Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ditjen Bina Adwil Luncurkan CEKATAN, Inovasi Integrasi Layanan Kearsipan untuk Perkuat SDM ASN

3 Juli 2026 | 09:38

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

5 Juni 2026 | 13:02

Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar

4 Juni 2026 | 07:27
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Ditjen Bina Adwil Luncurkan CEKATAN, Inovasi Integrasi Layanan Kearsipan untuk Perkuat SDM ASN
  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara
  • Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar
  • HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa
  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?
  • Komunitas Supermoto Makassar Jelajahi Wisata Ikonik Sulsel
  • Inovasi Gigabyte Computex 2026: Era Baru Teknologi AI
  • HP Gaming Terbaik 2026: 6 Pilihan Performa Monster Rp2 Jutaan
Minggu, Juli 12
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » Arsitektur Chip Terbaru Huawei Siap Dobrak Hukum Moore
Berita Tekno

Arsitektur Chip Terbaru Huawei Siap Dobrak Hukum Moore

Ana OctarinAna Octarin28 Mei 2026 | 15:17
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
arsitektur chip terbaru Huawei
arsitektur chip terbaru Huawei (Foto: inet.detik.com)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Pengembangan arsitektur chip terbaru Huawei menjadi babak baru dalam perang teknologi global antara Amerika Serikat dan China. Langkah berani ini membuktikan bahwa hambatan geopolitik justru memicu lahirnya inovasi radikal. Huawei secara resmi mengumumkan metode revolusioner dalam memproduksi semikonduktor canggih secara mandiri. Inovasi ini sekaligus menjadi jawaban atas sanksi ketat AS yang memblokir akses mereka terhadap teknologi barat.

Sejak tahun 2019, pemerintah AS memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam perdagangan (Entity List). Kebijakan ini memutus rantai pasok komponen vital, terutama mesin litografi Extreme Ultraviolet (EUV) buatan ASML Belanda. Mesin EUV selama ini menjadi prasyarat mutlak untuk memproduksi chip di bawah fabrikasi 5 nanometer (nm). Tanpa alat tersebut, banyak pihak memprediksi industri semikonduktor China akan lumpuh dan tertinggal jauh.

Namun, raksasa teknologi asal Shenzhen ini menolak untuk menyerah pada keadaan. Mereka terus mengucurkan dana riset bernilai fantastis demi menciptakan kemandirian teknologi dalam negeri. Keberhasilan mengejutkan sebelumnya terlihat saat Huawei meluncurkan ponsel Mate 60 Pro dengan chip Kirin 9000s berskala 7nm. Kini, mereka melangkah lebih jauh dengan merancang metode produksi yang sepenuhnya meninggalkan pakem industri lama.

Baca Juga

  • Ditjen Bina Adwil Luncurkan CEKATAN, Inovasi Integrasi Layanan Kearsipan untuk Perkuat SDM ASN
  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Advertisement

Melalui divisi semikonduktor HiSilicon, perusahaan raksasa ini merancang arsitektur chip terbaru Huawei yang tidak lagi berfokus pada pengecilan ukuran fisik transistor secara ekstrem. Kepala Divisi Semikonduktor Huawei, He Tingbo, menjelaskan bahwa industri tidak bisa lagi terus-menerus bergantung pada Hukum Moore. Hukum klasik bentukan pendiri Intel, Gordon Moore, tersebut menyatakan bahwa jumlah transistor dalam chip akan berlipat ganda setiap dua tahun sekali.

Saat ini, batas fisik material silikon hampir mencapai titik jenuh. Para ilmuwan mulai kesulitan memperkecil ukuran transistor tanpa menimbulkan masalah kebocoran daya dan panas berlebih. Sebagai jalan keluar, He Tingbo memperkenalkan konsep tandingan bernama “Hukum Penskalaan Tau” (Tau Scaling Law) atau yang kini mulai dikenal sebagai “Hukum He”.

Menilik Cara Kerja Arsitektur Chip Terbaru Huawei

Pendekatan baru ini menggeser fokus utama perancangan sirkuit terpadu. Jika Hukum Moore mengoptimalkan ruang fisik agar muat lebih banyak transistor, Hukum Penskalaan Tau justru mengoptimalkan efisiensi waktu komunikasi antar-elemen chip. Dengan kata lain, arsitektur ini meminimalkan latensi transfer data di dalam prosesor itu sendiri.

Baca Juga

  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?
  • Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Advertisement

Teknik ini menggunakan desain spasial tiga dimensi yang revolusioner bernama LogicFolding. Melalui LogicFolding, jalur sirkuit dapat dilipat secara dinamis untuk mempersingkat jarak tempuh sinyal elektrik. Hasilnya, chip mampu menghasilkan daya pemrosesan yang sangat cepat dan efisien, meskipun menggunakan node fabrikasi yang lebih matang.

Beberapa keunggulan utama dari metode baru ini meliputi:

  • Efisiensi transmisi data antar-komponen yang jauh lebih tinggi.
  • Pengurangan konsumsi daya berkat minimalisasi latensi sirkuit.
  • Kemampuan memproduksi chip berkinerja tinggi tanpa ketergantungan pada mesin litografi EUV yang langka.

Integrasi teknologi LogicFolding pada arsitektur chip terbaru Huawei ini dijadwalkan meluncur bersama lini prosesor Kirin generasi mendatang pada musim gugur tahun ini. Langkah ini akan menjadi pembuktian perdana di pasar komersial mengenai keandalan konsep desain non-tradisional tersebut.

