Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Peran AI dalam Perang Iran: Ribuan Target Hancur dalam Sekejap

26 Maret 2026 | 12:50

Mobil Listrik Murah 100 Jutaan: Pilihan Terbaik Tahun 2024

26 Maret 2026 | 12:45

Tablet Itel VistaTab 10: Layar FHD Harga 1 Jutaan Terbaik

26 Maret 2026 | 12:40
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Peran AI dalam Perang Iran: Ribuan Target Hancur dalam Sekejap
  • Mobil Listrik Murah 100 Jutaan: Pilihan Terbaik Tahun 2024
  • Tablet Itel VistaTab 10: Layar FHD Harga 1 Jutaan Terbaik
  • Robot Humanoid Melania Trump Curi Perhatian di KTT Global
  • Cara Pasang Home Charging Mobil Listrik: Syarat dan Prosedur
  • Harga Nothing Headphone (a) Indonesia Resmi Dirilis Erajaya
  • Iklan di Apple Maps Segera Muncul, Begini Dampaknya ke User
  • Slow Juicer Terbaik 2026: Rekomendasi untuk Hidup Sehat Saat Lebaran
Kamis, Maret 26
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » Alasan Namibia Tolak Starlink: Aturan Kepemilikan Jadi Ganjalan
Berita Tekno

Alasan Namibia Tolak Starlink: Aturan Kepemilikan Jadi Ganjalan

Iphan SIphan S26 Maret 2026 | 11:40
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Alasan Namibia tolak Starlink
Alasan Namibia tolak Starlink (Foto: inet.detik.com)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Alasan Namibia tolak Starlink secara resmi berkaitan dengan ketatnya regulasi mengenai ambang batas kepemilikan saham oleh entitas lokal. Otoritas Regulasi Komunikasi Namibia (Cran) baru-baru ini mengonfirmasi bahwa mereka tidak memberikan lisensi operasional kepada penyedia internet satelit milik Elon Musk tersebut. Keputusan ini menambah daftar panjang negara di benua Afrika yang masih bersikap hati-hati terhadap ekspansi masif konstelasi satelit orbit rendah (LEO) milik SpaceX.

Cran menyatakan bahwa anak perusahaan Starlink yang terdaftar di Namibia belum memenuhi kriteria kepemilikan yang tertuang dalam undang-undang nasional. Meskipun Starlink telah menunjukkan minat besar untuk menyediakan akses internet berkecepatan tinggi di wilayah terpencil, pemerintah Namibia tetap teguh pada prinsip kedaulatan ekonomi mereka. Hingga saat ini, pihak Starlink sendiri belum memberikan pernyataan resmi atau tanggapan mendalam terkait penolakan tersebut.

Memahami Alasan Namibia Tolak Starlink dari Sisi Regulasi

Secara hukum, Namibia mewajibkan setiap perusahaan telekomunikasi yang ingin beroperasi di negara tersebut untuk memiliki struktur kepemilikan lokal minimal 51 persen. Aturan ini bukan sekadar hambatan birokrasi, melainkan bagian dari kebijakan nasional yang lebih luas. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap investasi asing yang masuk memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga negara Namibia, terutama dalam hal kontrol aset strategis.

Baca Juga

  • Peran AI dalam Perang Iran: Ribuan Target Hancur dalam Sekejap
  • Robot Humanoid Melania Trump Curi Perhatian di KTT Global

Advertisement

Alasan Namibia tolak Starlink ini mencerminkan trauma sejarah dan semangat kemandirian bangsa tersebut. Sebagai negara yang pernah berada di bawah penjajahan Jerman dan kemudian di bawah kendali rezim minoritas kulit putih Afrika Selatan, Namibia sangat protektif terhadap sektor-sektor penting. Sejak meraih kemerdekaan pada tahun 1990, kebijakan pemberdayaan ekonomi lokal menjadi instrumen utama untuk mengikis ketimpangan rasial yang diwariskan dari masa lalu.

Di sisi lain, Starlink sebenarnya telah berupaya melakukan lobi-lobi melalui situs web resminya. Perusahaan mengeklaim telah mendirikan entitas lokal yang siap bermitra dengan pengusaha Namibia untuk menciptakan lapangan kerja baru. Namun, Cran menilai skema yang ditawarkan belum sepenuhnya sejalan dengan mandat undang-undang telekomunikasi yang mewajibkan mayoritas saham dipegang oleh putra daerah.

Ketegangan Antara Inovasi Global dan Kedaulatan Nasional

Kasus ini bukan pertama kalinya Elon Musk menghadapi tembok regulasi di tanah kelahirannya, Afrika. Di Afrika Selatan, Starlink juga mengalami kendala serupa. Pemerintah Pretoria mewajibkan perusahaan telekomunikasi memiliki 30 persen kepemilikan dari kelompok yang secara historis dirugikan (Black Economic Empowerment). Elon Musk sempat melontarkan kritik tajam melalui platform X, menyebut aturan tersebut sebagai kebijakan yang menghambat kemajuan teknologi.

Baca Juga

  • Iklan di Apple Maps Segera Muncul, Begini Dampaknya ke User
  • Akuisisi Moonton oleh Savvy: Arab Saudi Kuasai Mobile Legends

Advertisement

Meskipun demikian, regulator di Namibia tampaknya tidak goyah dengan kritik tersebut. Alasan Namibia tolak Starlink juga didorong oleh keinginan untuk melindungi industri telekomunikasi domestik yang sedang berkembang. Jika perusahaan raksasa global masuk tanpa batasan kepemilikan lokal, dikhawatirkan penyedia layanan internet (ISP) lokal akan gulung tikar karena kalah bersaing secara modal dan teknologi.

