Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Jadwal Kapal Pelni KM Kelud April 2026: Rute Jakarta-Belawan

31 Maret 2026 | 22:22

Spesifikasi Oppo Find X9s Pro: Bocoran Kamera Ganda 200MP

31 Maret 2026 | 21:53

Harga PlayStation 5 Terbaru 2026 Naik Global, Cek Daftarnya!

31 Maret 2026 | 21:22
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Jadwal Kapal Pelni KM Kelud April 2026: Rute Jakarta-Belawan
  • Spesifikasi Oppo Find X9s Pro: Bocoran Kamera Ganda 200MP
  • Harga PlayStation 5 Terbaru 2026 Naik Global, Cek Daftarnya!
  • Misi Artemis II NASA ke Bulan Siap Cetak Sejarah Baru
  • Cara Menggunakan Fitur Autopark Xpeng G6 Agar Parkir Praktis
  • Game PUBG: Blindspot Ditutup Permanen Setelah Dua Bulan Rilis
  • Update SFCC 2026 Ver 1.2: Shion Hori & Dice Event Hadir!
  • Huawei MatePad Mini Terbaru: Tablet Ringkas Pesaing iPad Mini
Selasa, Maret 31
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » 3 Temuan Terbaru Gletser Thwaites Mencair: 50 Juta Jiwa Terancam
Berita Tekno

3 Temuan Terbaru Gletser Thwaites Mencair: 50 Juta Jiwa Terancam

Olin SianturiOlin Sianturi30 Desember 2025 | 00:00
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Gletser Thwaites Mencair, Dampak Kenaikan Air Laut
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Kabar buruk dari Antartika! Gletser Thwaites Mencair lebih cepat di ‘zona pergeseran’. Simak 3 dampak serius dan prediksi terbaru Dampak Kenaikan Air Laut global yang mengancam puluhan juta manusia.

Antartika menyimpan potensi bahaya global yang diam-diam terus membesar. Salah satu ancaman paling menakutkan datang dari Gletser Thwaites, sebuah lempeng es raksasa di Antartika Barat yang dijuluki sebagai Doomsday Glacier atau “Es Kiamat”.

Julukan tersebut diberikan bukan tanpa alasan. Gletser Thwaites berfungsi sebagai penahan utama yang menjaga lapisan es di belakangnya tetap stabil. Jika ia runtuh, konsekuensinya akan mengubah peta dunia.

Baca Juga

  • Misi Artemis II NASA ke Bulan Siap Cetak Sejarah Baru
  • Kebiasaan Presiden Prabowo Subianto Bangun Jam 3 Pagi Cek YouTube

Advertisement

Baru-baru ini, sebuah temuan yang dipublikasikan oleh tim peneliti dari University of Manitoba membawa kabar yang semakin mengkhawatirkan. Analisis data satelit selama dua dekade (2002 hingga 2022) menunjukkan bahwa keretakan di gletser ini berkembang pesat, terutama di sepanjang wilayah kritis yang dikenal sebagai “zona pergeseran” (zone of shear).

Kondisi ini menandakan bahwa proses kehancuran Gletser Thwaites mungkin terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan para ilmuwan sebelumnya, sekaligus memastikan nasib puluhan juta penduduk di wilayah pesisir dipertaruhkan.

Mengapa Gletser Thwaites Dijuluki ‘Es Kiamat’?

Untuk memahami betapa berbahayanya temuan terbaru ini, kita perlu mengenal Gletser Thwaites. Gletser ini memiliki ukuran yang luar biasa besar, setara dengan wilayah Florida di Amerika Serikat, atau sekitar 192.000 kilometer persegi.

Baca Juga

  • Keamanan Zero Trust Berbasis AI Hadir di Solusi Terbaru Akamai
  • Paus Terdampar di Jerman: Timmy Berjuang Hidup di Laut Baltik

Advertisement

Meskipun ukurannya masif, Thwaites memiliki karakteristik unik yang membuatnya sangat rentan: ia sebagian besar berada di bawah permukaan laut, menjadikannya sangat sensitif terhadap air laut yang lebih hangat.

Gletser Thwaites Mencair adalah skenario terburuk karena ia adalah penopang bagi lempeng es Antartika Barat yang lebih besar. Para ahli menyebutnya sebagai “cork in a bottle” atau sumbat botol.

