Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

5 Perbedaan Region HyperOS Terbaik: ROM Global Mana yang Paling Unggul?

28 November 2025 | 23:38

Awan Pintar Optimalkan AI dan Machine Learning untuk Tangkal Serangan Siber di Indonesia

28 November 2025 | 23:27

The Frame dan Music Frame Samsung: Inovasi Aesthetic yang Bikin Ruangan Naik Kelas ala Naura Ayu

28 November 2025 | 22:38
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • 5 Perbedaan Region HyperOS Terbaik: ROM Global Mana yang Paling Unggul?
  • Awan Pintar Optimalkan AI dan Machine Learning untuk Tangkal Serangan Siber di Indonesia
  • The Frame dan Music Frame Samsung: Inovasi Aesthetic yang Bikin Ruangan Naik Kelas ala Naura Ayu
  • Festival Nyasar ke Dimensi Facebook: Bawa Keseruan Komedi dan Horor, Anak Muda Auto Nyasar!
  • 5 Fakta BMKG: Mengapa Siklon Tropis Senyar Adalah Fenomena Cuaca Tidak Umum
  • 4 Alasan Penting Telkom Raih Sertifikasi ISO 14001 untuk Bisnis Berkelanjutan
  • 5 Strategi HSBC: Optimasi Pengelolaan Aset Digital dan Keuangan Perusahaan
  • 5 Dampak Positif Digitalisasi AI Terhadap Strategi Keuangan Perusahaan
Sabtu, November 29
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Tech » 5 Fakta Pusat Data Raksasa AI: Seluas 70 Lapangan Bola Ditolak!
Tech

5 Fakta Pusat Data Raksasa AI: Seluas 70 Lapangan Bola Ditolak!

Olin SianturiOlin Sianturi15 Oktober 2025 | 08:08
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Pusat Data Raksasa AI, Dampak Lingkungan Data Center
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Mengungkap drama penolakan pembangunan Pusat Data Raksasa AI Meta seluas 70 lapangan bola. Simak 5 Dampak Lingkungan Data Center yang mengkhawatirkan!

TechnonesiaID - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI melaju dengan kecepatan tinggi. Di balik kemajuan yang mengagumkan ini, tersembunyi sebuah kebutuhan infrastruktur yang sangat masif, yaitu pusat data (data center) raksasa.

Salah satu proyek ambisius terbesar di dunia datang dari Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram. Mereka berencana membangun fasilitas AI senilai US$10 miliar di Louisiana, Amerika Serikat.

Baca Juga

  • 5 Perbedaan Region HyperOS Terbaik: ROM Global Mana yang Paling Unggul?
  • 5 Strategi HSBC: Optimasi Pengelolaan Aset Digital dan Keuangan Perusahaan

Advertisement

Namun, proyek yang digadang-gadang akan menjadi salah satu pusat data terbesar di dunia—sebanding dengan luas 70 lapangan sepak bola—ini justru menemui penolakan keras dari warga lokal. Konflik ini membuka mata kita pada dilema besar antara kemajuan teknologi super canggih dan kelestarian lingkungan.

Mengapa Pusat Data Raksasa AI Ini Menjadi Kontroversi Global?

Proyek pembangunan Pusat Data Raksasa AI oleh Meta dirancang untuk menopang kebutuhan komputasi yang sangat tinggi dari bisnis AI mereka. Mulai dari pelatihan model bahasa besar (LLM) hingga menjalankan layanan canggih di platform mereka.

Ukuran proyek yang mencapai puluhan juta kaki persegi ini tentu membutuhkan daya listrik dan air yang luar biasa besar. Inilah yang menjadi sumber utama kekhawatiran masyarakat di wilayah tersebut.

Baca Juga

  • 5 Dampak Positif Digitalisasi AI Terhadap Strategi Keuangan Perusahaan
  • 5 Temuan Aneh 3I/ATLAS: Profesor Harvard Curiga Wahana Mata-Mata Alien

Advertisement

Masyarakat lokal menyatakan bahwa fasilitas sebesar itu dinilai mengancam pasokan air minum mereka dan berpotensi menimbulkan kekeringan yang serius di wilayah tersebut. Selain itu, ada juga kekhawatiran tentang lonjakan biaya listrik yang harus ditanggung oleh masyarakat sekitar akibat kebutuhan energi data center yang tak terbatas.

Kisah penolakan di Louisiana ini bukan kasus tunggal. Konflik serupa mulai bermunculan di berbagai belahan dunia. Hal ini menggarisbawahi perlunya keseimbangan antara inovasi digital dan tanggung jawab sosial serta lingkungan.

5 Dampak Lingkungan Data Center yang Memicu Penolakan Warga

Dampak Lingkungan Data Center sering kali tersembunyi di balik gemerlap kemajuan digital. Fasilitas yang bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu, membutuhkan sumber daya yang sangat besar, terutama untuk pendinginan dan pasokan daya.

