Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Xiaomi Smart Bath Heater G20: Pemanas Graphene 2800W Resmi Rilis

20 Maret 2026 | 08:12

Tes Baterai HP Lipat OPPO Find N6 Tekuk Samsung & Google

20 Maret 2026 | 07:11

Agen AI Otonom Nvidia: Masa Depan Kerja atau Ancaman Massal?

20 Maret 2026 | 05:10
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Xiaomi Smart Bath Heater G20: Pemanas Graphene 2800W Resmi Rilis
  • Tes Baterai HP Lipat OPPO Find N6 Tekuk Samsung & Google
  • Agen AI Otonom Nvidia: Masa Depan Kerja atau Ancaman Massal?
  • Jadwal Rilis Vivo X300 Ultra Resmi Diumumkan, Siap Gebrak Pasar
  • Harga RAM HP Xiaomi Naik Tajam, Seri Flagship Terancam Mahal
  • Apple Rilis Pembaruan Keamanan Safari iPhone untuk Atasi Bug
  • Jaringan AI Grid Global Akamai-NVIDIA: Revolusi Komputasi Edge
  • Kesiapan Jaringan Telkom Lebaran 2026: 20.936 Teknisi Siaga
Jumat, Maret 20
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Tech » 7 Fakta Proyek Tembok Hijau China: Kontroversi Pohon Xi Jinping
Tech

7 Fakta Proyek Tembok Hijau China: Kontroversi Pohon Xi Jinping

Olin SianturiOlin Sianturi19 Desember 2025 | 08:27
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Proyek Tembok Hijau China, Kontroversi Pohon Xi Jinping
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Mengapa Proyek Tembok Hijau China menuai protes ilmuwan? Simak skala Tembok Hijau Raksasa (Great Green Wall) yang menanam 66 miliar pohon dan Kontroversi Pohon Xi Jinping.

China saat ini sedang mengerjakan salah satu program rekayasa ekologi terbesar dalam sejarah manusia. Dikenal dengan sebutan “Great Green Wall” atau Tembok Hijau Raksasa, proyek ini bertujuan untuk menahan laju ekspansi Gurun Gobi dan Taklamakan yang mengancam wilayah utara China.

Secara resmi, proyek ambisius ini bernama Three-North Shelter Forest Program. Dimulai sejak tahun 1978, inisiatif ini telah berhasil menanam lebih dari 66 miliar pohon di sepanjang perbatasan China dengan Mongolia, Kazakhstan, dan Kirgizstan. Pemerintah China bahkan berencana menambah 34 miliar pohon lagi dalam 25 tahun ke depan.

Baca Juga

  • Cara Pakai ChatGPT Lebaran 2026: Atur THR, Mudik, & Kartu Ucapan
  • Mini PC Performa Tinggi Kini Jadi Solusi Kerja Multitasking

Advertisement

Namun, di balik angka fantastis yang mencerminkan komitmen China terhadap lingkungan, muncul suara keras dari komunitas ilmiah global. Para ilmuwan berpendapat bahwa metode yang digunakan dalam Proyek Tembok Hijau China ini berpotensi menyebabkan bencana ekologi, bukan solusi.

Memahami Skala Proyek Tembok Hijau China (Great Green Wall)

Proyek Tembok Hijau China bukan sekadar penanaman pohon biasa. Ini adalah usaha masif yang dirancang untuk menciptakan sabuk hijau sepanjang 4.500 kilometer (sekitar 2.800 mil), menjadikannya struktur buatan manusia terbesar dan terpanjang yang bertujuan memerangi desertifikasi (penggurunan).

Tujuan utama dari Tembok Hijau Raksasa adalah menciptakan perisai vegetasi yang mampu mengurangi badai pasir yang menyapu Beijing dan wilayah padat penduduk lainnya, sekaligus menghentikan erosi tanah pertanian.