Apabila sumbat ini hilang, miliaran ton es yang ada di belakangnya akan ikut meluncur bebas ke laut. Total es di Thwaites sendiri sudah cukup untuk menaikkan permukaan air laut global sebanyak 65 sentimeter, namun potensi total es yang ditahannya bisa mencapai beberapa meter.

Baca Juga

  • Pembatasan Media Sosial Anak: Komdigi Tegur Keras Meta dan Google
  • Larangan Media Sosial Anak di Bawah 16 Tahun Resmi Berlaku

Advertisement

Zona Kritis: Garis Landasan (Grounding Line)

Faktor kunci dalam stabilitas gletser adalah grounding line atau garis landasan. Ini adalah titik di mana bagian bawah gletser beristirahat pada dasar laut dan bagian depannya mulai mengapung di air.

Ketika air laut hangat menyusup ke bawah es, ia melelehkan es dari bawah, memaksa garis landasan untuk mundur ke daratan. Proses mundurnya garis landasan inilah yang merupakan tanda utama ketidakstabilan dan percepatan kehancuran gletser.

3 Temuan Terbaru Pemicu Percepatan Gletser Thwaites Mencair

Penelitian terbaru yang menggunakan data satelit resolusi tinggi telah memberikan gambaran yang lebih detail mengenai bagaimana Gletser Thwaites sedang ‘berperilaku’ di masa kini. Temuan ini fokus pada dinamika es di wilayah kritis yang sebelumnya kurang terpantau.

Baca Juga

  • Investasi Chip Memori Samsung di China Melonjak Demi Kebutuhan AI
  • Asal-usul Cadangan Minyak Timur Tengah dan Rahasia Samudra Tethys

Advertisement

1. Retakan Meluas di Zona Pergeseran

Temuan paling mendesak adalah retakan yang signifikan di sepanjang “zona pergeseran” gletser. Zona pergeseran adalah area di mana massa es bergerak dengan kecepatan berbeda, menciptakan tekanan dan gesekan ekstrem.

Para peneliti mengamati bahwa sejak tahun 2002, retakan di zona ini tidak hanya muncul, tetapi juga melebar dan memanjang dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Retakan yang membesar ini bertindak seperti pisau yang siap memisahkan bongkahan-bongkahan besar es dari massa utama gletser.

Hal ini diperburuk oleh fakta bahwa area tersebut kini semakin sering dibanjiri oleh air laut hangat, melemahkan struktur es dari segala sisi.

Baca Juga

  • Aturan Perlindungan Anak Digital Dilanggar, Komdigi Panggil Meta-Google
  • Taktik Singapore Washing AI: Xi Jinping Jegal Startup ke AS

Advertisement

2. Hilangnya Hambatan Alami Jangka Pendek

Dalam beberapa tahun terakhir, Gletser Thwaites secara bertahap kehilangan hambatan mekanis yang menahan gerakannya. Dulu, bongkahan es dan dasar laut yang kasar berfungsi sebagai “rem” alami yang memperlambat laju pergerakan es.

Namun, pelelehan basal (pelelehan dari bawah) yang disebabkan oleh air hangat telah mengikis hambatan ini. Ketika hambatan ini hilang, es dapat meluncur lebih cepat menuju laut, mirip seperti kendaraan yang kehilangan traksi di jalan licin.

Menurut studi tersebut, hilangnya hambatan ini berkontribusi langsung pada peningkatan kecepatan aliran es, mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik keruntuhan total.

Baca Juga

  • Gugatan Elon Musk terhadap OpenAI: Tuntut Ganti Rugi Rp2.277 T
  • Investasi Softbank di OpenAI: Pinjam Rp 679 Triliun dari Bank

Advertisement

3. Peran Air Laut Hangat yang Mengancam Struktur

Meskipun bukan temuan yang sepenuhnya baru, penelitian ini menekankan bahwa volume air laut hangat yang mencapai rongga di bawah Gletser Thwaites kini jauh lebih besar dan lebih konsisten.

Air hangat ini berasal dari lapisan sirkulasi laut dalam yang didorong oleh perubahan pola angin akibat pemanasan global. Suhu yang hanya sedikit di atas titik beku sudah cukup untuk menyebabkan pelelehan masif karena volume kontak antara air dan es sangat besar.

