Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

5 Juni 2026 | 13:02

Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar

4 Juni 2026 | 07:27

HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa

3 Juni 2026 | 05:22
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara
  • Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar
  • HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa
  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?
  • Komunitas Supermoto Makassar Jelajahi Wisata Ikonik Sulsel
  • Inovasi Gigabyte Computex 2026: Era Baru Teknologi AI
  • HP Gaming Terbaik 2026: 6 Pilihan Performa Monster Rp2 Jutaan
  • Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota
Senin, Juni 29
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » Dampak Media Sosial pada Remaja: Psikolog Beri Kesaksian Ahli
Berita Tekno

Dampak Media Sosial pada Remaja: Psikolog Beri Kesaksian Ahli

Iphan SIphan S29 Maret 2026 | 19:22
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Dampak media sosial pada remaja
Dampak media sosial pada remaja (Foto: www.cnbcindonesia.com)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Dampak media sosial pada remaja kini tengah menjadi sorotan tajam di meja hijau setelah seorang psikolog klinis memberikan kesaksian kunci mengenai kesehatan mental generasi muda. Dalam persidangan yang menarik perhatian publik ini, psikolog berlisensi Victoria Burke hadir sebagai saksi ahli untuk membedah bagaimana desain aplikasi memengaruhi kondisi psikologis pengguna di bawah umur. Kasus ini menguji apakah perusahaan teknologi besar harus bertanggung jawab atas gangguan mental yang dialami oleh penggunanya.

Victoria Burke memberikan keterangan medis terkait kondisi seorang penggugat yang diidentifikasi sebagai Kaley GM. Remaja ini tercatat telah menggunakan platform YouTube sejak usia enam tahun dan Instagram mulai usia sembilan tahun. Paparan teknologi digital pada usia yang sangat dini tersebut dinilai memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan emosional dan persepsi diri sang anak selama masa pertumbuhan kritisnya.

Di hadapan dewan juri, Burke mengungkapkan bahwa dirinya mendiagnosis Kaley menderita gangguan kecemasan umum. Diagnosis tersebut kemudian berkembang menjadi fobia sosial dan gangguan dismorfik tubuh atau body dysmorphic disorder (BDD). Kondisi ini membuat penderitanya merasa sangat cemas terhadap kekurangan fisik yang mereka persepsikan sendiri, yang sering kali diperparah oleh standar kecantikan di internet.

Baca Juga

  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara
  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Advertisement

Meskipun Burke tidak secara langsung menyimpulkan bahwa teknologi adalah penyebab tunggal, ia menegaskan dalam pemeriksaan silang bahwa pengalaman digital memicu perburukan kondisi. Ia menyatakan bahwa dampak media sosial pada remaja seperti Kaley terlihat jelas dari bagaimana pola interaksi online memengaruhi harga dirinya. Tekanan untuk selalu tampil sempurna di depan pengikutnya menjadi beban mental yang berat bagi sang remaja.

Mengapa Dampak Media Sosial pada Remaja Begitu Signifikan?

Selama proses persidangan, terungkap bahwa Kaley sering mengalami perundungan siber atau cyberbullying dari teman-teman sebayanya. Tekanan ini begitu hebat sehingga ia sempat memutuskan untuk ‘menghapus’ jejak digitalnya dengan keluar dari semua platform. Namun, daya tarik algoritma dan kebutuhan akan validasi sosial membuatnya kembali menggunakan media sosial tersebut tidak lama kemudian.

Psikolog Burke juga mencatat adanya sisi ambivalen dalam penggunaan teknologi ini. Di satu sisi, Kaley merasa frustrasi ketika karya videonya diklaim oleh orang lain tanpa izin, namun di sisi lain ia sangat menikmati proses kreatif mengunggah konten. Hal ini menunjukkan betapa kompleksnya hubungan antara remaja dengan ruang digital yang menawarkan kesenangan sekaligus ancaman psikologis secara bersamaan.

Baca Juga

  • Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota
  • Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Advertisement

Menariknya, Burke menjelaskan bahwa fenomena kecanduan media sosial secara formal belum diakui sebagai diagnosis medis mandiri dalam teks profesional kesehatan mental AS, Diagnostic and Statistical Manual (DSM) edisi terbaru. Meskipun istilah ini populer di kalangan masyarakat, para ahli medis masih berhati-hati dalam mengategorikannya sebagai gangguan klinis tetap tanpa penelitian lebih lanjut yang mendalam.

Pihak Meta, sebagai salah satu perusahaan yang digugat, membela diri dengan merujuk pada catatan kesehatan masa lalu Kaley. Mereka berargumen bahwa ada faktor eksternal lain yang lebih dominan, seperti riwayat pelecehan verbal dan fisik sebelum ia aktif di media sosial. Selain itu, hubungan yang tegang dengan orang tua setelah perceraian saat Kaley berusia tiga tahun dianggap turut membentuk kerentanan mentalnya saat ini.

