Technonesia - Harga Pertamax bisa berubah mengikuti pergerakan minyak dunia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akhirnya menjelaskan faktor yang membuat harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi tersebut mengalami penyesuaian, termasuk ketika harga minyak mentah global mengalami kenaikan.
Bahlil menyebut, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax mengikuti mekanisme pasar yang salah satunya tercermin melalui Indonesian Crude Price (ICP). Artinya, ketika ICP naik, harga BBM nonsubsidi berpotensi ikut terkerek. Sebaliknya, jika ICP turun, harga BBM juga dapat dikoreksi.
Penjelasan ini menjadi penting bagi masyarakat, terutama pengguna kendaraan pribadi yang perlu memperhitungkan biaya bahan bakar di tengah dinamika harga energi global.
Baca Juga :
Harga Pertamax Mengikuti ICP, Ini Penjelasan Bahlil
Bahlil menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi tidak ditetapkan secara terpisah dari perkembangan pasar minyak dunia. Pergerakan ICP menjadi salah satu acuan yang memengaruhi penyesuaian harga BBM jenis tersebut.
"Kalau harga minyak nonsubsidi itu mengikuti harga pasar. Kalau harga pasar globalnya itu ICP-nya naik, otomatis dia akan naik," kata Bahlil kepada wartawan, dikutip Selasa, 22 September 2026.
Dengan mekanisme tersebut, kenaikan harga minyak mentah yang mendorong ICP berpotensi meningkatkan harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax.
Baca Juga :
Namun, penyesuaian harga tidak hanya berlaku ketika minyak dunia mengalami kenaikan. Bahlil juga menjelaskan bahwa penurunan ICP dapat menjadi dasar bagi badan usaha untuk menyesuaikan harga BBM ke level yang lebih rendah.
"Tapi kalau harga ICP-nya turun, pasti juga dia (harga BBM non-subsidi) akan melakukan koreksi," ujar Bahlil.
Dengan kata lain, arah perubahan harga Pertamax berkaitan dengan perkembangan harga minyak mentah yang tercermin dalam ICP.
Baca Juga :
Harga BBM Nonsubsidi Berbeda dengan Pertalite
Mekanisme harga BBM nonsubsidi berbeda dengan kebijakan harga BBM bersubsidi. Di tengah fluktuasi harga minyak dunia, pemerintah memastikan harga BBM subsidi, termasuk Pertalite, tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026.
Bahlil mengatakan kepastian tersebut telah disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Dengan kebijakan itu, harga BBM bersubsidi dipertahankan hingga penghujung tahun, meskipun harga minyak mentah global mengalami perubahan.
Baca Juga :
Kepastian ini menjadi perhatian masyarakat karena BBM merupakan salah satu kebutuhan penting yang memengaruhi pengeluaran harian, terutama bagi pengguna kendaraan bermotor.
Sementara itu, untuk Pertamax dan BBM nonsubsidi lainnya, penyesuaian harga tetap mengacu pada mekanisme pasar dan perkembangan ICP.
Stok BBM Nasional Dijaga untuk Kebutuhan 18–21 Hari
Selain menjelaskan mekanisme harga BBM, Bahlil turut memastikan ketersediaan bahan bakar nasional tetap dijaga.
Baca Juga :
Menurut dia, cadangan BBM nasional dipertahankan pada standar minimal untuk memenuhi kebutuhan selama 18–21 hari.
Ketersediaan stok tersebut menjadi salah satu aspek penting di tengah perubahan harga energi dunia. Dengan cadangan yang dijaga, pemerintah berupaya memastikan kebutuhan BBM masyarakat tetap terpenuhi.