Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Fitur Fitness Hub Spotify Rilis, Bawa Video Workout Peloton

28 April 2026 | 15:55

Tablet Murah 1-3 Jutaan Terbaik 2026 untuk Kerja Cepat

28 April 2026 | 14:55

Asal-usul Tanaman Kentang Modern: Hasil Kawin Silang Tomat

28 April 2026 | 13:55
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Fitur Fitness Hub Spotify Rilis, Bawa Video Workout Peloton
  • Tablet Murah 1-3 Jutaan Terbaik 2026 untuk Kerja Cepat
  • Asal-usul Tanaman Kentang Modern: Hasil Kawin Silang Tomat
  • Sedan Listrik Deepal L06 Resmi Rilis: LiDAR & Jarak 670 Km
  • Cara Cek KTP Dipakai Pinjol Secara Online dengan Mudah
  • Teknologi Persinyalan Kereta Api Disorot Pasca Tabrakan Bekasi
  • Spesifikasi Redmi K Pad 2: Tablet Gaming Layar 3K dan Chip 3nm
  • Dampak Buruk Media Sosial pada Anak: Gangguan Bicara dan Baca
Selasa, April 28
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » Asal-usul Tanaman Kentang Modern: Hasil Kawin Silang Tomat
Berita Tekno

Asal-usul Tanaman Kentang Modern: Hasil Kawin Silang Tomat

Iphan SIphan S28 April 2026 | 13:55
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Asal-usul tanaman kentang modern
Asal-usul tanaman kentang modern (Foto: www.cnbcindonesia.com)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Asal-usul tanaman kentang modern selama ini menjadi teka-teki besar dalam dunia botani hingga sebuah penelitian genetik terbaru mengungkap fakta mengejutkan. Ternyata, makanan pokok yang kita konsumsi sehari-hari ini merupakan hasil hibridisasi atau kawin silang alami antara spesies tomat liar dengan tanaman kerabatnya yang bernama Etuberosum. Proses percampuran materi genetik ribuan tahun lalu inilah yang melahirkan garis keturunan baru yang kita kenal sebagai kentang saat ini.

Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Profesor Sanwen Huang dari Agricultural Genomics Institute di Shenzhen, China, berhasil memetakan silsilah genetik ini secara mendetail. Dalam temuan yang dipublikasikan baru-baru ini, Huang menganalogikan hubungan kedua tanaman tersebut layaknya sebuah keluarga. Ia menyebutkan bahwa tomat liar bertindak sebagai “ibu”, sementara Etuberosum berperan sebagai “ayah” dalam proses evolusi tersebut.

Meskipun secara kasat mata tanaman kentang memiliki tampilan fisik yang lebih mirip dengan Etuberosum, perbedaan revolusioner justru terjadi di bawah permukaan tanah. Etuberosum sendiri sebenarnya tidak memiliki kemampuan untuk menghasilkan umbi, melainkan hanya memiliki batang bawah tanah yang tipis. Sebaliknya, kentang mengembangkan kemampuan unik untuk menyimpan cadangan energi dalam bentuk umbi bertepung yang kaya nutrisi, yang kini menjadi tumpuan pangan dunia.

Baca Juga

  • Dampak Buruk Media Sosial pada Anak: Gangguan Bicara dan Baca
  • Cara Membuat Tulisan AI Terlihat Manusiawi dengan Typo Sengaja

Advertisement

Para ilmuwan melakukan analisis mendalam terhadap 450 genom kentang budi daya serta 56 spesies liar untuk mengungkap misteri asal-usul tanaman kentang modern. Hasil pemetaan genomik ini menunjukkan adanya interaksi antara dua gen kunci yang sangat krusial, yaitu gen SP6A yang berasal dari tomat dan gen IT1 yang diwarisi dari Etuberosum.

