TechnonesiaID - Manufaktur smartphone India kini tengah berada di jalur cepat untuk menggantikan dominasi China sebagai pusat produksi teknologi dunia. Pergeseran peta kekuatan industri ini terjadi menyusul memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan China yang tidak kunjung mereda. Ancaman tarif tinggi terhadap barang-barang impor dari Negeri Tirai Bambu memaksa perusahaan teknologi global untuk mencari alternatif lokasi produksi yang lebih aman dan stabil secara politik.
India melihat celah besar ini sebagai peluang emas untuk memperkuat posisi tawarnya di kancah internasional. Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi, pemerintah setempat secara agresif meluncurkan berbagai program untuk menarik minat investor asing. Agenda besar ini bertujuan mentransformasi India dari negara konsumen menjadi raksasa produsen yang mampu bersaing secara langsung dengan ekosistem manufaktur China yang sudah mapan selama puluhan tahun.
Ambisi Besar India Menjadi Pusat Elektronik Dunia
Target yang dipasang oleh New Delhi tidak main-main dalam pengembangan sektor manufaktur smartphone India ke depannya. India memproyeksikan ekspansi nilai produksi perangkat elektronik mampu menyentuh angka US$500 miliar atau setara dengan Rp8.250 triliun pada tahun 2030. Angka fantastis ini mencerminkan optimisme pemerintah terhadap kesiapan infrastruktur dan tenaga kerja domestik dalam menyerap teknologi canggih dari luar negeri.
Baca Juga
Advertisement
Data terbaru menunjukkan bahwa sektor ini telah mencatatkan pertumbuhan yang sangat impresif. Pada tahun fiskal 2024-2025, nilai produksi ponsel pintar di India sukses menembus US$60 miliar atau sekitar Rp990 triliun. Jika kita menilik ke belakang, angka ini melambung hingga 28 kali lipat dibandingkan pencapaian satu dekade lalu. Lonjakan ini membuktikan bahwa kebijakan “Make in India” memberikan dampak nyata bagi struktur ekonomi negara tersebut.
Keberhasilan ini juga terlihat dari sisi perdagangan luar negeri yang tumbuh eksponensial. Ekspor ponsel pintar dari India saat ini telah mencapai nilai hampir US$21,7 miliar (Rp358 triliun). Dalam periode sepuluh tahun terakhir, angka ekspor tersebut melesat hingga 127 kali lipat. Bahkan, pada sepanjang tahun 2025, smartphone resmi dinobatkan sebagai komoditas ekspor terbesar yang dihasilkan oleh industri India, melampaui sektor-sektor tradisional lainnya.
Dominasi Apple dan Relokasi Produksi dari China
Raksasa teknologi asal Cupertino, Apple, menjadi katalisator utama dalam mempercepat pertumbuhan manufaktur smartphone India. Apple secara bertahap mengurangi ketergantungan produksinya pada pabrik-pabrik di China yang seringkali terkendala oleh kebijakan lockdown atau pembatasan dagang. Laporan dari Bloomberg menyebutkan bahwa sekitar 55 juta unit iPhone berhasil diproduksi di India sepanjang tahun 2025 saja.
Baca Juga
Advertisement
Angka produksi tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 53% dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya berada di angka 36 juta unit. Dengan volume sebesar ini, India kini menyumbang sekitar seperempat dari total produksi iPhone global yang mencapai 220 hingga 230 juta unit per tahun. Fenomena ini menandai sejarah baru, di mana model-model iPhone premium yang sebelumnya hanya eksklusif dirakit di China, kini sudah mulai keluar dari lini perakitan di India.
Kehadiran Apple di India juga membawa gerbong vendor besar lainnya seperti Foxconn, Pegatron, dan Wistron untuk menanamkan modal besar-besaran. Selain membangun pabrik, perusahaan-perusahaan ini juga mulai membangun ekosistem komponen lokal. Langkah ini sangat krusial karena selama ini India masih sangat bergantung pada impor komponen inti dari China. Dengan adanya transfer teknologi, kemandirian industri India diprediksi akan semakin kuat dalam lima tahun ke depan.
Skema Insentif dan Strategi Jangka Panjang Pemerintah
Untuk menjaga momentum pertumbuhan manufaktur smartphone India agar tetap stabil, pemerintah tengah merancang skema insentif baru yang lebih kompetitif. Seorang pejabat tinggi di New Delhi mengungkapkan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan pemberian insentif tambahan yang secara khusus dikaitkan dengan performa ekspor perusahaan. Rencananya, kebijakan baru ini akan mulai diimplementasikan pada April tahun ini guna menarik lebih banyak merek global.
Baca Juga
Advertisement
Sebelumnya, keberhasilan India menarik perhatian Samsung dan Apple tidak lepas dari program Production Linked Incentive (PLI). Program ini menawarkan dana bantuan produksi nasional dengan total nilai mencapai US$21 miliar atau sekitar Rp346,5 triliun. Meskipun program awal akan segera berakhir, pemerintah India berkomitmen untuk memperbarui dan memperluas cakupan insentif tersebut agar daya saing global tetap terjaga di tengah persaingan dengan Vietnam dan Thailand.
Selain insentif finansial, India juga melakukan reformasi pada regulasi tenaga kerja dan kemudahan berbisnis. Pembangunan kawasan industri khusus teknologi di berbagai negara bagian kini menjadi prioritas nasional. Pemerintah juga mulai memperbaiki jalur logistik dan pelabuhan untuk memastikan distribusi produk ke pasar Eropa dan Amerika Serikat dapat berlangsung lebih efisien dan murah dibandingkan jalur dari China.
Dampak Kebijakan Trump dan Perubahan Rantai Pasok Global
Faktor eksternal seperti kebijakan tarif tinggi yang diterapkan sejak era Donald Trump turut mempercepat proses pergeseran ini. Banyak perusahaan global merasa risiko memusatkan seluruh produksi di China terlalu besar (China Plus One Strategy). Dengan tarif impor yang tinggi dari China ke AS, memindahkan basis manufaktur smartphone India menjadi pilihan paling logis secara bisnis untuk menekan biaya operasional dan menghindari hambatan perdagangan.
Baca Juga
Advertisement
Namun, tantangan besar masih membayangi ambisi India ini. Meskipun produksi akhir meningkat drastis, India masih perlu memperkuat rantai pasok material mentah dan semikonduktor. Saat ini, sebagian besar komponen canggih masih harus didatangkan dari luar negeri. Jika India berhasil membangun pabrik chip (foundry) sendiri, maka posisi mereka sebagai raja baru manufaktur teknologi dunia hampir mustahil untuk digoyahkan oleh negara manapun.
Ke depan, persaingan antara New Delhi dan Beijing dalam memperebutkan kue pasar teknologi akan semakin sengit. China tentu tidak akan tinggal diam melihat posisinya terancam, namun dengan dukungan kebijakan yang konsisten, sektor manufaktur smartphone India diprediksi akan terus mendominasi pasar global dalam dekade mendatang.
Baca Juga
Advertisement
- Instagram : @technonesia.id
- Facebook : Technonesia ID
- X (Twitter) : @technonesia_id
- Whatsapp Channel : Technonesia.ID
- Google News : TECHNONESIA