Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

5 Juni 2026 | 13:02

Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar

4 Juni 2026 | 07:27

HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa

3 Juni 2026 | 05:22
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara
  • Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar
  • HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa
  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?
  • Komunitas Supermoto Makassar Jelajahi Wisata Ikonik Sulsel
  • Inovasi Gigabyte Computex 2026: Era Baru Teknologi AI
  • HP Gaming Terbaik 2026: 6 Pilihan Performa Monster Rp2 Jutaan
  • Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota
Sabtu, Juni 13
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Tech » 4 Fakta Terbaru: Retakan Permukaan Bulan Mengancam Misi Artemis NASA
Tech

4 Fakta Terbaru: Retakan Permukaan Bulan Mengancam Misi Artemis NASA

Olin SianturiOlin Sianturi10 Oktober 2025 | 03:08
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Gempa Bulan dan Retakan, Retakan Permukaan Bulan
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Penemuan mengejutkan tentang Gempa Bulan dan Retakan di permukaan satelit Bumi. Pelajari 4 fakta terbaru yang mengungkap risiko besar bagi pangkalan permanen NASA.

Dalam beberapa dekade terakhir, Bulan sering dianggap sebagai benda langit yang statis dan mati, di mana perubahannya hanya disebabkan oleh hantaman meteorit. Namun, penelitian terbaru justru mengungkap fakta yang sangat berbeda dan mengejutkan dunia sains: permukaan Bulan ternyata aktif secara seismik, menunjukkan tanda-tanda retakan besar yang mengkhawatirkan.

Temuan ini bukan sekadar berita kosmik biasa. Ia secara langsung memunculkan kekhawatiran baru terhadap rencana ambisius eksplorasi jangka panjang, terutama Misi Artemis milik NASA yang bertekad membangun pangkalan manusia permanen di Bulan.

Baca Juga

  • Cara Download Sertifikat Haji Digital Lewat Kartu Nusuk
  • Aplikasi Penyebab Memori HP Penuh yang Wajib Dihapus

Advertisement

Jika kita ingin menetap di satelit Bumi ini, memahami dinamika internalnya adalah kunci. Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan Retakan Permukaan Bulan ini, dan mengapa para ilmuwan mulai panik?

Mengapa Retakan Permukaan Bulan Tiba-Tiba Jadi Sorotan?

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi mengungkap bahwa perubahan lanskap Bulan tidak hanya disebabkan oleh tumbukan meteorit yang menghasilkan kawah. Ada kekuatan lain yang bekerja dari bawah permukaan: aktivitas seismik atau yang lebih dikenal sebagai gempa bulan (moonquakes).

Laporan yang bertajuk “Paleoseismic activity in the Moon’s Taurus-Littrow valley inferred from boulder falls and landslides” menunjukkan bukti kuat bahwa gempa bulan ini cukup kuat untuk memicu longsor dan jatuhnya batu-batu besar. Ini adalah bukti fisik bahwa permukaan Bulan sedang bergerak dan mengalami regangan.

Baca Juga

  • Cara Pasang Cat Gatekeeper untuk Berhenti Scrolling di Chrome
  • Cara Cek KTP Dipakai Pinjol Secara Online dengan Mudah

Advertisement

Para ilmuwan meyakini bahwa retakan ini kemungkinan besar disebabkan oleh pendinginan internal Bulan dan interaksi pasang surut gravitasi yang ekstrem antara Bumi dan Bulan. Meskipun tidak sedramatis gempa Bumi yang didorong oleh pergeseran lempeng tektonik, gempa bulan ini jelas menimbulkan masalah besar bagi arsitek luar angkasa.

Aktivitas Seismik yang Tak Terduga

Data mengenai gempa bulan sebenarnya sudah ada sejak era misi Apollo. Para astronaut meninggalkan seismometer yang mencatat aktivitas di bawah permukaan. Namun, analisis data terbaru inilah yang mengaitkan aktivitas seismik tersebut dengan perubahan geologi yang terlihat di permukaan, seperti retakan baru dan longsoran.

Kawasan Lembah Taurus-Littrow, lokasi pendaratan Apollo 17, menjadi fokus utama penelitian ini. Di sana, ditemukan bahwa lanskap tersebut telah mengalami perubahan signifikan dalam waktu geologis yang relatif singkat. Artinya, kita sedang berhadapan dengan medan yang secara aktif berubah, bukan hanya situs sejarah yang beku.