Proses pelelehan ini menciptakan lubang-lubang besar di bawah es (kavitasi), yang melemahkan seluruh integritas struktural gletser.

Baca Juga

  • Aturan Batas Usia Media Sosial: Komdigi Tegur TikTok-Roblox
  • Bahaya Nasihat AI Chatbot: Studi Stanford Ungkap Sisi Gelap

Advertisement

Prediksi Serius Dampak Kenaikan Air Laut Global

Mengingat percepatan Gletser Thwaites Mencair, perhatian utama kini beralih pada Dampak Kenaikan Air Laut (sea level rise) yang akan terjadi. Prediksi waktu keruntuhan total Thwaites bervariasi—dari beberapa dekade hingga beberapa abad—tetapi trennya jelas: kontribusi es dari Antartika akan menjadi faktor dominan dalam kenaikan air laut di masa depan.

Ketika Thwaites runtuh sepenuhnya, kenaikan permukaan laut setinggi 65 cm akan terjadi secara bertahap. Namun, mekanisme fisika menunjukkan bahwa runtuhnya es raksasa di satu sisi Bumi (Antartika) akan menyebabkan dampak yang tidak merata.

Daerah yang jauh dari lokasi lelehan, seperti wilayah Asia Tenggara dan Amerika Utara, justru akan mengalami kenaikan air laut yang lebih parah dibandingkan rata-rata global. Ini disebabkan oleh perubahan gaya gravitasi dan rotasi Bumi.

Baca Juga

  • Pembatasan Media Sosial Anak di Indonesia Disorot Media Asing
  • Aturan Batas Usia Media Sosial: YouTube dan Meta Belum Patuh

Advertisement

Puluhan juta manusia di kota-kota pesisir padat penduduk sangat rentan terhadap skenario ini. Mereka akan menghadapi risiko:

  • Banjir Pesisir yang Lebih Parah: Banjir rob (pasang surut ekstrem) akan terjadi lebih sering dan mencapai wilayah daratan yang lebih jauh, merusak infrastruktur vital.
  • Intrusi Air Asin: Air laut akan meresap ke dalam akuifer air tanah tawar, merusak pertanian dan sumber air minum, terutama di delta sungai besar.
  • Perpindahan Penduduk Skala Besar: Kota-kota dataran rendah seperti Jakarta, Dhaka, dan beberapa wilayah di Belanda berpotensi tenggelam, memicu krisis pengungsi iklim.
  • Kerugian Ekonomi Triliunan Dolar: Kerusakan properti, pelabuhan, dan fasilitas industri di pesisir akan memicu resesi ekonomi global.

Di Indonesia, kenaikan air laut adalah ancaman nyata. Wilayah seperti Jakarta Utara, Semarang, dan berbagai pulau kecil sangat rentan. Studi telah berulang kali memperingatkan bahwa tanpa mitigasi yang drastis, infrastruktur dan mata pencaharian di pesisir akan terganggu parah.

Langkah Mendesak Mengatasi Ancaman

Meskipun kita tidak bisa menghentikan Gletser Thwaites yang sudah mulai mencair, kita bisa memperlambat prosesnya dan bersiap menghadapi dampaknya. Inti dari masalah ini tetaplah Pemanasan Global yang harus diatasi dengan cepat.

Baca Juga

  • Permintaan Chip AI Nvidia Meledak, Pesanan Tembus Rp16.985 T
  • Manufaktur Apple di Amerika Serikat Resmi Gandeng Bosch-TSMC

Advertisement

Langkah-langkah mitigasi yang mendesak tidak hanya bersifat global tetapi juga lokal:

Pertama, secara global, penurunan emisi gas rumah kaca adalah prioritas mutlak. Setiap upaya untuk menjaga suhu global di bawah batas ambang 1,5 derajat Celsius akan memberikan waktu bagi lempeng es untuk beradaptasi dan mengurangi pelelehan basal.

Kedua, peningkatan riset dan pemodelan harus dilakukan secara intensif. Pemahaman yang lebih akurat tentang kecepatan Gletser Thwaites Mencair memungkinkan pemerintah dan komunitas internasional untuk merencanakan adaptasi dengan lebih baik.

