Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Remaja Makin Aktif Online, Ini Tips Aman Akses Internet yang Wajib Dicoba

13 Februari 2026 | 16:01

Audio Jadi Gaya Hidup Modern 2026, Samsung Tancap Gas Lewat Galaxy Buds

10 Februari 2026 | 16:34

Spesifikasi Lenovo Legion Y700 2026: Tablet Gaming Layar 3K

10 Februari 2026 | 15:25
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Remaja Makin Aktif Online, Ini Tips Aman Akses Internet yang Wajib Dicoba
  • Audio Jadi Gaya Hidup Modern 2026, Samsung Tancap Gas Lewat Galaxy Buds
  • Spesifikasi Lenovo Legion Y700 2026: Tablet Gaming Layar 3K
  • Jam Tangan Casio Baby-G BGD-10KH: Unik, Bisa Jadi Gantungan!
  • Jam Tangan G-Shock Origami Resmi Meluncur, Ini Harga dan Speknya
  • Wireless Charging Galaxy S26 Meningkat Pesat Berkat Qi 2.2.1
  • Diskon Game PS4 dan PS5 Hingga 90%: Cek Harga PS5 Terbaru!
  • Harga PS5 Turun Signifikan di Indonesia, Cek Daftar Diskon 2026
Rabu, Februari 25
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Tech » 4 Fakta Terbaru: Retakan Permukaan Bulan Mengancam Misi Artemis NASA
Tech

4 Fakta Terbaru: Retakan Permukaan Bulan Mengancam Misi Artemis NASA

Olin SianturiOlin Sianturi10 Oktober 2025 | 03:08
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Gempa Bulan dan Retakan, Retakan Permukaan Bulan
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Penemuan mengejutkan tentang Gempa Bulan dan Retakan di permukaan satelit Bumi. Pelajari 4 fakta terbaru yang mengungkap risiko besar bagi pangkalan permanen NASA.

Dalam beberapa dekade terakhir, Bulan sering dianggap sebagai benda langit yang statis dan mati, di mana perubahannya hanya disebabkan oleh hantaman meteorit. Namun, penelitian terbaru justru mengungkap fakta yang sangat berbeda dan mengejutkan dunia sains: permukaan Bulan ternyata aktif secara seismik, menunjukkan tanda-tanda retakan besar yang mengkhawatirkan.

Temuan ini bukan sekadar berita kosmik biasa. Ia secara langsung memunculkan kekhawatiran baru terhadap rencana ambisius eksplorasi jangka panjang, terutama Misi Artemis milik NASA yang bertekad membangun pangkalan manusia permanen di Bulan.

Baca Juga

  • Remaja Makin Aktif Online, Ini Tips Aman Akses Internet yang Wajib Dicoba
  • 7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Advertisement

Jika kita ingin menetap di satelit Bumi ini, memahami dinamika internalnya adalah kunci. Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan Retakan Permukaan Bulan ini, dan mengapa para ilmuwan mulai panik?

Mengapa Retakan Permukaan Bulan Tiba-Tiba Jadi Sorotan?

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi mengungkap bahwa perubahan lanskap Bulan tidak hanya disebabkan oleh tumbukan meteorit yang menghasilkan kawah. Ada kekuatan lain yang bekerja dari bawah permukaan: aktivitas seismik atau yang lebih dikenal sebagai gempa bulan (moonquakes).

Laporan yang bertajuk “Paleoseismic activity in the Moon’s Taurus-Littrow valley inferred from boulder falls and landslides” menunjukkan bukti kuat bahwa gempa bulan ini cukup kuat untuk memicu longsor dan jatuhnya batu-batu besar. Ini adalah bukti fisik bahwa permukaan Bulan sedang bergerak dan mengalami regangan.

Baca Juga

  • 5 Fakta Prosedur Masuk Gedung KTP: Langgar UU Perlindungan Data?
  • 7 Karyawan Dipecat Karena Skandal Keyboard Palsu, Ini Alasannya

Advertisement

Para ilmuwan meyakini bahwa retakan ini kemungkinan besar disebabkan oleh pendinginan internal Bulan dan interaksi pasang surut gravitasi yang ekstrem antara Bumi dan Bulan. Meskipun tidak sedramatis gempa Bumi yang didorong oleh pergeseran lempeng tektonik, gempa bulan ini jelas menimbulkan masalah besar bagi arsitek luar angkasa.

Aktivitas Seismik yang Tak Terduga

Data mengenai gempa bulan sebenarnya sudah ada sejak era misi Apollo. Para astronaut meninggalkan seismometer yang mencatat aktivitas di bawah permukaan. Namun, analisis data terbaru inilah yang mengaitkan aktivitas seismik tersebut dengan perubahan geologi yang terlihat di permukaan, seperti retakan baru dan longsoran.