Baca Juga

  • Cara Mengatasi Google Drive Penuh Agar Penyimpanan Kembali Lega
  • Cara Melacak Lokasi Orang Lewat WA dan Google Maps Terbaru

Advertisement

Gempa Bulan dan Retakan: 4 Fakta yang Mengubah Perencanaan NASA

Kehadiran Gempa Bulan dan Retakan di permukaan satelit Bumi mau tak mau memaksa NASA dan badan antariksa lainnya untuk merevisi rencana pembangunan pangkalan. Berikut adalah empat fakta krusial mengenai temuan ini:

  • Retakan Terfokus pada Zona Aktif: Retakan terbesar sering ditemukan di sepanjang patahan-patahan yang disebut sesar dorong (thrust faults). Ini adalah area di mana kerak Bulan ditekan bersama-sama hingga salah satu sisinya terangkat ke atas. Aktivitas ini secara periodik memicu guncangan yang dapat merusak struktur.
  • Durasi Guncangan Lebih Lama: Salah satu perbedaan utama antara gempa bulan dan gempa Bumi adalah durasinya. Karena Bulan tidak memiliki air untuk meredam gelombang seismik, getaran yang dihasilkan oleh gempa bulan cenderung bertahan jauh lebih lama, kadang-kadang mencapai satu jam. Guncangan berkepanjangan ini sangat merusak bagi bangunan yang rentan.
  • Dampak terhadap Struktur Bawah Tanah: Rencana misi Artemis mencakup pembangunan habitat dan fasilitas penyimpanan sumber daya di bawah permukaan untuk melindungi astronaut dari radiasi kosmik dan suhu ekstrem. Aktivitas Retakan Permukaan Bulan dan gempa yang berkepanjangan menimbulkan risiko keruntuhan serius terhadap infrastruktur bawah tanah ini.
  • Tantangan dalam Pemilihan Lokasi Pendaratan: Studi ini memaksa NASA untuk lebih teliti dalam memilih lokasi pangkalan. Area yang kaya sumber daya, seperti kawah yang mengandung es air, mungkin juga merupakan zona patahan yang aktif. Prioritas keamanan struktural harus diutamakan di atas kemudahan akses sumber daya.

Perbedaan Gempa Bulan vs. Gempa Bumi

Penting untuk memahami bahwa pemicu Gempa Bulan dan Retakan sangat berbeda dengan yang terjadi di Bumi. Gempa Bumi sebagian besar didorong oleh dinamika lempeng tektonik, di mana lempeng-lempeng besar bergerak di atas mantel yang cair.

Bulan tidak memiliki lempeng tektonik. Sebaliknya, gempa bulan terbagi menjadi beberapa tipe, yang paling relevan saat ini adalah gempa dangkal. Gempa ini terjadi hanya beberapa kilometer di bawah permukaan dan diyakini disebabkan oleh gaya pasang surut Bumi yang terus-menerus menarik dan meremas Bulan.

Baca Juga

  • Bahaya Modus Silent Call: Kenali Ciri dan Cara Menghindarinya
  • Cara Perpanjang STNK Tanpa KTP Pemilik Lama Berlaku Nasional

Advertisement

Gaya pasang surut ini menyebabkan stres yang menumpuk di kerak Bulan. Ketika stres mencapai titik puncaknya, ia dilepaskan sebagai gempa, yang kemudian menghasilkan retakan baru di permukaan yang dingin dan rapuh.

Tantangan Eksplorasi: Membangun di Atas Lempeng yang Bergeser

Misi Artemis bertujuan untuk mengirim manusia kembali ke Bulan dan membangun kehadiran berkelanjutan. Ini berarti membangun habitat, laboratorium, dan fasilitas pendukung kehidupan yang harus tahan lama.

Temuan mengenai Retakan Permukaan Bulan menjadi faktor desain yang tidak bisa diabaikan. Para insinyur kini harus mempertimbangkan metode konstruksi yang mampu menahan guncangan yang lama dan intens.

Baca Juga

  • Alasan Mengaktifkan Mode Pesawat Saat Terbang, Bukan Biar Tak Jatuh!
  • Cara Matikan Dering WhatsApp Nomor Tak Dikenal Tanpa Aplikasi

Advertisement

Solusi potensial mungkin melibatkan penggunaan struktur modular yang lebih fleksibel atau penggunaan material lokal (regolith) yang dicetak 3D dan dirancang secara spesifik untuk menyerap energi seismik. NASA mungkin juga perlu mengembangkan sistem peringatan dini gempa bulan.

