Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ditjen Bina Adwil Luncurkan CEKATAN, Inovasi Integrasi Layanan Kearsipan untuk Perkuat SDM ASN

3 Juli 2026 | 09:38

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

5 Juni 2026 | 13:02

Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar

4 Juni 2026 | 07:27
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Ditjen Bina Adwil Luncurkan CEKATAN, Inovasi Integrasi Layanan Kearsipan untuk Perkuat SDM ASN
  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara
  • Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar
  • HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa
  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?
  • Komunitas Supermoto Makassar Jelajahi Wisata Ikonik Sulsel
  • Inovasi Gigabyte Computex 2026: Era Baru Teknologi AI
  • HP Gaming Terbaik 2026: 6 Pilihan Performa Monster Rp2 Jutaan
Sabtu, Juli 11
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » Kloning AI Anak Meninggal Dipakai demi Hibur Ibu yang Sakit
Berita Tekno

Kloning AI Anak Meninggal Dipakai demi Hibur Ibu yang Sakit

Ana OctarinAna Octarin26 Mei 2026 | 04:55
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
kloning AI anak meninggal
kloning AI anak meninggal (Foto: www.cnbcindonesia.com)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Penggunaan teknologi kloning AI anak meninggal kini menjadi perbincangan hangat setelah sebuah keluarga di China menggunakannya demi menyembunyikan kabar duka dari sang ibu. Langkah ekstrem ini diambil karena sang ibu memiliki riwayat penyakit jantung yang sensitif terhadap berita duka. Keluarga khawatir kabar kematian anak tunggalnya tersebut akan memperburuk kondisi kesehatannya.

Kisah pilu ini bermula ketika putra tunggal dari wanita tersebut meninggal dunia secara mendadak. Karena tidak ingin ibunya mengalami serangan jantung akibat syok, pihak keluarga akhirnya memutuskan untuk membuat kloning AI anak meninggal tersebut guna menjaga kesehatan mental sang ibu. Mereka kemudian menghubungi tim pengembang kecerdasan buatan untuk mewujudkan rencana ini.

Pemimpin tim AI, Zhang Zewei, mengungkapkan bahwa proses pembuatan replika digital ini membutuhkan banyak data. Keluarga mengirimkan berbagai dokumen digital berupa foto, video pendek, hingga rekaman suara mendiang yang berbicara dalam dialek lokal mereka. Berkat teknologi canggih, AI tersebut mampu meniru kebiasaan unik mendiang, termasuk gestur khas membungkuk ke depan saat berbicara.

Baca Juga

  • Ditjen Bina Adwil Luncurkan CEKATAN, Inovasi Integrasi Layanan Kearsipan untuk Perkuat SDM ASN
  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Advertisement

Etika dan Kontroversi Kloning AI Anak Meninggal

Melalui panggilan video harian, sang ibu yang tidak menaruh curiga terus berkomunikasi dengan replika digital putranya. Dalam setiap percakapan, ia selalu mengingatkan ‘anaknya’ untuk makan dengan teratur, mengenakan pakaian hangat saat cuaca dingin, dan selalu berhati-hati saat beraktivitas di luar rumah.

Untuk menghindari kecurigaan mengapa ia tidak pernah pulang, program AI tersebut telah dirancang untuk memberikan alasan yang logis. Sang ‘putra’ menjelaskan bahwa dirinya sedang sibuk bekerja di luar kota dan belum bisa pulang dalam waktu dekat untuk menemani ibunya.

“Kamu harus lebih sering menelepon agar ibu tahu kamu baik-baik saja di sana. Ibu sangat merindukanmu dan menyesal tidak bisa bertemu langsung,” ujar sang ibu dengan penuh kasih sayang dalam salah satu rekaman panggilan video.

Baca Juga

  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?
  • Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Advertisement

Sosok virtual itu pun memberikan jawaban yang menenangkan. “Baik, Bu, tapi saat ini saya sangat sibuk dan tidak bisa berbicara terlalu lama. Ibu harus menjaga kesehatan dengan baik. Setelah uang saya terkumpul cukup, saya pasti akan pulang untuk berbakti kepada Ibu.”

