Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

5 Juni 2026 | 13:02

Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar

4 Juni 2026 | 07:27

HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa

3 Juni 2026 | 05:22
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara
  • Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar
  • HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa
  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?
  • Komunitas Supermoto Makassar Jelajahi Wisata Ikonik Sulsel
  • Inovasi Gigabyte Computex 2026: Era Baru Teknologi AI
  • HP Gaming Terbaik 2026: 6 Pilihan Performa Monster Rp2 Jutaan
  • Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota
Sabtu, Juni 13
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » Chip AI Sel Otak Manusia: Inovasi Startup TBC Atasi Krisis Energi
Berita Tekno

Chip AI Sel Otak Manusia: Inovasi Startup TBC Atasi Krisis Energi

Iphan SIphan S14 April 2026 | 05:55
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Chip AI sel otak manusia
Chip AI sel otak manusia (Foto: www.cnbcindonesia.com)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Chip AI sel otak manusia kini menjadi perbincangan hangat di kalangan pemerhati teknologi dunia setelah sebuah perusahaan rintisan asal San Francisco mengungkap inovasi radikal mereka. Di tengah perlombaan raksasa teknologi meluncurkan model kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih, muncul kekhawatiran besar mengenai keberlanjutan lingkungan. Infrastruktur AI saat ini menuntut pasokan energi listrik yang masif dan sistem pendinginan air yang sangat besar, yang memicu krisis sumber daya global.

Selain masalah lingkungan, industri teknologi juga menghadapi kebuntuan akibat kelangkaan chip memori berbasis silikon. Hal ini memicu lonjakan harga perangkat elektronik konsumen seperti ponsel pintar dan laptop secara signifikan. Fenomena ini mendorong para ilmuwan mencari alternatif di luar material semikonduktor tradisional yang mulai mencapai batas fisiknya. Dalam situasi penuh tekanan inilah, sebuah startup bernama The Biological Computing Company (TBC) hadir dengan solusi yang terdengar seperti fiksi ilmiah.

Keunggulan Efisiensi Chip AI Sel Otak Manusia

Startup yang baru muncul ke permukaan pada Februari 2026 ini berhasil mengamankan pendanaan awal sebesar US$25 juta atau setara Rp428 miliar. TBC memelopori penggunaan chip AI sel otak manusia sebagai fondasi utama untuk menjalankan algoritma AI generatif. Langkah ini mereka ambil untuk menggantikan dominasi silikon yang dianggap terlalu kaku dan boros daya dalam memproses data yang sangat kompleks.

Baca Juga

  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara
  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Advertisement

Secara teknis, tim ahli di TBC menyandikan data dunia nyata, mulai dari citra visual hingga rangkaian video, langsung ke dalam jaringan saraf biologis. Proses ini memungkinkan informasi berubah menjadi representasi yang jauh lebih kaya dan dinamis dibandingkan sistem biner pada chip komputer konvensional. Penggunaan chip AI sel otak manusia ini diklaim mampu memperkuat performa algoritma dengan cara yang jauh lebih organik, menyerupai cara kerja kognitif asli manusia.

Dr. Alex Ksendsovsky, seorang mantan ahli bedah saraf yang kini memimpin TBC, menjelaskan bahwa teknologi ini sebenarnya adalah upaya untuk mengembalikan AI ke akar biologisnya. Pada masa awal pengembangannya, model komputasi AI memang terinspirasi dari struktur sel saraf atau neuron. Namun, seiring berjalannya waktu, teknologi tersebut justru menjauh dari prinsip biologi dan mengandalkan metode paksa (brute force) pada perangkat keras silikon yang membutuhkan energi luar biasa besar.

Lompatan Teknologi Biokomputasi di Mission Bay

Di laboratorium mereka yang berlokasi di Mission Bay, TBC mengumpulkan talenta terbaik dari berbagai disiplin ilmu. Tim yang terdiri dari 23 orang ini melibatkan pakar visi komputer, pengembang AI, fisikawan komputasi, hingga ahli biologi senior. Menariknya, banyak dari mereka merupakan mantan petinggi dan insinyur dari perusahaan teknologi raksasa seperti Meta, Apple, dan Amazon yang memilih beralih ke bidang biokomputasi.

