Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Masa Depan Teknologi AI dan Dampaknya pada Pekerjaan

22 Mei 2026 | 13:55

Penjualan Ritel Daihatsu Meroket, Sigra dan Gran Max Juara

22 Mei 2026 | 12:55

Jadwal MPL ID S17 Hari Ini: Perebutan Tiket Playoff Memanas

22 Mei 2026 | 11:55
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Masa Depan Teknologi AI dan Dampaknya pada Pekerjaan
  • Penjualan Ritel Daihatsu Meroket, Sigra dan Gran Max Juara
  • Jadwal MPL ID S17 Hari Ini: Perebutan Tiket Playoff Memanas
  • Kode Redeem FC Mobile Terbaru 22 Mei 2026: Klaim TOTS Gratis
  • Samsung Galaxy Tab A11: Tablet 5G Murah dengan Fitur AI
  • Layanan Haji Telkom Group Perkuat Sinyal di Arab Saudi
  • Mobil Listrik iCar V23 Laku Keras Walau Tanpa Harga Resmi
  • Game Horor Laut Dalam Open Waters Siap Uji Nyali Anda
Jumat, Mei 22
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » Gelar hukum dan kedokteran Disebut Sia-sia Karena AI?
Berita Tekno

Gelar hukum dan kedokteran Disebut Sia-sia Karena AI?

Ana OctarinAna Octarin5 April 2026 | 05:22
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Gelar hukum dan kedokteran
Gelar hukum dan kedokteran (Foto: www.cnbcindonesia.com)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Gelar hukum dan kedokteran kini tengah menjadi sorotan tajam di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI yang semakin tidak terbendung. Pernyataan kontroversial ini muncul dari Jad Tarifi, sosok yang dikenal sebagai pendiri tim AI generatif pertama di Google. Menurut pandangannya, investasi waktu bertahun-tahun yang dikorbankan mahasiswa untuk meraih gelar di bidang hukum atau medis berisiko menjadi langkah yang sia-sia.

Tarifi memberikan peringatan serius bahwa kecepatan inovasi AI akan jauh melampaui waktu yang dibutuhkan seseorang untuk menyelesaikan pendidikan profesinya. Saat seorang mahasiswa akhirnya lulus dan siap terjun ke dunia kerja, teknologi AI diprediksi sudah mencapai level yang mampu menangani tugas-tugas kompleks yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh manusia. Hal ini menciptakan celah besar antara apa yang dipelajari di bangku kuliah dengan kebutuhan industri yang sudah terdisrupsi.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Untuk mendapatkan gelar hukum dan kedokteran, seorang individu biasanya harus menghabiskan waktu hampir satu dekade, mulai dari masa perkuliahan, praktik kerja, hingga sertifikasi profesi. Durasi yang sangat panjang ini menjadi titik lemah di era digital yang bergerak dalam hitungan bulan, bukan lagi tahun.

Baca Juga

  • Masa Depan Teknologi AI dan Dampaknya pada Pekerjaan
  • Layanan Haji Telkom Group Perkuat Sinyal di Arab Saudi

Advertisement

Relevansi Gelar Hukum dan Kedokteran di Tengah Dominasi AI

Jad Tarifi menekankan bahwa pada saat seseorang menyelesaikan gelar PhD atau spesialisasi tertentu, teknologi AI mungkin sudah menyelesaikan masalah-masalah teknis yang selama ini menjadi inti dari pendidikan tersebut. “AI sendiri akan hilang dalam artian menyatu dengan sistem saat Anda menyelesaikan gelar PhD. Bahkan hal-hal seperti penerapan AI pada robotika akan terpecahkan saat itu,” ujar Tarifi dalam sebuah wawancara yang dikutip dari Fortune.

Kritik utama Tarifi tertuju pada metode pendidikan konvensional yang masih sangat mengandalkan sistem hafalan. Di sekolah kedokteran, mahasiswa dituntut menghafal ribuan terminologi medis dan prosedur klinis. Sementara itu, di fakultas hukum, mahasiswa harus menguasai tumpukan pasal dan preseden hukum yang sangat masif. Padahal, database AI mampu mengakses dan memproses informasi tersebut dalam hitungan detik dengan akurasi yang terus meningkat.