Baca Juga

  • Teknik Malware Zombie ZIP: Cara Baru Peretas Kelabui Antivirus
  • 5 Tips Jitu untuk Bikin Ramadan dan Idulfitri Lebih Kreatif dengan Meta AI

Advertisement

Dengan total target 100 miliar pohon, proyek ini diharapkan selesai pada tahun 2050. Jika berhasil, luasan tutupan hutan China akan meningkat secara drastis, memberikan ilusi keberhasilan mitigasi krisis iklim.

Kontroversi Pohon Xi Jinping: Kritik Para Ilmuwan

Meskipun niat China untuk memerangi desertifikasi sangat dipuji, implementasi teknis program ini menimbulkan kritik tajam. Inti dari Kontroversi Pohon Xi Jinping adalah penggunaan metode monokultur yang dianggap tidak berkelanjutan di lingkungan yang keras dan kering.

Monokultur berarti menanam satu jenis pohon secara berulang-ulang di area yang luas. Dalam kasus Tembok Hijau, jenis pohon yang paling banyak digunakan adalah spesies pertumbuhan cepat seperti poplar dan willow.

Baca Juga

  • Remaja Makin Aktif Online, Ini Tips Aman Akses Internet yang Wajib Dicoba
  • 7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Advertisement

Berikut adalah poin-poin utama protes dari para ahli ekologi:

  • Kebutuhan Air yang Tinggi: Pohon-pohon monokultur yang cepat tumbuh seperti poplar memerlukan air dalam jumlah besar. Menanam miliaran pohon haus air di wilayah yang sudah sangat kering (semi-arid) dapat menguras sumber daya air tanah secara ekstrem, memperburuk kekeringan lokal.
  • Ancaman Monokultur: Jika satu penyakit menyerang, seluruh hutan monokultur dapat musnah dalam waktu singkat, seperti yang terjadi pada program penanaman pohon poplar di wilayah Ningxia pada 2000-an. Hal ini membalikkan seluruh upaya penanaman yang telah dilakukan.
  • Kurangnya Keanekaragaman Hayati (Biodiversitas): Hutan buatan yang homogen ini tidak mendukung ekosistem yang kompleks. Pohon yang ditanam tidak sesuai dengan flora asli wilayah tersebut, yang seharusnya berupa semak-semak atau rumput, bukan hutan tinggi.
  • “Green Desert”: Beberapa ilmuwan menyebut hasil proyek ini sebagai “Gurun Hijau” (Green Desert). Area memang terlihat hijau dari luar, tetapi secara ekologis mati karena minimnya keanekaragaman dan ketidakmampuan untuk menopang kehidupan liar lokal.

Memilih Pohon yang Tepat di Wilayah Kering

Masalah utama yang dihadapi China adalah bahwa Gurun Gobi memiliki curah hujan tahunan yang sangat rendah. Dalam kondisi seperti ini, pohon asli yang mampu bertahan adalah yang berakar dalam dan memiliki daun kecil (xerofitik), bukan pohon berdaun lebar yang rentan terhadap transpirasi air cepat.

Peneliti menyarankan agar strategi penanaman bergeser dari fokus pada kuantitas pohon ke fokus pada kualitas dan ketahanan ekosistem. Ini berarti menanam kombinasi rumput, semak, dan pohon asli yang mampu beradaptasi dengan kondisi air yang langka.

Baca Juga

  • 5 Fakta Prosedur Masuk Gedung KTP: Langgar UU Perlindungan Data?
  • 7 Karyawan Dipecat Karena Skandal Keyboard Palsu, Ini Alasannya

Advertisement

Perbandingan Global: Proyek Tembok Hijau China vs. Tembok Hijau Afrika

Untuk memahami mengapa Proyek Tembok Hijau China menuai kritik, ada baiknya melihat inisiatif serupa di Afrika, yang dikenal sebagai Great Green Wall of Africa.