Kawasan Lembah Taurus-Littrow, lokasi pendaratan Apollo 17, menjadi fokus utama penelitian ini. Di sana, ditemukan bahwa lanskap tersebut telah mengalami perubahan signifikan dalam waktu geologis yang relatif singkat. Artinya, kita sedang berhadapan dengan medan yang secara aktif berubah, bukan hanya situs sejarah yang beku.

Baca Juga

  • Bill Gates Ungkap 3 Tanda Kiamat Bumi: Peran Indonesia dalam Perubahan Iklim
  • 4 Fakta Ledakan Kosmik Dahsyat yang Melenyapkan Misteri Planet Fomalhaut

Advertisement

Gempa Bulan dan Retakan: 4 Fakta yang Mengubah Perencanaan NASA

Kehadiran Gempa Bulan dan Retakan di permukaan satelit Bumi mau tak mau memaksa NASA dan badan antariksa lainnya untuk merevisi rencana pembangunan pangkalan. Berikut adalah empat fakta krusial mengenai temuan ini:

  • Retakan Terfokus pada Zona Aktif: Retakan terbesar sering ditemukan di sepanjang patahan-patahan yang disebut sesar dorong (thrust faults). Ini adalah area di mana kerak Bulan ditekan bersama-sama hingga salah satu sisinya terangkat ke atas. Aktivitas ini secara periodik memicu guncangan yang dapat merusak struktur.
  • Durasi Guncangan Lebih Lama: Salah satu perbedaan utama antara gempa bulan dan gempa Bumi adalah durasinya. Karena Bulan tidak memiliki air untuk meredam gelombang seismik, getaran yang dihasilkan oleh gempa bulan cenderung bertahan jauh lebih lama, kadang-kadang mencapai satu jam. Guncangan berkepanjangan ini sangat merusak bagi bangunan yang rentan.
  • Dampak terhadap Struktur Bawah Tanah: Rencana misi Artemis mencakup pembangunan habitat dan fasilitas penyimpanan sumber daya di bawah permukaan untuk melindungi astronaut dari radiasi kosmik dan suhu ekstrem. Aktivitas Retakan Permukaan Bulan dan gempa yang berkepanjangan menimbulkan risiko keruntuhan serius terhadap infrastruktur bawah tanah ini.
  • Tantangan dalam Pemilihan Lokasi Pendaratan: Studi ini memaksa NASA untuk lebih teliti dalam memilih lokasi pangkalan. Area yang kaya sumber daya, seperti kawah yang mengandung es air, mungkin juga merupakan zona patahan yang aktif. Prioritas keamanan struktural harus diutamakan di atas kemudahan akses sumber daya.

Perbedaan Gempa Bulan vs. Gempa Bumi

Penting untuk memahami bahwa pemicu Gempa Bulan dan Retakan sangat berbeda dengan yang terjadi di Bumi. Gempa Bumi sebagian besar didorong oleh dinamika lempeng tektonik, di mana lempeng-lempeng besar bergerak di atas mantel yang cair.

Bulan tidak memiliki lempeng tektonik. Sebaliknya, gempa bulan terbagi menjadi beberapa tipe, yang paling relevan saat ini adalah gempa dangkal. Gempa ini terjadi hanya beberapa kilometer di bawah permukaan dan diyakini disebabkan oleh gaya pasang surut Bumi yang terus-menerus menarik dan meremas Bulan.

Baca Juga

  • 7 Rahasia Burung Peminum Darah: Simbiosis Unik di Punggung Badak
  • 5 Tanda Jelas Telepon Penipuan M-Banking: Lindungi Uang Anda Sekarang!

Advertisement

Gaya pasang surut ini menyebabkan stres yang menumpuk di kerak Bulan. Ketika stres mencapai titik puncaknya, ia dilepaskan sebagai gempa, yang kemudian menghasilkan retakan baru di permukaan yang dingin dan rapuh.

Tantangan Eksplorasi: Membangun di Atas Lempeng yang Bergeser

Misi Artemis bertujuan untuk mengirim manusia kembali ke Bulan dan membangun kehadiran berkelanjutan. Ini berarti membangun habitat, laboratorium, dan fasilitas pendukung kehidupan yang harus tahan lama.

Temuan mengenai Retakan Permukaan Bulan menjadi faktor desain yang tidak bisa diabaikan. Para insinyur kini harus mempertimbangkan metode konstruksi yang mampu menahan guncangan yang lama dan intens.

Baca Juga

  • 5 Prediksi Harga iPhone 16 Awal 2026: Turun Drastis!
  • 7 Alasan Harga iPhone 16 Pro Max Turun Rp 5,5 Juta di Awal 2026

Advertisement

Solusi potensial mungkin melibatkan penggunaan struktur modular yang lebih fleksibel atau penggunaan material lokal (regolith) yang dicetak 3D dan dirancang secara spesifik untuk menyerap energi seismik. NASA mungkin juga perlu mengembangkan sistem peringatan dini gempa bulan.

