Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

5 Juni 2026 | 13:02

Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar

4 Juni 2026 | 07:27

HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa

3 Juni 2026 | 05:22
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara
  • Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar
  • HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa
  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?
  • Komunitas Supermoto Makassar Jelajahi Wisata Ikonik Sulsel
  • Inovasi Gigabyte Computex 2026: Era Baru Teknologi AI
  • HP Gaming Terbaik 2026: 6 Pilihan Performa Monster Rp2 Jutaan
  • Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota
Minggu, Juni 7
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » 5 Fakta Mengejutkan Evolusi Ciuman Pertama: Jauh Lebih Awal dari Manusia
Berita Tekno

5 Fakta Mengejutkan Evolusi Ciuman Pertama: Jauh Lebih Awal dari Manusia

Olin SianturiOlin Sianturi26 November 2025 | 05:38
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Evolusi ciuman pertama, sejarah ciuman kera besar
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Siapa sangka, evolusi ciuman pertama ternyata sudah terjadi sejak jutaan tahun lalu! Penelitian Oxford mengungkap sejarah ciuman kera besar yang mengejutkan.

Menggali Akar Evolusi Ciuman Pertama: Menggeser Garis Waktu

Selama ini, ciuman—sebagai bentuk ekspresi kasih sayang, keintiman, atau bahkan sapaan—identik dan hampir secara eksklusif dikaitkan dengan perilaku manusia modern. Pemahaman konvensional sering kali menempatkan ciuman sebagai fenomena budaya yang muncul relatif baru dalam lini masa sejarah peradaban.

Namun, studi ilmiah terbaru telah menggemparkan pandangan tersebut. Penelitian mendalam mengenai perilaku primata menunjukkan bahwa kontak mulut ke mulut, yang secara ilmiah memenuhi definisi ciuman, jauh lebih tua dari yang kita duga. Ini memaksa kita untuk meninjau kembali garis waktu evolusi ciuman pertama.

Baca Juga

  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara
  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Advertisement

Studi mutakhir yang dipublikasikan dalam jurnal Evolution and Human Behavior telah memberikan bukti kuat mengenai hal ini. Riset yang dilakukan oleh para ahli biologi evolusi dari Universitas Oxford menemukan bahwa ciuman memiliki akar evolusioner yang sangat purba, bukan hanya dimiliki oleh Homo sapiens.

Penemuan ini tidak hanya sekadar fakta menarik, melainkan juga sebuah wawasan mendalam mengenai bagaimana ikatan sosial dan perilaku intim berkembang di antara spesies primata.

5 Bukti Ilmiah Sejarah Ciuman Kera Besar

Penelitian yang dipimpin oleh ahli biologi evolusi terkemuka, Matilda Brindle, mengungkap bahwa perilaku menyerupai ciuman pada nenek moyang kita telah ada jauh sebelum manusia modern muncul. Berikut adalah lima bukti krusial yang menjelaskan penemuan ini.

Baca Juga

  • Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota
  • Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Advertisement

1. Usia yang Jauh Lebih Tua: Era Miosen

Temuan ini secara spesifik menunjuk pada rentang waktu yang menakjubkan: antara 21,5 hingga 16,9 juta tahun yang lalu. Periode ini menempatkan asal-usul perilaku ciuman pada era Miosen, jauh sebelum spesies manusia berevolusi dan mendominasi bumi.

2. Berasal dari Nenek Moyang Kera Besar

Baca Juga

  • Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!
  • Potensi Gempa Besar Ciremai Terlacak dari Struktur Tanah Terbalik

Advertisement

Perilaku ini didokumentasikan pada nenek moyang kera besar (great apes) — kelompok yang mencakup orangutan, simpanse, dan tentu saja, manusia. Ini menegaskan bahwa ciuman adalah warisan perilaku yang kita miliki bersama.

3. Definisi Ilmiah yang Luas

Para peneliti menggunakan definisi ilmiah yang lebih luas untuk ciuman, yaitu kontak mulut ke mulut yang terjadi untuk tujuan selain agresi. Definisi ini mencakup sentuhan, gesekan, atau interaksi oral yang ditujukan untuk ikatan atau transfer nutrisi.

