Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Tablet Murah untuk Menulis: 3 Rekomendasi Terbaik Harga 2 Jutaan

31 Maret 2026 | 00:54

Aturan Batas Usia Media Sosial: Komdigi Tegur TikTok-Roblox

31 Maret 2026 | 00:22

Harga Kia Carnival 2024 OTR Jakarta, Cek Spek Mewah 11 Seater

30 Maret 2026 | 23:54
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Tablet Murah untuk Menulis: 3 Rekomendasi Terbaik Harga 2 Jutaan
  • Aturan Batas Usia Media Sosial: Komdigi Tegur TikTok-Roblox
  • Harga Kia Carnival 2024 OTR Jakarta, Cek Spek Mewah 11 Seater
  • Sengketa Apple vs The Beatles: Sejarah Konflik Hingga Damai
  • Rekomendasi Oven Listrik Hemat Daya di Bawah 1,5 Juta
  • Bahaya Nasihat AI Chatbot: Studi Stanford Ungkap Sisi Gelap
  • Harga BMW 520i M Sport 2025: Kemewahan Eksekutif Rakitan Lokal
  • Quick Share Samsung Apple Kini Tersedia di Perangkat Galaxy Lama
Selasa, Maret 31
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » 3 Alasan RI Susah Pindah ke 5G, Bikin Internet Lambat!
Berita Tekno

3 Alasan RI Susah Pindah ke 5G, Bikin Internet Lambat!

Olin SianturiOlin Sianturi30 September 2025 | 13:35
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Alasan RI Susah Pindah ke 5G
Alasan RI Susah Pindah ke 5G (foto: Istimewa)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Penasaran kenapa internet belum ngebut? Temukan 3 alasan mengejutkan RI susah pindah ke 5G, mulai dari biaya tinggi hingga infrastruktur.

Kita semua bermimpi tentang era internet super cepat, di mana download film 4K hanya butuh kedipan mata dan meeting online bebas dari kata “halo, putus-putus”. Jaringan 5G adalah tiket menuju masa depan itu. Namun, mengapa rasanya di Indonesia perkembangannya begitu lambat? Padahal negara lain sudah berlari kencang.

Banyak yang mengira masalahnya hanya soal teknis. Ternyata, ada faktor-faktor fundamental yang jauh lebih kompleks di baliknya. Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) baru-baru ini menyoroti salah satu kendala terbesarnya, dan itu hanyalah puncak dari gunung es. Mari kita bedah satu per satu.

Baca Juga

  • Aturan Batas Usia Media Sosial: Komdigi Tegur TikTok-Roblox
  • Bahaya Nasihat AI Chatbot: Studi Stanford Ungkap Sisi Gelap

Advertisement

Terungkap! 3 Alasan Utama RI Susah Pindah ke 5G

Jika Anda bertanya-tanya mengapa sinyal 5G masih sulit ditemukan di ponsel Anda, jawabannya tidak sederhana. Ini adalah kombinasi dari beban biaya yang berat bagi operator, tantangan infrastruktur yang masif, dan perilaku pasar yang unik di Indonesia. Inilah perkembangan jaringan 5G Indonesia yang sesungguhnya.

1. Beban Biaya Regulasi yang “Mencekik” Operator

Inilah isu utama yang disorot oleh ATSI. Sebelum operator bisa membangun satu menara 5G pun, mereka sudah dihadapkan dengan berbagai biaya regulasi atau regulatory charges yang sangat tinggi. Ini bukan sekadar pajak biasa, melainkan serangkaian pungutan yang membebani keuangan perusahaan telekomunikasi.

Ketua Umum ATSI, Dian Siswarini, mengungkapkan fakta yang mencengangkan. “Kalau kita bandingkan dengan negara lain ya regulatory charges kita itu sudah sangat tinggi antara 12%-40% terhadap total revenue growth,” ujarnya. Bayangkan, hingga 40% dari pendapatan operator bisa habis hanya untuk membayar kewajiban ini.

