Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Tablet Murah Xiaomi Redmi Pad 2 Rilis, Layar 2.5K Baterai Jumbo

28 Mei 2026 | 01:52

Salju Abadi Papua Mencair, Gletser Terakhir Segera Sirna

28 Mei 2026 | 01:29

Insentif Pajak Kendaraan Listrik Ditunda, Ini Penjelasannya

28 Mei 2026 | 01:06
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Tablet Murah Xiaomi Redmi Pad 2 Rilis, Layar 2.5K Baterai Jumbo
  • Salju Abadi Papua Mencair, Gletser Terakhir Segera Sirna
  • Insentif Pajak Kendaraan Listrik Ditunda, Ini Penjelasannya
  • Game Football Manager 2026 Rilis Fitur Piala Dunia FIFA
  • Tablet Samsung 2 Jutaan Terbaru: Galaxy Tab A11 Plus Rilis
  • Layanan Digital Berbasis AI Jadi Langkah Baru Telkomsel
  • Pameran Otomotif GIIAS 2026 Hadirkan 6 Merek Baru
  • Perangkat IoT Premium OPPO Resmi Rilis di Indonesia
Kamis, Mei 28
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » Salju Abadi Papua Mencair, Gletser Terakhir Segera Sirna
Berita Tekno

Salju Abadi Papua Mencair, Gletser Terakhir Segera Sirna

Iphan SIphan S28 Mei 2026 | 01:29
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
salju abadi Papua mencair
salju abadi Papua mencair (Foto: www.cnbcindonesia.com)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Salju abadi Papua mencair dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan akibat krisis iklim global. Puncak Jaya, gunung tertinggi di Indonesia dan Asia Tenggara, kini berada di ambang kehilangan gletser tropis terakhirnya. Data pemantauan terbaru menunjukkan bahwa kawasan es ini telah menyusut drastis hingga 97 persen dalam kurun waktu 44 tahun terakhir.

Dari enam gletser megah yang dulu menghiasi puncak berselimut es ini, sekarang hanya tersisa dua area kecil saja. Gletser Carstensz dan East Northwall Firn menjadi saksi bisu kehancuran ekosistem es unik di wilayah tropis tersebut. Para ahli memproyeksikan kedua gletser tersebut tidak akan mampu bertahan melewati dekade ini.

Mengapa Salju Abadi Papua Mencair Begitu Cepat?

Pemanasan global menjadi pemicu utama di balik fenomena menyedihkan yang melanda tanah Papua ini. Kenaikan suhu bumi secara global mengubah pola cuaca ekstrem di wilayah pegunungan tinggi. Fenomena El Niño yang semakin sering terjadi turut memperparah kondisi dengan membawa udara kering dan suhu yang jauh lebih hangat ke wilayah tersebut.

Baca Juga

  • Layanan Digital Berbasis AI Jadi Langkah Baru Telkomsel
  • Penyebab Proyek AI Gagal di Banyak Perusahaan Global

Advertisement

Saat suhu udara di dataran tinggi meningkat, batas ketinggian pembentukan salju otomatis bergeser ke area yang lebih tinggi. Kondisi ini menyebabkan presipitasi yang seharusnya turun sebagai salju baru justru turun dalam bentuk air hujan hangat. Tanpa adanya pasokan salju segar, proses pencairan es berlangsung berkali-kali lipat lebih cepat karena permukaan es langsung terpapar air hujan.

Keadaan ekstrem ini memicu percepatan laju salju abadi Papua mencair secara drastis dari tahun ke tahun. Penelitian menggunakan sampel inti es sepanjang 32 meter membuktikan bahwa laju penyusutan es mengalami lonjakan luar biasa selama periode El Niño yang kuat. Pada periode El Niño 2015-2016, tingkat penipisan es vertikal melonjak hingga lima kali lipat, dari satu meter per tahun menjadi 5,3 meter per tahun.

Keunikan Gletser Tropis di Puncak Dunia

Gletser tropis merupakan fenomena alam yang sangat langka di dunia saat ini. Selain di wilayah Pegunungan Andes (Amerika Selatan) dan beberapa gunung di Afrika Timur seperti Kilimanjaro, Papua menjadi satu-satunya wilayah di kawasan Asia yang memiliki keajaiban alam ini. Sebagai salah satu dari tujuh puncak tertinggi di dunia (Seven Summits), Puncak Jaya selalu menjadi magnet bagi pendaki internasional dan ilmuwan iklim global.

Baca Juga

  • Bisnis ATM Bitcoin Bangkrut Akibat Regulasi Ketat
  • Pembunuh Bos Yoozoo Games Dieksekusi Mati di China

Advertisement

Penyusutan es di Papua menjadi indikator nyata bahwa krisis iklim bukan lagi sekadar ancaman masa depan, melainkan realitas yang sedang terjadi di depan mata kita. Pemodelan ilmiah memproyeksikan bahwa luas gletser Papua yang mencapai 19,3 kilometer persegi pada tahun 1850, kini hanya tersisa sekitar 0,16 hingga 0,23 kilometer persegi pada periode 2022-2024. Penyusutan masif ini setara dengan kehilangan area seluas 3.500 lapangan sepak bola menjadi hanya sekitar 40 lapangan saja.

