Ingin tahu mengapa satu hari tidak selalu 24 jam? Pelajari hasil studi terbaru tentang Perlambatan Rotasi Bumi dan sejarah Panjang Hari di Bumi. Klik!
Misteri 24 Jam: Mengapa Durasi Hari di Bumi Terus Berubah?
Kita semua telah terbiasa bahwa satu hari di planet Bumi berlangsung selama 24 jam. Angka ini sudah menjadi patokan mutlak dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari jam kerja hingga perhitungan kalender.
TechnonesiaID - Namun, tahukah Anda bahwa durasi 24 jam ini hanyalah sebuah fase sementara dalam sejarah geologis planet kita? Fakta ilmiah terbaru menunjukkan bahwa Panjang Hari di Bumi tidak selalu stabil, dan saat ini, Bumi sedang berputar semakin lambat.
Baca Juga
Advertisement
Fenomena ini bukan terjadi dalam semalam. Ini adalah proses evolusi kosmik yang dipengaruhi oleh gaya-gaya alam semesta, terutama tarikan gravitasi Bulan. Penelitian mutakhir bahkan mengungkapkan adanya periode misterius di masa lalu ketika durasi satu hari bertahan sangat singkat, hanya sekitar 19 jam.
Artikel ini akan mengupas tuntas temuan ilmiah mengenai Perlambatan Rotasi Bumi, bagaimana para ilmuwan mengetahui fakta ini, dan implikasinya terhadap masa depan kehidupan di planet biru.
Kunci Perlambatan Rotasi Bumi: Peran Gravitasi Bulan dan Pasang Surut
Mengapa Bumi berputar semakin lambat? Biang keladinya bukanlah kerusakan mesin, melainkan tetangga kosmik kita: Bulan. Meskipun terlihat tenang di malam hari, Bulan memiliki pengaruh besar terhadap dinamika Bumi.
Baca Juga
Advertisement
Tarikan gravitasi Bulan menciptakan fenomena pasang surut di lautan Bumi. Saat air pasang, energi kinetik rotasi Bumi diubah menjadi energi panas melalui gesekan masif antara air laut dan dasar samudra. Proses gesekan inilah yang bertindak sebagai “rem alami” bagi planet kita.
Meskipun perlambatan ini sangat kecil (hanya sekitar 1,8 milidetik per abad), akumulasi dampaknya selama miliaran tahun telah mengubah total durasi Panjang Hari di Bumi dari masa ke masa.
Para geofisikawan telah lama mengetahui mekanisme ini, tetapi data spesifik mengenai durasi hari di era prasejarah masih menjadi teka-teki, hingga penelitian terbaru muncul.
Baca Juga
Advertisement
Studi Ilmiah yang Menguak Rahasia Durasi 19 Jam
Sebuah studi monumental yang dipimpin oleh Ross Mitchell, seorang geofisikawan dari Institute of Geology and Geophysics, Chinese Academy of Sciences, berhasil mengisi kekosongan data historis ini. Tim Mitchell menganalisis puluhan catatan geologis yang mencakup sejarah Bumi selama 2,5 miliar tahun.
Penelitian ini berfokus pada batuan sedimen kuno yang menyimpan jejak irama kosmik. Untuk melakukan analisis, mereka menggunakan metode canggih yang disebut siklostratigrafi.
Apa itu Siklostratigrafi?
Siklostratigrafi adalah ilmu yang mempelajari perubahan siklus dalam lapisan batuan sedimen. Perubahan ini, seperti ketebalan dan komposisi lapisan, sangat dipengaruhi oleh siklus astronomi, termasuk:
Baca Juga
Advertisement
- Siklus Milankovitch (perubahan kemiringan dan orbit Bumi).
- Siklus rotasi harian dan bulanan.
Dengan menganalisis pola yang terekam dalam batuan yang sangat tua—terutama dari era Proterozoikum dan Arkean—para ilmuwan dapat menghitung berapa lama tepatnya durasi satu hari pada masa batuan tersebut terbentuk.
Hasil penelitian tersebut sungguh mencengangkan: selama sekitar satu miliar tahun (mulai dari 2 miliar tahun lalu hingga 1 miliar tahun lalu), Panjang Hari di Bumi mengalami plateau. Durasi hari bertahan secara stabil di angka 19 jam, bukannya terus memanjang seperti yang diperkirakan.
4 Fakta Menarik Seputar Perlambatan Rotasi Bumi
Mengapa rotasi Bumi sempat “macet” di angka 19 jam sebelum akhirnya kembali melambat menuju durasi 24 jam saat ini? Ini melibatkan interaksi kompleks antara Bulan, lautan, dan atmosfer.
