Yang tidak kalah menarik, terdapat 19% konsumen online Indonesia yang hanya terpaut satu dimensi untuk dapat masuk kategori Savvy Shopper.
Baca Juga :
Jika Konsumen Cerdas dan kelompok yang hampir memenuhi kriteria tersebut digabungkan, proporsi Savvy dan near-Savvy Shoppers mencapai hampir setengah dari keseluruhan pasar.
Artinya, potensi pertumbuhan konsumen dengan pola belanja yang lebih matang masih sangat besar di Indonesia.
Selain jumlahnya cukup signifikan, Konsumen Cerdas juga tercatat mengeluarkan 19% lebih banyak setiap bulan untuk berbelanja di eCommerce dibandingkan Konsumen Biasa.
Baca Juga :
Ketika perbedaan tersebut dikaitkan dengan besarnya pasar eCommerce Indonesia, potensi selisih pengeluarannya diperkirakan mencapai Rp65 triliun pada 2026.
Angka tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perubahan perilaku konsumen dapat memberikan dampak ekonomi yang besar bagi industri digital.
Belanja Cerdas Bukan Berarti Mencari Harga Termurah
Salah satu temuan yang cukup menarik dari studi ini adalah cara Konsumen Cerdas melihat harga.
Baca Juga :
Kelompok tersebut ternyata tidak selalu memilih produk dengan harga paling rendah. Mereka justru berusaha mendapatkan kombinasi terbaik antara harga, promosi, keamanan, kepercayaan, dan manfaat yang diterima.
Sebanyak 34% Konsumen Cerdas bersedia membayar lebih untuk mendapatkan diskon yang lebih besar, dibandingkan hanya 24% Konsumen Biasa.
Kemudian, 36% Konsumen Cerdas memilih berbelanja pada momen tertentu untuk memperoleh nilai yang lebih baik. Sementara itu, 30% rela meluangkan waktu lebih banyak untuk membandingkan berbagai penawaran sebelum melakukan pembelian.
Baca Juga :
Dengan pola tersebut, keputusan belanja menjadi lebih terencana. Konsumen tidak terburu-buru mengambil produk hanya karena melihat harga murah, tetapi mempertimbangkan apakah transaksi tersebut benar-benar memberikan keuntungan.
Bahkan, 49% Konsumen Cerdas bersedia membayar lebih untuk meningkatkan perlindungan belanja. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan Konsumen Biasa yang berada di level 27%.
Selain itu, 39% Konsumen Cerdas bersedia menunggu lebih lama dengan memilih opsi pengiriman yang lebih lama apabila pilihan tersebut memberikan nilai terbaik.
Baca Juga :
Hal ini memperlihatkan adanya perubahan cara konsumen menentukan prioritas. Kecepatan memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keputusan pembelian.
Kepercayaan Tetap Jadi Pertimbangan Utama
Di tengah semakin banyaknya pilihan marketplace dan penjual online, kepercayaan tetap menjadi bagian penting dalam keputusan belanja.
Studi tersebut menunjukkan konsumen Indonesia relatif enggan mengorbankan aspek keaslian produk hanya demi mendapatkan harga yang lebih murah.
Hanya 9% konsumen yang bersedia membeli ketika tanda-tanda autentisitas produk terlihat lebih sedikit. Sementara itu, hanya 15% yang bersedia membeli produk dari penjual yang kurang dikenal.
Kedua angka tersebut berada di bawah rata-rata Asia Tenggara.
Temuan ini menunjukkan bahwa konsumen Indonesia semakin memahami risiko ketika bertransaksi secara online. Harga murah memang menarik, tetapi tidak otomatis menjadi alasan yang cukup untuk melakukan pembelian.