Fenomena Grief Tech dan Dampak Psikologisnya

Di China sendiri, tren pemanfaatan kloning AI anak meninggal atau kerabat yang telah tiada semakin berkembang pesat. Fenomena yang dikenal dengan istilah grief tech atau teknologi duka ini menawarkan jasa “menghidupkan kembali” orang tercinta dalam bentuk avatar digital demi membantu proses pemulihan trauma emosional.

Meski demikian, kehadiran teknologi ini memicu perdebatan sengit di kalangan warganet dan pakar psikologi. Sebagian pihak mendukung langkah keluarga tersebut karena dianggap sebagai bentuk kasih sayang dan perlindungan terhadap kondisi fisik sang ibu yang rentan.

Baca Juga

  • Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA
  • Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!

Advertisement

Namun, tidak sedikit pula yang mengkhawatirkan dampak psikologis jangka panjang jika kebohongan ini akhirnya terbongkar. Menunda proses berduka yang alami dengan menggunakan teknologi AI dikhawatirkan dapat memicu trauma yang jauh lebih hebat di kemudian hari.

“Saya tidak sepenuhnya mendukung keputusan keluarga ini. Ibu tersebut telah dibohongi dalam waktu yang lama. Saya sangat khawatir ketika kebenaran akhirnya terungkap, dampaknya akan jauh lebih merusak bagi kesehatannya,” tulis salah seorang pengguna media sosial lokal.

Bagaimanapun juga, perkembangan kecerdasan buatan kini telah menyentuh wilayah paling sensitif dalam kehidupan manusia, yaitu kematian dan rasa kehilangan. Meskipun teknologi kloning AI anak meninggal dapat memberikan ketenangan sementara bagi mereka yang ditinggalkan, batas antara terapi emosional dan penolakan terhadap realitas tetap menjadi garis tipis yang harus disikapi dengan bijak.

Baca Juga

  • Potensi Gempa Besar Ciremai Terlacak dari Struktur Tanah Terbalik
  • Pekerja Penutup Pintu Taksi Otonom Raup Ratusan Ribu

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
China Deepfake Kecerdasan Buatan kloning AI Teknologi AI
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleGanjil Genap Jakarta Ditiadakan pada 27-28 Mei 2026
Next Article Tablet ASUS ProArt PZ14 Hadir dengan Layar OLED 3K
Ana Octarin
  • Website

Ana Octarin adalah seorang Penulis Berita yang fokus pada teknologi, otomotif, serta tips dan trik seputar kehidupan digital. Dengan gaya bahasa yang lugas, informatif, dan mudah dipahami, Ana mampu menghadirkan konten yang tidak hanya relevan tetapi juga bermanfaat bagi pembaca. Berbekal pengalaman dalam menulis artikel SEO-friendly, Ana konsisten menyajikan berita terkini, ulasan mendalam, hingga panduan praktis yang membantu audiens tetap update dan melek teknologi.

Artikel Terkait

Ditjen Bina Adwil Luncurkan CEKATAN, Inovasi Integrasi Layanan Kearsipan untuk Perkuat SDM ASN

Ana Octarin3 Juli 2026 | 09:38

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Inovasi Gigabyte Computex 2026: Era Baru Teknologi AI

Olin Sianturi3 Juni 2026 | 03:07

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37
Pilihan Redaksi
Aplikasi

Stop Gangguan! 7 Cara Ampuh Blokir Iklan di HP Android yang Tiba-tiba Muncul

Olin Sianturi20 Desember 2025 | 18:27

Bosan dengan iklan tiba-tiba? Pelajari 7 metode jitu menghilangkan iklan pop up Android dari Chrome,…

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

5 Juni 2026 | 13:02

XL SATU ‘Manjakan’ Pelanggan dengan Penawaran Spesial di Bulan April

23 April 2025 | 13:23

Ditjen Bina Adwil Luncurkan CEKATAN, Inovasi Integrasi Layanan Kearsipan untuk Perkuat SDM ASN

3 Juli 2026 | 09:38

Link Download FF Beta 1.118.1 Terbaru 2026 dan Cara Install

14 Mei 2026 | 19:55
Terbaru

Ditjen Bina Adwil Luncurkan CEKATAN, Inovasi Integrasi Layanan Kearsipan untuk Perkuat SDM ASN

Ana Octarin3 Juli 2026 | 09:38

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Inovasi Gigabyte Computex 2026: Era Baru Teknologi AI

Olin Sianturi3 Juni 2026 | 03:07

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.