Baca Juga

  • Pekerja Penutup Pintu Taksi Otonom Raup Ratusan Ribu
  • Penyebab Manusia Jarang Kidal Menurut Penelitian Terbaru

Advertisement

4. Bukan Fenomena Khas Manusia

Studi ini secara tegas membantah anggapan bahwa ciuman adalah perilaku khas manusia. Selain simpanse dan orangutan, spesies lain seperti beruang kutub juga diketahui melakukan kontak mulut ke mulut yang sesuai dengan kriteria ilmiah ciuman. Hal ini membuktikan bahwa sejarah ciuman kera besar hanya sebagian kecil dari cerita evolusi yang lebih besar.

5. Bukti dari Primata Modern

Baca Juga

  • Penyelundupan Chip AI Nvidia ke China Diselidiki Taiwan
  • Krisis Chip Smartphone Global Bikin Penjualan HP Anjlok

Advertisement

Pengamatan terhadap primata modern menunjukkan variasi perilaku “ciuman” atau kontak oral. Simpanse, misalnya, sering melakukan kontak mulut sebagai bagian dari rekonsiliasi setelah konflik, menunjukkan fungsi sosial yang kompleks.

Mengapa Ciuman Bukan Fenomena Khas Manusia?

Ketika kita membahas evolusi ciuman pertama, penting untuk memisahkan ciuman romantis ala Hollywood dengan perilaku kontak oral pada hewan. Beberapa spesies hewan menunjukkan perilaku serupa yang memiliki fungsi penting.

  • Beruang Kutub: Mereka sering menggosokkan moncong dan hidung sebagai bentuk sapaan non-agresif.
  • Simpanse dan Bonobo: Kontak mulut sering terjadi dalam konteks rekonsiliasi dan penguatan ikatan sosial setelah pertengkaran.
  • Orangutan: Interaksi mulut ke mulut dapat diamati, terutama antara induk dan anak, yang sering terkait dengan transfer makanan atau kenyamanan.

Fakta bahwa perilaku ini muncul secara independen pada garis keturunan evolusioner yang berbeda menunjukkan bahwa ia memiliki manfaat biologis dan sosial yang kuat, jauh melampaui sekadar romansa.

Baca Juga

  • Cara Cetak Kartu Keluarga Online Tanpa Antre di Dukcapil
  • Sistem Peringatan Dini Gempa: Rahasia Jepang Hadapi Bencana

Advertisement

Fungsi Ciuman Primitif: Lebih dari Sekedar Romansa

Jika ciuman primitif tidak muncul dari hasrat romantis seperti yang kita kenal saat ini, lalu apa fungsi utamanya? Para ahli biologi evolusi mengidentifikasi beberapa peran kunci dalam sejarah ciuman kera besar.

Transfer Nutrisi dan Kekebalan

Salah satu hipotesis utama mengenai asal-usul kontak mulut adalah pre-mastication feeding, atau pemberian makanan yang sudah dikunyah. Induk sering memberikan makanan yang telah dihancurkan kepada bayinya melalui kontak mulut ke mulut. Selain menyediakan nutrisi, proses ini juga membantu mentransfer mikroba dan membangun sistem kekebalan tubuh anak.

Peran Ciuman dalam Ikatan Sosial dan Keamanan

Baca Juga

  • Membuat Solar dari Sampah: Inovasi BRIN Atasi Plastik
  • Ekspor Chip Canggih AS Diperketat, Washington Tambal Celah Bocor ke China

Advertisement

Seiring berjalannya waktu, fungsi ciuman berevolusi. Kontak oral mulai diasosiasikan dengan penguatan ikatan sosial (social bonding). Bagi spesies yang hidup berkelompok, ikatan yang kuat adalah kunci untuk kelangsungan hidup. Perilaku ini berfungsi sebagai penenang, meredakan konflik, dan menunjukkan afiliasi.

Penelitian Matilda Brindle menunjukkan bahwa pada primata, kontak mulut dapat meningkatkan kadar oksitosin, hormon yang bertanggung jawab atas ikatan dan rasa percaya. Ini adalah mekanisme yang sama yang kita temukan pada manusia modern saat berciuman, yang mendukung hipotesis bahwa fungsi ini telah dipertahankan selama jutaan tahun.

