Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Infrastruktur Data Center Tier IV DRB Siap Dukung Revolusi AI

22 April 2026 | 23:55

Pajak Mobil Listrik 2026 Naik Signifikan, Melampaui Tarif LCGC

22 April 2026 | 22:55

Perlindungan Anak di Ruang Digital: YouTube Resmi Patuhi RI

22 April 2026 | 21:55
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Infrastruktur Data Center Tier IV DRB Siap Dukung Revolusi AI
  • Pajak Mobil Listrik 2026 Naik Signifikan, Melampaui Tarif LCGC
  • Perlindungan Anak di Ruang Digital: YouTube Resmi Patuhi RI
  • Spesifikasi Poco X8 Pro Indonesia: Baterai 6500mAh & IP68
  • Pembatasan Usia YouTube Indonesia Berlaku, Nasib YouTube Kids?
  • Mobil Balap Porsche 975 RSE: Senjata Baru di Formula E GEN4
  • Unduhan Game Among Us Tembus 1 Miliar di Google Play Store
  • Stok Mac Mini RAM Besar Langka, Diborong Untuk Olah AI Lokal?
Kamis, April 23
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Trending » 3 Fakta Mencengangkan Munculnya Selat Muria Kembali Setelah 300 Tahun
Trending

3 Fakta Mencengangkan Munculnya Selat Muria Kembali Setelah 300 Tahun

Olin SianturiOlin Sianturi7 Desember 2025 | 03:18
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Munculnya Selat Muria Kembali
Munculnya Selat Muria Kembali (foto: Google Maps)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Selat Muria kembali menjadi perbincangan setelah 300 tahun. Simak 3 alasan ilmiah di balik potensi Munculnya Selat Muria Kembali menurut ahli Geologi BRIN.

Kabar mengenai potensi kembalinya Selat Muria setelah menghilang selama tiga abad telah memicu diskusi luas, terutama setelah wilayah pesisir utara Jawa Tengah dilanda banjir besar. Dahulu kala, selat ini merupakan jalur air vital yang memisahkan daratan utama Jawa dengan Pulau Muria (tempat berdirinya Gunung Muria).

Namun, dalam rentang waktu sekitar 300 tahun, selat tersebut perlahan mengalami sedimentasi masif, mengubahnya menjadi daratan subur yang kita kenal sekarang.

Baca Juga

  • Sanksi Ban 10 Tahun CS2: MAUschine Pukul Lawan di Panggung
  • Pencairan Dana Konsinyasi PN Sumedang Picu Demo Ahli Waris

Advertisement

Fenomena banjir yang melanda Demak, Kudus, hingga Pati belakangan ini, di mana air bertahan dalam waktu lama, sontak mengingatkan pada kondisi geografis di masa lalu. Apakah ini sinyal alam bahwa Selat Muria benar-benar akan kembali?

Misteri di Balik Munculnya Selat Muria Kembali

Misteri di Balik Munculnya Selat Muria Kembali
Misteri di Balik Munculnya Selat Muria Kembali

Isu mengenai kembalinya jalur air bersejarah ini bukan sekadar cerita rakyat atau spekulasi. Ilmu geologi memberikan dasar kuat mengenai kerentanan wilayah tersebut terhadap perubahan. Wilayah pesisir utara Jawa, khususnya yang merupakan bekas Selat Muria, memiliki karakteristik tanah yang unik.

Pakar Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eko Soebowo, angkat bicara mengenai potensi ini. Ia mengakui bahwa kemungkinan Munculnya Selat Muria Kembali itu ada, namun penyebabnya lebih kompleks daripada sekadar banjir tahunan.

Baca Juga

  • Inovasi Kesehatan Perempuan Indonesia Lewat Forum AOFOG 2026
  • Serangan Molotov Sam Altman: Teror Anti-AI Guncang San Francisco

Advertisement

Menurut Eko, material sedimen yang mengisi bekas selat tersebut memiliki sifat yang mudah mengalami penurunan atau subsiden, terutama ketika mendapat beban tambahan.

