Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

HP 2 Jutaan Terbaik 2026: Rekomendasi Fitur Flagship Harga Irit

3 April 2026 | 15:53

Kacamata Pintar Nothing AI Siap Meluncur, Ini Bocoran Fiturnya

3 April 2026 | 15:22

Strategi Modal Ventura China: Beijing Guyur Dana Triliunan

3 April 2026 | 14:53
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • HP 2 Jutaan Terbaik 2026: Rekomendasi Fitur Flagship Harga Irit
  • Kacamata Pintar Nothing AI Siap Meluncur, Ini Bocoran Fiturnya
  • Strategi Modal Ventura China: Beijing Guyur Dana Triliunan
  • Dealer Motoplex 4 Brands Makassar Resmi Dibuka, Manjakan Konsumen
  • Jadwal MPL ID S17 Week 2 Hari Ini: Onic vs Geek Fam
  • Ketersediaan AirPods Max 2 Terbaru Melimpah di Berbagai Negara
  • Rekomendasi HP 2026 Terbaik: Pilihan Paling Worth It Tahun Ini
  • Krisis Pasokan Helium Global Ancam Produksi Chip Samsung
Jumat, April 3
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » 7 Fakta Ilmiah Kenapa Benua Afrika Terbelah Dua dan Samudra Baru Muncul
Berita Tekno

7 Fakta Ilmiah Kenapa Benua Afrika Terbelah Dua dan Samudra Baru Muncul

Olin SianturiOlin Sianturi1 Januari 2026 | 08:00
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Benua Afrika terbelah dua, Samudra baru di Afrika
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Fenomena geologi dahsyat! Benua Afrika terbelah dua perlahan membentuk Samudra baru di Afrika. Simak 7 fakta menakjubkan tentang EARS dan dampaknya.

Kabar mengenai terbelahnya Benua Afrika mungkin terdengar seperti plot film fiksi ilmiah, namun ini adalah proses geologis nyata yang sedang terjadi saat ini.

Perubahan drastis ini dipicu oleh aktivitas tektonik pada area yang dikenal sebagai Sistem Celah Afrika Timur, atau yang sering disingkat EARS (East African Rift System).

Baca Juga

  • Strategi Modal Ventura China: Beijing Guyur Dana Triliunan
  • Krisis Pasokan Helium Global Ancam Produksi Chip Samsung

Advertisement

Proses ini tidak hanya akan mengubah peta Afrika, tetapi juga bakal melahirkan sebuah samudra baru yang memisahkan benua tersebut menjadi dua bagian besar.

Meskipun prosesnya sangat lambat—bahkan lebih lambat dari gerakan siput—dampak jangka panjangnya sungguh masif. Mari kita telusuri mengapa fenomena ini terjadi, seberapa cepat perubahannya, dan apa saja fakta menarik di baliknya.

Mengapa Benua Afrika Terbelah Dua? Memahami Sistem Celah Afrika Timur (EARS)

Untuk memahami mengapa Benua Afrika terbelah dua, kita perlu menengok kembali pada dasar ilmu geologi: lempeng tektonik.

Baca Juga

  • Potensi Sungai Eufrat Mengering: Sains dan Nubuat Kiamat
  • Fenomena Antartika Berubah Hijau: Sinyal Positif bagi Bumi

Advertisement

Bumi terdiri dari lempeng-lempeng raksasa yang bergerak di atas mantel cair, dan ketika lempeng-lempeng ini berpisah, bertabrakan, atau bergeser, mereka menghasilkan berbagai fenomena geologis seperti gempa bumi dan gunung berapi.

Sistem Celah Afrika Timur (EARS) adalah contoh klasik dari batas lempeng divergen. Ini adalah zona retakan terbesar di dunia, membentang ribuan kilometer.

Zona EARS ini melintasi banyak negara, mulai dari Ethiopia di utara, melewati Kenya, Kongo, Uganda, Rwanda, Burundi, Zambia, Tanzania, Malawi, hingga Mozambique di selatan.

Baca Juga

  • Aplikasi WhatsApp Palsu Berbahaya Incar Pengguna, Meta Beri Peringatan
  • Prediksi Kiamat Matahari: Bumi Akan Musnah dalam 5 Miliar Tahun

Advertisement

Area ini merupakan titik di mana Lempeng Afrika (secara khusus, Lempeng Nubia dan Lempeng Somalia) sedang tertarik menjauh satu sama lain.

Ketika dua lempeng benua menjauh, kerak bumi meregang dan menipis. Lama kelamaan, peregangan ini menyebabkan pembentukan lembah retakan (rift valley) yang dalam, yang pada akhirnya akan terisi air laut.

Seberapa Cepat Perubahan Ini Berlangsung?

Salah satu fakta yang paling penting untuk ditekankan adalah skala waktu geologis yang terlibat. Fenomena terbelahnya Afrika ini tidak akan terjadi dalam semalam, seratus tahun, atau bahkan seribu tahun.

