TechnonesiaID - Salju abadi Papua mencair dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan akibat krisis iklim global. Puncak Jaya, gunung tertinggi di Indonesia dan Asia Tenggara, kini berada di ambang kehilangan gletser tropis terakhirnya. Data pemantauan terbaru menunjukkan bahwa kawasan es ini telah menyusut drastis hingga 97 persen dalam kurun waktu 44 tahun terakhir.
Dari enam gletser megah yang dulu menghiasi puncak berselimut es ini, sekarang hanya tersisa dua area kecil saja. Gletser Carstensz dan East Northwall Firn menjadi saksi bisu kehancuran ekosistem es unik di wilayah tropis tersebut. Para ahli memproyeksikan kedua gletser tersebut tidak akan mampu bertahan melewati dekade ini.
Mengapa Salju Abadi Papua Mencair Begitu Cepat?
Pemanasan global menjadi pemicu utama di balik fenomena menyedihkan yang melanda tanah Papua ini. Kenaikan suhu bumi secara global mengubah pola cuaca ekstrem di wilayah pegunungan tinggi. Fenomena El Niño yang semakin sering terjadi turut memperparah kondisi dengan membawa udara kering dan suhu yang jauh lebih hangat ke wilayah tersebut.
Baca Juga
Advertisement
Saat suhu udara di dataran tinggi meningkat, batas ketinggian pembentukan salju otomatis bergeser ke area yang lebih tinggi. Kondisi ini menyebabkan presipitasi yang seharusnya turun sebagai salju baru justru turun dalam bentuk air hujan hangat. Tanpa adanya pasokan salju segar, proses pencairan es berlangsung berkali-kali lipat lebih cepat karena permukaan es langsung terpapar air hujan.
Keadaan ekstrem ini memicu percepatan laju salju abadi Papua mencair secara drastis dari tahun ke tahun. Penelitian menggunakan sampel inti es sepanjang 32 meter membuktikan bahwa laju penyusutan es mengalami lonjakan luar biasa selama periode El Niño yang kuat. Pada periode El Niño 2015-2016, tingkat penipisan es vertikal melonjak hingga lima kali lipat, dari satu meter per tahun menjadi 5,3 meter per tahun.
Keunikan Gletser Tropis di Puncak Dunia
Gletser tropis merupakan fenomena alam yang sangat langka di dunia saat ini. Selain di wilayah Pegunungan Andes (Amerika Selatan) dan beberapa gunung di Afrika Timur seperti Kilimanjaro, Papua menjadi satu-satunya wilayah di kawasan Asia yang memiliki keajaiban alam ini. Sebagai salah satu dari tujuh puncak tertinggi di dunia (Seven Summits), Puncak Jaya selalu menjadi magnet bagi pendaki internasional dan ilmuwan iklim global.
Baca Juga
Advertisement
Penyusutan es di Papua menjadi indikator nyata bahwa krisis iklim bukan lagi sekadar ancaman masa depan, melainkan realitas yang sedang terjadi di depan mata kita. Pemodelan ilmiah memproyeksikan bahwa luas gletser Papua yang mencapai 19,3 kilometer persegi pada tahun 1850, kini hanya tersisa sekitar 0,16 hingga 0,23 kilometer persegi pada periode 2022-2024. Penyusutan masif ini setara dengan kehilangan area seluas 3.500 lapangan sepak bola menjadi hanya sekitar 40 lapangan saja.
Kondisi ini diperkirakan akan mencapai titik kritis dalam waktu dekat akibat perubahan cuaca ekstrem yang terus berlanjut. Jika El Niño kuat kembali melanda pada paruh kedua tahun 2026, maka skenario terburuk di mana salju abadi Papua mencair secara keseluruhan bisa terjadi antara tahun 2026 hingga 2027.
Ancaman Kehilangan Identitas Budaya Masyarakat Adat
Dampak dari hilangnya lapisan es ini tidak hanya terbatas pada kerusakan lingkungan fisik semata. Bagi masyarakat adat Papua yang tinggal di sekitar kaki gunung, puncak berselimut salju tersebut memiliki nilai spiritual dan kesakralan yang sangat mendalam. Mereka menganggap gletser sebagai tempat suci bersemayamnya roh para leluhur serta lambang keseimbangan alam.
Baca Juga
Advertisement
Hilangnya lapisan es ini secara langsung mengikis warisan budaya takbenda yang telah diwariskan secara turun-temurun. Ketika salju abadi Papua mencair, masyarakat lokal merasa kehilangan sebagian besar dari identitas spiritual mereka. Bentang alam berselimut es tersebut bukan sekadar tumpukan es dingin biasa, melainkan bagian integral dari sejarah hidup dan sistem kepercayaan adat.
Meskipun dunia internasional berupaya menekan emisi gas rumah kaca saat ini juga, sistem iklim bumi membutuhkan waktu yang sangat lama untuk pulih sepenuhnya. Suhu global diprediksi akan tetap meningkat dalam beberapa tahun ke depan, sehingga mempersempit peluang penyelamatan sisa-sisa es tropis yang masih bertahan.
Pada akhirnya, fenomena salju abadi Papua mencair menjadi alarm keras bagi seluruh umat manusia mengenai dampak nyata perubahan iklim global yang kian tidak terkendali. Kehilangan gletser tropis ini akan menjadi catatan sejarah kelam di mana Indonesia kehilangan salah satu keajaiban alam terbaiknya untuk selamanya. Langkah mitigasi yang agresif kini menjadi satu-satunya harapan tersisa untuk melindungi ekosistem rentan lainnya di seluruh penjuru dunia.
Baca Juga
Advertisement
- Instagram : @technonesia.id
- Facebook : Technonesia ID
- X (Twitter) : @technonesia_id
- Whatsapp Channel : Technonesia.ID
- Google News : TECHNONESIA