“Materialnya itu kalau ada beban akan mudah mengalami penurunan,” jelasnya. Ini berarti bahwa faktor-faktor seperti tekanan air, pembangunan infrastruktur, hingga proses geologis alami memainkan peran yang jauh lebih besar.

Fakta Geologi Selat Muria: Mengapa Jawa Utara Rentan Tenggelam?

Bekas wilayah Selat Muria adalah cekungan yang diisi oleh endapan sungai dan material lumpur yang terbawa dari pegunungan di sekitarnya selama ribuan tahun. Material ini dikenal sebagai sedimen aluvial, yang cenderung tidak padat dan rentan terhadap kompresi.

Baca Juga

  • Agoda Ungkap Tren Gen Z Liburan Singkat tapi Makin Sering
  • Cahaya Misterius di Langit Bali Ternyata Roket China Jielong-3

Advertisement

Area ini meliputi kabupaten Pati, Kudus, Demak, hingga Grobogan. Dahulu, kota-kota yang sekarang berada di pedalaman seperti Demak dan Kudus merupakan kota pelabuhan yang sangat strategis.

Potensi Munculnya Selat Muria Kembali didasarkan pada kombinasi unik antara struktur geologi tanah yang “lunak” dengan tekanan lingkungan modern.

3 Alasan Ilmiah di Balik Potensi Munculnya Selat Muria Kembali

Berdasarkan analisis geologi dan kondisi lingkungan saat ini, setidaknya ada tiga faktor utama yang mendorong wilayah bekas Selat Muria ini rentan terhadap genangan air permanen (kembali menjadi selat):

Baca Juga

  • Insiden Pengeboman Rumah Sam Altman: Bos OpenAI Akui Banyak Salah
  • Hutan Kota di Bogor: Solusi Strategis Cegah Banjir & Longsor

Advertisement

1. Subsiden akibat Beban Material (Konsolidasi Sedimen)

Ketika material endapan yang belum sepenuhnya padat (seperti lumpur bekas selat) dibebani oleh air, bangunan, atau sedimen baru, air di dalamnya akan terdorong keluar. Proses ini menyebabkan tanah “menciut” atau turun. Fenomena ini dipercepat oleh tingginya curah hujan yang membuat tanah jenuh, menambah bobot dan mempercepat konsolidasi sedimen.

2. Eksploitasi Air Tanah Berlebihan

Baca Juga

  • Logistik Makanan Haji 2026: Pos Indonesia & Garuda Kirim 15 Ton
  • Tren Belanja Online Ramadan 2026: Penjualan Lazada Naik 3,5 Kali

Advertisement

Ini adalah faktor antropogenik (disebabkan manusia) yang paling signifikan di banyak wilayah pesisir Indonesia. Ketika air tanah yang berada di bawah lapisan tanah ditarik keluar secara masif, pori-pori di dalam tanah menjadi kosong. Lapisan sedimen di atasnya kemudian runtuh ke dalam ruang kosong tersebut, menyebabkan permukaan tanah turun secara permanen.

3. Peningkatan Permukaan Air Laut (Sea Level Rise)

Meskipun subsiden adalah masalah lokal, ancaman global dari pemanasan iklim tidak bisa diabaikan. Kenaikan muka air laut secara global tentu memperburuk keadaan di wilayah yang sudah mengalami penurunan tanah. Bahkan kenaikan permukaan laut yang kecil pun akan signifikan, karena sebagian besar wilayah bekas Selat Muria berada pada elevasi yang sangat rendah, mendekati atau bahkan di bawah permukaan laut saat pasang.

Baca Juga

  • Samsung dukung BTS World Tour ARIRANG, Galaxy S26 Ultra Jadi Sorotan
  • Batasan Usia Media Sosial Resmi Berlaku, 70 Juta Akun Diblokir

Advertisement

Fakta Geologi Selat Muria: Dari Jalur Perdagangan Emas hingga Daratan Subur

Selat Muria bukan hanya sekadar celah air, tetapi merupakan jalur perdagangan maritim yang sangat penting pada masanya. Selat ini menghubungkan pantai utara Jawa dengan pelabuhan-pelabuhan di sekitar Gunung Muria, memungkinkan kerajaan-kerajaan seperti Demak untuk mencapai puncak kejayaan maritim.