Baca Juga

  • Spesies Ular Terbang Langka Ditemukan di Kawasan Karst
  • Harga Poco X8 Pro Series Indonesia: Spek Gahar Baterai 8.500 mAh

Advertisement

Studi yang dilakukan pada tahun 2004 dan penelitian-penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa proses pemisahan ini berjalan dengan kecepatan yang luar biasa lambat.

Para ilmuwan memperkirakan lempengan ini bergerak hanya beberapa milimeter per tahun. Kecepatan ini kira-kira setara dengan kecepatan pertumbuhan kuku jari kita.

Sebagai perbandingan, diperlukan waktu antara 5 juta hingga 10 juta tahun agar keretakan tersebut cukup lebar dan dalam untuk menampung air laut, secara efektif menciptakan Samudra baru di Afrika.

Baca Juga

  • Misi Artemis 2 NASA: Empat Astronot Meluncur Menuju Orbit Bulan
  • Mobil Listrik Baterai Sodium-Ion BAIC Isi Full Cuma 11 Menit

Advertisement

Meskipun demikian, ini adalah bukti nyata bahwa peta dunia, meskipun terlihat permanen, sebenarnya terus berubah secara dinamis di bawah kaki kita.

7 Fakta Menarik Proses Terbentuknya Samudra Baru di Afrika

Proses terbelahnya benua ini adalah salah satu peristiwa geologis paling signifikan yang terjadi di zaman modern. Berikut adalah tujuh fakta penting mengenai fenomena EARS dan pembentukan Samudra baru di Afrika:

  • Tiga Lempeng Utama Bertemu: EARS adalah tempat pertemuan tiga lempeng tektonik utama: Lempeng Nubia, Lempeng Somalia, dan Lempeng Arab. Pemisahan terjadi ketika Lempeng Nubia dan Somalia menjauh dari Lempeng Arab.
  • Bukan Fenomena Baru: Meskipun kita membicarakannya sekarang, proses retakan ini sebenarnya sudah dimulai sejak sekitar 25 juta tahun yang lalu. EARS adalah hasil akumulasi dari jutaan tahun tekanan dan peregangan.
  • Zona Retakan Terbesar Dunia: EARS merupakan salah satu sistem celah terpanjang dan teraktif di permukaan bumi. Panjang totalnya diperkirakan mencapai lebih dari 6.400 kilometer.
  • Bukti Nyata Terkini: Pada tahun 2018, celah raksasa tiba-tiba muncul di Kenya setelah hujan lebat. Retakan ini, yang lebarnya mencapai puluhan meter dan kedalamannya signifikan, menjadi pengingat visual yang dramatis tentang aktivitas bawah tanah yang sedang terjadi.
  • Pembentukan Dua Benua Baru: Jika proses ini selesai, Afrika akan terbagi menjadi dua benua baru. Bagian yang terpisah, yang disebut Lempeng Somalia, akan mencakup Somalia, sebagian Ethiopia, dan Kenya, serta beberapa negara lain di sisi timur.
  • Menciptakan Lautan dan Cekungan: Ketika retakan mencapai dasar laut, air akan membanjiri celah tersebut. Retakan yang ada sekarang sudah menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Dalam jutaan tahun, koneksi ini akan meluas ke selatan, membentuk lautan baru.
  • Aktivitas Vulkanik Tinggi: Zona retakan adalah tempat di mana magma dari mantel naik mendekati permukaan. Ini menjelaskan mengapa EARS juga dikenal sebagai area dengan aktivitas gempa bumi dan gunung berapi yang tinggi, seperti Gunung Kilimanjaro dan Oldoinyo Lengai.

Dampak Jangka Panjang bagi Geografi Global

Ketika celah ini benar-benar terisi air, konsekuensinya akan terasa secara global.

Baca Juga

  • Pengembangan Antena 6G BRIN Fokus pada Performa Tinggi
  • Peretasan Email Bos FBI oleh Handala Ungkap Sisi Pribadi Patel

Advertisement

Pertama, akan terbentuk lautan dangkal baru yang kemudian akan melebar seiring berjalannya waktu geologis. Lautan ini akan memisahkan Benua Afrika Timur dari Afrika Barat.

Daratan yang saat ini meliputi Somalia, sebagian Kenya, dan Ethiopia akan menjadi pulau atau benua kecil tersendiri, terpisah oleh lautan yang semakin luas.

Perubahan ini juga akan berdampak pada pola cuaca, arus laut, dan tentu saja, keanekaragaman hayati di kedua daratan yang terpisah tersebut.

Baca Juga

  • Faktor Penentu Umur Manusia Ternyata Sudah Ada Sejak Lahir
  • Daftar Perusahaan Amerika Diancam Iran: IRGC Beri Peringatan

Advertisement

Saat ini, wilayah EARS sudah dicirikan oleh lanskap yang unik, termasuk danau-danau besar yang terbentuk di dalam lembah retakan, seperti Danau Tanganyika dan Danau Malawi.