Baca Juga

  • Kekayaan Satoshi Nakamoto Raib Rp 712 T: 5 Fakta Harga Bitcoin Terjun Bebas
  • 7 Bukti Lubang Kawah Bulan Terbaru Akibat Dampak Roket China

Advertisement

Berikut adalah lima isu lingkungan utama yang membuat pembangunan fasilitas raksasa ini ditolak dan menjadi perhatian global:

  • Ancaman Terhadap Pasokan Air Minum: Pusat data menggunakan miliaran liter air setiap tahunnya untuk sistem pendinginan evaporatif. Di daerah yang sudah rentan terhadap kekeringan, konsumsi air ini bisa menguras cadangan air lokal, memicu kekurangan air bagi pertanian dan konsumsi rumah tangga.
  • Lonjakan Biaya Energi dan Listrik Lokal: Operasi pusat data memerlukan jumlah listrik yang setara dengan konsumsi sebuah kota kecil. Kebutuhan daya yang masif ini tidak hanya membebani jaringan listrik lokal tetapi juga dapat memicu kenaikan harga listrik bagi penduduk sekitar, menciptakan ketidakadilan ekonomi.
  • Peningkatan Jejak Karbon (Carbon Footprint): Meskipun banyak perusahaan teknologi berjanji menggunakan energi terbarukan, sebagian besar data center global masih bergantung pada pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Energi yang diperlukan untuk komputasi AI meningkatkan emisi karbon secara signifikan.
  • Polusi Suara (Noise Pollution): Kipas dan unit pendingin yang bekerja tanpa henti di pusat data raksasa menghasilkan tingkat kebisingan yang tinggi. Hal ini sangat mengganggu kualitas hidup masyarakat yang tinggal di dekat lokasi pembangunan.
  • Masalah Limbah Elektronik (E-Waste) Jangka Panjang: Perangkat keras AI seperti chip GPU dan server memiliki siklus hidup yang pendek. Pergantian dan peningkatan perangkat keras secara cepat oleh fasilitas raksasa akan menghasilkan volume limbah elektronik yang sangat besar di masa depan, yang sulit didaur ulang secara berkelanjutan.

Kebutuhan Energi Pusat Data Raksasa AI: Jauh Lebih Boros dari yang Dibayangkan

Kekuatan komputasi yang dibutuhkan untuk melatih model AI terbaru, seperti GPT-4 atau model AI milik Meta, membutuhkan daya yang eksponensial. Ini berbeda jauh dengan kebutuhan komputasi untuk menjalankan sebuah situs web biasa.

Para ahli lingkungan menekankan bahwa model AI saat ini sangat “lapar energi.” Setiap kali model dilatih ulang, ia mengonsumsi daya listrik yang setara dengan penerbangan lintas benua atau bahkan lebih.

Baca Juga

  • Galaxy S25 FE dengan Gemini AI Hadirkan Cara Pintar Lolos Interview Kerja!
  • 5 Hal Penting Snapdragon 8 Gen 5 Terbaru: Performa Flagship Terjangkau

Advertisement

Pusat Data Raksasa AI ini pada dasarnya adalah pabrik listrik yang bekerja maksimal. Mereka harus mampu menampung ribuan server yang beroperasi pada suhu tinggi, yang kemudian menuntut sistem pendinginan yang luar biasa intensif.

Inilah yang membuat isu Dampak Lingkungan Data Center menjadi krusial. Investasi triliunan rupiah pada AI harus diimbangi dengan investasi yang sama besarnya pada solusi energi bersih dan efisien.

Tantangan dan Solusi Teknologi Hijau di Industri Data Center

Menanggapi tekanan publik dan tuntutan global untuk keberlanjutan, industri teknologi kini dipaksa mencari solusi inovatif. Konsep *Green Data Center* (Pusat Data Hijau) menjadi kunci masa depan.

Baca Juga

  • 5 Alasan Wajib Beli Poco F8 Ultra 5G: Review Spesifikasi Terbaik
  • 5 Cara Algoritma Personalisasi Mengganggu Efektivitas Proses Belajar

Advertisement

Pemerintah dan raksasa teknologi, termasuk Meta sendiri, mulai menggali cara untuk mengurangi konsumsi energi dan air mereka secara drastis. Salah satu inovasi yang menjanjikan adalah teknologi pendinginan mutakhir.

Inovasi Pendinginan untuk Mengatasi Krisis Air

Untuk mengurangi ketergantungan pada pendinginan evaporatif yang boros air, perusahaan mulai beralih ke metode yang lebih canggih. Metode ini termasuk penggunaan udara luar (free cooling) di lokasi yang lebih dingin, atau yang lebih ekstrem, menggunakan *liquid cooling*.

Dalam sistem *liquid cooling* atau pendinginan cair, server direndam langsung dalam cairan non-konduktif yang aman. Ini jauh lebih efisien dalam memindahkan panas dibandingkan udara dan mengurangi kebutuhan air secara signifikan.

