TechnonesiaID - Bahaya mencampur jenis BBM kini menjadi ancaman nyata bagi para pemilik kendaraan yang mencoba menyiasati lonjakan harga bahan bakar nonsubsidi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda berdampak langsung pada fluktuasi harga energi global, termasuk di Indonesia. Kondisi ini memicu sebagian pengguna mobil untuk melakukan eksperimen berisiko dengan menggonta-ganti atau mencampur bahan bakar demi menekan pengeluaran harian.
Namun, langkah penghematan semu ini justru menyimpan bom waktu yang siap menghancurkan komponen internal kendaraan Anda. Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, memberikan peringatan keras mengenai tren negatif ini. Menurutnya, tindakan tersebut tidak hanya menurunkan performa, tetapi juga mengancam keawetan mesin dalam jangka panjang.
Penggunaan bahan bakar dengan angka oktan yang lebih rendah dari rekomendasi pabrikan memiliki korelasi langsung terhadap efisiensi pembakaran. Ketika mesin dipaksa bekerja dengan bahan bakar yang tidak sesuai spesifikasi, sistem manajemen mesin akan kesulitan menyesuaikan waktu pengapian secara optimal.
Baca Juga
Advertisement
Mengenal Bahaya Mencampur Jenis BBM pada Mesin Modern
Memahami bahaya mencampur jenis BBM sangat penting, terutama bagi pemilik mobil keluaran terbaru. Yannes menjelaskan bahwa risiko utama dari penggunaan oktan rendah adalah suhu mesin yang meningkat drastis atau overheat. “Tenaga mesin akan drop secara signifikan, dan yang ironis, konsumsi bahan bakar justru menjadi lebih boros karena mesin bekerja ekstra keras,” ungkap Yannes saat dihubungi awak media.
Dalam kurun waktu pemakaian 10.000 hingga 20.000 kilometer, dampak buruk mulai terlihat secara fisik. Deposit karbon atau kerak hitam akan menumpuk di ruang bakar serta area injektor. Penumpukan residu ini mengakibatkan mesin terasa kasar saat posisi diam (idle), akselerasi yang tersendat-sendat (brebet), serta peningkatan emisi gas buang yang mencemari lingkungan.
Banyak pemilik kendaraan tidak menyadari bahwa bahaya mencampur jenis BBM dapat merusak komponen internal secara permanen. Mobil dengan teknologi induksi paksa seperti turbocharger atau kendaraan dengan rasio kompresi tinggi sangat rentan terhadap fenomena ini. Komponen seperti ring piston bisa mengalami keausan dini atau bahkan pecah jika terus-menerus dipaksa menahan ledakan pembakaran yang tidak stabil.
Baca Juga
Advertisement
Mengapa Mencampur Pertamax dan Pertalite Sangat Berisiko?
Praktik yang sering ditemukan di lapangan adalah mencampur bahan bakar oktan tinggi seperti Pertamax Turbo dengan varian di bawahnya seperti Pertamax biasa atau Pertalite. Banyak yang beranggapan bahwa mencampur keduanya akan menghasilkan angka oktan “tengah-tengah” dengan harga lebih murah. Padahal, asumsi ini sepenuhnya keliru dan berbahaya dari sisi teknis kimiawi.
Yannes menegaskan bahwa setiap jenis bahan bakar memiliki formulasi kimia yang spesifik. “Kami sangat tidak menyarankan mencampur Pertamax Turbo dengan bensin biasa. Kedua jenis ini memiliki komposisi aditif, tingkat densitas (massa jenis), serta karakteristik pembakaran yang jauh berbeda,” jelasnya. Ketidaksamaan karakteristik ini membuat proses homogenisasi di dalam tangki tidak akan pernah sempurna.
Selain penurunan tenaga, bahaya mencampur jenis BBM juga terlihat dari munculnya fenomena knocking atau mesin mengelitik secara sporadis. Pembakaran yang tidak merata menyebabkan ledakan di dalam silinder terjadi sebelum piston mencapai posisi optimal. Jika dibiarkan, getaran hebat dari knocking ini akan menghancurkan dinding silinder dan kepala piston dalam waktu singkat.
Baca Juga
Advertisement
Efek domino dari campuran bahan bakar yang tidak stabil ini juga menyasar sistem filtrasi. Endapan kimia hasil reaksi dua jenis BBM yang berbeda dapat menyumbat filter bensin. Hal ini tentu sangat fatal bagi mobil dengan sistem injeksi bertekanan tinggi seperti Common Rail pada mesin diesel modern atau Gasoline Direct Injection (GDI) pada mesin bensin.
Kerusakan pada sistem injeksi bukan perkara sepele. Injektor yang tersumbat atau rusak akibat kualitas bahan bakar yang buruk memerlukan biaya perbaikan yang sangat fantastis. “Kerusakan komponen injeksi bertekanan tinggi ini dalam jangka panjang bisa memaksa pemilik kendaraan merogoh kocek hingga belasan juta rupiah untuk perbaikan total,” tambah Yannes.
Mengingat bahaya mencampur jenis BBM yang begitu besar, pakar menyarankan agar masyarakat tetap patuh pada buku manual kendaraan. Setiap mesin telah dirancang dengan spesifikasi bahan bakar tertentu untuk mencapai efisiensi maksimal dan emisi terendah. Mengabaikan rekomendasi pabrikan hanya demi selisih harga beberapa ribu rupiah per liter adalah keputusan finansial yang buruk.
Baca Juga
Advertisement
Selain risiko teknis, penggunaan BBM yang tidak sesuai juga dapat menghanguskan garansi resmi dari diler. Pihak pabrikan biasanya melakukan pengecekan sampel bahan bakar jika terjadi kerusakan mesin yang tidak wajar. Jika ditemukan sisa campuran bahan bakar yang tidak sesuai standar, klaim garansi mesin Anda kemungkinan besar akan ditolak mentah-mentah.
Sebagai langkah bijak, pilihlah satu jenis bahan bakar yang paling sesuai dengan rasio kompresi mesin Anda dan gunakan secara konsisten. Konsistensi penggunaan satu jenis BBM membantu sensor-sensor pada mesin (seperti O2 sensor dan Knock sensor) bekerja lebih akurat dalam mengatur campuran udara dan bahan bakar.
Jadi, jangan pernah abaikan bahaya mencampur jenis BBM hanya karena ingin berhemat sesaat. Investasi terbaik bagi kendaraan Anda adalah memberikannya nutrisi yang tepat. Dengan menjaga kualitas bahan bakar, Anda tidak hanya merawat mesin, tetapi juga menjaga nilai jual kembali kendaraan tetap tinggi di masa depan.
Baca Juga
Advertisement
- Instagram : @technonesia.id
- Facebook : Technonesia ID
- X (Twitter) : @technonesia_id
- Whatsapp Channel : Technonesia.ID
- Google News : TECHNONESIA