Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Taktik Singapore Washing AI: Xi Jinping Jegal Startup ke AS

31 Maret 2026 | 06:22

Motor Bebek Kuat di Tanjakan: Ini 4 Pilihan Paling Tangguh

31 Maret 2026 | 05:54

Teknologi HP NearSense Terbaru: Revolusi Konektivitas Lintas Perangkat

31 Maret 2026 | 05:22
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Taktik Singapore Washing AI: Xi Jinping Jegal Startup ke AS
  • Motor Bebek Kuat di Tanjakan: Ini 4 Pilihan Paling Tangguh
  • Teknologi HP NearSense Terbaru: Revolusi Konektivitas Lintas Perangkat
  • Blender Penghancur Es Batu: 4 Pilihan Terbaik Mulai 700 Ribuan
  • Gugatan Elon Musk terhadap OpenAI: Tuntut Ganti Rugi Rp2.277 T
  • Cara Menghemat BBM Mobil Manual Agar Irit dan Mesin Awet
  • Ekosistem HP IQ Terbaru Hadir di Imagine 2026 untuk Kerja Cerdas
  • Mesin Cuci 2 Tabung Hemat Listrik Polytron PWM-7363 Irit Banget!
Selasa, Maret 31
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » Gugatan Elon Musk terhadap OpenAI: Tuntut Ganti Rugi Rp2.277 T
Berita Tekno

Gugatan Elon Musk terhadap OpenAI: Tuntut Ganti Rugi Rp2.277 T

Ana OctarinAna Octarin31 Maret 2026 | 04:22
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Gugatan Elon Musk terhadap OpenAI
Gugatan Elon Musk terhadap OpenAI (Foto: www.cnbcindonesia.com)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Gugatan Elon Musk terhadap OpenAI kini memasuki babak krusial di meja hijau dengan prediksi persidangan yang berlangsung selama empat pekan. Juri akan segera menentukan nasib hukum bagi para pendiri OpenAI, Sam Altman dan Greg Brockman. Keduanya dituding memberikan pernyataan palsu mengenai struktur organisasi yang seharusnya tetap bersifat non-profit atau nirlaba.

Perseteruan ini bermula dari sejarah panjang pembentukan lembaga riset kecerdasan buatan tersebut pada tahun 2015 silam. Musk merupakan salah satu tokoh kunci yang membidani lahirnya OpenAI dengan visi menjaga pengembangan AI agar tetap bermanfaat bagi kemanusiaan. Sebagai bentuk komitmen nyata, Musk bahkan telah menyumbangkan dana awal sebesar US$38 juta atau setara Rp645 miliar.

Namun, hubungan harmonis tersebut retak pada tahun 2018 ketika Musk terdepak dari jajaran kepemimpinan. Hal ini terjadi setelah Musk gagal meyakinkan Altman untuk membiarkan Tesla mengakuisisi OpenAI guna mempercepat riset. Pasca kepergian Musk, OpenAI justru bertransformasi menjadi entitas bisnis yang sangat profitabel, terutama setelah kesuksesan ChatGPT yang mengguncang dunia pada akhir 2022.

Baca Juga

  • Taktik Singapore Washing AI: Xi Jinping Jegal Startup ke AS
  • Investasi Softbank di OpenAI: Pinjam Rp 679 Triliun dari Bank

Advertisement

Akar Masalah dan Tuntutan Fantastis Elon Musk

Dalam poin-poin keberatannya, gugatan Elon Musk terhadap OpenAI menyoroti perubahan identitas perusahaan yang dianggap mengkhianati misi awal. Musk merasa tidak terima karena dana hibah yang ia berikan untuk kepentingan sosial justru digunakan untuk membangun mesin pencetak uang. Ia merasa dimanipulasi oleh manajemen OpenAI yang secara diam-diam beralih ke model bisnis komersial.

