TechnonesiaID - Tren iPod lawas Gen Z saat ini sedang menjadi fenomena unik di tengah gempuran teknologi smartphone yang semakin canggih. Generasi yang lahir di era digital ini justru mulai meninggalkan kenyamanan streaming musik di ponsel pintar dan beralih kembali ke perangkat pemutar musik ikonik besutan Apple. Langkah ini mereka ambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk perlawanan terhadap ketergantungan berlebih pada media sosial dan notifikasi yang tiada henti.
Fenomena kembalinya gadget retro ini sebenarnya sudah terlihat sejak tren feature phone atau ponsel lipat jadul kembali diminati. Namun, kini fokus beralih ke iPod, perangkat yang sebenarnya sudah Apple suntik mati sejak tahun 2022 melalui varian terakhirnya, iPod Touch. Selama lebih dari dua dekade masa kejayaannya, Apple mencatat penjualan hingga 450 juta unit di seluruh dunia, yang membuat stok barang bekasnya melimpah di berbagai platform e-commerce.
Lonjakan Pencarian dan Harga di Pasar Global
Data terbaru menunjukkan bahwa minat terhadap perangkat ini bukan sekadar nostalgia sesaat. Berdasarkan laporan pasar, penelusuran kata kunci ‘iPod Classic‘ di eBay sepanjang awal tahun 2025 mengalami kenaikan signifikan sebesar 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tidak hanya model Classic, varian mungil seperti iPod Nano juga mencatatkan kenaikan pencarian hingga 20 persen dalam periode yang sama.
Baca Juga
Advertisement
Masifnya tren iPod lawas Gen Z ini berdampak langsung pada hukum ekonomi permintaan dan penawaran. Pemilik iPod lama mulai menyadari bahwa barang simpanan mereka kini menjadi incaran kolektor dan anak muda. Akibatnya, jumlah listing atau daftar barang yang dijual meningkat hingga 30 persen. Para penjual kini lebih berani mematok harga tinggi karena mengetahui adanya permintaan yang stabil dari pasar anak muda yang ingin tampil beda.
Sayangnya, popularitas yang meroket ini membuat harga jualnya menjadi tidak masuk akal bagi sebagian orang. Laporan pasar menyebutkan bahwa harga iPod bekas rata-rata naik hingga 60 persen dibandingkan tahun 2023. Bahkan, beberapa model langka dengan kondisi mulus atau New Old Stock (NOS) bisa menembus angka USD 600 atau sekitar Rp9,5 juta. Harga tersebut setara dengan unit iPhone 17e terbaru yang tentu memiliki fitur jauh lebih lengkap dan modern.
Alasan Utama di Balik Tren iPod Lawas Gen Z
Mengapa anak muda mau membayar mahal untuk teknologi yang sudah dianggap usang? Jawabannya terletak pada keinginan untuk melakukan digital detox. Menggunakan iPod memberikan pengalaman mendengarkan musik secara offline tanpa gangguan iklan maupun interupsi algoritma yang sering kali melelahkan di aplikasi streaming modern. Dengan iPod, pengguna memegang kendali penuh atas perpustakaan musik mereka sendiri.
Baca Juga
Advertisement
Faktor kesehatan mental juga menjadi pendorong kuat menguatnya tren iPod lawas Gen Z ini. Mendengarkan lagu melalui smartphone sering kali terdistraksi oleh notifikasi WhatsApp, email pekerjaan, atau godaan untuk membuka TikTok dan Instagram secara impulsif. iPod menawarkan fungsionalitas tunggal: hanya memutar musik. Kesederhanaan inilah yang dicari oleh generasi muda untuk mendapatkan ketenangan di tengah hiruk-pikuk dunia digital.
Selain itu, faktor regulasi di lingkungan pendidikan turut berperan. Banyak sekolah menengah maupun kampus yang kini menerapkan aturan ketat larangan membawa smartphone ke dalam area tertentu. Namun, iPod sering kali mendapatkan pengecualian karena perangkat ini dianggap tidak memiliki akses internet untuk menyontek atau bermain media sosial. Hal ini menjadikan iPod sebagai solusi legal bagi para pelajar yang ingin tetap menikmati musik saat jam istirahat atau di perpustakaan.
Estetika Y2K dan Kualitas Audio yang Jujur
Dari sisi gaya hidup, iPod memiliki desain estetika yang sangat cocok dengan tren Y2K yang sedang digandrungi. Desain click wheel yang ikonik memberikan sensasi taktil yang tidak bisa ditemukan pada layar sentuh iPhone mana pun. Gen Z menganggap memutar roda fisik pada iPod Classic sebagai pengalaman yang memuaskan secara sensorik. Perangkat ini bukan lagi sekadar alat pemutar lagu, melainkan aksesori fesyen yang menunjukkan karakter pemiliknya.
Baca Juga
Advertisement
Beberapa audiophile muda juga mulai menyadari bahwa mendengarkan file musik lokal dalam format berkualitas tinggi (lossless) di iPod memberikan kepuasan tersendiri. Tanpa adanya kompresi data yang biasanya terjadi pada transmisi Bluetooth, penggunaan earphone kabel pada iPod memberikan kualitas suara yang lebih jernih dan jujur. Hal ini memicu kembali penggunaan headphone kabel yang juga sempat dianggap ketinggalan zaman.
Melihat tren iPod lawas Gen Z yang terus tumbuh, para pakar teknologi mulai berspekulasi tentang langkah Apple selanjutnya. Tony Fadell, sosok yang dikenal sebagai “Bapak iPod”, berpendapat bahwa Apple seharusnya mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali lini ini. Namun, ia menyarankan agar Apple menghadirkan versi modern yang tetap mempertahankan esensi kesederhanaan iPod tanpa harus terhubung dengan ekosistem internet yang penuh distraksi.
Meskipun Apple hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan merilis model baru, komunitas modifikasi iPod justru semakin berkembang. Banyak pengguna yang kini melakukan upgrade mandiri pada iPod jadul mereka, seperti mengganti hard disk lama dengan kartu SD berkapasitas besar hingga 1TB atau mengganti baterai dengan daya tahan yang lebih lama. Inisiatif komunitas ini membuktikan bahwa kecintaan terhadap perangkat ini sangatlah mendalam.
Baca Juga
Advertisement
Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi tercanggih tidak selalu menjadi pilihan utama. Keinginan untuk kembali ke hal-hal yang sederhana dan fokus pada satu fungsi menjadi kemewahan baru di era modern. Selama kebutuhan akan ketenangan dan privasi tetap ada, maka tren iPod lawas Gen Z kemungkinan besar akan terus bertahan dan bahkan menjadi standar baru dalam gaya hidup minimalis digital.
- Instagram : @technonesia.id
- Facebook : Technonesia ID
- X (Twitter) : @technonesia_id
- Whatsapp Channel : Technonesia.ID
- Google News : TECHNONESIA