Baca Juga
Advertisement
Berikut adalah 4 Fakta Ilmiah Utama Perlambatan Rotasi Bumi yang mengubah pemahaman kita tentang sejarah planet:
- 1. Era 19 Jam: Keseimbangan yang Langka.
Fase stabil 19 jam ini terjadi ketika efek gesekan pasang surut yang menyebabkan perlambatan rotasi dinetralkan oleh mekanisme lain. Tim Mitchell menamai fenomena ini sebagai ‘titik resonansi’ atau Tidal-Atmosphere Resonance. - 2. Peran Keseimbangan Lautan dan Atmosfer.
Selama era 19 jam tersebut, atmosfer Bumi kemungkinan beresonansi dengan gelombang pasang surut termal yang disebabkan oleh pemanasan Matahari. Resonansi ini menghasilkan dorongan balik (pro-grade torque) yang menekan rotasi. Dorongan balik ini setara dengan daya pengereman gravitasi Bulan, menciptakan keseimbangan sempurna. - 3. Perlambatan Tidak Selalu Konstan.
Studi ini membuktikan bahwa proses Perlambatan Rotasi Bumi tidak berjalan linear. Ada periode percepatan singkat dan periode perlambatan yang mendominasi. Ini sangat bergantung pada distribusi massa di Bumi, terutama konfigurasi benua (seperti superbenua Rodinia) dan kondisi lautan. - 4. Masa Depan Hari Akan Jauh Lebih Panjang.
Saat ini, keseimbangan 19 jam sudah berakhir, dan Bulan terus menarik diri dari Bumi. Implikasinya, rotasi Bumi akan terus melambat. Beberapa miliar tahun dari sekarang, durasi satu hari di Bumi diprediksi bisa mencapai 50 hari atau bahkan lebih, tergantung pada evolusi sistem Bumi-Bulan.
Bagaimana Kehidupan Bertahan di Era Hari 19 Jam?
Periode ketika Panjang Hari di Bumi hanya 19 jam adalah periode penting dalam sejarah biologis, dikenal sebagai “Boring Billion” (Miliaran Tahun yang Membosankan), karena evolusi multiseluler terhenti. Namun, kehidupan uniseluler (bersel tunggal) sangat dominan.
Rotasi yang lebih cepat berarti suhu ekstrem antara siang dan malam lebih termoderasi. Ini mungkin membantu menstabilkan iklim global, menyediakan kondisi ideal bagi alga dan bakteri purba untuk berkembang pesat.
Baca Juga
Advertisement
Kehidupan purba, yang baru saja pulih dari glasiasi (Zaman Es), memanfaatkan durasi hari yang lebih pendek ini untuk fotosintesis dan pertumbuhan, sebelum akhirnya memasuki periode di mana hari kembali memanjang.
Dampak Perlambatan Rotasi terhadap Masa Depan Planet
Meskipun saat ini kita tidak merasakan perubahan 1,8 milidetik per abad, kita perlu memahami bahwa proses Perlambatan Rotasi Bumi memiliki konsekuensi jangka panjang yang signifikan.
Jika rotasi terus melambat, perbedaan suhu antara siang dan malam di masa depan akan menjadi semakin ekstrem. Hal ini disebabkan oleh paparan sinar Matahari yang jauh lebih lama, menciptakan suhu siang hari yang membakar dan malam hari yang membekukan.
Baca Juga
Advertisement
Selain itu, perlambatan rotasi juga mempengaruhi pola arus laut dan angin global. Perubahan arus ini dapat mengubah distribusi panas di planet, yang pada akhirnya akan memicu perubahan iklim drastis yang jauh melampaui masalah pemanasan global saat ini.
Perubahan ini menunjukkan betapa dinamisnya sistem Bumi-Bulan.
Baca Juga
Advertisement
Rotasi Bumi dan panjang hari adalah fitur planet yang tidak statis. Mereka adalah hasil dari miliaran tahun interaksi gravitasi, oseanografi, dan atmosfer. Penelitian seperti yang dipimpin oleh Ross Mitchell memberikan perspektif baru tentang sejarah planet kita dan memperkuat pemahaman kita tentang bagaimana bahkan kekuatan kecil seperti tarikan Bulan dapat membentuk dunia tempat kita tinggal.
Durasi 24 jam yang kita kenal hari ini hanyalah ‘cetakan waktu’ saat ini, yang akan terus memanjang di masa depan. Memahami sejarah Perlambatan Rotasi Bumi membantu kita memprediksi dinamika geologis planet dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan iklim kosmik dalam skala waktu yang jauh lebih besar.
Baca Juga
Advertisement
Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
- Instagram : @technonesia_id
- Facebook : Technonesia ID
- X (Twitter) : @technonesia_id
- Whatsapp Channel : Technonesia.ID
- Google News : TECHNONESIA