Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Bobol AI Grok Elon Musk, Peretas RI Gasak Rp 3,4 Miliar

9 Mei 2026 | 14:55

Waktu Ideal Servis AC Mobil: Cek Tanda Kerusakan dan Biayanya

9 Mei 2026 | 13:55

Jadwal MPL ID S17 Hari Ini: El Clasico Evos vs RRQ Hoshi

9 Mei 2026 | 12:55
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Bobol AI Grok Elon Musk, Peretas RI Gasak Rp 3,4 Miliar
  • Waktu Ideal Servis AC Mobil: Cek Tanda Kerusakan dan Biayanya
  • Jadwal MPL ID S17 Hari Ini: El Clasico Evos vs RRQ Hoshi
  • Jadwal rilis iPhone 17e Indonesia: Cek Bocoran Tanggal & Harga
  • Samsung Galaxy Tab A9 Plus: Tablet Murah untuk Belajar
  • Dampak Larangan Teknologi China di Uni Eropa: Rugi Rp 6.900 T
  • Harga Honda Stylo 160 Terbaru Mei 2026 dan Spesifikasinya
  • Game Paranormal Activity Batal Rilis, Paramount Stop Proyek
Sabtu, Mei 9
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » Bobol AI Grok Elon Musk, Peretas RI Gasak Rp 3,4 Miliar
Berita Tekno

Bobol AI Grok Elon Musk, Peretas RI Gasak Rp 3,4 Miliar

Ana OctarinAna Octarin9 Mei 2026 | 14:55
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Bobol AI Grok Elon Musk
Bobol AI Grok Elon Musk (Foto: www.cnbcindonesia.com)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Bobol AI Grok Elon Musk menjadi perbincangan hangat di jagat maya setelah seorang peretas yang teridentifikasi berasal dari Indonesia diduga sukses menembus pertahanan chatbot canggih tersebut. Aksi nekat ini tidak hanya mencoreng reputasi sistem keamanan kecerdasan buatan milik xAI, tetapi juga mengakibatkan kerugian aset digital yang sangat besar. Pelaku dilaporkan berhasil menguras saldo kripto senilai US$ 200.000 atau setara dengan Rp 3,4 miliar melalui sebuah manipulasi instruksi yang sangat rapi.

Kabar mengenai eksploitasi ini pertama kali mencuat di komunitas kripto global dan platform media sosial X. Pelaku memanfaatkan celah keamanan pada interaksi antara Grok dan Bankrbot, sebuah sistem AI yang memiliki otorisasi khusus untuk mengelola dompet digital di jaringan Base. Dengan kecerdikan teknis yang tinggi, sang peretas mampu mengelabui logika berpikir AI sehingga sistem tersebut mengeksekusi perintah pengiriman aset ke alamat dompet pribadi milik pelaku tanpa kecurigaan sedikit pun.

Menguak Rahasia di Balik Aksi Bobol AI Grok Elon Musk

Metode yang digunakan dalam insiden Bobol AI Grok Elon Musk ini tergolong sangat unik dan belum pernah terjadi sebelumnya. Berdasarkan laporan dari berbagai sumber teknis, pelaku tidak menggunakan serangan brute force konvensional, melainkan teknik social engineering terhadap mesin. Pelaku mengirimkan serangkaian instruksi tersembunyi yang disusun dalam bentuk kode Morse kepada chatbot Grok. Penggunaan kode Morse ini diduga bertujuan untuk melewati filter keamanan teks standar yang biasanya memblokir perintah-perintah mencurigakan.

Baca Juga

  • Dampak Larangan Teknologi China di Uni Eropa: Rugi Rp 6.900 T
  • Jejak Gempa Besar Gunung Ciremai Ditemukan Peneliti BRIN

Advertisement

Setelah Grok menerima pesan dalam kode Morse tersebut, AI menerjemahkannya sebagai perintah operasional yang valid. Pesan hasil terjemahan itu kemudian diteruskan ke Bankrbot, yang bertindak sebagai eksekutor transaksi. Bankrbot, yang menganggap instruksi tersebut datang dari sumber resmi yang terverifikasi, langsung memproses pemindahan aset dalam skala besar. Keberhasilan Bobol AI Grok Elon Musk ini menunjukkan adanya kerentanan serius pada bagaimana AI memproses input non-standar.

