Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Galaxy Tab A11 Plus 5G: Chipset Dimensity, Layar 11 Inci, dan 7 Tahun Update

6 Januari 2026 | 04:00

5 Alasan Tablet Android Murah RAM Besar di Bawah 2 Juta Gantikan Laptop

6 Januari 2026 | 02:00

7 Alasan Samsung Galaxy Tab A11 Jadi Tablet Entry Level Paling Awet

6 Januari 2026 | 00:00
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Galaxy Tab A11 Plus 5G: Chipset Dimensity, Layar 11 Inci, dan 7 Tahun Update
  • 5 Alasan Tablet Android Murah RAM Besar di Bawah 2 Juta Gantikan Laptop
  • 7 Alasan Samsung Galaxy Tab A11 Jadi Tablet Entry Level Paling Awet
  • Waspada! 5 Fakta Ancaman Gempa Megathrust Dahsyat di Jawa-Sumatra
  • 5 Fakta Prosedur Masuk Gedung KTP: Langgar UU Perlindungan Data?
  • 7 Karyawan Dipecat Karena Skandal Keyboard Palsu, Ini Alasannya
  • Bill Gates Ungkap 3 Tanda Kiamat Bumi: Peran Indonesia dalam Perubahan Iklim
  • 7 Tanda WhatsApp Disadap dari Jauh dan Cara Ampuh Hentikan
Selasa, Januari 6
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Trending » 7 Tanda Kiamat di Nasi dan Susu: Kontaminasi Bakteri Mengancam Pangan
Trending

7 Tanda Kiamat di Nasi dan Susu: Kontaminasi Bakteri Mengancam Pangan

Olin SianturiOlin Sianturi11 Oktober 2025 | 01:08
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Dampak perubahan iklim pangan, Kontaminasi bakteri nasi susu
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Waspada, dampak perubahan iklim pangan kini terlihat pada nasi dan susu kita. Suhu global naik, risiko kontaminasi bakteri nasi susu mematikan meningkat drastis!

TechnonesiaID - Isu perubahan iklim seringkali terdengar seperti ancaman masa depan yang jauh. Namun, para ahli kini memperingatkan bahwa “tanda kiamat” tersebut sudah hadir di meja makan kita, tepatnya pada makanan pokok yang kita konsumsi sehari-hari: nasi dan susu.

Kenaikan suhu global bukan hanya menyebabkan banjir atau kekeringan, tapi juga secara langsung merusak rantai pasokan dan keamanan pangan. Makanan yang seharusnya menjadi sumber nutrisi kini berpotensi menjadi pembawa penyakit mematikan.

Baca Juga

  • Waspada! 5 Fakta Ancaman Gempa Megathrust Dahsyat di Jawa-Sumatra
  • 5 Fakta Terbaru Perkembangan IKN Awal 2026: Infrastruktur & Respon Warga

Advertisement

Bagaimana perubahan iklim yang terjadi di atmosfer bisa mempengaruhi sepiring nasi atau segelas susu? Dan apa yang bisa kita lakukan untuk melindungi diri dan keluarga dari ancaman serius ini?

Memahami Ancaman “Tanda Kiamat” pada Pangan Kita

Istilah “tanda kiamat” yang digunakan dalam konteks ini mengacu pada kerentanan sistemik yang diciptakan oleh krisis iklim. Ketika suhu bumi terus memanas, lingkungan menjadi sangat ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme berbahaya, terutama bakteri dan jamur.

Makanan pokok dan produk susu, yang memiliki kandungan air tinggi dan nutrisi, menjadi target utama. Kontaminasi yang terjadi tidak hanya merusak kualitas makanan, tetapi juga mengancam kesehatan publik secara masif, mulai dari keracunan ringan hingga kasus fatal.