Baca Juga

  • Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA
  • Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!

Advertisement

He Tingbo dengan sangat optimis menyatakan bahwa Huawei menargetkan produksi chip setara generasi 1,4nm pada tahun 2031. Target ini tergolong sangat ambisius mengingat ketatnya blokade teknologi saat ini. Sebagai perbandingan, raksasa semikonduktor Taiwan, TSMC, memproyeksikan teknologi 1,4nm mereka baru akan siap pada tahun 2028. Selisih waktu yang hanya tiga tahun ini menunjukkan bahwa China mampu mengejar ketertinggalan dengan sangat cepat.

Chip berskala sangat kecil ini memegang peranan krusial dalam era kecerdasan buatan (AI). Prosesor canggih diperlukan untuk melatih model bahasa besar (LLM) serta menjalankan aplikasi AI tingkat tinggi di perangkat mobile maupun pusat data. Siapa pun yang menguasai teknologi ini akan mendominasi lanskap ekonomi digital masa depan.

Meskipun demikian, implementasi massal arsitektur chip terbaru Huawei ini masih menghadapi tantangan teknis yang cukup besar di lapangan. He Tingbo mengakui bahwa perusahaannya harus membangun ekosistem perangkat lunak desain (EDA) yang benar-benar baru dari nol. Selain itu, masalah disipasi panas pada chip yang sirkuitnya saling bertumpuk juga memerlukan solusi material termal yang lebih maju.

Baca Juga

  • Potensi Gempa Besar Ciremai Terlacak dari Struktur Tanah Terbalik
  • Pekerja Penutup Pintu Taksi Otonom Raup Ratusan Ribu

Advertisement

Kendati demikian, Huawei mengklaim bahwa solusi baru ini sangat layak secara ekonomi dan memiliki biaya produksi yang jauh lebih terjangkau. Mereka yakin performa chip hasil arsitektur baru ini sepenuhnya mampu bersaing dengan chip yang diproduksi menggunakan mesin litografi EUV mahal milik kompetitor barat.

Inovasi ini tentu memicu alarm kewaspadaan di Washington. George Chen, pengamat industri dari The Asia Group, menilai bahwa langkah Huawei ini mempertegas posisi mereka sebagai pemimpin inovasi, bukan sekadar pengikut. Ambisi China untuk mandiri di sektor teknologi strategis kini tidak bisa lagi dipandang sebelah mata oleh negara-negara barat.

Upaya pembatasan ekspor teknologi yang dilancarkan AS tampaknya justru mempercepat proses de-amerikanisasi di sektor teknologi Tiongkok. Keberhasilan komersialisasi arsitektur chip terbaru Huawei ini diprediksi akan mengubah peta kekuatan industri semikonduktor global secara permanen dalam satu dekade ke depan.

Baca Juga

  • Penyebab Manusia Jarang Kidal Menurut Penelitian Terbaru
  • Penyelundupan Chip AI Nvidia ke China Diselidiki Taiwan

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
China Huawei Hukum Moore Semikonduktor Teknologi Chip
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleSpesifikasi Mesin Mobil yang Aman Pakai Pertalite
Next Article Tablet Pengganti Laptop Terbaik Lenovo Siap Meluncur
Ana Octarin
  • Website

Ana Octarin adalah seorang Penulis Berita yang fokus pada teknologi, otomotif, serta tips dan trik seputar kehidupan digital. Dengan gaya bahasa yang lugas, informatif, dan mudah dipahami, Ana mampu menghadirkan konten yang tidak hanya relevan tetapi juga bermanfaat bagi pembaca. Berbekal pengalaman dalam menulis artikel SEO-friendly, Ana konsisten menyajikan berita terkini, ulasan mendalam, hingga panduan praktis yang membantu audiens tetap update dan melek teknologi.

Artikel Terkait

Ditjen Bina Adwil Luncurkan CEKATAN, Inovasi Integrasi Layanan Kearsipan untuk Perkuat SDM ASN

Ana Octarin3 Juli 2026 | 09:38

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37

Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!

Iphan S2 Juni 2026 | 19:37
Pilihan Redaksi
Aplikasi

3 Cara Melihat Tanggal Pembuatan Akun Facebook, Auto Nostalgia

Olin Sianturi3 Oktober 2025 | 23:19

Mau nostalgia? Ketahui 3 cara melihat tanggal pembuatan akun Facebook dengan mudah, baik via email…

Ditjen Bina Adwil Luncurkan CEKATAN, Inovasi Integrasi Layanan Kearsipan untuk Perkuat SDM ASN

3 Juli 2026 | 09:38

Link Download FF Beta 1.118.1 Terbaru 2026 dan Cara Install

14 Mei 2026 | 19:55

Stop Gangguan! 7 Cara Ampuh Blokir Iklan di HP Android yang Tiba-tiba Muncul

20 Desember 2025 | 18:27

Cara Menghilangkan Iklan di HP OPPO: Panduan Lengkap Hapus Pop-Up dan Rekomendasi Aplikasi

16 November 2025 | 22:33
Terbaru

Ditjen Bina Adwil Luncurkan CEKATAN, Inovasi Integrasi Layanan Kearsipan untuk Perkuat SDM ASN

Ana Octarin3 Juli 2026 | 09:38

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.