Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Fitur iPhone Fold Terbaru: Multitasking Canggih Mirip iPad

16 Maret 2026 | 04:39

Strategi Pasar Suzuki 2026: Targetkan Pangsa Pasar 9,5 Persen

16 Maret 2026 | 03:22

Bocoran Samsung Galaxy Z Flip 8: Baterai Tetap 4.300 mAh & Chip 2nm

16 Maret 2026 | 03:03
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Fitur iPhone Fold Terbaru: Multitasking Canggih Mirip iPad
  • Strategi Pasar Suzuki 2026: Targetkan Pangsa Pasar 9,5 Persen
  • Bocoran Samsung Galaxy Z Flip 8: Baterai Tetap 4.300 mAh & Chip 2nm
  • Teknologi HD Voice Galaxy Buds4: Rahasia Telepon Jernih Tanpa Bising
  • Oppo Find N6 Terbaru Siap Meluncur, Bawa Bodi Paling Tipis
  • Mini PC ASUS NUC 16 Pro: Komputer AI Super Kencang Resmi Rilis
  • Fitur Expert Review Grammarly Resmi Dihapus Akibat Isu Etika
  • Intel Core Ultra 200S Plus Meluncur Jadi CPU Gaming Tercepat
Senin, Maret 16
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Aplikasi » Fitur Expert Review Grammarly Resmi Dihapus Akibat Isu Etika
Aplikasi

Fitur Expert Review Grammarly Resmi Dihapus Akibat Isu Etika

Olin SianturiOlin Sianturi16 Maret 2026 | 02:46
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Fitur Expert Review Grammarly
Fitur Expert Review Grammarly
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Fitur Expert Review Grammarly resmi dihentikan oleh perusahaan induknya, Superhuman, setelah muncul gelombang protes dari komunitas penulis dan jurnalis global. Langkah drastis ini diambil menyusul temuan bahwa teknologi kecerdasan buatan (AI) tersebut menggunakan karya para ahli sebagai referensi gaya penulisan tanpa adanya kesepakatan atau kompensasi. Keputusan ini menandai babak baru dalam perdebatan panjang mengenai batasan etika penggunaan data untuk melatih model bahasa besar

Layanan yang pertama kali meluncur pada Agustus lalu ini sejatinya dirancang untuk memberikan saran penulisan yang lebih berbobot. Dengan memanfaatkan pihak ketiga, fitur tersebut mampu menyajikan saran gaya bahasa yang menyerupai cara menulis para pakar ternama. Namun, masalah mendasar muncul ketika diketahui bahwa para ahli yang namanya dicatut tersebut sama sekali tidak mengetahui bahwa karya mereka menjadi basis algoritma fitur tersebut.

Kontroversi di Balik Fitur Expert Review Grammarly

Fitur Expert Review Grammarly menuai kecaman keras karena dianggap melampaui batas kewajaran dalam pengambilan data. Jika perusahaan AI lain biasanya hanya melakukan scraping data secara anonim untuk melatih model mereka, fitur ini justru secara terang-terangan menggunakan identitas dan profil penulis tertentu sebagai referensi gaya. Praktik ini dinilai sebagai bentuk eksploitasi intelektual yang tidak menghargai jerih payah para kreator konten orisinal.

Baca Juga

  • Fitur Akun WhatsApp Anak: Panduan Lengkap dan Cara Mengaturnya
  • Fitur About the Song Spotify: Bedah Rahasia di Balik Lagu

Advertisement

Kemarahan publik memuncak ketika sejumlah editor senior dan jurnalis dari media teknologi ternama menemukan nama mereka terdaftar sebagai referensi gaya di dalam alat tersebut. Mereka merasa keberatan karena identitas profesional mereka digunakan untuk mengomersialkan produk tanpa izin. Awalnya, Superhuman mencoba meredam situasi dengan menyediakan saluran email bagi penulis yang ingin menarik namanya dari sistem (opt-out), namun solusi ini dianggap tidak memadai.