Baca Juga

  • 3 Pilar Utama Karir Maya Hasan 2026: Kiprah Musik Harpa Indonesia Menggema
  • 5 Titik Fenomena Air Terjun Dadakan Lombok, Menguak Misteri ‘Gunung Menangis’

Advertisement

Ancaman ini bukan lagi teori. Sebuah studi kasus dari India menunjukkan bagaimana Sumitra Sutar, seorang wanita tua dari Maharashtra, menjadi korban dari ancaman yang muncul dari nasi sisa. Kondisi ini menyoroti bahwa kebiasaan menyimpan dan mengonsumsi makanan sisa yang dulu aman, kini menjadi jauh lebih berisiko.

Dampak Perubahan Iklim Pangan: Mengapa Nasi dan Susu Jadi Korban Utama?

Kita perlu memahami secara mendalam dampak perubahan iklim pangan. Mekanisme utamanya sederhana: panas adalah katalisator pertumbuhan mikroba. Ketika suhu lingkungan meningkat, “zona bahaya” suhu (antara 4°C hingga 60°C) menjadi lebih mudah tercapai dan dipertahankan dalam waktu yang lama.

Di wilayah tropis seperti Indonesia, kenaikan suhu global memperburuk kondisi ini. Makanan yang dimasak dan dibiarkan di suhu ruangan akan lebih cepat membusuk dan terkontaminasi.

Baca Juga

  • 3 Pesan Utama: Makna Natal dengan Empati PTPN III di Tengah Bencana
  • 3 Fakta Penting Danantara BRI Bantuan Aceh Tamiang Pasca Bencana

Advertisement

Ancaman Bacillus Cereus pada Nasi Sisa

Nasi, terutama nasi sisa yang didinginkan, sangat rentan terhadap spora bakteri bernama Bacillus Cereus. Bakteri ini tidak mati hanya dengan proses memasak biasa.

Ketika nasi dimasak, spora bakteri bisa bertahan hidup. Jika nasi dibiarkan mendingin perlahan di suhu kamar, spora tersebut akan berubah menjadi sel bakteri aktif dan mulai memproduksi racun. Gejala keracunan Bacillus Cereus termasuk mual, muntah, dan diare parah.

Kisah Sumitra Sutar, yang biasa mengonsumsi nasi dan kari lentil sisa, adalah contoh nyata. Lingkungan yang lebih panas membuat waktu aman penyimpanan nasi sisa menjadi sangat singkat, meningkatkan risiko ia terpapar racun dari Bacillus Cereus.

Baca Juga

  • 4 Alasan Bantuan Kemanusiaan Bali Padang Tempuh Jarak 2.500 Km
  • Peringatan Terbaru PBB: 4 Bahaya Kepadatan Jakarta Terpadat Dunia

Advertisement

Bahaya Kontaminasi Bakteri Nasi Susu yang Tak Terlihat

Produk susu juga berada dalam risiko yang sama besarnya, bahkan mungkin lebih kompleks. Kontaminasi bakteri nasi susu pada produk hewani sering dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat hewan dibesarkan.

Pemanasan global menyebabkan stres panas pada hewan ternak, seperti sapi. Stres ini melemahkan sistem imun mereka, membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi seperti mastitis. Jika tidak dikelola dengan baik, bakteri berbahaya seperti E. coli atau Salmonella dapat masuk ke dalam pasokan susu.

Selain bakteri, masalah lain yang meningkat adalah jamur. Kelembapan dan suhu tinggi sangat kondusif untuk pertumbuhan jamur pada pakan ternak. Jamur ini dapat menghasilkan racun berbahaya yang disebut Aflatoksin.

Baca Juga

  • 5 Fakta Salju Turun di Arab Saudi yang Menggegerkan Dunia
  • Terungkap! 7 Fakta Mencengangkan Dunia Lain Antartika yang Dihuni Ribuan Ikan

Advertisement

Aflatoksin ini kemudian berpindah ke susu yang diproduksi sapi. Aflatoksin adalah zat karsinogenik yang sangat berbahaya bagi hati manusia, dan ini menjadi ancaman serius bagi jutaan anak-anak yang mengonsumsi produk susu setiap hari.