Selain itu, lokasi pangkalan harus dipilih di wilayah yang secara seismik paling stabil. Ini mungkin membatasi opsi pendaratan, tetapi keselamatan astronaut adalah pertimbangan utama.

Baca Juga

  • Cara Ganti Alamat Gmail Utama Tanpa Menghapus Data Akun
  • Cara Ganti Alamat Email Gmail Tanpa Perlu Buat Akun Baru

Advertisement

Masa Depan Eksplorasi dan Keseimbangan Risiko

Penemuan ini pada akhirnya menunjukkan betapa kompleksnya Bulan. Ia bukan hanya tumpukan debu mati, tetapi dunia yang dinamis dan berubah. Meskipun Gempa Bulan dan Retakan menimbulkan tantangan besar, ini juga merupakan peluang ilmiah yang luar biasa.

Baca Juga

  • Cara Mematikan Download Otomatis WhatsApp Agar Memori HP Lega
  • Cara Pakai WhatsApp di Garmin, Balas Chat Tanpa Smartphone

Advertisement

Dengan mempelajari lebih lanjut tentang aktivitas seismik Bulan, kita tidak hanya meningkatkan keselamatan misi di masa depan, tetapi juga mendapatkan wawasan yang lebih dalam tentang pembentukan dan evolusi satelit alami kita. Eksplorasi luar angkasa selalu berjalan beriringan dengan risiko, dan tantangan baru ini hanyalah babak berikutnya dalam upaya umat manusia menaklukkan kosmos.


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Eksplorasi Luar Angkasa Gempa Bulan Misi Artemis NASA Retakan Permukaan Bulan
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous Article7 Alasan Mengapa Perempuan Lebih Panjang Umur Diungkap Penelitian
Next Article 5 Tips Thrifting Gadget Jatinegara: Dapat HP Murah yang Bikin Kaget
Olin Sianturi
  • Website

Olin Sianturi adalah seorang Content Writer di Media TechnoNesia dan GadgetVIVA, berpengalaman dalam menulis artikel informatif dan SEO-friendly. Spesialisasinya mencakup teknologi, gadget, elektronik, game. Dengan gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami, Olin mampu menghadirkan konten berkualitas yang relevan dan bernilai bagi pembaca.

Artikel Terkait

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37

Cara Download Sertifikat Haji Digital Lewat Kartu Nusuk

Ana Octarin1 Juni 2026 | 23:22

Sistem Prediksi Badai Matahari Milik NASA Beri Peringatan Dini

Ana Octarin28 Mei 2026 | 19:53

Foto Haji dari Angkasa Abadikan Momen Suci di Arafah

Ana Octarin25 Mei 2026 | 13:55

Bahaya Sampah Antariksa Mengincar Jakarta, Ini Penjelasannya

Iphan S23 Mei 2026 | 14:55

Aplikasi Penyebab Memori HP Penuh yang Wajib Dihapus

Ana Octarin23 Mei 2026 | 12:55
Pilihan Redaksi
Aplikasi

7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Olin Sianturi1 Februari 2026 | 00:59

Persaingan di dunia konten digital semakin memanas. Khususnya di TikTok, platform video pendek yang kini…

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

5 Juni 2026 | 13:02

Harga Samsung Galaxy Tab A7 Terbaru, Masih Layak Dibeli?

2 Juni 2026 | 13:37

5 Pilihan Terbaik Tema iOS Xiaomi HyperOS, Gratis! Tampilan Jadi Mirip iPhone

26 Februari 2025 | 06:29

HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa

3 Juni 2026 | 05:22
Terbaru

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37

Cara Download Sertifikat Haji Digital Lewat Kartu Nusuk

Ana Octarin1 Juni 2026 | 23:22

Sistem Prediksi Badai Matahari Milik NASA Beri Peringatan Dini

Ana Octarin28 Mei 2026 | 19:53

Foto Haji dari Angkasa Abadikan Momen Suci di Arafah

Ana Octarin25 Mei 2026 | 13:55

Bahaya Sampah Antariksa Mengincar Jakarta, Ini Penjelasannya

Iphan S23 Mei 2026 | 14:55
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.