Danau-danau ini adalah indikator awal dari apa yang suatu hari nanti akan menjadi dasar laut bagi Samudra baru di Afrika.

Benua Afrika Terbelah Dua: Proses Abadi Geologi Bumi

Proses terbelahnya benua ini mengingatkan kita bahwa planet kita adalah sistem yang hidup dan selalu berubah. Meskipun kita, sebagai manusia, hanya dapat menyaksikan pergerakan lempeng ini pada skala waktu yang sangat kecil, pergerakan tersebut tetap krusial.

Baca Juga

  • Dampak kebijakan tarif Trump Gagal Total Bawa Manufaktur ke AS
  • Ancaman Serangan Iran ke Raksasa Teknologi AS Picu Krisis Global

Advertisement

Fakta bahwa Benua Afrika terbelah dua adalah bukti nyata dari kekuatan dahsyat di bawah permukaan bumi yang terus membentuk kembali geografi dunia kita.

Dalam jutaan tahun mendatang, ketika anak cucu kita melihat peta dunia, mereka akan menyaksikan kehadiran samudra baru yang membagi Afrika, sebuah warisan dari aktivitas geologis yang dimulai hari ini.

Proses ini mungkin lambat, namun dampak akhirnya—penciptaan benua dan lautan baru—jelas merupakan salah satu fenomena alam paling menakjubkan yang pernah diamati oleh para ilmuwan.

Baca Juga

  • Layanan Robotaxi Grab Singapura Resmi Beroperasi di Punggol
  • Produksi Kartu Memori Sony Dihentikan Total, Industri Terguncang

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Benua Afrika EARS Geologi Lempeng Tektonik Samudra Baru
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleFakta 1 Penemuan Botol Palung Mariana: Sampah Terdalam Dunia 10,7 KM
Next Article 10 Perangkat Sedot Listrik Standby, Musuh Utama Tagihan Listrik Anda
Olin Sianturi
  • Website

Olin Sianturi adalah seorang Content Writer di Media TechnoNesia dan GadgetVIVA, berpengalaman dalam menulis artikel informatif dan SEO-friendly. Spesialisasinya mencakup teknologi, gadget, elektronik, game. Dengan gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami, Olin mampu menghadirkan konten berkualitas yang relevan dan bernilai bagi pembaca.

Artikel Terkait

Strategi Modal Ventura China: Beijing Guyur Dana Triliunan

Ana Octarin3 April 2026 | 14:53

Krisis Pasokan Helium Global Ancam Produksi Chip Samsung

Ana Octarin3 April 2026 | 12:22

Potensi Sungai Eufrat Mengering: Sains dan Nubuat Kiamat

Ana Octarin3 April 2026 | 09:53

Fenomena Antartika Berubah Hijau: Sinyal Positif bagi Bumi

Ana Octarin3 April 2026 | 07:22

Aplikasi WhatsApp Palsu Berbahaya Incar Pengguna, Meta Beri Peringatan

Iphan S3 April 2026 | 05:22

Prediksi Kiamat Matahari: Bumi Akan Musnah dalam 5 Miliar Tahun

Iphan S3 April 2026 | 03:22
Pilihan Redaksi
Gadget

Harga iPhone Terbaru 2024 Naik di iBox, Cek Rinciannya

Ana Octarin29 Maret 2026 | 02:54

Harga iPhone Terbaru 2024 terpantau mengalami lonjakan yang cukup signifikan di jaringan ritel resmi iBox…

Investasi Softbank di OpenAI: Pinjam Rp 679 Triliun dari Bank

31 Maret 2026 | 02:22

Harga Poco X8 Pro Series Indonesia: Spek Gahar Baterai 8.500 mAh

2 April 2026 | 23:22

Produksi Kartu Memori Sony Dihentikan Total, Industri Terguncang

1 April 2026 | 19:22

Spesifikasi OPPO Find X10 Pro Bocor: Bawa Tiga Kamera 200MP!

2 April 2026 | 21:22
Terbaru

Strategi Modal Ventura China: Beijing Guyur Dana Triliunan

Ana Octarin3 April 2026 | 14:53

Krisis Pasokan Helium Global Ancam Produksi Chip Samsung

Ana Octarin3 April 2026 | 12:22

Potensi Sungai Eufrat Mengering: Sains dan Nubuat Kiamat

Ana Octarin3 April 2026 | 09:53

Fenomena Antartika Berubah Hijau: Sinyal Positif bagi Bumi

Ana Octarin3 April 2026 | 07:22

Aplikasi WhatsApp Palsu Berbahaya Incar Pengguna, Meta Beri Peringatan

Iphan S3 April 2026 | 05:22
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.