Musk tidak main-main dalam menuntut keadilan, dengan angka ganti rugi mencapai US$134 miliar atau sekitar Rp2.277 triliun. Tuntutan ini ditujukan kepada OpenAI dan mitra strategisnya, Microsoft Corp. Saksi ahli yang dihadirkan pihak Musk mengkalkulasi bahwa OpenAI telah meraup keuntungan yang dianggap “tidak sah” dari pengembangan teknologi yang awalnya didanai Musk.

Meskipun hakim sempat menyebut metodologi penghitungan keuntungan tersebut “tidak terlalu meyakinkan”, pengadilan tetap mengizinkannya sebagai materi persidangan. Angka tuntutan tersebut setara dengan 2.900 kali lipat dari investasi awal yang Musk tanamkan. Hal ini menunjukkan betapa besarnya nilai ekonomi dari teknologi kecerdasan buatan yang kini dikuasai oleh kubu Altman.

Baca Juga

  • Aturan Batas Usia Media Sosial: Komdigi Tegur TikTok-Roblox
  • Bahaya Nasihat AI Chatbot: Studi Stanford Ungkap Sisi Gelap

Advertisement

Keterlibatan Microsoft dan Kesaksian Para Petinggi

Nama besar seperti CEO Microsoft, Satya Nadella, dijadwalkan hadir untuk memberikan kesaksian di hadapan juri. Microsoft turut terseret dalam gugatan Elon Musk terhadap OpenAI karena dianggap membantu pelanggaran kewajiban fidusia. Hubungan investasi Microsoft senilai miliaran dolar di unit profit OpenAI menjadi bukti kuat adanya pergeseran orientasi perusahaan.

Penasihat utama Musk, Marc Toberoff, menyatakan bahwa terdapat bukti substansial mengenai jaminan palsu yang diberikan pimpinan OpenAI. Mereka dituduh secara sadar menyesatkan Musk demi keuntungan pribadi dan korporasi. Di sisi lain, OpenAI membantah keras seluruh tuduhan tersebut dan menyebut langkah hukum Musk sebagai bentuk pelecehan yang tidak berdasar.

Menariknya, OpenAI sebenarnya sempat berencana mengubah struktur sepenuhnya menjadi perusahaan profit pada 2024. Namun, rencana tersebut urung dilakukan setelah mendapat tekanan hebat dari para mantan karyawan dan tokoh masyarakat. Saat ini, struktur non-profit secara formal masih memegang kendali, meskipun operasionalnya sangat bergantung pada investasi masif dari Microsoft.

Baca Juga

  • Pembatasan Media Sosial Anak di Indonesia Disorot Media Asing
  • Aturan Batas Usia Media Sosial: YouTube dan Meta Belum Patuh

Advertisement

Dampak Persaingan di Industri Kecerdasan Buatan

Langkah hukum melalui gugatan Elon Musk terhadap OpenAI ini juga dipandang sebagai strategi bisnis di tengah persaingan AI yang kian memanas. Musk saat ini sedang mengembangkan xAI, perusahaan tandingan yang memproduksi chatbot Grok untuk bersaing dengan ChatGPT dan Google Gemini. Musk ingin memastikan bahwa keterbukaan akses teknologi tetap terjaga, bukan dimonopoli oleh segelintir raksasa teknologi.

Kondisi xAI sendiri sempat mengalami perubahan status hukum. Awalnya, xAI didirikan sebagai benefit corporation dengan kewajiban sosial dan lingkungan. Namun, status tersebut dicabut pada tahun 2025 saat perusahaan tersebut digabungkan dengan platform media sosial X. Dinamika ini memperlihatkan betapa cairnya perebutan dominasi teknologi di Silicon Valley.

Transparansi mengenai algoritma dan misi nirlaba menjadi inti dari perdebatan panjang ini. Jika Musk memenangkan gugatan ini, industri AI global mungkin akan dipaksa untuk kembali ke model sumber terbuka (open source). Namun jika OpenAI menang, maka model kemitraan eksklusif dengan korporasi besar akan semakin memperkuat dominasi mereka di pasar global.