Sebelum melancarkan serangan utama, pelaku telah menyiapkan strategi matang dengan mengirimkan NFT Bankr Club Membership ke alamat wallet yang dikelola oleh Grok. Langkah ini bukan tanpa alasan, karena kepemilikan NFT tersebut memberikan izin akses yang lebih luas di dalam ekosistem Bankr. Dengan hak akses yang meningkat, Grok memiliki wewenang untuk melakukan transfer aset dan pertukaran token (swap) secara otomatis. Inilah yang menjadi pintu masuk utama bagi pelaku untuk menguras isi dompet digital tersebut.

Kronologi Pengurasan Aset di Jaringan Base

Begitu akses tingkat tinggi berhasil didapatkan, pelaku memerintahkan Grok untuk menerjemahkan kode Morse yang berisi instruksi spesifik. Instruksi tersebut memerintahkan sistem untuk mengirimkan 3 miliar token DRB ke alamat dompet tertentu yang telah disiapkan. Karena sistem menganggap perintah tersebut sah, transaksi di jaringan Base—solusi Layer 2 dari Coinbase—berjalan mulus tanpa hambatan. Seluruh token DRB pun berpindah tangan dalam hitungan detik, menandai kesuksesan aksi Bobol AI Grok Elon Musk tersebut.

Baca Juga

  • Bisnis TV Samsung di China Terpuruk, Rugi Rp2,3 Triliun
  • Kapasitas Produksi Fiber Optik AI Melonjak: Nvidia Gandeng Corning

Advertisement

Pasca menerima miliaran token, pelaku tidak membuang waktu dan segera menjual aset tersebut di pasar terbuka (DEX). Penjualan masif ini secara otomatis menciptakan tekanan jual yang luar biasa, sehingga memicu gejolak harga token DRB yang turun drastis dalam waktu singkat. Para investor lain di jaringan Base sempat panik melihat pergerakan harga yang tidak wajar tersebut sebelum akhirnya menyadari bahwa telah terjadi sebuah eksploitasi besar.

Data blockchain menunjukkan jejak digital yang sangat jelas. Dana yang awalnya berada di wallet Grok kemudian dikonversi ke berbagai aset yang lebih stabil dan likuid, seperti Ethereum (ETH) dan USDC. Langkah konversi ini umum dilakukan oleh peretas untuk menyamarkan jejak atau memudahkan proses pencairan dana ke mata uang fiat. Meskipun teknologi blockchain bersifat transparan, identitas asli di balik alamat dompet tersebut tetap menjadi misteri.

Identitas pelaku mulai mengerucut ke Indonesia setelah sejumlah pengguna X melakukan penelusuran terhadap akun @Ilhamrfliansyh. Akun tersebut terpantau aktif dalam komunitas kripto lokal dan sering menggunakan bahasa Indonesia dalam interaksinya. Namun, sesaat setelah transaksi ilegal itu selesai dan dana berhasil diamankan, akun tersebut langsung menghilang atau dihapus. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa pemilik akun itulah yang merancang skenario Bobol AI Grok Elon Musk yang menggemparkan ini.

Baca Juga

  • PHK Sepihak Akibat Tolak Acara Kantor, Perusahaan Kalah di Pengadilan
  • Kasus Penipuan Startup Indonesia: Daftar Pendiri yang Terjerat

Advertisement

Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan pengembang teknologi AI dan Web3. Integrasi antara chatbot AI dengan dompet kripto (AI Agents) memang menawarkan kemudahan, namun juga menyimpan risiko keamanan yang sangat besar. Jika sebuah AI dapat diperintah untuk melakukan transaksi finansial, maka pengamanan terhadap input atau “prompt” harus menjadi prioritas utama. Kasus ini membuktikan bahwa filter kata-kata saja tidak cukup untuk membendung kreativitas peretas yang menggunakan metode enkripsi sederhana seperti kode Morse.

Para ahli keamanan siber menyarankan agar sistem AI yang memiliki akses ke aset finansial menerapkan protokol multi-signature atau verifikasi manusia tambahan sebelum mengeksekusi transaksi besar. Tanpa adanya lapisan keamanan tambahan, insiden serupa kemungkinan besar akan terulang kembali seiring dengan semakin populernya penggunaan AI di sektor keuangan digital.