Baca Juga

  • Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota
  • Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Advertisement

Setiap unit chip AI sel otak manusia yang mereka kembangkan mengandung antara 100.000 hingga 500.000 sel saraf manusia yang hidup. Sel-sel ini ditempatkan dalam lingkungan terkontrol yang memungkinkan mereka tetap berfungsi sebagai pemroses informasi. Meski awalnya menggunakan sel otak tikus untuk tahap uji coba, TBC kini telah sepenuhnya beralih menggunakan jaringan saraf manusia untuk mencapai tingkat efisiensi yang lebih tinggi.

Hasil penelitian internal TBC menunjukkan angka yang sangat menjanjikan. Model AI yang dilatih menggunakan respons saraf biologis mampu mencapai performa puncak tiga kali lebih cepat dibandingkan model standar. Selain itu, sistem ini membutuhkan iterasi pelatihan yang jauh lebih sedikit, sehingga secara otomatis mengurangi kebutuhan komputasi dan konsumsi energi hingga 300 persen. Ini merupakan jawaban nyata atas kritik para aktivis lingkungan terhadap pemborosan energi di pusat data AI global.

Tantangan Operasional dan Masa Depan Wetware

Meskipun menawarkan efisiensi yang luar biasa, teknologi biokomputasi ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda dari perangkat keras biasa. Chip biologis ini memiliki masa pakai terbatas, yakni sekitar satu tahun. Karena terdiri dari sel hidup, chip tersebut juga menghasilkan limbah biologis yang memerlukan pembersihan rutin setiap beberapa hari agar tetap berfungsi optimal. Hal ini memunculkan kategori baru dalam dunia teknologi yang sering disebut sebagai “wetware”.

Baca Juga

  • Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!
  • Potensi Gempa Besar Ciremai Terlacak dari Struktur Tanah Terbalik

Advertisement

Saat ini, TBC belum berencana menjual chip tersebut ke pasar luas secara retail. Fokus utama mereka adalah membangun dan memperkuat algoritma yang memanfaatkan sinyal neurologis, khususnya untuk kebutuhan AI visual. Teknologi ini sangat potensial untuk diaplikasikan pada video generatif, rendering grafis game tingkat tinggi, hingga sistem visi komputer yang digunakan pada kendaraan otonom.

Manajemen TBC juga mengonfirmasi bahwa mereka tengah menjalin komunikasi intensif dengan berbagai laboratorium model dasar AI dan perusahaan keamanan siber global. Walaupun belum bersedia mengungkap nama-nama mitra strategisnya, Ksendsovsky optimis bahwa produk mereka akan segera mendisrupsi pasar. Ia menekankan bahwa apa yang mereka bangun saat ini sangat unik dan berada jauh di luar ekspektasi industri konvensional.

Inovasi ini membawa harapan baru di tengah kekhawatiran akan dampak negatif AI terhadap kelangsungan bumi. Dengan memanfaatkan kehebatan alami evolusi manusia, TBC berusaha membuktikan bahwa masa depan kecerdasan buatan tidak harus merusak lingkungan. Kita mungkin segera menyaksikan era baru di mana batas antara mesin dan biologi semakin memudar melalui penerapan chip AI sel otak manusia secara komersial.

Baca Juga

  • Pekerja Penutup Pintu Taksi Otonom Raup Ratusan Ribu
  • Penyebab Manusia Jarang Kidal Menurut Penelitian Terbaru

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Biokomputasi Inovasi Chip Kecerdasan Buatan Startup TBC Teknologi AI
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleTruk Listrik Foton eMiler: Review Lengkap Performa dan Kenyamanan
Next Article Update Software Mobil Listrik BYD Tembus 200 Kali Setahun
Iphan S
  • Website

Artikel Terkait

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Inovasi Gigabyte Computex 2026: Era Baru Teknologi AI

Olin Sianturi3 Juni 2026 | 03:07

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37

Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!

Iphan S2 Juni 2026 | 19:37
Pilihan Redaksi
Aplikasi

7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Olin Sianturi1 Februari 2026 | 00:59

Persaingan di dunia konten digital semakin memanas. Khususnya di TikTok, platform video pendek yang kini…

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

5 Juni 2026 | 13:02

Harga Samsung Galaxy Tab A7 Terbaru, Masih Layak Dibeli?

2 Juni 2026 | 13:37

5 Pilihan Terbaik Tema iOS Xiaomi HyperOS, Gratis! Tampilan Jadi Mirip iPhone

26 Februari 2025 | 06:29

HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa

3 Juni 2026 | 05:22
Terbaru

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Inovasi Gigabyte Computex 2026: Era Baru Teknologi AI

Olin Sianturi3 Juni 2026 | 03:07

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.