Wilayah seperti Jepara, yang sekarang dikenal sebagai kota ukir, dulunya adalah kota pesisir yang menghadap langsung ke laut lepas, yang saat ini harus melalui daratan yang luas.

Proses hilangnya Selat Muria sekitar 300 tahun lalu terjadi karena sedimentasi yang masif dan berkelanjutan. Sungai-sungai besar seperti Sungai Serang terus membawa material vulkanik dan aluvial dari pegunungan, mengisi cekungan selat sedikit demi sedikit hingga akhirnya menyatu dengan daratan Jawa.

Baca Juga

  • Lelang HP OPPO KPK Rp 59 Juta Viral, Ini Alasan Harga Melonjak
  • Waspada! 5 Fakta Ancaman Gempa Megathrust Dahsyat di Jawa-Sumatra

Advertisement

Saat ini, wilayah bekas selat tersebut dikenal sebagai dataran rendah yang sangat subur, menjadikannya lumbung pangan penting di Jawa Tengah.

Ancaman Tersembunyi di Pesisir Utara Jawa

Fenomena subsiden atau penurunan tanah bukanlah isu baru di Indonesia. Jakarta telah lama menghadapi masalah yang sama, namun potensi kembalinya Selat Muria membawa implikasi geologis dan historis yang unik.

Apabila tren penurunan tanah terus berlanjut tanpa penanganan yang tepat—terutama terkait pengendalian eksploitasi air tanah dan pembangunan yang tidak memperhatikan struktur geologis—maka wilayah yang dulunya adalah laut mungkin akan kembali menjadi laut.

Baca Juga

  • 5 Fakta Terbaru Perkembangan IKN Awal 2026: Infrastruktur & Respon Warga
  • 3 Pilar Utama Karir Maya Hasan 2026: Kiprah Musik Harpa Indonesia Menggema

Advertisement

BRIN menekankan pentingnya riset mendalam dan pemetaan geologi terperinci di wilayah pesisir Jawa Tengah.

Kita perlu memahami secara pasti seberapa cepat laju penurunan tanah di masing-masing area. Data ini krusial untuk menentukan kebijakan tata ruang dan mitigasi bencana banjir di masa depan.

Langkah Mitigasi dan Pengawasan

Untuk mencegah potensi tergenangnya wilayah bekas Selat Muria secara permanen, beberapa langkah mitigasi kritis harus segera diimplementasikan oleh pemerintah daerah dan pusat:

Baca Juga

  • 5 Titik Fenomena Air Terjun Dadakan Lombok, Menguak Misteri ‘Gunung Menangis’
  • 3 Pesan Utama: Makna Natal dengan Empati PTPN III di Tengah Bencana

Advertisement

  • Pengendalian Air Tanah: Memperketat regulasi mengenai izin pengeboran dan penggunaan air tanah industri maupun rumah tangga untuk mengurangi laju subsiden.
  • Penguatan Infrastruktur Pantai: Pembangunan sistem drainase yang lebih baik, tanggul laut (sea wall), dan pembangunan infrastruktur yang adaptif terhadap perubahan iklim dan penurunan tanah.
  • Restorasi Ekosistem Pesisir: Penanaman kembali hutan mangrove dan vegetasi pantai sebagai penahan alami terhadap abrasi dan intrusi air laut.
  • Pemetaan Berkelanjutan: Melakukan pemantauan laju subsiden secara berkala menggunakan teknologi GPS geodetik dan citra satelit.

Kemungkinan Munculnya Selat Muria Kembali bukanlah sekadar ramalan, melainkan skenario geologis yang didukung oleh data ilmiah, terutama mengenai kerapuhan tanah di wilayah tersebut.

