Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

5 Juni 2026 | 13:02

Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar

4 Juni 2026 | 07:27

HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa

3 Juni 2026 | 05:22
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara
  • Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar
  • HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa
  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?
  • Komunitas Supermoto Makassar Jelajahi Wisata Ikonik Sulsel
  • Inovasi Gigabyte Computex 2026: Era Baru Teknologi AI
  • HP Gaming Terbaik 2026: 6 Pilihan Performa Monster Rp2 Jutaan
  • Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota
Selasa, Juni 9
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » Proyek Tambang Uranium AS Tuai Protes Akibat Ancaman Krisis Air
Berita Tekno

Proyek Tambang Uranium AS Tuai Protes Akibat Ancaman Krisis Air

Ana OctarinAna Octarin24 April 2026 | 21:55
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Proyek Tambang Uranium AS
Proyek Tambang Uranium AS (Foto: www.cnbcindonesia.com)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Proyek Tambang Uranium AS yang berlokasi di wilayah Dakota Selatan kini berada di tengah pusaran kontroversi besar antara ambisi energi nasional dan keselamatan lingkungan. Sarah Peterson, seorang warga Hot Springs, menjadi salah satu sosok yang paling vokal menyuarakan penolakan terhadap rencana ekstraksi mineral radioaktif tersebut. Jarak tempat tinggalnya yang hanya 50 kilometer dari situs tambang membuatnya merasa terancam oleh potensi pencemaran sumber daya alam yang paling vital bagi kehidupan.

Sebagai pendiri kelompok lingkungan ‘It’s All About the Water’, Peterson menegaskan bahwa wilayahnya merupakan daerah yang sangat kering dengan cadangan air yang terbatas. Menurutnya, ketersediaan air bersih adalah harga mati yang tidak bisa ditawar demi kepentingan industri. Ketakutan ini bukan tanpa alasan, mengingat teknologi yang akan digunakan dalam operasional tambang tersebut melibatkan injeksi cairan kimia ke dalam perut bumi yang berisiko merusak kualitas air tanah secara permanen.

Teknologi In Situ Recovery dan Risiko di Balik Proyek Tambang Uranium AS

Mulai tahun depan, para engineer berencana melakukan pengeboran besar-besaran di formasi batupasir kaya uranium pada kedalaman 230 meter di bawah tanah. Metode yang mereka gunakan dikenal sebagai In Situ Recovery (ISR). Dalam proses ini, ribuan sumur akan menyuntikkan cairan khusus untuk melarutkan uranium langsung di dalam akuifer. Air yang telah mengandung uranium tersebut kemudian diangkat ke permukaan untuk diekstraksi menjadi konsentrat yang disebut yellowcake.

Baca Juga

  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara
  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Advertisement

Pengembangan Proyek Tambang Uranium AS ini merupakan bagian dari skema ‘Dewey Burdock Project’ yang bertujuan memenuhi lonjakan permintaan uranium global. Yellowcake yang dihasilkan nantinya akan menjadi bahan baku utama bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) hingga komponen senjata nuklir. Meski industri mengklaim metode ISR lebih ramah lingkungan karena tidak meninggalkan lubang raksasa di permukaan tanah, masyarakat lokal tetap skeptis terhadap keamanan jangka panjangnya.

Pemerintahan Donald Trump sebelumnya telah memberikan lampu hijau dengan mempercepat berbagai izin regulasi untuk menghidupkan kembali industri nuklir domestik. Kebijakan ini memicu gelombang rencana pembangunan puluhan tambang serupa di seluruh wilayah Barat Amerika Serikat. Para pendukung kebijakan ini berargumen bahwa kemandirian energi adalah prioritas utama, namun mengabaikan fakta bahwa geologi wilayah Black Hills di Dakota Selatan sangatlah kompleks dan rentan terhadap kebocoran kontaminasi.

Konflik Geopolitik dan Ambisi Energi Nuklir

Langkah mempercepat Proyek Tambang Uranium AS ini juga tidak lepas dari persaingan geopolitik global. Saat ini, Rusia mulai memperluas pengaruh nuklirnya di kawasan Timur Tengah, termasuk Iran. Amerika Serikat merasa perlu mengamankan pasokan uranium dalam negeri agar tidak bergantung pada impor dari negara-negara pesaing. Namun, ambisi besar ini justru menabrak kepentingan masyarakat adat dan petani lokal yang menggantungkan hidup pada akuifer utama di wilayah tersebut.

