Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Rice Cooker Mini Low Watt 2026: 5 Pilihan Terbaik untuk Anak Kos

27 Maret 2026 | 01:50

Kulkas Mini Low Watt Terbaik 2026 untuk Anak Kos dan Apartemen

27 Maret 2026 | 01:47

realme GT 8 Pro 2026: Flagship Killer dengan AnTuTu 4 Juta

27 Maret 2026 | 01:39
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Rice Cooker Mini Low Watt 2026: 5 Pilihan Terbaik untuk Anak Kos
  • Kulkas Mini Low Watt Terbaik 2026 untuk Anak Kos dan Apartemen
  • realme GT 8 Pro 2026: Flagship Killer dengan AnTuTu 4 Juta
  • Microwave 20L Hemat Listrik Harga 1 Jutaan Terbaik 2026
  • Kulkas 2 Pintu Inverter Terbaik 2026: Pilihan Irit & Awet
  • Air Fryer Compact Terbaik 2026: 5 Pilihan Hemat Listrik
  • Profesi Teknis Aman dari AI: Kisah Anak Dokter Jadi Tukang Ledeng
  • Cara Pakai WhatsApp di Garmin, Balas Chat Tanpa Smartphone
Jumat, Maret 27
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » Penemuan Mikroba Purba Hidup di Batu Berusia 2 Miliar Tahun
Berita Tekno

Penemuan Mikroba Purba Hidup di Batu Berusia 2 Miliar Tahun

Ana OctarinAna Octarin26 Maret 2026 | 23:10
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Penemuan mikroba purba hidup
Penemuan mikroba purba hidup (Foto: www.cnbcindonesia.com)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Penemuan mikroba purba hidup di dalam lapisan batuan kuno Afrika Selatan telah mengguncang dunia ilmu pengetahuan internasional. Tim peneliti berhasil mengekstraksi organisme mikroskopis yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan dari sampel batu yang diambil dari kedalaman ekstrem. Temuan ini dianggap sebagai sebuah lompatan besar karena batuan tersebut diperkirakan telah berusia 2 miliar tahun.

Para ilmuwan dari University of Tokyo memimpin penelitian ambisius ini dengan menggunakan teknik pengeboran ultra-dalam. Mereka menargetkan Kompleks Beku Bushveld (Bushveld Igneous Complex) di Afrika Selatan, sebuah formasi geologi yang dikenal sangat stabil dan tidak mengalami banyak perubahan selama miliaran tahun. Stabilitas geologi inilah yang memungkinkan mikroba tetap terisolasi dari dunia luar tanpa terkontaminasi oleh proses evolusi di permukaan bumi.

Sebelum adanya laporan ini, catatan sejarah geologi mencatat bahwa batas usia kehidupan tertua yang pernah ditemukan berada di lapisan sedimen berusia 100 juta tahun di bawah dasar laut. Namun, penemuan mikroba purba hidup kali ini memecahkan rekor tersebut dengan selisih waktu yang sangat jauh, yakni hampir dua miliar tahun lebih tua. Hal ini membuktikan bahwa kehidupan memiliki daya tahan yang jauh lebih tangguh daripada yang dibayangkan manusia sebelumnya.

Baca Juga

  • Profesi Teknis Aman dari AI: Kisah Anak Dokter Jadi Tukang Ledeng
  • Alat Pembobol iPhone DarkSword Bocor, Jutaan Pengguna Terancam

Advertisement

Signifikansi Penemuan Mikroba Purba Hidup bagi Ilmu Pengetahuan

Yohey Suzuki, profesor dari Graduate School of Science di University of Tokyo, menyatakan kekagumannya terhadap daya tahan organisme ini. Menurutnya, penemuan mikroba purba hidup ini memberikan bukti konkret bahwa struktur batuan yang sangat tua masih mampu menyediakan ruang bagi kehidupan untuk bertahan. Selama ini, para ahli meragukan apakah batuan yang terbentuk miliaran tahun lalu masih memiliki pori-pori atau nutrisi yang cukup untuk mendukung metabolisme makhluk hidup.

Mikroba yang ditemukan di Afrika Selatan ini diketahui merupakan penghuni asli dari formasi batuan tersebut. Para peneliti memastikan bahwa mikroorganisme ini bukan berasal dari kontaminasi selama proses pengeboran. Berdasarkan analisis genetik, mikroba ini berevolusi dengan kecepatan yang sangat lambat, hampir seolah-olah waktu berhenti bagi mereka di dalam kegelapan bawah tanah yang kedap oksigen.