Mengapa Kita Harus Khawatir dengan Keamanan Pangan Kita?

Isu ini melampaui keracunan makanan biasa. Dampak perubahan iklim pangan menciptakan tantangan besar bagi sistem kesehatan global:

  • Peningkatan Penyakit Zoonosis: Perubahan iklim mengubah pola migrasi hewan pembawa penyakit, meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia.
  • Resistensi Antibiotik: Ketika hewan ternak stres karena panas dan sering sakit, penggunaan antibiotik meningkat, yang pada akhirnya mempercepat laju resistensi antibiotik pada manusia.
  • Kerugian Ekonomi: Kerusakan pada hasil panen dan produk susu akibat kontaminasi menyebabkan kerugian finansial besar bagi petani dan industri pangan.

Inilah alasan mengapa krisis iklim adalah krisis kesehatan dan keamanan pangan. Kita tidak bisa lagi menganggap enteng kebiasaan penyimpanan dan pengolahan makanan.

Baca Juga

  • 3 Siklon Tropis Kepung RI: Peringatan BMKG Terbaru dan Dampaknya 2025
  • 3 Barang Laris Manis di Harbolnas 12.12: Ini Tips Belanja Sukses!

Advertisement

7 Strategi Wajib Lindungi Keluarga dari Krisis Pangan Modern

Meskipun ancaman ini bersifat global, ada langkah-langkah konkret yang bisa kita ambil di dapur kita sendiri untuk mengurangi risiko kontaminasi bakteri nasi susu dan makanan pokok lainnya. Berikut adalah 7 tips praktis berbasis keamanan pangan:

  • 1. Jangan Biarkan Makanan di Suhu Ruangan: Prinsip utama. Makanan matang (termasuk nasi) tidak boleh dibiarkan di luar kulkas lebih dari dua jam, atau hanya satu jam jika suhu lingkungan sangat panas (di atas 32°C). Ini adalah pertahanan utama melawan Bacillus Cereus.
  • 2. Segera Dinginkan Nasi: Jika Anda harus menyimpan nasi sisa, segera dinginkan dalam wadah dangkal yang tertutup rapat. Membiarkannya mendingin perlahan dalam panci besar justru menciptakan lingkungan ideal bagi spora untuk berevolusi.
  • 3. Panaskan Ulang Sampai Mendidih: Saat memanaskan ulang makanan sisa, pastikan makanan tersebut mencapai suhu internal minimal 75°C. Ini efektif membunuh bakteri aktif.
  • 4. Perhatikan Asal Susu dan Produk Segar: Jika membeli susu mentah, pastikan sumbernya tepercaya atau selalu pastikan susu telah melalui proses pasteurisasi yang benar untuk menghilangkan bakteri seperti E. coli atau Aflatoksin.
  • 5. Praktikkan Kebersihan Silang (Cross-Contamination): Selalu pisahkan makanan mentah (daging, unggas) dari makanan matang, baik saat berbelanja, menyimpan, maupun mengolah. Ini mencegah penyebaran bakteri antar makanan.
  • 6. Simpan di Suhu Tepat: Pastikan kulkas Anda bekerja pada suhu yang benar, yaitu di bawah 4°C. Suhu rendah memperlambat pertumbuhan bakteri secara signifikan.
  • 7. Buang Makanan yang Diragukan: Jika ada keraguan sedikit pun tentang bau, tekstur, atau durasi penyimpanan makanan, lebih baik buanglah. Kesehatan jauh lebih berharga daripada sisa makanan.

Kesimpulan

Ancaman dari dampak perubahan iklim pangan adalah nyata dan berdampak langsung pada kualitas hidup kita. Nasi dan susu, sebagai makanan pokok, menjadi barometer kerentanan sistem pangan global.

Meningkatnya risiko kontaminasi bakteri nasi susu menuntut kita untuk lebih cerdas dan disiplin dalam pengelolaan makanan di rumah. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana suhu memengaruhi makanan, kita dapat mengambil langkah proaktif untuk melindungi kesehatan keluarga kita di tengah krisis iklim yang semakin intensif ini.

