Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Teknik Malware Zombie ZIP: Cara Baru Peretas Kelabui Antivirus

18 Maret 2026 | 20:40

Karakter One Piece Live Action Season 2 yang Absen: Ace Tak Ada?

18 Maret 2026 | 20:33

Fitur Baru WhatsApp Chat Tanpa Akun: Kirim Pesan Lewat Browser

18 Maret 2026 | 20:12
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Teknik Malware Zombie ZIP: Cara Baru Peretas Kelabui Antivirus
  • Karakter One Piece Live Action Season 2 yang Absen: Ace Tak Ada?
  • Fitur Baru WhatsApp Chat Tanpa Akun: Kirim Pesan Lewat Browser
  • Bocoran Spesifikasi Oppo Reno 16 Pro Max: Usung Kamera 200MP
  • Harga Apple MacBook Neo Mulai Rp10 Juta, Pakai Chip A18 Pro
  • Huawei Vision Smart Screen 6 Resmi Meluncur Layar 4K MiniLED
  • Spesifikasi Oppo Find N6: HP Lipat Tipis Kamera 200MP
  • Spesifikasi Redmi A7 Pro di Indonesia: HP Baterai 6.000 mAh Murah
Rabu, Maret 18
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Tech » Teknik Malware Zombie ZIP: Cara Baru Peretas Kelabui Antivirus
Tech Berita Tekno

Teknik Malware Zombie ZIP: Cara Baru Peretas Kelabui Antivirus

Olin SianturiOlin Sianturi18 Maret 2026 | 20:40
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Teknik Malware Zombie ZIP
Teknik Malware Zombie ZIP (foto: malwarebytes)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Teknik malware Zombie ZIP kini menjadi perbincangan hangat di kalangan praktisi keamanan siber setelah para peneliti menemukan metode cerdik untuk menyembunyikan kode berbahaya. Metode ini memanfaatkan file ZIP yang sengaja dibuat rusak (corrupted) agar tidak terdeteksi oleh sistem pemindaian keamanan. Penemuan ini menjadi sinyal merah bagi pengguna internet karena peretas memiliki cara baru untuk mengirimkan payload tanpa memicu alarm dari perangkat lunak antivirus.

Para ahli keamanan menjelaskan bahwa ancaman ini bekerja dengan memanipulasi struktur dasar dari sebuah arsip digital. Secara teknis, setiap file ZIP memiliki komponen yang disebut sebagai header. Bagian ini menyimpan metadata krusial yang memberitahu sistem operasi atau aplikasi pengarsip mengenai isi file, mulai dari metode kompresi yang digunakan hingga informasi versi untuk ekstraksi data.

Dalam skema serangan ini, penyerang sengaja merusak bagian field metode kompresi pada header tersebut. Hasilnya, aplikasi pengarsip populer yang sering kita gunakan sehari-hari seperti 7-Zip atau WinRAR akan gagal mengenali format file tersebut. Alih-alih membukanya, aplikasi biasanya akan menampilkan pesan kesalahan bahwa file tersebut rusak atau tidak didukung.

Baca Juga

  • Terobosan Berlian Heksagonal Murni China Guncang Industri Global 2026
  • Modus Penipuan Digital Lebaran di WhatsApp dan Facebook Marak

Advertisement

Mengenal Cara Kerja Teknik Malware Zombie ZIP

Meskipun file tersebut terlihat rusak di mata aplikasi pengarsip standar, teknik malware Zombie ZIP sebenarnya tetap menyimpan data yang utuh di dalamnya. Peretas tetap menggunakan algoritma Deflate untuk mengompresi data berbahaya mereka. Sebagai informasi, Deflate adalah algoritma kompresi lossless legendaris yang dikembangkan oleh Phil Katz untuk perangkat lunak PKZIP pada tahun 1990-an dan masih menjadi standar industri hingga saat ini.

Manipulasi metadata inilah yang menjadi kunci utama mengapa serangan ini sangat efektif. Antivirus modern umumnya melakukan pemindaian cepat terhadap file terkompresi. Jika mesin pemindai melihat header yang rusak atau tidak konsisten, sistem cenderung menganggap file tersebut sebagai sampah digital yang tidak berbahaya atau sekadar data korup yang tidak bisa dieksekusi. Hal ini membuat malware tetap bersembunyi dengan aman di dalam arsip tanpa terendus radar keamanan.

