TechnonesiaID - Teknologi daur ulang baterai mobil listrik yang kini berkembang pesat di Eropa berpotensi mengguncang pasar nikel global, termasuk Indonesia. Dua startup asal Eropa, Altilium dan Tozero, memimpin langkah revolusioner ini demi memenuhi standar ketat Uni Eropa yang akan berlaku mulai Agustus 2030. Langkah ini tidak hanya menantang dominasi China dalam industri baterai global, tetapi juga menjadi alarm bagi negara produsen nikel mentah.
Uni Eropa telah menetapkan aturan ketat terkait keberlanjutan ekosistem kendaraan listrik. Mulai tahun 2030, sebanyak 6 persen lithium dan nikel, serta 16 persen kobalt yang digunakan pada kendaraan listrik harus berasal dari bahan daur ulang. Angka minimum ini akan terus meningkat secara bertahap setiap lima tahun sekali. Kebijakan ini memaksa para produsen otomotif mencari alternatif pasokan selain menambang bijih nikel baru.
Tantangan Baru dari Regulasi Daur Ulang Baterai Mobil Listrik
Penerapan regulasi baru ini membuat permintaan akan bahan hasil daur ulang baterai mobil listrik melonjak tajam di kawasan Eropa. Jika gagal memenuhi kuota bahan daur ulang tersebut, produsen mobil akan menghadapi denda besar dan larangan penjualan di kawasan Uni Eropa. Kondisi ini memicu kompetisi ketat antara startup Eropa dengan korporasi besar asal China yang selama ini memonopoli teknologi daur ulang baterai.
Baca Juga
Advertisement
Kehadiran inovasi dari Altilium dan Tozero menjadi bukti nyata bahwa Eropa ingin mandiri dari ketergantungan pasokan luar negeri. Langkah taktis ini didukung penuh oleh regulasi hijau Uni Eropa yang menuntut penurunan emisi secara drastis pada seluruh rantai pasok kendaraan listrik.
Inovasi Altilium dan Kinerja Katoda Daur Ulang
Dua startup Eropa, Altilium dan Tozero, memimpin inovasi daur ulang baterai mobil listrik untuk mengurangi ketergantungan pada bahan mentah baru. Altilium, startup asal Inggris, membuktikan bahwa kualitas bahan daur ulang tidak kalah dari bahan tambang segar. Berdasarkan riset bersama Imperial College London, sel baterai yang menggunakan katoda daur ulang menunjukkan performa yang setara dengan baterai baru. Katoda tersebut biasanya terdiri dari campuran lithium, nikel, kobalt, dan mangan.
Penggunaan bahan hasil daur ulang baterai mobil listrik terbukti mampu memangkas emisi karbon hingga 70 persen. CEO Altilium, Christian Marston, mengungkapkan bahwa proses ini juga membuat biaya produksi 20 persen lebih murah dibandingkan menggunakan material tambang baru. Saat ini, Altilium tengah menjalin kemitraan dengan Tata Motors untuk mendaur ulang baterai dari mobil listrik premium Jaguar i-Pace.
Baca Juga
Advertisement
Tozero dan Ambisi Net-Zero Grafit
Selain Altilium, startup asal Jerman bernama Tozero juga menggebrak industri dengan fokus pada daur ulang grafit. Didukung oleh raksasa otomotif Honda, Tozero tengah mengembangkan metode hidrometalurgi yang bebas emisi jika menggunakan energi terbarukan. Selain itu, Honda juga mendukung pengembangan grafit melalui metode daur ulang baterai mobil listrik ini.
Grafit sendiri berkontribusi hingga 40 persen dari total jejak karbon dalam pembuatan baterai lithium-ion konvensional. Tozero menargetkan pabrik mereka mulai beroperasi penuh pada tahun 2027 dengan kapasitas produksi 2.000 ton grafit daur ulang per tahun. Jumlah tersebut diklaim cukup untuk memasok kebutuhan produksi sekitar 50.000 unit mobil listrik baru tanpa perlu melakukan penambangan baru yang merusak lingkungan.
Dampak Serius Terhadap Hilirisasi Nikel Indonesia
Perkembangan teknologi ini tentu menjadi perhatian serius bagi Indonesia yang sedang gencar melakukan hilirisasi nikel. Indonesia saat ini mengandalkan teknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL) untuk mengekstrak Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dari bijih nikel kadar rendah (limonit). MHP ini kemudian diolah menjadi nikel sulfat, komponen vital untuk katoda baterai.
Baca Juga
Advertisement
Proyek-proyek raksasa di Morowali dan Weda Bay terus digenjot untuk memenuhi permintaan global. Namun, jika pasar Eropa yang merupakan salah satu pasar EV terbesar mulai beralih ke bahan daur ulang, serapan nikel asal Indonesia bisa terganggu. Apalagi, Uni Eropa juga terus memperketat aturan mengenai jejak karbon dari produk impor, yang sering kali menyudutkan nikel Indonesia karena proses produksinya masih menggunakan energi dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara.
Persaingan Sengit Melawan Dominasi China
Selama ini, China menguasai rantai pasok daur ulang baterai global melalui raksasa teknologi seperti CATL. Negara Tirai Bambu ini telah membangun regulasi daur ulang baterai yang sangat matang sejak tahun 2018. Perusahaan-perusahaan China kini memiliki kapasitas daur ulang terbesar di dunia, yang memungkinkan mereka memproduksi baterai dengan harga yang sangat kompetitif.
Langkah Eropa untuk mandiri secara teknologi daur ulang ini secara langsung menantang dominasi pasar yang selama ini dinikmati oleh China. Melalui startup lokal seperti Altilium dan Tozero, Eropa berusaha memutus rantai ketergantungan geopolitik tersebut dan menciptakan ekosistem sirkular yang mandiri di dalam kawasan mereka sendiri.
Baca Juga
Advertisement
Menghadapi pergeseran tren global ini, Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan ekspor komoditas setengah jadi dengan jejak karbon tinggi. Pemerintah dan pelaku industri harus mulai melirik investasi pada teknologi hijau dan pengolahan ramah lingkungan. Indonesia harus segera mengantisipasi tren daur ulang baterai mobil listrik ini agar industri nikel dalam negeri tetap kompetitif di pasar global yang semakin menuntut keberlanjutan.
- Instagram : @technonesia.id
- Facebook : Technonesia ID
- X (Twitter) : @technonesia_id
- Whatsapp Channel : Technonesia.ID
- Google News : TECHNONESIA