Baca Juga

  • Permintaan Chip AI Nvidia Meledak, Pesanan Tembus Rp16.985 T
  • Manufaktur Apple di Amerika Serikat Resmi Gandeng Bosch-TSMC

Advertisement

Persidangan ini tidak hanya sekadar soal uang, melainkan tentang siapa yang berhak mengontrol masa depan kecerdasan buatan. Publik kini menanti apakah gugatan Elon Musk terhadap OpenAI mampu membuktikan adanya manipulasi sistematis atau sekadar luapan kekecewaan mantan pendiri yang tertinggal dalam perlombaan teknologi paling prestisius di abad ini.


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Elon Musk Kecerdasan Buatan Microsoft OpenAI Sam Altman
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleCara Menghemat BBM Mobil Manual Agar Irit dan Mesin Awet
Next Article Blender Penghancur Es Batu: 4 Pilihan Terbaik Mulai 700 Ribuan
Ana Octarin
  • Website

Ana Octarin adalah seorang Penulis Berita yang fokus pada teknologi, otomotif, serta tips dan trik seputar kehidupan digital. Dengan gaya bahasa yang lugas, informatif, dan mudah dipahami, Ana mampu menghadirkan konten yang tidak hanya relevan tetapi juga bermanfaat bagi pembaca. Berbekal pengalaman dalam menulis artikel SEO-friendly, Ana konsisten menyajikan berita terkini, ulasan mendalam, hingga panduan praktis yang membantu audiens tetap update dan melek teknologi.

Artikel Terkait

Taktik Singapore Washing AI: Xi Jinping Jegal Startup ke AS

Iphan S31 Maret 2026 | 06:22

Investasi Softbank di OpenAI: Pinjam Rp 679 Triliun dari Bank

Iphan S31 Maret 2026 | 02:22

Aturan Batas Usia Media Sosial: Komdigi Tegur TikTok-Roblox

Iphan S31 Maret 2026 | 00:22

Bahaya Nasihat AI Chatbot: Studi Stanford Ungkap Sisi Gelap

Iphan S30 Maret 2026 | 22:22

Solusi Penyimpanan Performa Tinggi NetApp EF-Series Terbaru

Olin Sianturi30 Maret 2026 | 18:53

Pembatasan Media Sosial Anak di Indonesia Disorot Media Asing

Ana Octarin30 Maret 2026 | 17:54
Pilihan Redaksi
Elektronik

Kulkas Satu Pintu Terbaik 2026: Pilihan Estetis dan Awet

Olin Sianturi26 Maret 2026 | 14:00

Kulkas satu pintu terbaik 2026 menjadi incaran utama keluarga Indonesia yang ingin mempercantik area dapur…

Misteri Kuno Lapisan Es Mencair: Dunia Masa Lalu Terungkap

26 Maret 2026 | 08:05

Penutupan Aplikasi Sora OpenAI: Strategi Baru Demi IPO 2026

26 Maret 2026 | 11:15

Rice Cooker Digital vs Manual: Mana Paling Untung di 2026?

26 Maret 2026 | 07:55

Layanan Motorist Pertamina 2026 Siaga Bantu Pemudik Kehabisan BBM

26 Maret 2026 | 07:30
Terbaru

Taktik Singapore Washing AI: Xi Jinping Jegal Startup ke AS

Iphan S31 Maret 2026 | 06:22

Investasi Softbank di OpenAI: Pinjam Rp 679 Triliun dari Bank

Iphan S31 Maret 2026 | 02:22

Aturan Batas Usia Media Sosial: Komdigi Tegur TikTok-Roblox

Iphan S31 Maret 2026 | 00:22

Bahaya Nasihat AI Chatbot: Studi Stanford Ungkap Sisi Gelap

Iphan S30 Maret 2026 | 22:22

Solusi Penyimpanan Performa Tinggi NetApp EF-Series Terbaru

Olin Sianturi30 Maret 2026 | 18:53
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.