Penyerang kemudian memanfaatkan alat khusus atau skrip tertentu yang mampu mengabaikan informasi salah pada header. Alat ini akan langsung membaca aliran data mentah (raw data stream) di dalam file dan mengekstrak payload berbahaya secara diam-diam. Dengan cara ini, serangan tetap berjalan mulus meskipun file tersebut tampak tidak bisa dibuka oleh pengguna awam.

Baca Juga

  • Waspada Penipuan Digital Jelang Lebaran: Pakar Ingatkan Modus Makin Nekat
  • Chip AI Pusat Data Luar Angkasa Nvidia Vera Rubin Space-1 Resmi Dirilis

Advertisement

Bahaya Nyata di Balik Celah CVE-2026-0866

Eksploitasi ini sekarang mendapatkan perhatian serius dengan kode pelacakan kerentanan CVE-2026-0866. Berdasarkan laporan terbaru, efektivitas metode ini sangat mengkhawatirkan. Dalam serangkaian pengujian melalui platform VirusTotal, teknik malware Zombie ZIP dilaporkan mampu meloloskan diri dari sekitar 98% mesin antivirus yang ada di pasar saat ini.

Bahkan, nama-nama besar di industri keamanan siber seperti Microsoft Defender, Kaspersky, hingga Bitdefender dikabarkan gagal menandai arsip yang telah dimanipulasi ini sebagai ancaman pada tahap awal pengujian. Hal ini menunjukkan adanya celah logika pada cara kerja mesin antivirus dalam menangani file yang mengalami kerusakan struktur header.

Kondisi ini menciptakan risiko besar bagi sektor korporasi maupun individu. Bayangkan sebuah email phishing masuk dengan lampiran ZIP yang terlihat rusak. Pengguna mungkin akan mengabaikannya, namun di latar belakang, sebuah proses otomatis bisa saja mengekstrak isi file tersebut menggunakan teknik yang sama dengan yang digunakan peretas, sehingga menginfeksi sistem tanpa ada peringatan sama sekali.

Baca Juga

  • Kasasi Google Ditolak MA, Denda Rp 202,5 Miliar Resmi Berlaku
  • Perbandingan Chipset Flagship 2026: Snapdragon vs Exynos vs Dimensity

Advertisement

Perdebatan di Kalangan Analis Keamanan

Meskipun data pengujian menunjukkan angka kegagalan deteksi yang tinggi, tidak semua peneliti keamanan sepakat bahwa ini adalah “senjata kiamat” baru. Sejumlah analis malware berpendapat bahwa perilaku file Zombie ZIP sebenarnya mirip dengan file ZIP yang diproteksi kata sandi atau file terenkripsi. Keduanya sama-sama membutuhkan alat atau kunci khusus untuk dibuka, sehingga secara teknis bukan merupakan kerentanan perangkat lunak (vulnerability) melainkan teknik penghindaran

Peneliti dari CERT Coordination Center di Carnegie Mellon University memberikan sudut pandang tambahan. Mereka menemukan bahwa beberapa alat ekstraksi tingkat lanjut masih memiliki kemampuan untuk mengenali anomali ini. Alat-alat tersebut tetap bisa memproses arsip yang dimodifikasi dan mengeluarkan isi di dalamnya, asalkan algoritma kompresi dasarnya masih bisa dibaca oleh mesin.

Diskusi ini memicu dorongan bagi para pengembang antivirus untuk memperbarui algoritma pemindaian mereka. Para pakar menyarankan agar sistem keamanan tidak hanya terpaku pada metadata atau header luar sebuah file. Antivirus masa depan harus mampu melakukan analisis mendalam terhadap aliran data mentah di dalam setiap file terkompresi, terlepas dari apa yang tertulis di bagian header-nya.

Baca Juga

  • 5 Tips Jitu untuk Bikin Ramadan dan Idulfitri Lebih Kreatif dengan Meta AI
  • Pasar Wearable Dunia 2025: Xiaomi Resmi Geser Apple dan Samsung

Advertisement

Langkah Pencegahan bagi Pengguna

Munculnya teknik malware Zombie ZIP kembali mengingatkan kita akan pentingnya kewaspadaan digital. Serangan siber terus berevolusi dengan memanfaatkan celah-celah kecil yang sering kali luput dari perhatian pengembang sistem keamanan besar. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa diambil untuk meminimalisir risiko:

  • Jangan pernah mencoba mengekstrak atau menjalankan file ZIP yang berasal dari sumber tidak dikenal, terutama jika file tersebut dilaporkan rusak oleh sistem.
  • Gunakan solusi keamanan yang memiliki fitur analisis perilaku (behavioral analysis) daripada sekadar pemindaian berbasis tanda tangan (signature-based).
  • Pastikan sistem operasi dan perangkat lunak pengarsip seperti WinRAR atau 7-Zip selalu berada dalam versi terbaru untuk mendapatkan tambalan keamanan terkini.
  • Bagi administrator IT di perusahaan, pertimbangkan untuk memblokir lampiran file terkompresi yang memiliki struktur header tidak standar di tingkat gateway email.