Kondisi lingkungan di kedalaman ribuan meter di bawah permukaan bumi memang sangat ekstrem. Tanpa adanya cahaya matahari dan pasokan nutrisi organik dari permukaan, mikroba ini mengandalkan reaksi kimia dari mineral batuan di sekitarnya. Strategi bertahan hidup yang unik ini menjadi subjek penelitian intensif dalam jurnal Microbial Ecology, yang menyoroti bagaimana metabolisme seluler dapat ditekan hingga level minimal selama jutaan tahun.

Baca Juga

  • Persaingan Chip AI Global: Alibaba dan Nvidia Saling Klaim
  • Pencatatan Saham SK Hynix di Wall Street Incar Dana Triliunan

Advertisement

Membuka Tabir Evolusi Makhluk Hidup di Bumi

Data ilmiah menunjukkan bahwa kehidupan pertama kali muncul di planet kita sekitar 3,5 miliar tahun yang lalu. Sebagai perbandingan, spesies manusia modern atau Homo sapiens baru mendiami bumi sejak beberapa ratus ribu tahun silam. Dengan demikian, penemuan mikroba purba hidup ini seolah-olah menjadi mesin waktu yang membawa para peneliti kembali ke masa awal pembentukan ekosistem bumi.

Peneliti menduga bahwa mikroba ini tidak mengalami banyak perubahan fisik maupun genetik sejak masa pra-kambrium. Hal ini memberikan kesempatan langka bagi para ahli biologi untuk mempelajari struktur sel purba secara langsung, tanpa harus bergantung pada fosil yang sudah membatu. Pemahaman mengenai evolusi makhluk hidup akan mengalami perubahan besar seiring dengan data baru yang didapatkan dari sampel Afrika Selatan ini.

Selain itu, penemuan ini memperkuat teori tentang “Deep Biosphere” atau biosfer dalam. Teori ini menyatakan bahwa sebagian besar biomassa bumi sebenarnya tersembunyi jauh di bawah kaki kita, di dalam kerak bumi yang selama ini dianggap mati. Kehidupan di bawah tanah ini mungkin memiliki populasi yang lebih besar dan lebih beragam dibandingkan dengan kehidupan yang kita lihat di permukaan tanah maupun di lautan.

Baca Juga

  • Pandangan Steve Wozniak tentang AI: Mengecewakan dan Kering
  • Bahaya Kecanduan Media Sosial: Meta dan Google Kena Denda Miliran

Advertisement

Implikasi Luas Terhadap Pencarian Kehidupan di Mars

Dampak dari penelitian ini tidak hanya terbatas pada pemahaman kita tentang bumi, tetapi juga merambah ke bidang astrobiologi. Koalisi peneliti internasional meyakini bahwa penemuan mikroba purba hidup ini menjadi panduan penting dalam mencari tanda-tanda kehidupan di planet lain, terutama Mars. Planet Merah diketahui memiliki kondisi geologi yang mirip dengan formasi batuan di Afrika Selatan.

Saat ini, NASA sedang menjalankan misi melalui robot Perseverance untuk mengumpulkan sampel batuan dari permukaan Mars. Batuan di Mars diperkirakan memiliki usia yang serupa dengan batuan berusia 2 miliar tahun yang ditemukan di bumi. Jika mikroba bisa bertahan hidup dalam batuan kuno di bumi, maka ada peluang besar bahwa sisa-sisa kehidupan atau bahkan mikroba hidup juga tersembunyi di bawah permukaan Mars.

Yohey Suzuki mengungkapkan antusiasmenya terhadap kemungkinan tersebut. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan mengonfirmasi keaslian mikroba dari lapisan geologi sedalam itu di bumi memberikan harapan baru bagi misi luar angkasa. Jika para ilmuwan tahu apa yang harus dicari dan bagaimana cara menemukannya di bumi, maka proses identifikasi kehidupan di Mars akan menjadi jauh lebih akurat dan efisien.

