TechnonesiaID - Inovasi membuat solar dari sampah kini menjadi solusi nyata untuk mengatasi penumpukan limbah plastik bernilai rendah di Indonesia. Selama ini, sampah plastik jenis sachet, kemasan multilapis (multilayer), dan kantong tipis kerap terabaikan karena nilai ekonominya yang sangat rendah. Padahal, volume sampah jenis ini terus menumpuk dan mencemari lingkungan karena sifatnya yang sangat sulit terurai secara alami.
Untuk mengatasi krisis lingkungan tersebut, para peneliti dalam negeri terus memutar otak mencari solusi paling efektif. Salah satu terobosan paling menjanjikan datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Mereka berhasil mengembangkan sebuah teknologi mutakhir yang mampu menyulap tumpukan sampah plastik menjadi bahan bakar berkualitas tinggi setara solar.
Mengapa Sampah Plastik Sachet Sulit Didaur Ulang?
Limbah plastik fleksibel seperti kemasan sachet dan plastik multilapis menjadi musuh utama dalam pengelolaan sampah modern. Industri daur ulang konvensional sering kali menolak jenis plastik ini karena proses pemisahannya yang rumit dan membutuhkan biaya tinggi. Akibatnya, jutaan ton residu plastik kotor ini berakhir di TPA atau justru hanyut ke lautan bebas.
Baca Juga
Advertisement
Melalui riset mendalam, BRIN menemukan cara efektif membuat solar dari sampah yang sebelumnya hanya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Pendekatan ini tidak hanya mengurangi volume sampah secara signifikan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru dari bahan yang sebelumnya dianggap tidak berharga. Langkah ini menjadi angin segar bagi konsep ekonomi sirkular di tanah air.
Langkah Nyata Membuat Solar dari Sampah Melalui Pirolisis
Kunci utama dari inovasi luar biasa ini terletak pada penggunaan teknologi pirolisis multikondensor. Teknologi ini dirancang khusus untuk mengolah berbagai jenis sampah plastik bernilai rendah, bahkan dalam kondisi yang kotor dan basah sekalipun. Melalui sistem ini, sampah plastik akan diubah menjadi bahan bakar cair alternatif yang diberi nama Petasol.
Proses membuat solar dari sampah ini menggunakan reaktor khusus dengan sistem tanpa oksigen. Suhu di dalam reaktor dijaga pada kisaran 250 hingga 350 derajat Celsius selama kurang lebih delapan jam. Pemanasan ekstrem tanpa oksigen ini akan memecahkan rantai polimer plastik yang kompleks menjadi senyawa hidrokarbon sederhana yang serupa dengan minyak bumi.
Baca Juga
Advertisement
Menariknya, teknologi ini tidak memerlukan proses distilasi ulang yang rumit dan mahal. Cairan hasil kondensasi langsung masuk ke tahap pemurnian khusus untuk menghasilkan bahan bakar siap pakai. Dari setiap satu kilogram sampah plastik yang diproses, reaktor ini mampu menghasilkan rata-rata 0,8 hingga 1 liter bahan bakar Petasol berkualitas tinggi.
Kualitas Petasol dan Implementasi di Sektor Riil
Meskipun berbahan baku sampah, kualitas bahan bakar Petasol tidak boleh dipandang sebelah mata. Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa karakteristik fisik dan kimia Petasol telah memenuhi standar resmi bahan bakar minyak solar. Standar ini merujuk pada keputusan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor 146/2020 yang menjamin keamanan penggunaannya.
Selama lebih dari empat tahun terakhir, bahan bakar alternatif ini telah diuji coba secara langsung di lapangan. Hasilnya sangat memuaskan dan dinilai sangat aman bagi mesin. Para nelayan telah menggunakannya untuk mesin perahu mereka, para petani memakainya pada alat pertanian, dan beberapa kendaraan diesel juga terbukti berjalan mulus tanpa kendala teknis.
Baca Juga
Advertisement
Selain ramah lingkungan, metode membuat solar dari sampah ini juga menawarkan performa mesin yang lebih bertenaga. Hal ini terjadi karena Petasol memiliki nilai kalor yang lebih tinggi jika kita bandingkan dengan biosolar komersial di pasaran. Dengan demikian, pengguna tidak hanya menghemat biaya tetapi juga mendapatkan performa mesin yang optimal untuk aktivitas harian mereka.
Analisis Bisnis dan Potensi Ekonomi Sirkular
Dari sisi ekonomi, pengembangan teknologi ini membuka peluang usaha baru yang sangat menguntungkan bagi masyarakat. Biaya produksi Petasol tergolong sangat murah, yaitu berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 6.160 per liter. Angka ini dihitung dengan asumsi harga bahan baku plastik kering dari pengepul sebesar Rp 1.800 per kilogram.
Namun, biaya produksi ini masih bisa ditekan lebih rendah lagi jika pengelola bekerja sama dengan bank sampah setempat. Dengan membeli bahan baku langsung dari bank sampah seharga Rp 200 per kilogram, ongkos produksi turun drastis menjadi hanya Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per liter. Selisih harga ini tentu menawarkan margin keuntungan yang sangat tebal bagi para pelaku usaha mikro.
Baca Juga
Advertisement
Karena regulasi perdagangan bahan bakar alternatif di pasar domestik belum sepenuhnya terbentuk, saat ini harga jual Petasol ditetapkan sebesar Rp 10.000 per liter. Dengan harga tersebut, produsen bisa meraup keuntungan bersih sekitar Rp 4.000 hingga Rp 5.000 untuk setiap liter yang terjual. Angka ini tentu sangat menarik bagi komunitas pengelola sampah mandiri di daerah.
Penerapan teknologi untuk membuat solar dari sampah ini telah meluas ke lebih dari 60 lokasi di seluruh Indonesia. Jika sebuah unit pengolahan memiliki kapasitas produksi 100 kilogram sampah per hari, mereka bisa menghasilkan laba bersih hingga Rp 8,6 juta per bulan. Dengan modal awal investasi mesin, titik impas atau break-even point (BEP) dapat tercapai dalam waktu sekitar 2,5 tahun saja.
Beberapa kota besar seperti Cimahi, Yogyakarta, dan Semarang telah sukses mereplikasi sistem ini dengan dukungan penuh dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Keberhasilan program ini membuktikan bahwa sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat mampu menyelesaikan masalah lingkungan sekaligus memberikan dampak ekonomi nyata. Pengolahan sampah berbasis komunitas ini diharapkan terus berkembang secara mandiri di berbagai daerah lain.
Baca Juga
Advertisement
Pada akhirnya, teknologi ini tidak hanya menawarkan solusi praktis atas darurat sampah plastik, tetapi juga menjadi alternatif energi yang murah bagi masyarakat kelas bawah. Pemerintah daerah dan komunitas diharapkan terus mendukung pengembangan teknologi membuat solar dari sampah demi mewujudkan kemandirian energi nasional. Langkah kecil ini jika dilakukan secara massal akan membawa dampak luar biasa bagi kelestarian bumi pertiwi.
- Instagram : @technonesia.id
- Facebook : Technonesia ID
- X (Twitter) : @technonesia_id
- Whatsapp Channel : Technonesia.ID
- Google News : TECHNONESIA