TechnonesiaID - Dunia aset kripto dikejutkan oleh insiden besar yang melibatkan salah satu bursa terkemuka Korea Selatan. Insiden kesalahan transfer Bitcoin Bithumb baru-baru ini mengakibatkan pergerakan dana fantastis, mencapai sekitar Rp 672 triliun, yang tiba-tiba berpindah tangan ke sejumlah nasabah tanpa disengaja.
Peristiwa yang terjadi pada Jumat (6/2) pekan lalu ini memaksa Bithumb, platform bursa kripto yang berbasis di Seoul, untuk segera mengambil tindakan darurat. Meskipun sebagian besar dana berhasil dipulihkan dengan cepat, insiden ini kembali menyoroti kerentanan operasional dan sistem kontrol internal yang dimiliki oleh bursa-bursa aset virtual global.
Manajemen Bithumb kemudian secara resmi menyampaikan permohonan maaf kepada publik dan seluruh nasabah yang terdampak. Mereka mengklaim telah berhasil memulihkan 99,7% dari total Bitcoin yang secara keliru didistribusikan, yang jumlahnya mencapai 620.000 BTC. Angka ini merupakan jumlah Bitcoin yang sangat masif, setara dengan sekitar 3% dari total pasokan Bitcoin yang beredar di seluruh dunia saat ini.
Baca Juga
Advertisement
Skala Kesalahan Transfer Bitcoin Bithumb dan Dampaknya
Insiden ini bermula dari niat promosi yang sederhana. Bithumb awalnya berencana untuk mengadakan sebuah acara promosi dengan membagikan hadiah uang tunai kecil, sekitar 2.000 won (setara Rp22.000) atau lebih, kepada setiap pengguna yang berpartisipasi. Namun, terjadi kesalahan fatal dalam sistem distribusi.
Para pemenang promosi tersebut, bukannya menerima hadiah tunai yang kecil, malah menerima setidaknya 2.000 Bitcoin untuk masing-masing akun. Nilai fantastis ini setara dengan puluhan miliar rupiah per nasabah, tergantung dari harga pasar Bitcoin pada saat itu. Sebanyak 695 nasabah dilaporkan terkena dampak langsung dari kesalahan sistem ini.
Untuk meminimalisir kerugian dan mencegah aset berpindah tangan lebih jauh, bursa tersebut langsung memberlakukan pembatasan ketat. Bithumb membatasi seluruh transaksi dan penarikan dana bagi nasabah yang terdampak selama 35 menit pada hari insiden tersebut terjadi. Tindakan cepat ini menjadi kunci keberhasilan pemulihan sebagian besar dana.
Baca Juga
Advertisement
Pihak Bithumb bersikeras bahwa insiden ini merupakan murni kesalahan operasional internal dan bukan disebabkan oleh faktor eksternal. Mereka menegaskan bahwa tidak ada indikasi peretasan eksternal atau pelanggaran keamanan sistem. Pernyataan ini bertujuan untuk meyakinkan pengguna bahwa keamanan sistem dan manajemen aset pelanggan tetap terjaga, meskipun terjadi kesalahan fatal pada proses distribusi hadiah.
Analisis Cepat Volatilitas Harga Bitcoin Pasca-Insiden
Meskipun Bithumb mengklaim insiden ini tidak terkait dengan masalah keamanan, pasar tetap bereaksi tajam. Seluruh pasar aset kripto Korea Selatan, yang dikenal sangat sensitif terhadap berita lokal, menunjukkan volatilitas mendadak. Harga Bitcoin di platform Bithumb mendadak anjlok sebesar 17% pada Jumat (6/2) sore.
Harga BTC sempat menyentuh angka 81,1 juta won di platform tersebut sebelum akhirnya mengalami pemulihan cepat. Dalam waktu singkat, harga kembali pulih dan stabil di sekitar 104,5 juta won. Volatilitas ekstrem dalam waktu singkat ini mencerminkan kepanikan pasar yang terjadi ketika rumor mengenai ‘transfer Bitcoin cuma-cuma’ beredar.