Baca Juga

  • Penemuan Cadangan Emas China Sebesar 1.000 Ton di Hunan
  • Biaya Teknologi Perang AS Membengkak Lawan Drone Murah Iran

Advertisement

Ketiga, pada tingkat lokal, kota-kota pesisir harus segera mengimplementasikan strategi adaptasi yang kuat. Ini termasuk pembangunan tembok laut, revitalisasi ekosistem pesisir (seperti hutan mangrove yang berfungsi sebagai penahan alami), dan, yang paling sulit, merencanakan potensi relokasi di area yang paling rentan.

Penemuan terbaru tentang retakan di Thwaites Glacier bukan sekadar berita ilmiah, melainkan sirene peringatan keras. Nasib puluhan juta manusia akan sangat bergantung pada seberapa serius dan cepat aksi yang kita ambil hari ini untuk merespons ancaman Dampak Kenaikan Air Laut yang semakin nyata ini.

Baca Juga

  • Serangan Houthi ke Israel Memantik Eskalasi Militer AS di Iran
  • Bahaya stasiun pengisian daya publik yang Mengintai Pengguna HP

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Doomsday Glacier Gletser Thwaites Kenaikan Permukaan Air Laut Pemanasan Global
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous Article5 Keunggulan Samsung Galaxy Tab S10 Lite 5G: Jawara Tablet Produktivitas
Next Article 5 Lapisan Investasi Digital: Mengapa Hashim Kuasai Ekosistem AI
Olin Sianturi
  • Website

Olin Sianturi adalah seorang Content Writer di Media TechnoNesia dan GadgetVIVA, berpengalaman dalam menulis artikel informatif dan SEO-friendly. Spesialisasinya mencakup teknologi, gadget, elektronik, game. Dengan gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami, Olin mampu menghadirkan konten berkualitas yang relevan dan bernilai bagi pembaca.

Artikel Terkait

Misi Artemis II NASA ke Bulan Siap Cetak Sejarah Baru

Iphan S31 Maret 2026 | 20:54

Kebiasaan Presiden Prabowo Subianto Bangun Jam 3 Pagi Cek YouTube

Iphan S31 Maret 2026 | 18:22

Keamanan Zero Trust Berbasis AI Hadir di Solusi Terbaru Akamai

Olin Sianturi31 Maret 2026 | 16:54

Paus Terdampar di Jerman: Timmy Berjuang Hidup di Laut Baltik

Iphan S31 Maret 2026 | 16:22

Pembatasan Media Sosial Anak: Komdigi Tegur Keras Meta dan Google

Ana Octarin31 Maret 2026 | 14:54

Larangan Media Sosial Anak di Bawah 16 Tahun Resmi Berlaku

Ana Octarin31 Maret 2026 | 13:22
Pilihan Redaksi
Elektronik

Kulkas Satu Pintu Terbaik 2026: Pilihan Estetis dan Awet

Olin Sianturi26 Maret 2026 | 14:00

Kulkas satu pintu terbaik 2026 menjadi incaran utama keluarga Indonesia yang ingin mempercantik area dapur…

Misteri Kuno Lapisan Es Mencair: Dunia Masa Lalu Terungkap

26 Maret 2026 | 08:05

Penutupan Aplikasi Sora OpenAI: Strategi Baru Demi IPO 2026

26 Maret 2026 | 11:15

Rice Cooker Digital vs Manual: Mana Paling Untung di 2026?

26 Maret 2026 | 07:55

Layanan Motorist Pertamina 2026 Siaga Bantu Pemudik Kehabisan BBM

26 Maret 2026 | 07:30
Terbaru

Misi Artemis II NASA ke Bulan Siap Cetak Sejarah Baru

Iphan S31 Maret 2026 | 20:54

Kebiasaan Presiden Prabowo Subianto Bangun Jam 3 Pagi Cek YouTube

Iphan S31 Maret 2026 | 18:22

Keamanan Zero Trust Berbasis AI Hadir di Solusi Terbaru Akamai

Olin Sianturi31 Maret 2026 | 16:54

Paus Terdampar di Jerman: Timmy Berjuang Hidup di Laut Baltik

Iphan S31 Maret 2026 | 16:22

Pembatasan Media Sosial Anak: Komdigi Tegur Keras Meta dan Google

Ana Octarin31 Maret 2026 | 14:54
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.