Meskipun tujuannya sama—melawan perluasan Gurun Sahara—pendekatan Afrika jauh berbeda. Proyek di Afrika berfokus pada pendekatan terpadu (integrated approach) yang meliputi:

  • Pengelolaan Lahan Berkelanjutan (SLM): Menggunakan teknik pertanian yang mempertahankan kelembaban tanah.
  • Restorasi Tanah: Fokus pada spesies tanaman lokal dan semak-semak yang secara alami berada di wilayah Sahel.
  • Keterlibatan Komunitas: Memberikan insentif kepada petani lokal untuk mengelola lahan mereka sendiri, alih-alih proyek rekayasa dari pemerintah pusat.

Kontrasnya, model China bersifat top-down (dari atas ke bawah), fokus pada rekayasa cepat, dan sering kali mengabaikan dinamika ekologi lokal demi mencapai target penanaman yang tinggi.

Baca Juga

  • Bill Gates Ungkap 3 Tanda Kiamat Bumi: Peran Indonesia dalam Perubahan Iklim
  • 4 Fakta Ledakan Kosmik Dahsyat yang Melenyapkan Misteri Planet Fomalhaut

Advertisement

Masa Depan dan Adaptasi Strategi Penghijauan

Menyadari adanya kegagalan pada tahap awal, Pemerintah China mulai menunjukkan indikasi adanya penyesuaian strategi. Presiden Xi Jinping telah menekankan pentingnya penghijauan berbasis sains, yang berarti fokus harus beralih dari kecepatan ke kelangsungan hidup pohon.

Para ahli berharap China akan memprioritaskan spesies pohon yang lebih tahan kekeringan dan mengadopsi model agroforestri campuran, yang menggabungkan berbagai spesies untuk meningkatkan ketahanan terhadap hama dan perubahan iklim.

Keberhasilan jangka panjang Kontroversi Pohon Xi Jinping ini akan sangat bergantung pada kemauan China untuk mengintegrasikan masukan dari ilmuwan ekologi independen, bukan hanya insinyur kehutanan yang fokus pada target jumlah.

Baca Juga

  • 7 Rahasia Burung Peminum Darah: Simbiosis Unik di Punggung Badak
  • 5 Tanda Jelas Telepon Penipuan M-Banking: Lindungi Uang Anda Sekarang!

Advertisement

7 Fakta Penting Proyek Tembok Hijau Raksasa

Berikut adalah tujuh fakta kunci yang perlu Anda ketahui mengenai Proyek Tembok Hijau China (Great Green Wall):

  1. Nama Resmi: Three-North Shelter Forest Program (TNSFP).
  2. Durasi Proyek: Dimulai tahun 1978 dan ditargetkan selesai pada tahun 2050, menjadikannya proyek lingkungan berskala abad.
  3. Total Pohon Ditanam (Hingga Saat Ini): Lebih dari 66 miliar pohon.
  4. Tujuan Utama: Menahan Gurun Gobi dan mengurangi badai pasir yang mencapai Beijing.
  5. Spesies Kontroversial: Pohon Poplar dan Willow yang haus air, ditanam sebagai monokultur.
  6. Panjang Target: Sabuk hijau yang membentang lebih dari 4.500 kilometer.
  7. Kritik Ekologi: Menguras air tanah secara berlebihan dan menciptakan ekosistem artifisial yang rentan penyakit, dikenal sebagai “Green Desert”.

Kesimpulan

Proyek Tembok Hijau China adalah simbol komitmen raksasa China untuk mengatasi masalah lingkungan yang disebabkan oleh perubahan iklim dan degradasi lahan. Ini menunjukkan bagaimana rekayasa ekologi dapat dilakukan pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun, ambisi tersebut harus diseimbangkan dengan kehati-hatian ekologis. Kontroversi Pohon Xi Jinping berfungsi sebagai pengingat penting bahwa dalam upaya restorasi alam, kuantitas tidak akan pernah bisa menggantikan kualitas ekosistem. Jika China gagal beradaptasi, miliaran pohon yang ditanam saat ini berisiko mati, meninggalkan gurun yang lebih kering dari sebelumnya.

