TechnonesiaID - Penyelundupan chip Nvidia ke China baru-baru ini berhasil digagalkan oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) setelah melibatkan skema rumit lintas negara. Pemerintah Federal Amerika Serikat secara resmi mendakwa tiga tersangka utama yang mencoba menembus barikade kontrol ekspor teknologi tingkat tinggi. Kasus ini menjadi sorotan dunia karena melibatkan komponen vital yang menjadi otak dari pengembangan kecerdasan buatan (AI) di kancah global.
Departemen Kehakiman mengonfirmasi identitas ketiga tersangka tersebut. Mereka adalah Stanley Yi Zheng, seorang warga negara China asal Hong Kong, serta dua warga negara Amerika Serikat bernama Matthew Kelly dan Tommy Shad. Ketiganya diduga kuat menjalin kolaborasi ilegal untuk mengirimkan perangkat keras komputer yang masuk dalam kategori barang terbatas ke wilayah China pada Mei 2023 silam.
Aksi kriminal ini tidak dilakukan secara langsung, melainkan menggunakan taktik perusahaan cangkang. Para pelaku memanfaatkan sebuah perusahaan perantara yang berbasis di Thailand untuk menyamarkan tujuan akhir pengiriman barang. Strategi ini bertujuan untuk mengelabui otoritas bea cukai dan pengawas ekspor di Amerika Serikat yang sedang memperketat arus teknologi ke Beijing.
Baca Juga
Advertisement
Modus Operandi Penyelundupan Chip Nvidia ke China
Dalam laporan resmi setebal 41 halaman, terungkap bahwa penyelundupan chip Nvidia ke China ini menyasar ratusan unit GPU kelas atas, khususnya model A100 dan H100. Meskipun dalam dokumen awal nama Nvidia atau Supermicro tidak disebutkan secara eksplisit, bukti digital berupa tangkapan layar pesan singkat menunjukkan komunikasi intensif mengenai pengadaan unit pengolah grafis (GPU) milik raksasa teknologi tersebut.
Para tersangka mencoba melakukan pembelian GPU Nvidia melalui sebuah perusahaan penyedia layanan perangkat keras yang beroperasi di San Jose, California. Stanley Zheng dilaporkan telah mengajukan pesanan pembelian untuk 232 unit server model SYS-821GE-TNHR. Nilai transaksi fantastis ini mencapai angka US$62 juta atau setara dengan Rp980 miliar lebih, hampir menyentuh angka satu triliun rupiah.
Server yang dipesan merupakan produk unggulan dari Supermicro yang dirancang khusus untuk mendukung performa GPU Nvidia H100 dan H200. Perangkat ini sangat dicari oleh perusahaan teknologi besar karena kemampuannya dalam melatih model bahasa besar (LLM) yang menjadi basis dari teknologi seperti ChatGPT dan sistem pertahanan canggih.
Baca Juga
Advertisement
Ketegangan Geopolitik dan Perang Semikonduktor
Upaya penyelundupan chip Nvidia ke China ini terjadi di tengah memanasnya perang teknologi antara Washington dan Beijing. Pemerintah Amerika Serikat telah memberlakukan pembatasan ekspor yang ketat untuk mencegah China mengakses teknologi semikonduktor tercanggih. Langkah ini diambil dengan alasan keamanan nasional, guna memastikan bahwa teknologi AI milik AS tidak digunakan untuk modernisasi militer oleh negara pesaing.
GPU Nvidia H100 sendiri dianggap sebagai “emas hitam” dalam industri teknologi saat ini. Dengan kelangkaan stok dan permintaan yang membeludak, pasar gelap untuk chip ini terus tumbuh. Para penyelundup melihat peluang keuntungan besar dengan menjual kembali perangkat ini ke entitas di China yang bersedia membayar harga berkali-kali lipat dari harga resmi di pasar global.
Konteks pengawasan ini semakin diperketat sejak tahun 2022, di mana setiap pengiriman teknologi yang berkaitan dengan AI ke China harus mendapatkan lisensi khusus dari Departemen Perdagangan AS. Kegagalan para tersangka dalam mendapatkan izin resmi inilah yang mendorong mereka untuk melakukan jalur ilegal melalui pihak ketiga di Asia Tenggara.
Baca Juga
Advertisement
Kewaspadaan Perusahaan Teknologi Global
Meskipun Nvidia dan Supermicro tidak segera memberikan komentar resmi terkait kasus ini, dokumen pengadilan menunjukkan bahwa pejabat federal telah berkomunikasi dengan kedua perusahaan tersebut. Karyawan dari Nvidia dan Supermicro dilaporkan telah mencium aroma ketidakberesan sejak awal permintaan pesanan masuk ke sistem mereka.
Pada awal tahun 2024, pesanan yang mencurigakan tersebut sempat dibatalkan setelah melewati proses audit internal. Namun, para tersangka tidak menyerah begitu saja. Mereka kembali melakukan percobaan pemesanan kedua pada April 2024 dengan mengubah beberapa detail administratif. Beruntung, sistem pengawasan internal dan koordinasi dengan pihak berwenang berhasil mematahkan upaya kedua tersebut sebelum barang meninggalkan gudang.
Kasus ini menunjukkan bahwa perusahaan teknologi kini berada di garis depan dalam menjaga keamanan nasional. Mereka tidak hanya dituntut untuk berinovasi, tetapi juga harus memiliki sistem kepatuhan (compliance) yang sangat ketat untuk mendeteksi potensi penyelundupan chip Nvidia ke China yang dilakukan oleh jaringan profesional.
Baca Juga
Advertisement
Hingga saat ini, proses hukum terhadap Zheng, Kelly, dan Shad masih terus berjalan di pengadilan federal. Jika terbukti bersalah, mereka terancam hukuman penjara puluhan tahun dan denda yang sangat besar. Pemerintah AS menegaskan tidak akan memberikan toleransi bagi siapapun yang mencoba merusak integritas kontrol ekspor nasional.
Keberhasilan menggagalkan penyelundupan chip Nvidia ke China ini menjadi sinyal kuat bagi para pelaku industri hitam lainnya. Pengawasan terhadap rantai pasok global kini menjadi prioritas utama guna memastikan supremasi teknologi Amerika Serikat tetap terjaga dari upaya pencurian dan pengalihan ilegal oleh pihak asing.
Baca Juga
Advertisement
- Instagram : @technonesia.id
- Facebook : Technonesia ID
- X (Twitter) : @technonesia_id
- Whatsapp Channel : Technonesia.ID
- Google News : TECHNONESIA