dirancang sebagai versi “kompromi” yang memenuhi batas daya pemrosesan yang ditetapkan oleh regulasi AS.

Baca Juga

  • 5 Fakta Gila Baterai 20.000 mAh Samsung, Standar Baru HP 2026?
  • 7 Bukti Mengejutkan Lokasi Kawin Campur Manusia Purba Terbongkar

Advertisement

Sebelumnya, chip AI paling mutakhir Nvidia, seperti H100 dan A100, dilarang keras masuk ke pasar China. Pembatasan ini bertujuan untuk menahan laju pengembangan Kecerdasan Buatan (AI) Tiongkok, baik di sektor komersial maupun militer.

Kini, dengan adanya izin penjualan H200, perusahaan-perusahaan teknologi besar di China mendapatkan dorongan besar untuk memajukan model bahasa besar (LLM) dan aplikasi AI lainnya. Hal ini secara langsung memengaruhi peta persaingan teknologi global.

3 Alasan Kunci di Balik Kelonggaran Kebijakan Ekspor Chip AS

Keputusan mendadak yang melonggarkan Kebijakan Ekspor Chip AS ini menimbulkan pertanyaan besar. Apa yang membuat pemerintahan AS (khususnya di bawah pengaruh Trump) mengubah haluan yang selama ini sangat protektif?

Baca Juga

  • Top 3 Grup Raksasa RI Lahir: Siapa Kuasai Internet Indonesia 2025?
  • 5 Fakta Mengejutkan HP Produksi Indonesia UP Phone Laris di Luar Negeri

Advertisement

Ada beberapa faktor strategis dan ekonomi yang diperkirakan melatarbelakangi izin transaksi besar-besaran ini:

  • Tekanan Kuat dari Raksasa Teknologi AS: Perusahaan pembuat chip, terutama Nvidia, kehilangan pangsa pasar yang sangat besar akibat larangan ekspor ke China. Tiongkok adalah pasar yang sangat haus akan teknologi AI. Tanpa akses ke pasar ini, potensi pendapatan dan investasi R&D perusahaan AS terhambat. Mereka gigih melobi Washington untuk melonggarkan pembatasan.
  • Strategi “Menjual yang Sekunder”: Kebijakan Ekspor Chip AS yang baru ini tidak mencabut larangan pada chip paling cutting-edge (seperti H100). H200 dirancang khusus untuk memenuhi batas teknis yang diizinkan, yang berarti AS masih mengendalikan teknologi inti terdepannya. Dengan menjual H200, AS memastikan bahwa China tidak akan beralih sepenuhnya ke chip buatan domestik atau dari pesaing lain yang mungkin kurang canggih.
  • Isu Stabilitas Ekonomi dan Pemilu: Menjual semikonduktor bernilai triliunan rupiah memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian AS dan menunjukkan dukungan terhadap industri teknologi dalam negeri. Di tengah dinamika politik, keputusan yang mendukung keuntungan perusahaan besar AS sering kali dianggap sebagai langkah populis yang menguntungkan.

Dampak Strategis Pembelian Chip AS China oleh Beijing

Transaksi ini memberikan napas segar bagi sektor teknologi Tiongkok. Meskipun H200 bukanlah chip AI paling unggul di dunia, ini jauh lebih baik daripada alternatif chip domestik yang masih tertinggal dalam hal performa dan efisiensi.

Perusahaan-perusahaan teknologi di China kini dapat mempercepat proyek-proyek AI mereka. Ini termasuk pengembangan infrastruktur cloud computing, kendaraan otonom, hingga aplikasi pengawasan yang didukung AI.

Baca Juga

  • Kiamat Driver Online: 3 Dampak Taksi Robot Waymo Bikin San Francisco Kacau
  • 5 Cara Teknologi AI Mengubah Bisnis Tambang Jadi Lebih Cerdas

Advertisement

Implikasi bagi Nvidia dan Industri Semikonduktor Global

Baca Juga

  • 5 Lapisan Investasi Digital: Mengapa Hashim Kuasai Ekosistem AI
  • Top 5 Strategi Pemasaran Xiaomi Kontroversial yang Bikin Pengguna Kesal

Advertisement

Bagi Nvidia, kesepakatan ini adalah kemenangan besar. Mereka tidak hanya mendapatkan kembali akses ke pasar yang sangat besar tetapi juga menunjukkan kemampuan mereka untuk menavigasi regulasi ekspor yang rumit.

Permintaan yang tinggi untuk H200 dari Tiongkok memastikan bahwa harga saham Nvidia akan tetap stabil atau bahkan meningkat. Lebih lanjut, hal ini mungkin memberikan tekanan kepada negara-negara sekutu AS lainnya, seperti Jepang dan Belanda, yang juga diminta untuk membatasi ekspor peralatan pembuat chip canggih.

Apabila AS sendiri melonggarkan cengkeramannya, sekutu-sekutu ini mungkin akan meninjau kembali kebijakan pembatasan mereka.

Baca Juga

  • 5 Strategi Indosat Business Tingkatkan Mutu Pendidikan Digital Sampoerna
  • 5 Fakta Virus Mematikan Mamalia Laut: Cetacean Morbillivirus Mengancam Arktik

Advertisement

Masa Depan Kebijakan Ekspor Chip AS: Apakah Larangan Akan Dicabut Total?

Meskipun ada kelonggaran yang signifikan, analis teknologi memperingatkan bahwa persaingan mendasar antara AS dan China tidak akan berakhir. Kebijakan Ekspor Chip AS yang lebih longgar ini mungkin hanya bersifat taktis.