Baca Juga

  • Aturan Perlindungan Anak Digital: Roblox Siapkan Fitur Baru
  • Keamanan Data Perusahaan AI: Strategi Menghadapi Risiko Cloud

Advertisement

Eksplorasi di masa depan kemungkinan besar akan lebih banyak memfokuskan pada pengeboran bawah tanah di planet lain, daripada sekadar memindai permukaan. Penemuan mikroba purba hidup di Afrika Selatan memberikan protokol baru bagi para ilmuwan dalam menangani sampel luar angkasa agar tidak terkontaminasi oleh mikroba dari bumi saat proses pengambilan dan analisis dilakukan di laboratorium.

Secara keseluruhan, dunia sains kini memiliki perspektif baru mengenai batasan-batasan kehidupan. Apa yang sebelumnya dianggap sebagai batu mati yang sunyi, ternyata merupakan rumah bagi organisme yang telah melintasi waktu selama miliaran tahun. Kesuksesan penemuan mikroba purba hidup ini akan terus menjadi topik hangat yang memicu berbagai penelitian lanjutan di masa depan.

Baca Juga

  • Aturan Pembatasan Media Sosial RI Mendunia, Inggris Ikut Serta
  • Unihertz Titan 2 Elite Terbaru: HP QWERTY Canggih ala BlackBerry

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Afrika Selatan Arkeologi Mikroba NASA Sains
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticlePenyebab PHK Massal Epic Games: Bukan AI, Ini Masalah Utama
Next Article Cara Pakai WhatsApp di Garmin, Balas Chat Tanpa Smartphone
Ana Octarin
  • Website

Ana Octarin adalah seorang Penulis Berita yang fokus pada teknologi, otomotif, serta tips dan trik seputar kehidupan digital. Dengan gaya bahasa yang lugas, informatif, dan mudah dipahami, Ana mampu menghadirkan konten yang tidak hanya relevan tetapi juga bermanfaat bagi pembaca. Berbekal pengalaman dalam menulis artikel SEO-friendly, Ana konsisten menyajikan berita terkini, ulasan mendalam, hingga panduan praktis yang membantu audiens tetap update dan melek teknologi.

Artikel Terkait

Profesi Teknis Aman dari AI: Kisah Anak Dokter Jadi Tukang Ledeng

Iphan S27 Maret 2026 | 00:10

Alat Pembobol iPhone DarkSword Bocor, Jutaan Pengguna Terancam

Ana Octarin26 Maret 2026 | 20:39

Persaingan Chip AI Global: Alibaba dan Nvidia Saling Klaim

Ana Octarin26 Maret 2026 | 19:39

Pencatatan Saham SK Hynix di Wall Street Incar Dana Triliunan

Ana Octarin26 Maret 2026 | 18:10

Pandangan Steve Wozniak tentang AI: Mengecewakan dan Kering

Olin Sianturi26 Maret 2026 | 18:05

Bahaya Kecanduan Media Sosial: Meta dan Google Kena Denda Miliran

Ana Octarin26 Maret 2026 | 17:35
Pilihan Redaksi
Gadget

HP Kamera Mid-range Terbaik untuk Foto Lebaran Ciamik

Olin Sianturi21 Maret 2026 | 03:46

HP kamera mid-range terbaik menjadi incaran utama menjelang momen libur Lebaran yang penuh dengan aktivitas…

Kulkas Satu Pintu Terbaik 2026: Pilihan Estetis dan Awet

26 Maret 2026 | 14:00

Misteri Kuno Lapisan Es Mencair: Dunia Masa Lalu Terungkap

26 Maret 2026 | 08:05

Rice Cooker Digital vs Manual: Mana Paling Untung di 2026?

26 Maret 2026 | 07:55

Penutupan Aplikasi Sora OpenAI: Strategi Baru Demi IPO 2026

26 Maret 2026 | 11:15
Terbaru

Profesi Teknis Aman dari AI: Kisah Anak Dokter Jadi Tukang Ledeng

Iphan S27 Maret 2026 | 00:10

Alat Pembobol iPhone DarkSword Bocor, Jutaan Pengguna Terancam

Ana Octarin26 Maret 2026 | 20:39

Persaingan Chip AI Global: Alibaba dan Nvidia Saling Klaim

Ana Octarin26 Maret 2026 | 19:39

Pencatatan Saham SK Hynix di Wall Street Incar Dana Triliunan

Ana Octarin26 Maret 2026 | 18:10

Pandangan Steve Wozniak tentang AI: Mengecewakan dan Kering

Olin Sianturi26 Maret 2026 | 18:05
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.