Technonesia - Ponsel terbakar atau bahkan mengalami ledakan memang jarang terjadi. Namun, kondisi tersebut bukan sesuatu yang mustahil, terutama ketika terjadi masalah pada komponen penyimpan daya.
Salah satu komponen yang paling berkaitan dengan risiko tersebut adalah baterai lithium-ion. Teknologi ini kini digunakan secara luas pada smartphone, laptop, tablet, hingga kendaraan listrik.
Menurut National Renewable Energy Laboratory (NREL), baterai lithium-ion pada dasarnya dapat digunakan dengan aman dan dipakai setiap hari oleh jutaan perangkat.
Baca Juga :
Meski demikian, dalam kondisi tertentu baterai dapat mengalami thermal runaway. Ini merupakan kondisi ketika suhu di dalam sel meningkat secara tidak terkendali dan kemudian memicu reaksi berantai.
Apa yang Terjadi di Dalam Baterai Lithium-Ion?
Baterai lithium-ion mampu menyimpan energi dalam jumlah cukup besar meski ditempatkan dalam ruang yang relatif kecil.
Di dalam sel baterai terdapat elektroda dan lapisan pemisah atau separator. Komponen tersebut berfungsi mencegah kontak langsung antara bagian positif dan negatif.
Baca Juga :
Masalah dapat terjadi ketika separator mengalami kerusakan dan akhirnya memicu korsleting internal. Menurut UL Solutions, kerusakan ini dapat dipicu oleh benturan, tekanan, cacat produksi, suhu ekstrem, maupun kerusakan yang berkembang akibat penggunaan atau pengisian yang tidak sesuai.
Korsleting kemudian menghasilkan panas. Jika panas terus meningkat, baterai bisa memasuki fase thermal runaway.
Dalam kondisi tersebut, suhu dan tekanan dapat meningkat dengan cepat. Sementara itu, material elektrolit yang mudah terbakar dapat menghasilkan gas.
Baca Juga :
NREL menjelaskan bahwa dalam kondisi thermal runaway, suhu di dalam baterai dapat mencapai lebih dari 800 derajat Celsius. Panas yang sangat tinggi tersebut juga dapat memicu sel baterai di sekitarnya mengalami kondisi serupa.
Mengapa HP Terbakar atau Bahkan Meledak?
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko HP terbakar. Salah satunya adalah kerusakan fisik.
Ponsel yang mengalami benturan keras, tertekan, atau baterainya tertusuk dapat mengalami kerusakan pada bagian internal baterai.
Baca Juga :
Faktor kedua adalah panas berlebihan. Suhu tinggi dapat mempercepat reaksi kimia di dalam baterai dan meningkatkan risiko thermal runaway.
Kemudian, masalah pengisian daya juga perlu diperhatikan, terutama ketika baterai mengalami kondisi pengisian yang tidak sesuai dengan batas desainnya.
UL Solutions menyebut pengisian atau pengosongan di luar batas yang ditentukan dapat menyebabkan kerusakan internal dan overheating.
Baca Juga :
Selain itu, terdapat faktor berupa cacat baterai atau masalah dalam proses manufaktur. NREL menyebut sebagian kegagalan baterai dapat berawal dari cacat kecil di dalam sel yang kemudian berkembang menjadi korsleting internal.
Thermal Runaway Bisa Memicu Ledakan
Istilah thermal runaway penting dipahami karena kondisi inilah yang dapat membuat masalah baterai berkembang dengan cepat.
Ledakan sendiri tidak selalu berarti baterai tiba-tiba "meledak" seperti bahan peledak. Dalam kondisi thermal runaway, baterai dapat melepaskan gas mudah terbakar.