TechnonesiaID - Aplikasi video AI Sora resmi dihentikan operasionalnya oleh OpenAI hanya enam bulan setelah peluncuran perdananya yang fenomenal. Keputusan mendadak ini mengejutkan banyak pihak, mengingat platform tersebut sempat digadang-gadang sebagai pesaing kuat TikTok di ekosistem kecerdasan buatan. OpenAI mengumumkan kabar duka ini melalui akun resmi mereka, sekaligus menandai berakhirnya eksperimen media sosial berbasis video generatif milik perusahaan pimpinan Sam Altman tersebut.
Dalam pernyataan resminya, OpenAI tidak memberikan rincian spesifik mengenai alasan teknis atau strategis di balik penyuntikan mati layanan ini. Perusahaan hanya menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pengguna yang telah aktif berkarya dan membangun komunitas sejak hari pertama. Langkah ini memicu spekulasi luas di kalangan pengamat teknologi mengenai arah kebijakan OpenAI di masa depan, terutama terkait produk yang langsung menyasar konsumen ritel.
Meskipun OpenAI memilih untuk tutup mulut mengenai alasan internal, data pasar menunjukkan tren yang cukup menjelaskan situasi tersebut. Penurunan minat pengguna terhadap aplikasi video AI Sora terlihat sangat signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan data dari Appfigure, aplikasi ini sempat mencapai puncak kejayaan pada November 2025 dengan total unduhan mencapai lebih dari 3,3 juta di App Store dan Google Play Store.
Baca Juga
Advertisement
Namun, euforia tersebut rupanya tidak bertahan lama. Memasuki Februari 2026, angka unduhan merosot tajam menjadi hanya sekitar 1,1 juta. Jika kita membandingkannya dengan kesuksesan ChatGPT yang memiliki 900 juta pengguna aktif mingguan, performa Sora di pasar aplikasi seluler terbilang sangat kecil. Rendahnya retensi pengguna diduga menjadi faktor utama mengapa OpenAI memilih untuk tidak melanjutkan layanan ini lebih jauh.
Selain faktor jumlah pengguna, biaya operasional untuk menjalankan platform video generatif berbasis cloud sangatlah tinggi. Menghasilkan video berkualitas tinggi dengan AI memerlukan daya komputasi GPU yang luar biasa besar. Jika pertumbuhan pengguna tidak sebanding dengan biaya infrastruktur yang dikeluarkan, maka model bisnis platform sosial tersebut menjadi tidak berkelanjutan bagi perusahaan sebesar OpenAI.
Pasar video AI sebenarnya tidak sedang meredup, melainkan sedang mengalami pergeseran kompetisi yang sangat ketat. Di saat OpenAI memutuskan menghentikan pengembangan aplikasi video AI Sora dalam bentuk platform sosial, pesaing seperti Luma AI, Runway, dan Kling justru terus memperkuat posisi mereka. Para kompetitor ini lebih fokus pada penyediaan alat (tools) bagi profesional daripada membangun media sosial sendiri.
Baca Juga
Advertisement
Banyak kreator profesional yang merasa bahwa format media sosial ala TikTok yang ditawarkan Sora kurang memberikan fleksibilitas dalam proses produksi video yang serius. Hal ini membuat para profesional lebih memilih platform yang menawarkan kontrol lebih mendalam terhadap setiap frame video. OpenAI tampaknya menyadari bahwa kekuatan utama mereka bukan pada pengelolaan komunitas media sosial, melainkan pada pengembangan model AI yang fundamental.
Dengan menutup aplikasi publiknya, OpenAI kini dapat lebih fokus pada penyempurnaan algoritma inti. Langkah ini dianggap lebih logis daripada harus bersaing langsung dengan TikTok atau Instagram yang sudah memiliki basis pengguna miliaran orang dan infrastruktur moderasi konten yang jauh lebih matang.
Masa Depan Teknologi Sora dan Model Sora 2
Meskipun versi aplikasinya sudah tidak ada, bukan berarti teknologi di baliknya menghilang begitu saja. OpenAI menegaskan bahwa mereka tidak keluar dari bisnis pembuatan video AI. Teknologi tersebut kini bertransformasi menjadi model Sora 2 yang lebih canggih. Namun, aksesnya kini lebih terbatas dan eksklusif, hanya tersedia bagi para pelanggan berbayar ChatGPT Plus dan pengguna korporat melalui API.
Baca Juga
Advertisement
Strategi ini menunjukkan pergeseran OpenAI dari model bisnis “B2C” (Business to Consumer) berbasis iklan atau media sosial, kembali ke akar mereka sebagai penyedia infrastruktur AI “B2B” (Business to Business). Dengan cara ini, OpenAI tetap bisa memonetisasi teknologi video AI mereka tanpa harus menanggung beban berat pengelolaan platform sosial yang penuh dengan tantangan moderasi konten dan hak cipta.
Bagi para pengguna yang telah mengunggah karya mereka, OpenAI berjanji akan segera membagikan jadwal resmi penghentian layanan serta instruksi mengenai cara menyimpan data mereka. Perusahaan juga akan memberikan detail lebih lanjut mengenai bagaimana para pengembang dapat memanfaatkan API Sora untuk integrasi di aplikasi pihak ketiga.
Penutupan ini menjadi pengingat bahwa tidak semua inovasi AI akan berhasil di pasar konsumen luas. Meskipun aplikasi video AI Sora sempat menjadi tren sesaat, keberlanjutan sebuah produk tetap bergantung pada kegunaan jangka panjang dan efisiensi model bisnisnya. Kini, mata dunia tertuju pada bagaimana OpenAI akan mengintegrasikan kemampuan video canggih tersebut ke dalam ekosistem ChatGPT yang sudah lebih dulu mapan dan sukses di pasar global.
Baca Juga
Advertisement
- Instagram : @technonesia.id
- Facebook : Technonesia ID
- X (Twitter) : @technonesia_id
- Whatsapp Channel : Technonesia.ID
- Google News : TECHNONESIA