Baca Juga
Advertisement
Insiden ini juga memunculkan perbandingan mengenai posisi Bithumb di pasar domestik. Bithumb, meskipun merupakan salah satu bursa besar, masih dianggap belum semasif Upbit. Upbit saat ini mendominasi industri aset kripto Korea Selatan dan seringkali menjadi tolok ukur utama harga BTC di regional Asia.
Reaksi Regulator Korsel: Menyoroti Kerentanan Sistem
Insiden kesalahan transfer Bitcoin dengan skala sebesar ini tentu saja menarik perhatian serius dari otoritas keuangan Korea Selatan. Regulator keuangan Korsel, termasuk Komisi Layanan Keuangan (FSC), segera mengeluarkan pernyataan keras. Mereka menekankan bahwa insiden ini membuktikan adanya kerentanan signifikan dan risiko operasional yang melekat pada pengoperasian bursa aset virtual.
Regulator memandang bahwa meskipun dana berhasil dipulihkan, risiko yang ditimbulkan terhadap integritas pasar dan kepercayaan investor sangat tinggi. Kesalahan distribusi yang seharusnya hanya melibatkan ribuan won, namun berubah menjadi transfer triliunan rupiah, menunjukkan adanya cacat serius dalam sistem kontrol internal (Internal Control System) bursa tersebut.
Baca Juga
Advertisement
Setelah mengadakan pertemuan darurat untuk membahas krisis ini, para regulator mengumumkan rencana untuk meluncurkan inspeksi mendalam. Mereka berencana melakukan pemeriksaan langsung ke kantor Bithumb. Selain Bithumb, beberapa bursa kripto lainnya juga masuk dalam radar investigasi.
Tujuan utama inspeksi ini adalah untuk mengidentifikasi potensi pelanggaran hukum dan memastikan bahwa semua bursa mematuhi standar keamanan dan kontrol internal yang ditetapkan pemerintah. Apabila penyelidikan menemukan adanya kelalaian serius atau pelanggaran terhadap pedoman regulasi bursa kripto yang berlaku, sanksi berat dapat dijatuhkan, mulai dari denda besar hingga pembatasan operasional.
Pentingnya Pengawasan dan Kontrol Internal yang Ketat
Kasus Bithumb ini menjadi pengingat penting bagi seluruh ekosistem kripto global mengenai perlunya protokol keamanan dan pengujian sistem yang berlapis. Dalam industri di mana setiap transaksi bernilai tinggi dan bergerak dalam kecepatan tinggi, margin kesalahan harus ditekan hingga nol. Kesalahan kecil dalam kode atau konfigurasi dapat memicu kerugian finansial yang masif dan guncangan pasar.
Baca Juga
Advertisement
Regulasi yang lebih ketat, terutama di pasar aset kripto Korea Selatan yang sangat aktif, diharapkan dapat mendorong bursa untuk berinvestasi lebih banyak pada audit sistem independen dan pengujian penetrasi (penetration testing). Hal ini bertujuan untuk mencegah insiden serupa terulang, melindungi investor, dan menjaga stabilitas finansial di sektor aset digital yang masih berkembang pesat.
Kejadian ini juga memicu diskusi lebih lanjut mengenai bagaimana bursa menangani dana pengguna. Meskipun Bithumb berhasil mengklaim kembali sebagian besar BTC, keberhasilan pemulihan ini tidak meniadakan fakta bahwa sistem mereka sempat gagal dalam membedakan antara hadiah kecil promosi dan distribusi aset bernilai triliunan rupiah.
Langkah FSC Korea Selatan untuk menginspeksi bursa menunjukkan komitmen pemerintah dalam menanggapi risiko inheren dari aset virtual. Pasar kini menantikan hasil investigasi tersebut, yang kemungkinan besar akan menghasilkan pedoman operasional baru yang lebih ketat untuk semua penyedia layanan aset kripto di negara tersebut.
Baca Juga
Advertisement
- Instagram : @technonesia_id
- Facebook : Technonesia ID
- X (Twitter) : @technonesia_id
- Whatsapp Channel : Technonesia.ID
- Google News : TECHNONESIA