Baca Juga

  • 5 Langkah Mudah Cara Daftar Xiaomi HyperOS Beta & Dapatkan Update HyperOS 3 Lebih Awal
  • AI Gantikan Nuklir? 3 Bukti Rusia Bangun Kecerdasan Buatan Senjata Baru

Advertisement

Selain pendinginan, beralih sepenuhnya ke energi terbarukan adalah langkah penting. Perusahaan perlu memastikan bahwa listrik yang mereka gunakan benar-benar berasal dari sumber energi hijau, bukan sekadar membeli kredit karbon untuk menutupi jejak fosil mereka.

Keberlanjutan adalah Kunci: Meta dan perusahaan teknologi lainnya memiliki tanggung jawab besar untuk tidak hanya mendorong inovasi AI tetapi juga memastikan bahwa kemajuan tersebut tidak mengorbankan sumber daya vital, seperti air bersih dan lingkungan yang sehat, bagi masyarakat.

Masa depan komputasi dan AI harus sejalan dengan kelangsungan hidup planet kita. Konflik di Louisiana menjadi pengingat tegas bahwa masyarakat tidak akan lagi menoleransi pembangunan raksasa yang tidak mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosialnya secara holistik.

Baca Juga

  • Skandal Aplikasi Meta Terkuak: 3 Poin Penting Keuntungan Iklan Penipuan
  • 7 Alasan Pentingnya Cyber Self-Assessment: Lindungi Bisnis Anda!

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia_id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Data Center Kecerdasan Buatan Lingkungan Meta AI Teknologi Hijau
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous Article5 Fakta Gudang Kiamat Longyearbyen: 4 Bulan Gelap Total!
Next Article Bahaya Pixnapping! 5 Langkah Jitu Cegah Modus Baru Curi OTP
Olin Sianturi
  • Website

Olin Sianturi adalah seorang Content Writer di Media TechnoNesia dan GadgetVIVA, berpengalaman dalam menulis artikel informatif dan SEO-friendly. Spesialisasinya mencakup teknologi, gadget, elektronik, game. Dengan gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami, Olin mampu menghadirkan konten berkualitas yang relevan dan bernilai bagi pembaca.

Artikel Terkait

5 Perbedaan Region HyperOS Terbaik: ROM Global Mana yang Paling Unggul?

Olin Sianturi28 November 2025 | 23:38

Festival Nyasar ke Dimensi Facebook: Bawa Keseruan Komedi dan Horor, Anak Muda Auto Nyasar!

Olin Sianturi28 November 2025 | 22:05

5 Strategi HSBC: Optimasi Pengelolaan Aset Digital dan Keuangan Perusahaan

Olin Sianturi28 November 2025 | 17:38

5 Dampak Positif Digitalisasi AI Terhadap Strategi Keuangan Perusahaan

Olin Sianturi28 November 2025 | 15:38

5 Temuan Aneh 3I/ATLAS: Profesor Harvard Curiga Wahana Mata-Mata Alien

Olin Sianturi28 November 2025 | 09:38

Kekayaan Satoshi Nakamoto Raib Rp 712 T: 5 Fakta Harga Bitcoin Terjun Bebas

Olin Sianturi28 November 2025 | 07:38
Pilihan Redaksi
Trending

4 Fakta Menarik The Blackman Family Sebelum Berpisah, Keluarga Viral yang Bikin Heboh!

Olin Sianturi25 Februari 2025 | 07:50

Mengungkap 4 fakta menarik The Blackman Family tentang perjalanan mereka sebagai keluarga viral. Simak selengkapnya…

Jepang vs OpenAI: 3 Kontroversi Sora 2 Ancam Perlindungan Hak Cipta Anime

16 Oktober 2025 | 08:08

Galaxy Z Fold7 Mengubah Cara Riset dan Eksekusi Bisnis, Lebih Cepat dan Cerdas

25 November 2025 | 16:13

The Frame dan Music Frame Samsung: Inovasi Aesthetic yang Bikin Ruangan Naik Kelas ala Naura Ayu

28 November 2025 | 22:38

5 Alasan Realme GT 8 Pro Jadi Flagship Killer Terbaik Tahun Ini

24 November 2025 | 05:38
Terbaru

5 Perbedaan Region HyperOS Terbaik: ROM Global Mana yang Paling Unggul?

Olin Sianturi28 November 2025 | 23:38

Festival Nyasar ke Dimensi Facebook: Bawa Keseruan Komedi dan Horor, Anak Muda Auto Nyasar!

Olin Sianturi28 November 2025 | 22:05

5 Strategi HSBC: Optimasi Pengelolaan Aset Digital dan Keuangan Perusahaan

Olin Sianturi28 November 2025 | 17:38

5 Dampak Positif Digitalisasi AI Terhadap Strategi Keuangan Perusahaan

Olin Sianturi28 November 2025 | 15:38

5 Temuan Aneh 3I/ATLAS: Profesor Harvard Curiga Wahana Mata-Mata Alien

Olin Sianturi28 November 2025 | 09:38
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
© TechnoNesia.ID 2025 | All Rights Reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.