Rahasia Genetik di Balik Asal-usul Tanaman Kentang Modern

Penemuan dua gen ini memberikan jawaban ilmiah mengapa kentang bisa menghasilkan umbi sementara kerabat dekatnya tidak. Gen SP6A dan IT1 tidak bekerja secara mandiri. Namun, ketika keduanya bergabung dalam satu organisme akibat proses hibridisasi, interaksi biologis tersebut memicu perubahan radikal pada struktur batang bawah tanah. Proses ini mengubah jaringan tanaman menjadi organ penyimpan energi yang kita sebut sebagai umbi.

Fenomena ini dianggap sebagai terobosan besar dalam bidang biologi evolusi. Hibridisasi antarspesies terbukti mampu menciptakan organ baru yang sebelumnya tidak ada pada kedua induknya. Hal ini menunjukkan betapa dinamisnya alam dalam menciptakan varietas tanaman baru yang memiliki daya tahan lebih tinggi terhadap perubahan lingkungan.

Baca Juga

  • Suara Gemuruh Misterius di Bitung Gegerkan Warga Sulawesi
  • Aplikasi Samsung Messages Dihentikan, Segera Pindah ke Google

Advertisement

Kentang mewarisi kombinasi genetik yang sangat stabil dari kedua induknya. Kemampuan menghasilkan umbi memberikan keuntungan evolusioner yang luar biasa. Dengan menyimpan energi di bawah tanah, tanaman ini mampu bertahan hidup melewati musim dingin yang ekstrem atau periode kekeringan yang panjang di dataran tinggi Andes. Selain itu, umbi memungkinkan kentang untuk berkembang biak secara vegetatif tanpa bergantung sepenuhnya pada biji.

Keunggulan adaptasi ini membuat nenek moyang kentang berkembang pesat di wilayah pegunungan Amerika Selatan. Sebelum akhirnya didomestikasi oleh manusia ribuan tahun lalu, asal-usul tanaman kentang modern telah melewati proses seleksi alam yang ketat di alam liar, menghasilkan ratusan varietas dengan ketahanan yang berbeda-beda.

Perjalanan dari Andes Menuju Piring Dunia

Sejarah mencatat bahwa pada abad ke-16, pelaut asal Spanyol membawa tanaman ini dari Amerika Selatan menuju benua Eropa. Pada awalnya, masyarakat Eropa sempat menaruh kecurigaan terhadap kentang karena bentuknya yang tumbuh di dalam tanah. Namun, seiring berjalannya waktu, kentang mulai diterima luas karena kandungan nutrisinya yang tinggi serta kemampuannya untuk tumbuh di lahan yang kurang subur.

Baca Juga

  • Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit Asal Afrika Siap Dongkrak Cuan
  • Baterai HP Mudah Dilepas Jadi Standar Baru Mulai Tahun 2027

Advertisement

Kini, para peneliti tidak hanya berhenti pada pemahaman mengenai asal-usul tanaman kentang modern. Mereka mulai mengembangkan proyek ambisius untuk menciptakan varietas baru di laboratorium. Salah satu eksperimen yang tengah berjalan adalah upaya untuk menyisipkan gen pembentuk umbi dari kentang kembali ke dalam tanaman tomat.

Proyek ini bertujuan agar tanaman tomat di masa depan tidak hanya menghasilkan buah di bagian atas, tetapi juga mampu menumbuhkan umbi di bagian akarnya. Jika eksperimen ini berhasil, petani bisa memanen dua jenis komoditas pangan sekaligus dari satu pohon yang sama. Selain itu, tim peneliti di Shenzhen juga sedang mengupayakan agar kentang modern bisa berkembang biak melalui biji secara lebih efisien untuk mempermudah distribusi logistik pertanian.

Pengetahuan tentang asal-usul tanaman kentang modern memberikan fondasi kuat bagi ketahanan pangan global di masa depan. Dengan memahami bagaimana alam melakukan kawin silang secara alami, manusia kini memiliki peluang untuk mempercepat proses pemuliaan tanaman guna menghadapi tantangan krisis iklim. Teknologi penyuntingan gen diharapkan dapat menduplikasi kesuksesan evolusi alami ini pada tanaman pangan lainnya.