Selain itu, lokasi pangkalan harus dipilih di wilayah yang secara seismik paling stabil. Ini mungkin membatasi opsi pendaratan, tetapi keselamatan astronaut adalah pertimbangan utama.

Baca Juga

  • 5 Fakta Mesin Chip Canggih China: Rahasia EUV Bikin AS Panik
  • 4 Fakta Ilmiah Perlambatan Rotasi Bumi, Panjang Hari di Bumi Berubah

Advertisement

Masa Depan Eksplorasi dan Keseimbangan Risiko

Penemuan ini pada akhirnya menunjukkan betapa kompleksnya Bulan. Ia bukan hanya tumpukan debu mati, tetapi dunia yang dinamis dan berubah. Meskipun Gempa Bulan dan Retakan menimbulkan tantangan besar, ini juga merupakan peluang ilmiah yang luar biasa.

Baca Juga

  • 3 Tanda Gejala Demensia Lewat HP: Revolusi Deteksi Dini (58 karakter)
  • 7 Faktor Utama Anjloknya Penjualan Gadget 2026: Nasib Pedagang HP dan Komputer

Advertisement

Dengan mempelajari lebih lanjut tentang aktivitas seismik Bulan, kita tidak hanya meningkatkan keselamatan misi di masa depan, tetapi juga mendapatkan wawasan yang lebih dalam tentang pembentukan dan evolusi satelit alami kita. Eksplorasi luar angkasa selalu berjalan beriringan dengan risiko, dan tantangan baru ini hanyalah babak berikutnya dalam upaya umat manusia menaklukkan kosmos.


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia_id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Eksplorasi Luar Angkasa Gempa Bulan Misi Artemis NASA Retakan Permukaan Bulan
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous Article7 Alasan Mengapa Perempuan Lebih Panjang Umur Diungkap Penelitian
Next Article 5 Tips Thrifting Gadget Jatinegara: Dapat HP Murah yang Bikin Kaget
Olin Sianturi
  • Website

Olin Sianturi adalah seorang Content Writer di Media TechnoNesia dan GadgetVIVA, berpengalaman dalam menulis artikel informatif dan SEO-friendly. Spesialisasinya mencakup teknologi, gadget, elektronik, game. Dengan gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami, Olin mampu menghadirkan konten berkualitas yang relevan dan bernilai bagi pembaca.

Artikel Terkait

Remaja Makin Aktif Online, Ini Tips Aman Akses Internet yang Wajib Dicoba

Ana Octarin13 Februari 2026 | 16:01

7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Olin Sianturi1 Februari 2026 | 00:59

5 Fakta Prosedur Masuk Gedung KTP: Langgar UU Perlindungan Data?

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 20:00

7 Karyawan Dipecat Karena Skandal Keyboard Palsu, Ini Alasannya

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 18:00

Bill Gates Ungkap 3 Tanda Kiamat Bumi: Peran Indonesia dalam Perubahan Iklim

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 16:00

4 Fakta Ledakan Kosmik Dahsyat yang Melenyapkan Misteri Planet Fomalhaut

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 06:00
Pilihan Redaksi
Aplikasi

4 Fitur WhatsApp Tahun Baru 2026: Cara Rayakan dengan Pembaruan Terbaru

Olin Sianturi31 Desember 2025 | 20:00

Rayakan 2026 dengan gaya! Simak 4 Fitur WhatsApp Tahun Baru 2026 yang baru diluncurkan. Panggilan…

5 Pilihan Terbaik Tema iOS Xiaomi HyperOS, Gratis! Tampilan Jadi Mirip iPhone

26 Februari 2025 | 06:29

5 Aplikasi Penyebab Memori Penuh Ini Bikin HP Lemot, Cek Daftarnya!

2 Januari 2026 | 14:00

10 Aplikasi Edit Foto Jadi Kartun Terbaik: Ubah Fotomu Jadi Menarik!

17 April 2025 | 17:01

Audio Jadi Gaya Hidup Modern 2026, Samsung Tancap Gas Lewat Galaxy Buds

10 Februari 2026 | 16:34
Terbaru

Remaja Makin Aktif Online, Ini Tips Aman Akses Internet yang Wajib Dicoba

Ana Octarin13 Februari 2026 | 16:01

7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Olin Sianturi1 Februari 2026 | 00:59

5 Fakta Prosedur Masuk Gedung KTP: Langgar UU Perlindungan Data?

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 20:00

7 Karyawan Dipecat Karena Skandal Keyboard Palsu, Ini Alasannya

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 18:00

Bill Gates Ungkap 3 Tanda Kiamat Bumi: Peran Indonesia dalam Perubahan Iklim

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 16:00
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.