Kondisi ini diperkirakan akan mencapai titik kritis dalam waktu dekat akibat perubahan cuaca ekstrem yang terus berlanjut. Jika El Niño kuat kembali melanda pada paruh kedua tahun 2026, maka skenario terburuk di mana salju abadi Papua mencair secara keseluruhan bisa terjadi antara tahun 2026 hingga 2027.

Ancaman Kehilangan Identitas Budaya Masyarakat Adat

Dampak dari hilangnya lapisan es ini tidak hanya terbatas pada kerusakan lingkungan fisik semata. Bagi masyarakat adat Papua yang tinggal di sekitar kaki gunung, puncak berselimut salju tersebut memiliki nilai spiritual dan kesakralan yang sangat mendalam. Mereka menganggap gletser sebagai tempat suci bersemayamnya roh para leluhur serta lambang keseimbangan alam.

Baca Juga

  • Pemulihan Internet Palapa Ring Tengah di Sangihe Sitaro Dijaga
  • Pakar Keamanan Siber Dicari Perusahaan, Gaji Tembus Miliaran

Advertisement

Hilangnya lapisan es ini secara langsung mengikis warisan budaya takbenda yang telah diwariskan secara turun-temurun. Ketika salju abadi Papua mencair, masyarakat lokal merasa kehilangan sebagian besar dari identitas spiritual mereka. Bentang alam berselimut es tersebut bukan sekadar tumpukan es dingin biasa, melainkan bagian integral dari sejarah hidup dan sistem kepercayaan adat.

Meskipun dunia internasional berupaya menekan emisi gas rumah kaca saat ini juga, sistem iklim bumi membutuhkan waktu yang sangat lama untuk pulih sepenuhnya. Suhu global diprediksi akan tetap meningkat dalam beberapa tahun ke depan, sehingga mempersempit peluang penyelamatan sisa-sisa es tropis yang masih bertahan.

Pada akhirnya, fenomena salju abadi Papua mencair menjadi alarm keras bagi seluruh umat manusia mengenai dampak nyata perubahan iklim global yang kian tidak terkendali. Kehilangan gletser tropis ini akan menjadi catatan sejarah kelam di mana Indonesia kehilangan salah satu keajaiban alam terbaiknya untuk selamanya. Langkah mitigasi yang agresif kini menjadi satu-satunya harapan tersisa untuk melindungi ekosistem rentan lainnya di seluruh penjuru dunia.

Baca Juga

  • Pemulihan Internet di Iran Mulai Berjalan Pasca-Lumpuh
  • Paket Streaming Piala Dunia 2026 Resmi Hadir di Telkomsel

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
gletser puncak jaya krisis iklim indonesia Pemanasan Global Perubahan Iklim salju abadi papua
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleInsentif Pajak Kendaraan Listrik Ditunda, Ini Penjelasannya
Next Article Tablet Murah Xiaomi Redmi Pad 2 Rilis, Layar 2.5K Baterai Jumbo
Iphan S
  • Website

Artikel Terkait

Layanan Digital Berbasis AI Jadi Langkah Baru Telkomsel

Ana Octarin27 Mei 2026 | 23:57

Penyebab Proyek AI Gagal di Banyak Perusahaan Global

Ana Octarin27 Mei 2026 | 22:25

Bisnis ATM Bitcoin Bangkrut Akibat Regulasi Ketat

Iphan S27 Mei 2026 | 18:55

Pembunuh Bos Yoozoo Games Dieksekusi Mati di China

Iphan S27 Mei 2026 | 13:55

Pemulihan Internet Palapa Ring Tengah di Sangihe Sitaro Dijaga

Ana Octarin27 Mei 2026 | 09:55

Pakar Keamanan Siber Dicari Perusahaan, Gaji Tembus Miliaran

Ana Octarin27 Mei 2026 | 05:55
Pilihan Redaksi
Aplikasi

7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Olin Sianturi1 Februari 2026 | 00:59

Persaingan di dunia konten digital semakin memanas. Khususnya di TikTok, platform video pendek yang kini…

Spesifikasi POCO X7 5G: HP 3 Jutaan Terbaik Layar AMOLED

21 Mei 2026 | 23:55

HP Samsung 1 jutaan Terbaik 2026, Baterai Jumbo Kamera 50MP

26 Mei 2026 | 19:55

Tablet Murah untuk Mahasiswa, Xiaomi Redmi Pad SE Juara!

27 Mei 2026 | 10:55

Aplikasi Penyebab Memori HP Penuh yang Wajib Dihapus

23 Mei 2026 | 12:55
Terbaru

Layanan Digital Berbasis AI Jadi Langkah Baru Telkomsel

Ana Octarin27 Mei 2026 | 23:57

Penyebab Proyek AI Gagal di Banyak Perusahaan Global

Ana Octarin27 Mei 2026 | 22:25

Bisnis ATM Bitcoin Bangkrut Akibat Regulasi Ketat

Iphan S27 Mei 2026 | 18:55

Pembunuh Bos Yoozoo Games Dieksekusi Mati di China

Iphan S27 Mei 2026 | 13:55

Pemulihan Internet Palapa Ring Tengah di Sangihe Sitaro Dijaga

Ana Octarin27 Mei 2026 | 09:55
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.