TechnonesiaID - Penggunaan AI di Indonesia diproyeksikan mengalami lonjakan signifikan hingga mencapai 41 persen pada tahun 2030 mendatang. Tren kenaikan ini sejalan dengan masifnya adopsi teknologi kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari produktivitas kerja hingga hiburan. Laporan terbaru bertajuk Ericsson ConsumerLab 2026 mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini tidak hanya bergantung pada perangkat keras, tetapi juga membutuhkan sokongan infrastruktur yang mumpuni. Jaringan 5G kini muncul sebagai fondasi utama yang memungkinkan masyarakat menikmati ekosistem berbasis AI secara optimal dan tanpa hambatan.
Perubahan pola konsumsi data seluler menjadi salah satu indikator utama di balik fenomena ini. Pengguna di tanah air mulai bergeser dari sekadar penikmat konten pasif menjadi kreator konten yang aktif dan interaktif. Aktivitas seperti penyuntingan video berbasis AI secara langsung atau penggunaan filter augmented reality (AR) yang kompleks menuntut kemampuan uplink yang lebih kuat. Fenomena ini mempertegas bahwa penggunaan AI di Indonesia membutuhkan konektivitas yang stabil untuk mengirimkan data ke komputasi awan (cloud) secara real-time.
Urgensi Infrastruktur 5G bagi Penggunaan AI di Indonesia
Kecepatan respons atau latensi rendah kini menjadi standar baru dalam kepuasan pelanggan seluler. Saat seseorang menggunakan asisten virtual atau aplikasi penerjemah suara instan, keterlambatan data sekian milidetik saja dapat merusak pengalaman pengguna. Oleh karena itu, integrasi antara AI, teknologi cloud, dan jaringan seluler menjadi sebuah keharusan. Perangkat digital masa depan akan semakin rutin mengirimkan data ke cloud untuk proses pembelajaran mesin guna memberikan layanan yang lebih personal dan akurat kepada penggunanya.
Baca Juga
Advertisement
Pada tahun 2030, cakupan penggunaan AI di Indonesia diperkirakan akan meluas ke luar perangkat konvensional seperti ponsel pintar dan laptop. Laporan Ericsson memprediksi jumlah pengguna yang memanfaatkan AI pada perangkat wearable akan meningkat dua kali lipat. Kita akan melihat masyarakat semakin lazim menggunakan jam tangan pintar yang mampu memantau kesehatan secara prediktif, kacamata pintar dengan navigasi AR, hingga asisten pintar yang terintegrasi penuh di dalam kendaraan listrik mereka.
Ronni Nurmal, Head of Government & Industry Relations Ericsson Indonesia, menekankan pentingnya performa jaringan yang konsisten. Menurutnya, transisi menuju ekosistem AI di berbagai perangkat menuntut operator seluler untuk melakukan optimasi jaringan yang spesifik. Arsitektur jaringan masa depan harus mampu mengakomodasi pertumbuhan volume data yang masif serta keperluan uplink yang berkembang sangat pesat. Tanpa infrastruktur 5G yang merata, potensi penuh dari kecerdasan buatan tidak akan terserap secara maksimal oleh industri maupun masyarakat luas.
Transformasi Data Global dan Target Nasional
Secara global, adopsi jaringan 5G memang tidak menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Jumlah pelanggan 5G di seluruh dunia diprediksi menyentuh angka 2,9 miliar pada akhir 2025 dan akan terus meroket hingga 6,4 miliar pada tahun 2031. Dalam kurun waktu tersebut, lebih dari separuh trafik data seluler global akan berjalan di atas spektrum 5G. Di dalam negeri, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah menetapkan target ambisius agar jangkauan 5G bisa mencakup 32 persen wilayah Indonesia pada 2030 mendatang.
Baca Juga
Advertisement
Peningkatan konsumsi data juga menjadi sorotan utama dalam laporan ini. Rata-rata penggunaan data global mencapai 21 GB per smartphone setiap bulan pada 2025. Namun, untuk kawasan Asia Tenggara dan Oseania, angka ini diprediksi melonjak hingga 42 GB per bulan pada 2031. Lonjakan ini didorong oleh aplikasi berbasis video resolusi tinggi serta layanan berbasis AI yang memerlukan pertukaran data secara kontinu. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan AI di Indonesia akan menjadi mesin penggerak utama konsumsi data nasional di masa depan.
Ericsson ConsumerLab juga menggarisbawahi bahwa kualitas jaringan kini tidak lagi hanya diukur dari seberapa cepat seseorang bisa mengunduh file. Pengalaman aplikasi yang interaktif, seperti panggilan video berkualitas tinggi dengan latar belakang AI atau kolaborasi ruang kerja virtual, sangat bergantung pada kualitas uplink. Jaringan yang mampu mendukung interaksi AI secara cepat dan real-time akan menjadi pemenang dalam kompetisi industri telekomunikasi masa depan.
Membangun Ekonomi Digital Melalui AI dan 5G
Integrasi antara “AI untuk jaringan” dan “jaringan untuk AI” menjadi kunci dalam menciptakan layanan yang lebih adaptif. Dengan kecerdasan buatan, jaringan seluler dapat mengalokasikan sumber daya secara otomatis berdasarkan kebutuhan pengguna di titik tertentu. Di Indonesia, tren ini sudah mulai terlihat di mana satu dari lima orang telah memanfaatkan AI generatif untuk mengolah teks, suara, dan gambar dalam aktivitas harian mereka. Masifnya penggunaan AI di Indonesia ini diprediksi akan mengubah lanskap ekonomi kreatif secara total.
Baca Juga
Advertisement
Selain itu, fleksibilitas akses menjadi faktor penentu. Sekitar 46 persen aktivitas berbasis AI diprediksi akan terjadi di luar ruangan atau gedung. Hal ini menandakan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap koneksi seluler yang stabil di ruang publik akan semakin tinggi. Jaringan 5G bukan sekadar pembaruan teknologi, melainkan fondasi strategis untuk memperkuat ekonomi digital Indonesia dan menjadi jembatan menuju pengembangan teknologi 6G di masa depan.
Teknologi 5G memungkinkan lahirnya pengalaman digital baru yang sebelumnya sulit diimplementasikan, seperti analitik video real-time untuk keamanan kota cerdas (smart city) atau prosedur medis jarak jauh. Dengan pengalaman mengoperasikan 206 jaringan 5G aktif di 85 negara, Ericsson berkomitmen mendukung operator seluler di tanah air untuk mempercepat transformasi ini. Pada akhirnya, peningkatan penggunaan AI di Indonesia diharapkan dapat membawa bangsa ini menuju kedaulatan digital yang lebih kuat dan kompetitif di kancah global.
Baca Juga
Advertisement
- Instagram : @technonesia.id
- Facebook : Technonesia ID
- X (Twitter) : @technonesia_id
- Whatsapp Channel : Technonesia.ID
- Google News : TECHNONESIA