Tentu saja, ciuman romantis yang kita kenal saat ini adalah puncak dari proses evolusi yang panjang. Manusia telah mengambil perilaku primitif ini dan mengembangkannya menjadi ritual yang kompleks, sering kali digunakan untuk mengevaluasi pasangan potensial melalui indra penciuman dan rasa.

Baca Juga

  • Pasar CPU Nvidia Vera Jadi Senjata Baru Kuasai AI
  • Ambisi Chip Canggih Huawei Bikin AS Kena Senjata Makan Tuan

Advertisement

Mitos yang Terpecahkan: Ciuman dan Budaya Barat

Perlu dicatat bahwa, meskipun akar evolusinya kuno, ciuman tidak universal dalam setiap budaya manusia di seluruh dunia. Beberapa masyarakat, terutama masyarakat non-Barat, tidak mempraktikkan ciuman romantis dan malah menggunakan bentuk kontak lain, seperti menggosokkan hidung (seperti yang dilakukan oleh suku Māori di Selandia Baru).

Hal ini menegaskan bahwa sementara dasar perilaku kontak mulut sudah ada sejak 21 juta tahun yang lalu, cara perilaku itu diekspresikan dan maknanya diinterpretasikan sangat dipengaruhi oleh budaya spesifik.

Baca Juga

  • Pendapatan dari Konten Pertanian Melebihi Hasil Kebun
  • PHK Karyawan Standard Chartered: Dampak AI di Sektor Finansial

Advertisement

Kesimpulan: Memahami Garis Waktu Evolusi Ciuman

Penemuan tentang evolusi ciuman pertama pada nenek moyang kera besar memaksa kita untuk menghargai bahwa banyak perilaku yang kita anggap unik pada manusia sebenarnya memiliki warisan biologis yang sangat mendalam.

Kontak mulut ke mulut, yang dimulai jutaan tahun lalu sebagai mekanisme transfer nutrisi atau kenyamanan, secara bertahap berevolusi menjadi alat penting untuk ikatan sosial dan, akhirnya, menjadi ekspresi cinta dan romansa pada manusia.

Studi ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap ilmu perilaku dan biologi evolusioner, membuktikan bahwa kita berbagi lebih banyak kesamaan perilaku intim dengan kerabat primata purba kita daripada yang pernah kita bayangkan sebelumnya. Penemuan ini merupakan pengingat kuat bahwa sejarah perilaku kita jauh lebih tua dan lebih liar dari buku pelajaran sejarah mana pun.

Baca Juga

  • Gelombang Panas Ekstrem Eropa Pecah Rekor, PBB Beri Warning
  • Komisaris Baru Telkomsel: Muhammad Yusuf Ateh Resmi Menjabat

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Ciuman Evolusi Perilaku Hewan Primata Sains
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous Article5 Alasan Indonesia Pamer Teknologi QRIS Sukses di Forum Dunia
Next Article 3 Langkah Nonaktifkan Gemini AI di Gmail & Chrome, Jaga Privasi Anda
Olin Sianturi
  • Website

Olin Sianturi adalah seorang Content Writer di Media TechnoNesia dan GadgetVIVA, berpengalaman dalam menulis artikel informatif dan SEO-friendly. Spesialisasinya mencakup teknologi, gadget, elektronik, game. Dengan gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami, Olin mampu menghadirkan konten berkualitas yang relevan dan bernilai bagi pembaca.

Artikel Terkait

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37

Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!

Iphan S2 Juni 2026 | 19:37

Potensi Gempa Besar Ciremai Terlacak dari Struktur Tanah Terbalik

Ana Octarin2 Juni 2026 | 16:37
Pilihan Redaksi
Aplikasi

7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Olin Sianturi1 Februari 2026 | 00:59

Persaingan di dunia konten digital semakin memanas. Khususnya di TikTok, platform video pendek yang kini…

HP Gaming Terbaik 2026: 6 Pilihan Performa Monster Rp2 Jutaan

3 Juni 2026 | 02:22

Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar

4 Juni 2026 | 07:27

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

5 Juni 2026 | 13:02

Layar E Ink berwarna LG 32 Inci Meluncur, Sangat Hemat Daya

2 Juni 2026 | 05:22
Terbaru

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37

Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!

Iphan S2 Juni 2026 | 19:37
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.