Baca Juga

  • 5 Prediksi Harga iPhone 16 Awal 2026: Turun Drastis!
  • 7 Alasan Harga iPhone 16 Pro Max Turun Rp 5,5 Juta di Awal 2026

Advertisement

Pada akhirnya, solusi efektif untuk krisis iklim memerlukan kolaborasi erat antara ambisi politik dan kearifan ilmiah, memastikan bahwa setiap pohon yang ditanam adalah bagian dari solusi jangka panjang, bukan sekadar statistik sementara.


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Great Green Wall Gurun Gobi Rekayasa Ekologi Tembok Hijau Raksasa Xi Jinping
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous Article5 Jenis Aplikasi Wajib Dihapus: Solusi HP Lemot Memori Penuh
Next Article 5 Hal Penting Peluncuran Xiaomi SU7 Global di Eropa 2025
Olin Sianturi
  • Website

Olin Sianturi adalah seorang Content Writer di Media TechnoNesia dan GadgetVIVA, berpengalaman dalam menulis artikel informatif dan SEO-friendly. Spesialisasinya mencakup teknologi, gadget, elektronik, game. Dengan gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami, Olin mampu menghadirkan konten berkualitas yang relevan dan bernilai bagi pembaca.

Artikel Terkait

Cara Pakai ChatGPT Lebaran 2026: Atur THR, Mudik, & Kartu Ucapan

Olin Sianturi20 Maret 2026 | 00:54

Mini PC Performa Tinggi Kini Jadi Solusi Kerja Multitasking

Olin Sianturi19 Maret 2026 | 01:52

Teknik Malware Zombie ZIP: Cara Baru Peretas Kelabui Antivirus

Olin Sianturi18 Maret 2026 | 20:40

5 Tips Jitu untuk Bikin Ramadan dan Idulfitri Lebih Kreatif dengan Meta AI

Olin Sianturi16 Maret 2026 | 21:17

Remaja Makin Aktif Online, Ini Tips Aman Akses Internet yang Wajib Dicoba

Ana Octarin13 Februari 2026 | 16:01

7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Olin Sianturi1 Februari 2026 | 00:59
Pilihan Redaksi
Elektronik

Speaker Multi-room Sonos Terbaru: Era 100 SL dan Play Hadir

Olin Sianturi14 Maret 2026 | 03:05

Speaker multi-room Sonos terbaru kini resmi memperkuat jajaran perangkat audio premium untuk pasar global melalui…

Jaringan AI Grid Global Akamai-NVIDIA: Revolusi Komputasi Edge

20 Maret 2026 | 01:19

Spesifikasi Oppo Find N6: HP Lipat Tipis Kamera 200MP

18 Maret 2026 | 18:14

Fitur Fast Charging Galaxy S26 Ultra: Alasan Tak Kejar Watt

18 Maret 2026 | 04:07

Galaxy Buds4 Series Hadirkan HD Voice, Panggilan Telepon Kini Super Jernih

14 Maret 2026 | 14:01
Terbaru

Cara Pakai ChatGPT Lebaran 2026: Atur THR, Mudik, & Kartu Ucapan

Olin Sianturi20 Maret 2026 | 00:54

Mini PC Performa Tinggi Kini Jadi Solusi Kerja Multitasking

Olin Sianturi19 Maret 2026 | 01:52

Teknik Malware Zombie ZIP: Cara Baru Peretas Kelabui Antivirus

Olin Sianturi18 Maret 2026 | 20:40

5 Tips Jitu untuk Bikin Ramadan dan Idulfitri Lebih Kreatif dengan Meta AI

Olin Sianturi16 Maret 2026 | 21:17

Remaja Makin Aktif Online, Ini Tips Aman Akses Internet yang Wajib Dicoba

Ana Octarin13 Februari 2026 | 16:01
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.