Kritik yang terus mengalir akhirnya memaksa manajemen untuk menarik fitur tersebut sepenuhnya dari pasar. Pihak perusahaan mengakui bahwa mereka telah melakukan kesalahan fatal dalam strategi pengembangan produk. Mereka menyadari bahwa membangun kepercayaan pengguna tidak bisa dilakukan dengan cara mengambil hak intelektual orang lain secara sepihak.

Kegagalan Etika dalam Pengembangan AI

Ailian Gan, Direktur Manajemen Produk di Superhuman, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka terkait insiden ini. Ia mengakui bahwa perusahaan telah meleset dari target etika yang seharusnya dijunjung tinggi. Perusahaan berjanji akan melakukan pendekatan yang lebih transparan dan menghargai hak cipta di masa mendatang agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Baca Juga

  • Penggunaan ChatGPT Secara Personal Lebih Dominan dari Pekerjaan
  • 7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Advertisement

Fenomena ini mencerminkan tren buruk di Lembah Silikon yang sering kali menerapkan prinsip “minta maaf lebih mudah daripada minta izin”. Di tengah persaingan ketat pengembangan AI, banyak perusahaan teknologi yang mengabaikan aspek legalitas demi mengejar inovasi cepat. Kasus Grammarly ini menjadi pengingat keras bahwa data bukan sekadar angka di server, melainkan hasil pemikiran manusia yang memiliki hak hukum.

Dunia kepenulisan saat ini memang sedang berada di titik nadir akibat gempuran AI generatif. Banyak penulis merasa pekerjaan mereka terancam bukan hanya karena AI bisa menulis, tetapi karena AI belajar dari tulisan mereka untuk kemudian menggantikan posisi mereka. Hal inilah yang membuat isu penggunaan identitas ahli menjadi sangat sensitif di mata publik.

Visi Baru dan Model Bisnis Berbasis Izin

CEO Superhuman, Shishir Mehrotra, memberikan penjelasan tambahan melalui platform LinkedIn. Ia memaparkan visi masa depan di mana para ahli tetap bisa berkolaborasi dengan AI, namun dengan kendali penuh di tangan mereka. Mehrotra membayangkan sebuah ekosistem di mana para pakar memilih secara sadar untuk berpartisipasi dan bahkan membangun model bisnis dari pengetahuan mereka yang diintegrasikan ke dalam alat digital.

Baca Juga

  • 7 Tanda WhatsApp Disadap dari Jauh dan Cara Ampuh Hentikan
  • STOP! 5 Tipe Xiaomi Mi Redmi Ini Akan Kehilangan Dukungan Google Chrome 2026

Advertisement

Dalam visi tersebut, para ahli dapat menentukan bagaimana pengetahuan mereka direpresentasikan dan mendapatkan keuntungan finansial dari setiap penggunaan gaya mereka oleh pengguna. Model “opt-in” ini dianggap jauh lebih adil dibandingkan praktik pengambilan data secara paksa yang dilakukan sebelumnya. Namun, banyak pihak tetap skeptis mengingat reputasi perusahaan yang sudah terlanjur tercoreng.

Langkah Superhuman untuk menghapus fitur tersebut memang patut diapresiasi, namun kerusakan reputasi sudah terjadi. Meniru identitas jurnalis dan penulis tanpa izin adalah langkah yang sangat berisiko, terutama di industri yang sangat menghargai integritas dan keaslian karya. Ke depannya, transparansi data akan menjadi mata uang utama dalam pengembangan teknologi AI asisten menulis.

Industri teknologi kini harus belajar bahwa inovasi tidak boleh mengorbankan etika. Para pengembang AI perlu membangun jembatan kolaborasi yang sehat dengan para pemilik konten, bukan sekadar menjadi “pencuri” intelektual yang bersembunyi di balik kecanggihan algoritma. Penghentian fitur ini menjadi bukti bahwa suara komunitas kreatif masih memiliki kekuatan besar untuk mengubah kebijakan perusahaan raksasa.