Kondisi ini membuat mahasiswa yang mengejar gelar hukum dan kedokteran berpotensi masuk ke pasar tenaga kerja dengan bekal pengetahuan yang sudah usang. Ketika kurikulum pendidikan belum sempat diperbarui, teknologi AI sudah melangkah ke tahap berikutnya, menciptakan standar kerja baru yang mungkin tidak lagi memerlukan intervensi manusia untuk tugas-tugas administratif dan analisis data dasar.

Baca Juga

  • Pasar Smartphone Asia Tenggara Lesu, Samsung Malah Berjaya
  • Strategi Laptop Acer Hadapi MacBook Neo dan Rupiah Lemah

Advertisement

Disrupsi Akademik dan Percepatan Inovasi

Bukan hanya gelar profesi dasar, Tarifi juga menyoroti gelar akademik lanjutan seperti PhD. Ia berpendapat bahwa nilai tambah dari gelar tersebut kian menyusut karena percepatan inovasi di bidang AI melampaui waktu penyelesaian riset. Seringkali, temuan riset yang dilakukan selama bertahun-tahun sudah ditemukan atau dipecahkan oleh algoritma AI sebelum disertasi tersebut diterbitkan.

Dunia medis, misalnya, sudah mulai merasakan dampak ini melalui penggunaan AI dalam diagnosis radiologi dan penemuan obat baru. Di sisi lain, dunia hukum mulai menggunakan AI untuk meninjau ribuan dokumen kontrak dalam waktu singkat. Tantangan bagi pemilik gelar hukum dan kedokteran adalah membuktikan bahwa mereka memiliki nilai lebih yang tidak bisa sekadar digantikan oleh barisan kode pemrograman.

Tarifi berargumen bahwa keberhasilan di masa depan tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak kredensial akademik atau gelar yang berderet di belakang nama seseorang. Fokus utama akan bergeser pada kemampuan individu untuk beradaptasi dengan alat-alat teknologi sambil tetap mempertahankan esensi kemanusiaannya.

Baca Juga

  • Prosesor AMD Ryzen AI Max Rilis, Dukung RAM Jumbo 192GB
  • Laporan Keuangan SpaceX Bocor: Rugi Triliunan Demi AI

Advertisement

Keterampilan Manusia yang Tak Tergantikan Mesin

Meskipun prediksi ini terdengar suram bagi dunia akademisi, Tarifi memberikan solusi bagi generasi muda. Ia menyarankan agar mahasiswa tidak hanya terpaku pada pengumpulan gelar, tetapi mulai mengasah keterampilan yang tidak mudah ditiru oleh kecerdasan buatan. Kemampuan berempati, kesadaran emosional, dan hubungan antarmanusia yang kuat adalah aset yang akan tetap mahal harganya.

Seorang dokter mungkin bisa digantikan oleh AI dalam hal mendiagnosis penyakit berdasarkan gejala klinis, namun AI tidak bisa memberikan dukungan emosional kepada pasien yang sedang menghadapi masa sulit. Begitu pula dengan pengacara; meskipun AI mampu menyusun draf kontrak, kemampuan negosiasi yang melibatkan intuisi dan pemahaman mendalam terhadap psikologi lawan bicara tetap menjadi domain manusia.

Oleh karena itu, pemegang gelar hukum dan kedokteran di masa depan harus mampu memposisikan diri sebagai mitra teknologi, bukan pesaing. Pengembangan diri secara emosional dan keterampilan interpersonal menjadi kunci agar tetap relevan di pasar kerja yang semakin kompetitif dan terotomatisasi.

Baca Juga

  • Operasi Intelijen Digital Jadi Sorotan BSSN di Forum Nasional
  • Aturan Wajib Nomor HP Medsos Didukung XL, Ini Detailnya

Advertisement

Pergeseran paradigma ini menuntut institusi pendidikan untuk segera merombak kurikulum mereka. Pendidikan tidak boleh lagi hanya berfokus pada transfer informasi, melainkan pada pengembangan perspektif unik dan pemecahan masalah yang kreatif. Tanpa transformasi ini, kekhawatiran Tarifi mengenai waktu yang terbuang sia-sia bisa menjadi kenyataan bagi banyak lulusan baru.