Fokus AS kemungkinan besar akan bergeser dari pelarangan total menjadi “pengendalian strategis” di mana mereka mengizinkan penjualan chip yang “cukup baik” untuk keperluan komersial, tetapi tetap memblokir komponen yang dapat memberikan Tiongkok keunggulan militer yang tidak terkejar.

Larangan pada alat pembuat chip (seperti yang diproduksi oleh AS, Belanda, dan Jepang) diperkirakan akan tetap berlaku. Ini adalah upaya terakhir AS untuk mencegah Tiongkok menjadi mandiri dalam memproduksi semikonduktor paling maju.

Baca Juga

  • 5 Strategi AI Meta Business Teratas: Potensi & Peluang Bisnis di 2026
  • 5 Alasan Investor Global Beralih ke Perusahaan AI China

Advertisement

Peran Donald Trump dan Pergeseran Prioritas

Baca Juga

  • 3 Masalah Krusial Pengembangan iPhone Lipat Apple, Ambisi 2026 Terancam
  • 5 Fakta Gila Xiaomi 17 Ultra: Kamera 200MP Leica Zoom Optik Penuh

Advertisement

Keputusan Donald Trump untuk merestui Pembelian Chip AS China ini menunjukkan pergeseran prioritas. Di satu sisi, ia dikenal karena retorika anti-China yang keras. Di sisi lain, sebagai seorang pebisnis, ia memahami pentingnya aliran dana dan mendukung perusahaan AS yang beroperasi secara global.

Keputusan ini mungkin adalah langkah pragmatis untuk menyeimbangkan kepentingan keamanan nasional dengan kebutuhan ekonomi industri teknologi yang sangat berpengaruh di dalam negeri.

Transaksi Rp 238 triliun ini menjadi babak baru yang menarik dalam sejarah perang dagang teknologi global, membuktikan bahwa bahkan larangan yang paling ketat sekalipun dapat dinegosiasikan ulang demi kepentingan ekonomi.

Baca Juga

  • Bocoran Gila: 25 Daftar Perangkat HyperOS 3 Meluncur Sebelum 2026
  • Badai PHK Pecah Rekor 2025: 5 Alasan Perusahaan Global Pecat Karyawan

Advertisement

Masa depan industri semikonduktor akan terus ditentukan oleh persimpangan antara inovasi teknologi dan ketegangan geopolitik.


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia_id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
chip Nvidia H200 Donald Trump Perang Dagang AS-China Semikonduktor Teknologi AI
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous Article5 Bocoran Heboh Spesifikasi Realme Neo8 Infinite: Layar Realme Neo8 165Hz!
Olin Sianturi
  • Website

Olin Sianturi adalah seorang Content Writer di Media TechnoNesia dan GadgetVIVA, berpengalaman dalam menulis artikel informatif dan SEO-friendly. Spesialisasinya mencakup teknologi, gadget, elektronik, game. Dengan gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami, Olin mampu menghadirkan konten berkualitas yang relevan dan bernilai bagi pembaca.

Artikel Terkait

Bukan Polusi! Ini 5 Alasan Bumi Panas Mendidih Menurut Ilmuwan

Olin Sianturi1 Januari 2026 | 04:00

5 Strategi Kunci Peningkatan Kompetensi ASN Lewat ASN DIGITAL

Olin Sianturi1 Januari 2026 | 00:00

5 Fakta Gila Baterai 20.000 mAh Samsung, Standar Baru HP 2026?

Olin Sianturi31 Desember 2025 | 22:00

7 Bukti Mengejutkan Lokasi Kawin Campur Manusia Purba Terbongkar

Olin Sianturi31 Desember 2025 | 14:00

Top 3 Grup Raksasa RI Lahir: Siapa Kuasai Internet Indonesia 2025?

Olin Sianturi31 Desember 2025 | 12:00

5 Fakta Mengejutkan HP Produksi Indonesia UP Phone Laris di Luar Negeri

Olin Sianturi30 Desember 2025 | 16:00
Pilihan Redaksi

Samsung Galaxy Tab A11 Resmi Meluncur: 5 Keunggulan Tablet 8 Inci Murah

Olin Sianturi23 Desember 2025 | 10:43

Cari tablet 8 inci terjangkau? Simak ulasan lengkap Harga Samsung Galaxy Tab A11 dan Spesifikasi…

Mager ke Luar Saat Liburan? Samsung TV Bikin Rumah Serasa Bioskop! Cek 7 Alasannya!

26 Desember 2025 | 13:05

Moto Pad 60 Pro vs iPad Gen 11: 7 Perbedaan Kunci Tablet Menggambar Presisi

24 Desember 2025 | 22:43

5 Upgrade Spesifikasi Huawei MatePad 11.5 (2026) & Harga Resmi

24 Desember 2025 | 08:43

5 Fitur Terbaik HyperOS 3 untuk Redmi Note 13 Pro & POCO M6 Pro

29 Desember 2025 | 16:00
Terbaru

Bukan Polusi! Ini 5 Alasan Bumi Panas Mendidih Menurut Ilmuwan

Olin Sianturi1 Januari 2026 | 04:00

5 Strategi Kunci Peningkatan Kompetensi ASN Lewat ASN DIGITAL

Olin Sianturi1 Januari 2026 | 00:00

5 Fakta Gila Baterai 20.000 mAh Samsung, Standar Baru HP 2026?

Olin Sianturi31 Desember 2025 | 22:00

7 Bukti Mengejutkan Lokasi Kawin Campur Manusia Purba Terbongkar

Olin Sianturi31 Desember 2025 | 14:00

Top 3 Grup Raksasa RI Lahir: Siapa Kuasai Internet Indonesia 2025?

Olin Sianturi31 Desember 2025 | 12:00
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.