Baca Juga

  • 3 Fakta Mencengangkan Munculnya Selat Muria Kembali Setelah 300 Tahun
  • 7 Topik Terpopuler Google 2025: Mengapa Nama Purbaya Paling Dicari?

Advertisement

Tanggung jawab ini bukan hanya pada pemerintah atau industri, tetapi dimulai dari dapur kita sendiri.


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia_id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Keamanan pangan Kontaminasi makanan Krisis pangan Pemanasan Global Perubahan Iklim
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous Article7 Alasan NextDev Telkomsel Tahun Ke-11 Jadi Inkubator Technopreneur AI
Next Article 5 Fakta Mengejutkan Omar Yaghi, Peraih Nobel Keturunan Pengungsi Palestina
Olin Sianturi
  • Website

Olin Sianturi adalah seorang Content Writer di Media TechnoNesia dan GadgetVIVA, berpengalaman dalam menulis artikel informatif dan SEO-friendly. Spesialisasinya mencakup teknologi, gadget, elektronik, game. Dengan gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami, Olin mampu menghadirkan konten berkualitas yang relevan dan bernilai bagi pembaca.

Artikel Terkait

Waspada! 5 Fakta Ancaman Gempa Megathrust Dahsyat di Jawa-Sumatra

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 22:00

Bill Gates Ungkap 3 Tanda Kiamat Bumi: Peran Indonesia dalam Perubahan Iklim

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 16:00

5 Fakta Terbaru Perkembangan IKN Awal 2026: Infrastruktur & Respon Warga

Olin Sianturi4 Januari 2026 | 16:00

3 Pilar Utama Karir Maya Hasan 2026: Kiprah Musik Harpa Indonesia Menggema

Olin Sianturi4 Januari 2026 | 02:00

5 Pemandangan Miris Saat Astronaut Lihat Bumi, Efek Pemanasan Global Terlihat Jelas

Olin Sianturi3 Januari 2026 | 04:00

3 Fakta Mengerikan: NASA Peringatkan Ancaman Kiamat Iklim Jakarta

Olin Sianturi3 Januari 2026 | 02:00
Pilihan Redaksi
Otomotif

Honda Vario 160 Street Edition 2025, Desain Berani Bakal Hadir dengan Setang Telanjang

Ana Octarin23 Agustus 2025 | 20:56

Honda Vario 160 Street Edition 2025 hadir dengan setang telanjang bergaya urban naked, desain agresif,…

5 Fitur Terbaik HyperOS 3 untuk Redmi Note 13 Pro & POCO M6 Pro

29 Desember 2025 | 16:00

Galaxy Tab A11 Plus 5G: Chipset Dimensity, Layar 11 Inci, dan 7 Tahun Update

6 Januari 2026 | 04:00

5 Keunggulan TCL Note A1 NxtPaper: Spesifikasi Pesaing Kindle Scribe

1 Januari 2026 | 16:00

Momoshiki Otsutsuki Resmi Hadir di Naruto to Boruto: Shinobi Striker (DLC #46)

1 Desember 2025 | 00:49
Terbaru

Waspada! 5 Fakta Ancaman Gempa Megathrust Dahsyat di Jawa-Sumatra

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 22:00

Bill Gates Ungkap 3 Tanda Kiamat Bumi: Peran Indonesia dalam Perubahan Iklim

Olin Sianturi5 Januari 2026 | 16:00

5 Fakta Terbaru Perkembangan IKN Awal 2026: Infrastruktur & Respon Warga

Olin Sianturi4 Januari 2026 | 16:00

3 Pilar Utama Karir Maya Hasan 2026: Kiprah Musik Harpa Indonesia Menggema

Olin Sianturi4 Januari 2026 | 02:00

5 Pemandangan Miris Saat Astronaut Lihat Bumi, Efek Pemanasan Global Terlihat Jelas

Olin Sianturi3 Januari 2026 | 04:00
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.