Pada akhirnya, teknologi memang akan mengubah cara kerja banyak profesi secara fundamental. Namun, perubahan ini seharusnya dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas layanan manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Tantangan besar bagi siapa pun yang sedang menempuh gelar hukum dan kedokteran adalah memastikan bahwa mereka belajar untuk menjadi lebih manusiawi di tengah dunia yang semakin digital.

Baca Juga

  • Verifikasi nomor HP medsos wajib, operator seluler siap dukung
  • Integrasi Jaringan XLSmart Capai 70%, Sinyal 5G Meluas

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Jad Tarifi karir masa depan Kecerdasan Buatan Pendidikan Tinggi Teknologi AI
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleChatGPT di Apple CarPlay: Cara Pakai dan Fitur Unggulannya
Next Article Tablet Windows Terbaik 2026: 6 Pilihan untuk Skripsi & Editing
Ana Octarin
  • Website

Ana Octarin adalah seorang Penulis Berita yang fokus pada teknologi, otomotif, serta tips dan trik seputar kehidupan digital. Dengan gaya bahasa yang lugas, informatif, dan mudah dipahami, Ana mampu menghadirkan konten yang tidak hanya relevan tetapi juga bermanfaat bagi pembaca. Berbekal pengalaman dalam menulis artikel SEO-friendly, Ana konsisten menyajikan berita terkini, ulasan mendalam, hingga panduan praktis yang membantu audiens tetap update dan melek teknologi.

Artikel Terkait

Masa Depan Teknologi AI dan Dampaknya pada Pekerjaan

Iphan S22 Mei 2026 | 13:55

Layanan Haji Telkom Group Perkuat Sinyal di Arab Saudi

Iphan S22 Mei 2026 | 08:55

Pasar Smartphone Asia Tenggara Lesu, Samsung Malah Berjaya

Ana Octarin22 Mei 2026 | 03:55

Strategi Laptop Acer Hadapi MacBook Neo dan Rupiah Lemah

Ana Octarin21 Mei 2026 | 22:55

Prosesor AMD Ryzen AI Max Rilis, Dukung RAM Jumbo 192GB

Ana Octarin21 Mei 2026 | 17:55

Laporan Keuangan SpaceX Bocor: Rugi Triliunan Demi AI

Iphan S21 Mei 2026 | 12:55
Pilihan Redaksi
Aplikasi

7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

Olin Sianturi1 Februari 2026 | 00:59

Persaingan di dunia konten digital semakin memanas. Khususnya di TikTok, platform video pendek yang kini…

Muka Air Danau Toba Menyusut, Ribuan Ikan Terancam Mati

20 Mei 2026 | 08:55

Monitor Huawei Qingyun M273U: Spek 4K 160Hz untuk Profesional

19 Mei 2026 | 22:55

The Frame dan Music Frame Samsung: Inovasi Aesthetic yang Bikin Ruangan Naik Kelas ala Naura Ayu

28 November 2025 | 22:38

Mobil Listrik iCar V23 Laku Keras Walau Tanpa Harga Resmi

22 Mei 2026 | 07:55
Terbaru

Masa Depan Teknologi AI dan Dampaknya pada Pekerjaan

Iphan S22 Mei 2026 | 13:55

Layanan Haji Telkom Group Perkuat Sinyal di Arab Saudi

Iphan S22 Mei 2026 | 08:55

Pasar Smartphone Asia Tenggara Lesu, Samsung Malah Berjaya

Ana Octarin22 Mei 2026 | 03:55

Strategi Laptop Acer Hadapi MacBook Neo dan Rupiah Lemah

Ana Octarin21 Mei 2026 | 22:55

Prosesor AMD Ryzen AI Max Rilis, Dukung RAM Jumbo 192GB

Ana Octarin21 Mei 2026 | 17:55
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.