Kehadiran ancaman ini menegaskan bahwa lanskap keamanan siber adalah medan perang yang dinamis. Peretas akan selalu mencari cara kreatif untuk memanipulasi teknologi lama demi tujuan baru yang merugikan. Tetap waspada dan terus memperbarui pengetahuan mengenai tren ancaman siber terbaru adalah perlindungan terbaik bagi data pribadi dan aset digital Anda.

Baca Juga

  • Penundaan Seedance 2.0 ByteDance: Dampak Kontroversi Hak Cipta AI
  • Fitur AI Android Terbaru Gemini: Revolusi Pencarian dan Keamanan

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Antivirus CVE-2026-0866 Keamanan Siber Malware Zombie ZIP
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleKarakter One Piece Live Action Season 2 yang Absen: Ace Tak Ada?
Olin Sianturi
  • Website

Olin Sianturi adalah seorang Content Writer di Media TechnoNesia dan GadgetVIVA, berpengalaman dalam menulis artikel informatif dan SEO-friendly. Spesialisasinya mencakup teknologi, gadget, elektronik, game. Dengan gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami, Olin mampu menghadirkan konten berkualitas yang relevan dan bernilai bagi pembaca.

Artikel Terkait

Terobosan Berlian Heksagonal Murni China Guncang Industri Global 2026

Olin Sianturi18 Maret 2026 | 17:28

Modus Penipuan Digital Lebaran di WhatsApp dan Facebook Marak

Olin Sianturi18 Maret 2026 | 04:41

Waspada Penipuan Digital Jelang Lebaran: Pakar Ingatkan Modus Makin Nekat

Olin Sianturi18 Maret 2026 | 03:21

Chip AI Pusat Data Luar Angkasa Nvidia Vera Rubin Space-1 Resmi Dirilis

Olin Sianturi18 Maret 2026 | 02:39

Kasasi Google Ditolak MA, Denda Rp 202,5 Miliar Resmi Berlaku

Olin Sianturi18 Maret 2026 | 00:53

Perbandingan Chipset Flagship 2026: Snapdragon vs Exynos vs Dimensity

Olin Sianturi17 Maret 2026 | 17:10
Pilihan Redaksi
Elektronik

Speaker Multi-room Sonos Terbaru: Era 100 SL dan Play Hadir

Olin Sianturi14 Maret 2026 | 03:05

Speaker multi-room Sonos terbaru kini resmi memperkuat jajaran perangkat audio premium untuk pasar global melalui…

Fitur Fast Charging Galaxy S26 Ultra: Alasan Tak Kejar Watt

18 Maret 2026 | 04:07

Galaxy Buds4 Series Hadirkan HD Voice, Panggilan Telepon Kini Super Jernih

14 Maret 2026 | 14:01

Bocoran Spesifikasi OnePlus 16: Snapdragon 8 Elite & Kamera 200MP

14 Maret 2026 | 03:43

Chip AI Pusat Data Luar Angkasa Nvidia Vera Rubin Space-1 Resmi Dirilis

18 Maret 2026 | 02:39
Terbaru

Terobosan Berlian Heksagonal Murni China Guncang Industri Global 2026

Olin Sianturi18 Maret 2026 | 17:28

Modus Penipuan Digital Lebaran di WhatsApp dan Facebook Marak

Olin Sianturi18 Maret 2026 | 04:41

Waspada Penipuan Digital Jelang Lebaran: Pakar Ingatkan Modus Makin Nekat

Olin Sianturi18 Maret 2026 | 03:21

Chip AI Pusat Data Luar Angkasa Nvidia Vera Rubin Space-1 Resmi Dirilis

Olin Sianturi18 Maret 2026 | 02:39

Kasasi Google Ditolak MA, Denda Rp 202,5 Miliar Resmi Berlaku

Olin Sianturi18 Maret 2026 | 00:53
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.