Tanggung Jawab Platform dan Fitur Perlindungan

Pengacara dari pihak YouTube juga memberikan pembelaan serupa di dalam persidangan. Mereka menyatakan bahwa platform telah menyediakan berbagai fitur keamanan untuk melindungi pengguna dari praktik perundungan. Fitur-fitur tersebut mencakup alat untuk menghapus komentar negatif secara otomatis serta pengaturan batas waktu menonton (screen time) untuk mencegah penggunaan berlebihan.

Baca Juga

  • Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!
  • Potensi Gempa Besar Ciremai Terlacak dari Struktur Tanah Terbalik

Advertisement

Namun, pihak penggugat berpendapat bahwa fitur-fitur tersebut sering kali tersembunyi atau tidak cukup efektif untuk membendung arus algoritma yang agresif. Mereka menilai perusahaan teknologi lebih mengutamakan keterlibatan pengguna daripada keselamatan mental anak-anak. Hal ini memperkuat argumen tentang besarnya dampak media sosial pada remaja yang terpapar konten tanpa filter yang memadai.

Para ahli hukum menilai kasus ini bisa menjadi preseden penting bagi masa depan regulasi media sosial di seluruh dunia. Jika pengadilan memutuskan perusahaan teknologi bertanggung jawab, maka akan ada perubahan besar dalam cara aplikasi didesain. Perusahaan mungkin akan dipaksa untuk mengubah algoritma mereka agar tidak lagi mengeksploitasi kerentanan psikologis anak-anak demi keuntungan komersial semata.

Di luar ruang sidang, banyak pakar psikologi anak menyarankan orang tua untuk lebih proaktif dalam mengawasi aktivitas digital buah hati mereka. Literasi digital sejak dini dianggap sebagai kunci utama untuk memitigasi risiko kesehatan mental. Orang tua diharapkan mampu menciptakan ruang diskusi yang terbuka agar anak merasa aman bercerita saat mengalami pengalaman tidak menyenangkan di dunia maya.

Baca Juga

  • Pekerja Penutup Pintu Taksi Otonom Raup Ratusan Ribu
  • Penyebab Manusia Jarang Kidal Menurut Penelitian Terbaru

Advertisement

Secara global, beberapa negara mulai memperketat aturan mengenai usia minimal pengguna media sosial. Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya laporan depresi dan kecemasan di kalangan pelajar. Para pembuat kebijakan kini tengah menimbang apakah regulasi yang lebih ketat dapat secara efektif mengurangi dampak media sosial pada remaja yang kian mengkhawatirkan.

Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa kesehatan mental adalah aset yang harus dijaga di tengah gempuran teknologi. Meskipun media sosial menawarkan konektivitas tanpa batas, risiko yang dibawanya terhadap psikologis remaja tidak boleh diabaikan. Kesaksian Victoria Burke menjadi pengingat bahwa di balik layar ponsel yang berkilau, terdapat risiko nyata yang mengancam kesejahteraan generasi masa depan.

Sebagai penutup, persidangan ini masih terus berlanjut dengan agenda mendengarkan saksi-saksi ahli lainnya dari kedua belah pihak. Hasil akhirnya akan menentukan bagaimana industri teknologi memandang tanggung jawab moral mereka terhadap pengguna muda. Upaya bersama antara orang tua, sekolah, dan pemerintah tetap menjadi benteng terkuat dalam menghadapi dampak media sosial pada remaja di era digital yang serba cepat ini.

Baca Juga

  • Penyelundupan Chip AI Nvidia ke China Diselidiki Taiwan
  • Krisis Chip Smartphone Global Bikin Penjualan HP Anjlok

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
kesehatan mental Media Sosial Meta psikologi anak YouTube
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleLaptop 5 jutaan terbaik 2026: Rekomendasi Spek Dewa Harga Irit
Next Article Oven Listrik Terbaik untuk Usaha: 5 Rekomendasi Awet & Cepat Panas
Iphan S
  • Website

Artikel Terkait

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37

Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!

Iphan S2 Juni 2026 | 19:37

Potensi Gempa Besar Ciremai Terlacak dari Struktur Tanah Terbalik

Ana Octarin2 Juni 2026 | 16:37
Pilihan Redaksi
Aplikasi

7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Olin Sianturi1 Februari 2026 | 00:59

Persaingan di dunia konten digital semakin memanas. Khususnya di TikTok, platform video pendek yang kini…

5 Fakta Mengejutkan Penemuan Harta Karun Emas Rp 1.358 T di China

27 Oktober 2025 | 08:38

Perbandingan Konsumsi BBM Innova vs Rush, Mana Pilihan Paling Irit?

2 April 2026 | 01:54

5 Fitur Baru Xiaomi 15 Ultra Setelah Update HyperOS 3 dan Android 16

4 November 2025 | 03:38

Cara Cek Nomor IM3 Paling Praktis dan Cepat Terbaru

31 Mei 2026 | 05:00
Terbaru

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37

Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!

Iphan S2 Juni 2026 | 19:37
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.