Baca Juga

  • Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota
  • Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Advertisement

Suku-suku asli Amerika di wilayah tersebut telah meluncurkan berbagai tuntutan hukum untuk menghentikan operasional tambang. Mereka menilai bahwa pemerintah federasi gagal mempertimbangkan dampak spiritual dan ekologis dari kerusakan lahan sakral Black Hills. Selain itu, ada keraguan besar apakah perusahaan pengembang, enCore Energy, mampu mematuhi aturan ketat untuk mengembalikan kondisi air tanah seperti semula setelah proses penambangan berakhir.

Tantangan Sains dalam Restorasi Air Tanah

Salah satu poin krusial yang menjadi perdebatan adalah efektivitas restorasi akuifer pasca-penambangan. Penelitian terbaru dari Survei Geologi AS (USGS) mengungkapkan bahwa ekosistem mikroba di bawah tanah memegang peranan penting dalam mengunci pergerakan uranium. Jika keseimbangan ini terganggu oleh aktivitas Proyek Tambang Uranium AS, maka upaya pembersihan sisa-sisa radioaktif bisa berakhir dengan kegagalan total.

Tanya Gallegos, seorang peneliti engineer dari USGS, mengakui bahwa proses pemulihan lingkungan di area tambang uranium sangatlah rumit. “Makin kita memahami kerumitan interaksi kimia dan biologi di bawah tanah, kita baru bisa menentukan cara yang tepat untuk mengoptimalkan restorasi air tanah,” jelasnya. Ketidakpastian ilmiah inilah yang membuat warga seperti Sarah Peterson melabeli proyek ini sebagai ‘bom waktu’ yang siap meledak kapan saja dan merusak masa depan generasi mendatang.

Baca Juga

  • Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!
  • Potensi Gempa Besar Ciremai Terlacak dari Struktur Tanah Terbalik

Advertisement

Hingga saat ini, konflik antara kebutuhan energi dan pelestarian lingkungan masih terus memanas. Pemerintah pusat bersikeras bahwa desain tambang sudah memenuhi standar keamanan tertinggi. Namun, bagi masyarakat yang tinggal di garis depan, risiko kehilangan akses terhadap air bersih jauh lebih nyata daripada janji-janji kemandirian energi. Perdebatan mengenai Proyek Tambang Uranium AS ini pun menjadi cerminan betapa sulitnya menyelaraskan ambisi industri dengan keberlanjutan ekosistem di tengah krisis iklim global.

Pada akhirnya, keputusan akhir mengenai kelanjutan operasional tambang ini akan menjadi preseden penting bagi industri pertambangan di seluruh dunia. Jika teknologi ISR terbukti gagal menjaga integritas air tanah, maka ribuan komunitas di wilayah Barat AS akan menghadapi ancaman kesehatan yang serius. Semua mata kini tertuju pada bagaimana pemerintah dan pengembang menangani kekhawatiran publik terkait implementasi Proyek Tambang Uranium AS.

Baca Juga

  • Pekerja Penutup Pintu Taksi Otonom Raup Ratusan Ribu
  • Penyebab Manusia Jarang Kidal Menurut Penelitian Terbaru

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Amerika Serikat Donald Trump Energi Nuklir Lingkungan Hidup Pertambangan
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleMobil Bekas untuk Perempuan: 7 Rekomendasi Irit dan Nyaman
Next Article Tablet 2K Murah Oppo Pad Air: Solusi Kerja Hybrid 2026
Ana Octarin
  • Website

Ana Octarin adalah seorang Penulis Berita yang fokus pada teknologi, otomotif, serta tips dan trik seputar kehidupan digital. Dengan gaya bahasa yang lugas, informatif, dan mudah dipahami, Ana mampu menghadirkan konten yang tidak hanya relevan tetapi juga bermanfaat bagi pembaca. Berbekal pengalaman dalam menulis artikel SEO-friendly, Ana konsisten menyajikan berita terkini, ulasan mendalam, hingga panduan praktis yang membantu audiens tetap update dan melek teknologi.

Artikel Terkait

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37

Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!

Iphan S2 Juni 2026 | 19:37

Potensi Gempa Besar Ciremai Terlacak dari Struktur Tanah Terbalik

Ana Octarin2 Juni 2026 | 16:37
Pilihan Redaksi
Aplikasi

7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Olin Sianturi1 Februari 2026 | 00:59

Persaingan di dunia konten digital semakin memanas. Khususnya di TikTok, platform video pendek yang kini…

HP Gaming Terbaik 2026: 6 Pilihan Performa Monster Rp2 Jutaan

3 Juni 2026 | 02:22

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

5 Juni 2026 | 13:02

Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar

4 Juni 2026 | 07:27

HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa

3 Juni 2026 | 05:22
Terbaru

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37

Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!

Iphan S2 Juni 2026 | 19:37
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.