Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pasar CPU Nvidia Vera Jadi Senjata Baru Kuasai AI

1 Juni 2026 | 10:37

Piala Dunia Free Fire: 3 Tim Indonesia Lolos ke EWC 2026

1 Juni 2026 | 09:53

Komisaris Baru Telkomsel Yusuf Ateh Resmi Ditunjuk

1 Juni 2026 | 09:07
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Pasar CPU Nvidia Vera Jadi Senjata Baru Kuasai AI
  • Piala Dunia Free Fire: 3 Tim Indonesia Lolos ke EWC 2026
  • Komisaris Baru Telkomsel Yusuf Ateh Resmi Ditunjuk
  • Tablet Murah untuk Pelajar, itel VistaTab 11 Punya Fitur AI
  • Ambisi Chip Canggih Huawei Bikin AS Kena Senjata Makan Tuan
  • Perbandingan Honor 600 vs Honor 600 Pro, Mana Lebih Unggul?
  • Redmi Headphones Neo Indonesia Segera Rilis, Ini Speknya
  • HP Samsung Harga 2 Jutaan: Pilih Galaxy A05, A06, atau A05s?
Senin, Juni 1
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » Modus Pencucian Uang Rekening Bank Pakai Kamera Virtual Marak
Berita Tekno

Modus Pencucian Uang Rekening Bank Pakai Kamera Virtual Marak

Ana OctarinAna Octarin17 April 2026 | 06:55
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Modus pencucian uang rekening bank
Modus pencucian uang rekening bank (Foto: www.cnbcindonesia.com)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Modus pencucian uang rekening bank saat ini tengah memasuki babak baru yang melibatkan teknologi manipulasi biometrik tingkat tinggi. Para pelaku kejahatan siber tidak lagi hanya mengandalkan peretasan konvensional, melainkan menggunakan rekening yang mereka sewa atau kendalikan sepenuhnya. Melalui rekening-rekening “sampah” atau mule accounts ini, dana hasil kejahatan mengalir deras sebelum akhirnya dikonversi menjadi aset digital.

Berdasarkan laporan terbaru dari MIT Technology Review, para penipu mengincar rekening bank milik individu yang bersedia menyewakan data pribadi mereka. Setelah dana masuk ke rekening tersebut, uang akan didistribusikan ke berbagai akun lain dalam jaringan yang rumit. Tujuannya jelas, yakni memutus rantai pelacakan oleh otoritas keuangan sebelum akhirnya diubah menjadi stablecoin seperti Tether (USDT) yang dipatok terhadap dolar AS.

Keberhasilan modus pencucian uang rekening bank ini sangat bergantung pada kemampuan pelaku dalam menembus sistem keamanan Know Your Customer (KYC). KYC merupakan protokol wajib bagi lembaga jasa keuangan untuk memastikan bahwa pemilik akun adalah manusia asli dan datanya sesuai dengan dokumen identitas. Namun, para pelaku kini memiliki senjata baru berupa alat peretasan yang dijual bebas di platform pesan singkat Telegram.

Baca Juga

  • Pasar CPU Nvidia Vera Jadi Senjata Baru Kuasai AI
  • Ambisi Chip Canggih Huawei Bikin AS Kena Senjata Makan Tuan

Advertisement

Ancaman Kamera Virtual dan Manipulasi KYC

Peneliti keamanan siber, Hieu Minh Ngo, mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai distribusi alat peretas KYC. Ia menemukan setidaknya 22 saluran dan grup Telegram yang secara terang-terangan menjual perangkat lunak untuk memanipulasi verifikasi wajah. Grup-grup ini beroperasi dalam berbagai bahasa, mulai dari Mandarin, Vietnam, hingga Inggris, dengan target pasar global yang sangat luas.

Salah satu alat yang paling berbahaya dalam modus pencucian uang rekening bank ini adalah teknologi kamera virtual. Perangkat lunak ini dirancang sedemikian rupa sehingga sistem perbankan menganggap input video yang diterima berasal dari kamera fisik secara langsung. Padahal, video tersebut merupakan hasil manipulasi atau rekaman orang lain yang sudah dimodifikasi agar lolos pemindaian biometrik.

Data dari iProov, perusahaan verifikasi biometrik terkemuka, menunjukkan tren yang sangat mengkhawatirkan. Serangan menggunakan kamera virtual tercatat meningkat hingga lebih dari 25 kali lipat secara global pada tahun 2024. Hal ini menunjukkan bahwa metode tersebut telah menjadi standar baru bagi sindikat kejahatan dalam membobol sistem keamanan perbankan digital di seluruh dunia.

Baca Juga

  • Pendapatan dari Konten Pertanian Melebihi Hasil Kebun
  • PHK Karyawan Standard Chartered: Dampak AI di Sektor Finansial

Advertisement

Peningkatan Serangan pada Platform Keuangan

Penyedia layanan KYC lainnya, Sumsub, juga melaporkan temuan serupa yang memperkuat adanya modus pencucian uang rekening bank yang semakin masif. Upaya penyusupan menggunakan kamera virtual pada klien mereka meningkat hampir tiga kali lipat sepanjang tahun lalu. Para pelaku umumnya menggunakan deepfake yang sangat halus sehingga sulit dibedakan oleh mata manusia maupun algoritma keamanan standar.

Pemerintah di berbagai negara kini mulai bereaksi keras terhadap fenomena ini. Thailand, misalnya, telah menerapkan langkah pengamanan ekstra ketat untuk memantau proses KYC secara real-time. Otoritas Thailand juga membatasi nilai transaksi harian pada akun yang dianggap mencurigakan dan memperkuat wewenang lembaga keuangan untuk menangguhkan rekening secara instan jika terdeteksi aktivitas anomali.