Baca Juga

  • Potensi Mineral Laut Dalam Indonesia: Harta Karun Masa Depan
  • Teknologi Komputer Sel Otak Mulai Dikembangkan di Singapura

Advertisement

Meskipun saat ini rekayasa tomat berumbi masih dalam tahap eksperimen laboratorium, potensi yang ditawarkan sangat menjanjikan bagi industri pertanian global. Tomat yang awalnya merupakan “ibu” dari kentang, kini berpotensi menjadi “masa depan” dari pengembangan varietas tanaman pangan yang lebih produktif.

Pada akhirnya, sejarah panjang evolusi ini membuktikan bahwa keragaman genetik adalah kunci utama keberlangsungan hidup makhluk hidup. Dengan terus menggali informasi mengenai asal-usul tanaman kentang modern, ilmuwan berharap dapat menemukan kunci-kunci genetik lainnya yang tersimpan dalam kekayaan hayati hutan tropis dan pegunungan dunia demi kesejahteraan umat manusia.

Baca Juga

  • Manifesto Politik Palantir Terbaru Picu Kontroversi Global
  • Solusi AI Inference Indonesia: Blaize-Datacomm Jalin Aliansi

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
evolusi biologi genetika tanaman kentang Ketahanan Pangan tomat
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleSedan Listrik Deepal L06 Resmi Rilis: LiDAR & Jarak 670 Km
Next Article Tablet Murah 1-3 Jutaan Terbaik 2026 untuk Kerja Cepat
Iphan S
  • Website

Artikel Terkait

Dampak Buruk Media Sosial pada Anak: Gangguan Bicara dan Baca

Ana Octarin28 April 2026 | 08:55

Cara Membuat Tulisan AI Terlihat Manusiawi dengan Typo Sengaja

Ana Octarin28 April 2026 | 03:55

Suara Gemuruh Misterius di Bitung Gegerkan Warga Sulawesi

Ana Octarin27 April 2026 | 22:55

Aplikasi Samsung Messages Dihentikan, Segera Pindah ke Google

Ana Octarin27 April 2026 | 17:55

Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit Asal Afrika Siap Dongkrak Cuan

Ana Octarin27 April 2026 | 11:55

Baterai HP Mudah Dilepas Jadi Standar Baru Mulai Tahun 2027

Ana Octarin27 April 2026 | 07:55
Pilihan Redaksi
Aplikasi

7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Olin Sianturi1 Februari 2026 | 00:59

Persaingan di dunia konten digital semakin memanas. Khususnya di TikTok, platform video pendek yang kini…

Tablet Samsung 2 jutaan terbaik Galaxy Tab A11 Update 7 Tahun

22 April 2026 | 15:55

Stop Jengkel! 7 Cara Ampuh Hapus Iklan di Android yang Muncul Tiba-tiba

16 Oktober 2025 | 02:08

MPL Indonesia Creative Playground: Moonton Gandeng Tale X

24 April 2026 | 18:55

Rice Cooker Stainless Sanken SJ-203BK: Solusi Masak Sehat 6-in-1

25 April 2026 | 17:55
Terbaru

Dampak Buruk Media Sosial pada Anak: Gangguan Bicara dan Baca

Ana Octarin28 April 2026 | 08:55

Cara Membuat Tulisan AI Terlihat Manusiawi dengan Typo Sengaja

Ana Octarin28 April 2026 | 03:55

Suara Gemuruh Misterius di Bitung Gegerkan Warga Sulawesi

Ana Octarin27 April 2026 | 22:55

Aplikasi Samsung Messages Dihentikan, Segera Pindah ke Google

Ana Octarin27 April 2026 | 17:55

Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit Asal Afrika Siap Dongkrak Cuan

Ana Octarin27 April 2026 | 11:55
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.