Meskipun banjir besar memicu kecurigaan, akar masalahnya terletak pada penurunan tanah yang dipercepat oleh faktor alam dan aktivitas manusia. Para ahli dari BRIN telah memberikan peringatan bahwa jika kita tidak segera bertindak untuk mengelola air tanah dan membangun dengan bijak, warisan sejarah yang hilang ini mungkin akan kembali, namun kali ini sebagai bencana ekologis dan ekonomi.

Menjaga wilayah pesisir Jawa Tengah agar tetap menjadi daratan subur memerlukan sinergi antara kebijakan pemerintah, penerapan teknologi mitigasi, dan kesadaran masyarakat akan kerentanan lingkungan di sekitar mereka.

Baca Juga

  • 3 Fakta Penting Danantara BRI Bantuan Aceh Tamiang Pasca Bencana
  • 4 Alasan Bantuan Kemanusiaan Bali Padang Tempuh Jarak 2.500 Km

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Banjir Jawa Tengah BRIN Geologi Indonesia Selat Muria Subsidence
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous Article5 Alasan Ilmiah Belanja Online Saat Stres, Ternyata Ada Dopamin!
Next Article Prediksi Elon Musk: Masa Depan Kerja Manusia akan Berubah Drastis 20 Tahun Lagi!
Olin Sianturi
  • Website

Olin Sianturi adalah seorang Content Writer di Media TechnoNesia dan GadgetVIVA, berpengalaman dalam menulis artikel informatif dan SEO-friendly. Spesialisasinya mencakup teknologi, gadget, elektronik, game. Dengan gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami, Olin mampu menghadirkan konten berkualitas yang relevan dan bernilai bagi pembaca.

Artikel Terkait

Sanksi Ban 10 Tahun CS2: MAUschine Pukul Lawan di Panggung

Olin Sianturi22 April 2026 | 00:55

Pencairan Dana Konsinyasi PN Sumedang Picu Demo Ahli Waris

Olin Sianturi18 April 2026 | 06:55

Inovasi Kesehatan Perempuan Indonesia Lewat Forum AOFOG 2026

Olin Sianturi15 April 2026 | 15:55

Serangan Molotov Sam Altman: Teror Anti-AI Guncang San Francisco

Olin Sianturi15 April 2026 | 03:55

Agoda Ungkap Tren Gen Z Liburan Singkat tapi Makin Sering

Olin Sianturi14 April 2026 | 21:10

Fosil Gajah Purba Bumiayu Berusia 1,8 Juta Tahun Ditemukan

Ana Octarin13 April 2026 | 06:55
Pilihan Redaksi
Aplikasi

7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Olin Sianturi1 Februari 2026 | 00:59

Persaingan di dunia konten digital semakin memanas. Khususnya di TikTok, platform video pendek yang kini…

Mitigasi Penyalahgunaan Nama Domain: PANDI dan TNN Kolaborasi

18 April 2026 | 12:55

Blokir Wikipedia di Indonesia Segera Berlaku Jika Tak Daftar PSE

21 April 2026 | 18:55

Stop Jengkel! 7 Cara Ampuh Hapus Iklan di Android yang Muncul Tiba-tiba

16 Oktober 2025 | 02:08

Produksi AirTag di Batam Resmi Diekspor ke Amerika Serikat

21 April 2026 | 13:55
Terbaru

Sanksi Ban 10 Tahun CS2: MAUschine Pukul Lawan di Panggung

Olin Sianturi22 April 2026 | 00:55

Pencairan Dana Konsinyasi PN Sumedang Picu Demo Ahli Waris

Olin Sianturi18 April 2026 | 06:55

Inovasi Kesehatan Perempuan Indonesia Lewat Forum AOFOG 2026

Olin Sianturi15 April 2026 | 15:55

Serangan Molotov Sam Altman: Teror Anti-AI Guncang San Francisco

Olin Sianturi15 April 2026 | 03:55

Agoda Ungkap Tren Gen Z Liburan Singkat tapi Makin Sering

Olin Sianturi14 April 2026 | 21:10
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.