Di Amerika Serikat, Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN) telah mengeluarkan peringatan resmi mengenai bahaya penggunaan deepfake dan kamera virtual dalam proses pembukaan akun. FinCEN mendorong platform keuangan untuk tidak hanya mengandalkan verifikasi wajah di awal, tetapi juga melacak pola transaksi secara mendalam guna mengidentifikasi indikasi pencucian uang sejak dini.

Baca Juga

  • Gelombang Panas Ekstrem Eropa Pecah Rekor, PBB Beri Warning
  • Komisaris Baru Telkomsel: Muhammad Yusuf Ateh Resmi Menjabat

Advertisement

Risiko Hukum Bagi Pemilik Rekening

Masyarakat perlu memahami bahwa membiarkan orang lain menggunakan rekening pribadi dengan imbalan uang dapat menyeret mereka ke ranah hukum. Dalam banyak kasus modus pencucian uang rekening bank, pemilik asli rekening sering kali berdalih tidak tahu bahwa akun mereka digunakan untuk kejahatan. Namun, secara hukum, pemilik rekening tetap bertanggung jawab atas setiap transaksi yang terjadi di bawah identitas mereka.

Sindikat kejahatan biasanya menjanjikan komisi besar bagi siapa saja yang mau “meminjamkan” akun bank atau akun bursa kripto mereka. Praktik ini sangat berbahaya karena sekali rekening tersebut masuk dalam daftar hitam perbankan, pemiliknya akan kesulitan mengakses layanan keuangan di masa depan. Selain itu, mereka juga berisiko dianggap sebagai bagian dari jaringan kriminal internasional.

Untuk melindungi diri, pengguna perbankan digital disarankan untuk selalu mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA) yang tidak hanya bergantung pada biometrik wajah. Penggunaan kunci keamanan fisik atau aplikasi autentikator tambahan dapat menjadi lapis pertahanan ekstra. Jangan pernah memberikan akses perbankan atau data KYC kepada pihak manapun, meskipun dijanjikan keuntungan finansial yang menggiurkan.

Baca Juga

  • Rencana Energi Nuklir Singapura Mulai Dikaji Secara Formal
  • Promo Lazada 6.6 Super: Banjir Diskon Gadget dan Elektronik

Advertisement

Kesadaran kolektif mengenai modus pencucian uang rekening bank menjadi kunci utama dalam menekan angka kejahatan finansial digital. Dengan semakin canggihnya teknologi kamera virtual, kewaspadaan dalam menjaga kerahasiaan data pribadi kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan demi keamanan aset dan reputasi hukum di masa depan.


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
keamanan bank Kejahatan Siber Kripto Pencucian Uang teknologi KYC
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleHuawei Mate 80 Pro Resmi Hadir di Indonesia, Flagship Tangguh Kamera Gahar
Next Article Tablet Xiaomi untuk Nakes: 5 Rekomendasi Input Data 2026
Ana Octarin
  • Website

Ana Octarin adalah seorang Penulis Berita yang fokus pada teknologi, otomotif, serta tips dan trik seputar kehidupan digital. Dengan gaya bahasa yang lugas, informatif, dan mudah dipahami, Ana mampu menghadirkan konten yang tidak hanya relevan tetapi juga bermanfaat bagi pembaca. Berbekal pengalaman dalam menulis artikel SEO-friendly, Ana konsisten menyajikan berita terkini, ulasan mendalam, hingga panduan praktis yang membantu audiens tetap update dan melek teknologi.

Artikel Terkait

Pasar CPU Nvidia Vera Jadi Senjata Baru Kuasai AI

Ana Octarin1 Juni 2026 | 10:37

Ambisi Chip Canggih Huawei Bikin AS Kena Senjata Makan Tuan

Iphan S1 Juni 2026 | 07:37

Pendapatan dari Konten Pertanian Melebihi Hasil Kebun

Ana Octarin1 Juni 2026 | 02:28

PHK Karyawan Standard Chartered: Dampak AI di Sektor Finansial

Ana Octarin1 Juni 2026 | 01:19

Gelombang Panas Ekstrem Eropa Pecah Rekor, PBB Beri Warning

Ana Octarin1 Juni 2026 | 00:10

Komisaris Baru Telkomsel: Muhammad Yusuf Ateh Resmi Menjabat

Ana Octarin31 Mei 2026 | 22:38
Pilihan Redaksi
Aplikasi

7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Olin Sianturi1 Februari 2026 | 00:59

Persaingan di dunia konten digital semakin memanas. Khususnya di TikTok, platform video pendek yang kini…

HP Samsung 1 jutaan Terbaik 2026, Baterai Jumbo Kamera 50MP

26 Mei 2026 | 19:55

HP Ojol Terbaik 2026 Harga 2 Jutaan: Baterai Jumbo & Awet

31 Mei 2026 | 05:23

Infinix HOT 50 Pro+ Jadi HP Gaming Layar Lengkung Termurah

30 Mei 2026 | 22:52

Cara Cek SLIK Online Terbaru Lewat HP, Bebas BI Checking!

28 Mei 2026 | 22:57
Terbaru

Pasar CPU Nvidia Vera Jadi Senjata Baru Kuasai AI

Ana Octarin1 Juni 2026 | 10:37

Ambisi Chip Canggih Huawei Bikin AS Kena Senjata Makan Tuan

Iphan S1 Juni 2026 | 07:37

Pendapatan dari Konten Pertanian Melebihi Hasil Kebun

Ana Octarin1 Juni 2026 | 02:28

PHK Karyawan Standard Chartered: Dampak AI di Sektor Finansial

Ana Octarin1 Juni 2026 | 01:19

Gelombang Panas Ekstrem Eropa Pecah Rekor, PBB Beri Warning

Ana Octarin1 Juni 2026 | 00:10
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.