Cran bahkan sempat mengambil langkah tegas pada tahun 2024 dengan mengeluarkan perintah pelarangan total terhadap aktivitas Starlink yang dianggap ilegal. Regulator menemukan fakta bahwa beberapa terminal Starlink sudah masuk ke Namibia dan beroperasi tanpa izin resmi. Masyarakat pun diperingatkan untuk tidak membeli perangkat atau berlangganan layanan tersebut, karena menggunakannya dianggap sebagai pelanggaran hukum serius.

Masa Depan Internet Satelit di Namibia

Meski pintu saat ini tertutup, Cran memberikan ruang bagi Starlink untuk mengajukan banding atau petisi. Dalam jangka waktu 90 hari, otoritas dapat mempertimbangkan kembali keputusan tersebut jika Starlink bersedia mengubah struktur kepemilikan perusahaannya. Tantangannya adalah, apakah Elon Musk bersedia melepaskan 51 persen saham anak perusahaannya demi masuk ke pasar Namibia yang secara populasi tergolong kecil dibandingkan negara Afrika lainnya?

Baca Juga

  • Kasus Pelecehan Anak di Instagram: Meta Didenda US$375 Juta
  • Akun X Mojtaba Khamenei Centang Biru Muncul Lagi, Langgar Sanksi?

Advertisement

Penting untuk dicatat bahwa lebih dari 600 perusahaan asal Amerika Serikat, termasuk Microsoft, telah berhasil beroperasi di wilayah Afrika bagian selatan dengan mematuhi hukum kepemilikan lokal. Hal ini menunjukkan bahwa regulasi tersebut sebenarnya bisa dipenuhi jika ada kemauan dari investor asing untuk beradaptasi dengan hukum setempat. Pemerintah Namibia menegaskan bahwa mereka terbuka bagi investasi asing, asalkan memberikan ruang bagi partisipasi aktif warga lokal.

Layanan Starlink memang menjadi solusi impian bagi daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau kabel serat optik. Melalui ribuan satelit kecil di ruang angkasa, internet bisa diakses hanya dengan memasang antena parabola kecil. Namun, bagi Namibia, akses internet cepat tidak boleh mengorbankan prinsip keadilan ekonomi dan kedaulatan digital bangsa.

Sebagai penutup, alasan Namibia tolak Starlink menjadi preseden penting bagi negara-negara berkembang lainnya dalam menghadapi ekspansi raksasa teknologi dunia. Kepatuhan terhadap hukum lokal tetap menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar, meskipun teknologi yang ditawarkan sangat canggih dan dibutuhkan oleh masyarakat luas.

Baca Juga

  • Motor Listrik Penyeimbang Otomatis Omoway Siap Masuk Indonesia
  • Penutupan Aplikasi Sora OpenAI: Strategi Baru Demi IPO 2026

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Elon Musk internet satelit Namibia Regulasi Telekomunikasi starlink
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleDiskon Tarif Tol Lebaran 2026: Jasa Marga Beri Potongan 30%
Next Article Superkomputer PlayStation 3 Militer: Rahasia Kekuatan Udara AS
Iphan S
  • Website

Artikel Terkait

Peran AI dalam Perang Iran: Ribuan Target Hancur dalam Sekejap

Iphan S26 Maret 2026 | 12:50

Robot Humanoid Melania Trump Curi Perhatian di KTT Global

Ana Octarin26 Maret 2026 | 12:35

Iklan di Apple Maps Segera Muncul, Begini Dampaknya ke User

Iphan S26 Maret 2026 | 12:20

Akuisisi Moonton oleh Savvy: Arab Saudi Kuasai Mobile Legends

Iphan S26 Maret 2026 | 12:10

Kasus Pelecehan Anak di Instagram: Meta Didenda US$375 Juta

Ana Octarin26 Maret 2026 | 12:00

Akun X Mojtaba Khamenei Centang Biru Muncul Lagi, Langgar Sanksi?

Ana Octarin26 Maret 2026 | 11:50
Pilihan Redaksi
Gadget

HP Kamera Mid-range Terbaik untuk Foto Lebaran Ciamik

Olin Sianturi21 Maret 2026 | 03:46

HP kamera mid-range terbaik menjadi incaran utama menjelang momen libur Lebaran yang penuh dengan aktivitas…

Jaringan AI Grid Global Akamai-NVIDIA: Revolusi Komputasi Edge

20 Maret 2026 | 01:19

Rice Cooker Digital vs Manual: Mana Paling Untung di 2026?

26 Maret 2026 | 07:55

Misteri Kuno Lapisan Es Mencair: Dunia Masa Lalu Terungkap

26 Maret 2026 | 08:05

Penutupan Aplikasi Sora OpenAI: Strategi Baru Demi IPO 2026

26 Maret 2026 | 11:15
Terbaru

Peran AI dalam Perang Iran: Ribuan Target Hancur dalam Sekejap

Iphan S26 Maret 2026 | 12:50

Robot Humanoid Melania Trump Curi Perhatian di KTT Global

Ana Octarin26 Maret 2026 | 12:35

Iklan di Apple Maps Segera Muncul, Begini Dampaknya ke User

Iphan S26 Maret 2026 | 12:20

Akuisisi Moonton oleh Savvy: Arab Saudi Kuasai Mobile Legends

Iphan S26 Maret 2026 | 12:10

Kasus Pelecehan Anak di Instagram: Meta Didenda US$375 Juta

Ana Octarin26 Maret 2026 | 12:00
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.