TechnonesiaID - Pemetaan kawasan kumuh Bandung kini memasuki babak baru melalui pemanfaatan teknologi mutakhir yang dipadukan dengan kearifan lokal. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi memperkenalkan metode inovatif untuk mengidentifikasi wilayah permukiman tidak layak huni di Kota Kembang. Langkah strategis ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi data yang selama ini menjadi tantangan besar dalam perencanaan wilayah perkotaan di Indonesia.
Peneliti dari Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Orbita Roswintiarti, mengungkapkan bahwa riset bertajuk Mapping Urban Slums in Bandung City (Indonesia) using Machine Learning and Local Knowledge Approaches ini menjadi solusi atas kompleksitas dinamika urban. Dalam penelitian ini, teknologi tidak berdiri sendiri, melainkan bekerja selaras dengan informasi yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Pendekatan ini memastikan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah nantinya benar-benar berbasis pada realitas di lapangan.
Strategi Pemetaan Kawasan Kumuh Bandung dengan AI
Dalam menjalankan proses pemetaan kawasan kumuh Bandung, BRIN mengandalkan algoritma Machine Learning, khususnya model Random Forest. Algoritma ini memiliki kemampuan tinggi dalam mengklasifikasikan berbagai tipe permukiman berdasarkan data visual yang kompleks. Penggunaan kecerdasan artifisial memungkinkan para peneliti untuk memproses data dalam skala besar dengan waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan metode konvensional.
Baca Juga
Advertisement
Data utama yang menjadi fondasi riset ini berasal dari citra satelit SPOT-6 yang memiliki resolusi sangat tinggi, yakni mencapai 1,5 meter. Dengan ketajaman gambar tersebut, tim riset dapat melihat detail bangunan, pola kepadatan, hingga keteraturan infrastruktur secara presisi. Selain citra satelit, BRIN juga mengintegrasikan data dari OpenStreetMap (OSM) serta dokumen resmi dari pemerintah daerah guna memperkaya basis analisis spasial mereka.
Namun, teknologi canggih saja tidak cukup. BRIN menyadari bahwa sensor satelit terkadang memiliki keterbatasan dalam menangkap nuansa sosial-ekonomi di suatu wilayah. Oleh karena itu, hasil dari pemetaan kawasan kumuh Bandung ini harus divalidasi melalui survei lapangan di 25 lokasi strategis. Di sinilah peran pengetahuan lokal menjadi sangat krusial untuk memberikan konteks yang tidak bisa terbaca oleh mesin.
Mengapa Pengetahuan Lokal Sangat Penting?
Kawasan kumuh bukan sekadar masalah estetika bangunan, melainkan mencakup ekosistem kehidupan yang kompleks. Secara definisi, wilayah kumuh sering kali ditandai dengan bangunan yang tidak teratur, kepadatan penduduk yang ekstrem, serta minimnya akses terhadap sarana dan prasarana dasar seperti air bersih dan sanitasi. Kondisi ini jika dibiarkan akan memicu berbagai masalah turunan yang merugikan masyarakat luas.
Baca Juga
Advertisement
“Kondisi tersebut dapat memicu degradasi lingkungan, meningkatkan risiko kesehatan masyarakat, memperbesar kerentanan terhadap bencana, hingga memperlebar kesenjangan sosial,” ujar Orbita Roswintiarti dalam sebuah paparan ilmiah pada Senin, 11 Mei 2026. Dengan melibatkan pengetahuan lokal, pemerintah dapat memahami alasan di balik terbentuknya suatu permukiman, sehingga solusi yang ditawarkan nantinya bersifat lebih humanis dan berkelanjutan.
Integrasi antara data teknis dan perspektif warga menciptakan sebuah kerangka kerja yang memiliki legitimasi sosial tinggi. Hal ini sangat penting dalam pemetaan kawasan kumuh Bandung karena sering kali kebijakan penataan kota menghadapi resistensi dari masyarakat jika dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan nyata mereka di lapangan.
Mendukung Target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Inovasi yang dilakukan BRIN ini bukan sekadar proyek riset biasa, melainkan langkah konkret dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG 11). Poin tersebut menekankan pada pentingnya menciptakan kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Baca Juga
Advertisement
Hasil dari penelitian ini juga telah dipresentasikan secara luas, termasuk dalam ajang workshop dan youth forum yang diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Forum tersebut menjadi wadah pertukaran ilmu pengetahuan bagi para peneliti muda dan praktisi mengenai pemanfaatan AI serta data spasial-temporal untuk menganalisis dampak bencana di kawasan perkotaan yang padat penduduk.
Optimalisasi pemetaan kawasan kumuh Bandung diharapkan dapat menjadi cetak biru (blueprint) bagi kota-kota besar lainnya di Indonesia. Mengingat laju urbanisasi yang terus meningkat, kebutuhan akan data yang akurat dan mutakhir menjadi harga mati bagi pengambil kebijakan agar anggaran pembangunan dapat terserap secara efektif dan tepat sasaran.
Melalui kolaborasi antara kecanggihan teknologi satelit dan kearifan masyarakat, Indonesia berpeluang besar untuk mentransformasi kawasan kumuh menjadi lingkungan yang lebih layak huni. Keberhasilan pemetaan kawasan kumuh Bandung ini membuktikan bahwa sinergi antara sains dan nilai-nilai lokal adalah kunci utama dalam menciptakan keadilan ruang dan pembangunan kota yang lebih adil di masa depan.
Baca Juga
Advertisement
- Instagram : @technonesia.id
- Facebook : Technonesia ID
- X (Twitter) : @technonesia_id
- Whatsapp Channel : Technonesia.ID
- Google News : TECHNONESIA