Baca Juga

  • 7 Cara Rahasia Ubah Tulisan di WhatsApp Biar Beda dan Gaya
  • 5 Aplikasi Penyebab Memori Penuh Ini Bikin HP Lemot, Cek Daftarnya!

Advertisement

Kini, pengguna asisten menulis digital menunggu langkah konkret selanjutnya dari perusahaan-perusahaan teknologi. Apakah mereka benar-benar akan melibatkan manusia dalam proses pengembangan, atau hanya mencari cara lain untuk mengeksploitasi data dengan cara yang lebih halus. Yang pasti, kasus ini akan menjadi referensi penting dalam penyusunan regulasi AI di berbagai negara di masa depan.


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Grammarly Hak Cipta Jurnalisme Kecerdasan Buatan Superhuman
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleIntel Core Ultra 200S Plus Meluncur Jadi CPU Gaming Tercepat
Next Article Mini PC ASUS NUC 16 Pro: Komputer AI Super Kencang Resmi Rilis
Olin Sianturi
  • Website

Olin Sianturi adalah seorang Content Writer di Media TechnoNesia dan GadgetVIVA, berpengalaman dalam menulis artikel informatif dan SEO-friendly. Spesialisasinya mencakup teknologi, gadget, elektronik, game. Dengan gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami, Olin mampu menghadirkan konten berkualitas yang relevan dan bernilai bagi pembaca.

Artikel Terkait

Penundaan Seedance 2.0 ByteDance: Dampak Kontroversi Hak Cipta AI

Olin Sianturi15 Maret 2026 | 20:19

Fitur Akun WhatsApp Anak: Panduan Lengkap dan Cara Mengaturnya

Olin Sianturi15 Maret 2026 | 20:16

Fitur AI Android Terbaru Gemini: Revolusi Pencarian dan Keamanan

Olin Sianturi14 Maret 2026 | 14:36

Fitur About the Song Spotify: Bedah Rahasia di Balik Lagu

Olin Sianturi3 Maret 2026 | 09:18

Penggunaan ChatGPT Secara Personal Lebih Dominan dari Pekerjaan

Olin Sianturi3 Maret 2026 | 08:12

Jadwal Rilis PlayStation 6 Terancam Mundur Akibat Booming AI

Olin Sianturi3 Maret 2026 | 07:00
Pilihan Redaksi
Elektronik

Speaker Multi-room Sonos Terbaru: Era 100 SL dan Play Hadir

Olin Sianturi14 Maret 2026 | 03:05

Speaker multi-room Sonos terbaru kini resmi memperkuat jajaran perangkat audio premium untuk pasar global melalui…

Bocoran Spesifikasi OnePlus 16: Snapdragon 8 Elite & Kamera 200MP

14 Maret 2026 | 03:43

ASUS Jadi Laptop Terbaik 2026: Buktikan Durabilitas Tahan Banting yang Tak Masuk Akal

13 Maret 2026 | 06:30

Galaxy Buds4 Series Hadirkan HD Voice, Panggilan Telepon Kini Super Jernih

14 Maret 2026 | 14:01

Intel Core Ultra 200S Plus Meluncur Jadi CPU Gaming Tercepat

16 Maret 2026 | 02:42
Terbaru

Penundaan Seedance 2.0 ByteDance: Dampak Kontroversi Hak Cipta AI

Olin Sianturi15 Maret 2026 | 20:19

Fitur Akun WhatsApp Anak: Panduan Lengkap dan Cara Mengaturnya

Olin Sianturi15 Maret 2026 | 20:16

Fitur AI Android Terbaru Gemini: Revolusi Pencarian dan Keamanan

Olin Sianturi14 Maret 2026 | 14:36

Fitur About the Song Spotify: Bedah Rahasia di Balik Lagu

Olin Sianturi3 Maret 2026 | 09:18

Penggunaan ChatGPT Secara Personal Lebih Dominan dari Pekerjaan

Olin Sianturi3 Maret 2026 | 08:12
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.