Hingga saat ini, pihak Elon Musk maupun tim xAI belum memberikan pernyataan resmi terkait kompensasi bagi pihak yang dirugikan atau langkah perbaikan sistem ke depan. Komunitas kripto kini lebih waspada dan mendesak adanya audit menyeluruh terhadap setiap bot AI yang memiliki kemampuan interaksi dengan smart contract. Tragedi Bobol AI Grok Elon Musk ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh industri teknologi dunia tentang betapa rapuhnya batas antara inovasi dan celah eksploitasi.

Baca Juga

  • Pengalaman Mati Suri Ilmuwan NASA: Rahasia Tiga Kali Wafat
  • Kontrak Militer AI Anthropic Terancam Usai Gandeng SpaceX

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Elon Musk Grok AI Kripto Peretasan Teknologi AI
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleWaktu Ideal Servis AC Mobil: Cek Tanda Kerusakan dan Biayanya
Ana Octarin
  • Website

Ana Octarin adalah seorang Penulis Berita yang fokus pada teknologi, otomotif, serta tips dan trik seputar kehidupan digital. Dengan gaya bahasa yang lugas, informatif, dan mudah dipahami, Ana mampu menghadirkan konten yang tidak hanya relevan tetapi juga bermanfaat bagi pembaca. Berbekal pengalaman dalam menulis artikel SEO-friendly, Ana konsisten menyajikan berita terkini, ulasan mendalam, hingga panduan praktis yang membantu audiens tetap update dan melek teknologi.

Artikel Terkait

Dampak Larangan Teknologi China di Uni Eropa: Rugi Rp 6.900 T

Iphan S9 Mei 2026 | 09:55

Jejak Gempa Besar Gunung Ciremai Ditemukan Peneliti BRIN

Ana Octarin9 Mei 2026 | 04:55

Bisnis TV Samsung di China Terpuruk, Rugi Rp2,3 Triliun

Ana Octarin8 Mei 2026 | 23:55

Kapasitas Produksi Fiber Optik AI Melonjak: Nvidia Gandeng Corning

Ana Octarin8 Mei 2026 | 18:55

PHK Sepihak Akibat Tolak Acara Kantor, Perusahaan Kalah di Pengadilan

Iphan S8 Mei 2026 | 13:55

Kasus Penipuan Startup Indonesia: Daftar Pendiri yang Terjerat

Ana Octarin8 Mei 2026 | 08:55
Pilihan Redaksi
Otomotif

Harga BBM Diesel Primus Plus Tembus Rp30.890 di SPBU Vivo

Ana Octarin4 Mei 2026 | 00:55

Harga BBM Diesel Primus Plus resmi mengalami lonjakan drastis di seluruh jaringan Stasiun Pengisian Bahan…

Desain layar iPhone masa depan bocor, Apple gandeng Samsung

7 Mei 2026 | 07:55

Sejarah pengobatan herbal Indonesia: Kisah Dokter Jerman Berguru pada Dukun

2 Mei 2026 | 23:55

Jadwal Rilis GTA 6 PC Masih Misteri, Rockstar Fokus ke Konsol

8 Mei 2026 | 15:55

Paket Roaming Haji Indosat 2026: Daftar Harga IM3 dan Tri

6 Mei 2026 | 07:55
Terbaru

Dampak Larangan Teknologi China di Uni Eropa: Rugi Rp 6.900 T

Iphan S9 Mei 2026 | 09:55

Jejak Gempa Besar Gunung Ciremai Ditemukan Peneliti BRIN

Ana Octarin9 Mei 2026 | 04:55

Bisnis TV Samsung di China Terpuruk, Rugi Rp2,3 Triliun

Ana Octarin8 Mei 2026 | 23:55

Kapasitas Produksi Fiber Optik AI Melonjak: Nvidia Gandeng Corning

Ana Octarin8 Mei 2026 | 18:55

PHK Sepihak Akibat Tolak Acara Kantor, Perusahaan Kalah di Pengadilan

Iphan S8 Mei 2026 | 13:55
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.