Baca Juga

  • Pembatasan Media Sosial Anak di Indonesia Disorot Media Asing
  • Aturan Batas Usia Media Sosial: YouTube dan Meta Belum Patuh

Advertisement

Apa saja komponen biaya ini?

  • Biaya Hak Penggunaan (BHP) Frekuensi: Ini adalah “biaya sewa” spektrum frekuensi kepada pemerintah. Untuk 5G, dibutuhkan spektrum yang lebar dan harganya sangat mahal.
  • Universal Service Obligation (USO): Kewajiban bagi operator untuk menyisihkan sebagian pendapatan mereka guna membangun jaringan di daerah 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal). Tujuannya mulia, namun menjadi beban finansial yang signifikan.
  • Pajak dan Pungutan Daerah: Berbagai retribusi yang dikenakan oleh pemerintah daerah untuk pembangunan infrastruktur seperti menara BTS.

Dengan beban seberat ini, operator harus berpikir dua kali untuk mengalokasikan dana miliaran dolar untuk investasi besar seperti 5G. Ibaratnya, kantong mereka sudah kempes bahkan sebelum mulai belanja.

2. Infrastruktur Penunjang yang Belum Siap Tempur

Jaringan 5G tidak bisa berdiri sendiri. Ia membutuhkan fondasi infrastruktur yang kokoh, terutama jaringan serat optik (fiber optic) yang sangat padat. Mengapa? Karena 5G menggunakan frekuensi yang lebih tinggi, jangkauannya lebih pendek dibandingkan 4G. Artinya, dibutuhkan lebih banyak Base Transceiver Station (BTS) yang letaknya lebih berdekatan.

Baca Juga

  • Permintaan Chip AI Nvidia Meledak, Pesanan Tembus Rp16.985 T
  • Manufaktur Apple di Amerika Serikat Resmi Gandeng Bosch-TSMC

Advertisement

Setiap BTS ini harus terhubung ke “jalan tol data”, yaitu kabel serat optik berkecepatan tinggi. Tanpa fiberisasi yang merata, BTS 5G hanya akan menjadi pajangan mahal. Kecepatan yang dijanjikan tidak akan pernah tercapai karena datanya terjebak di “jalan tikus” infrastruktur yang lambat.

Membangun jaringan serat optik di seluruh nusantara adalah tantangan raksasa, mengingat kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Inilah salah satu alasan RI susah pindah ke 5G secara merata dari Sabang sampai Merauke.

3. Permintaan Pasar & Kesiapan Ekosistem

Faktor ketiga yang sering dilupakan adalah dari sisi konsumen. Apakah kita, sebagai pengguna, sudah benar-benar membutuhkan 5G saat ini? Bagi sebagian besar orang, jaringan 4G sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari seperti:

Baca Juga

  • Penemuan Cadangan Emas China Sebesar 1.000 Ton di Hunan
  • Biaya Teknologi Perang AS Membengkak Lawan Drone Murah Iran

Advertisement

  1. Streaming video di YouTube atau Netflix
  2. Bermain game online populer
  3. Melakukan video call dan meeting online
  4. Browsing media sosial

Karena “kasus penggunaan” atau use case yang benar-benar masif dan mendesak belum terasa, operator pun melihat permintaan pasar masih adem ayem. Mereka bertanya, “Untuk apa investasi besar-besaran jika mayoritas pelanggan belum merasakan urgensinya?”

Selain itu, ekosistem perangkat juga menjadi pertimbangan. Meskipun ponsel 5G sudah banyak tersedia, harganya masih relatif lebih tinggi dibandingkan ponsel 4G. Penetrasi perangkat 5G yang masih terbatas membuat operator enggan untuk mempercepat pembangunan jaringan secara agresif.

Masa Depan 5G Indonesia: Kapan Bisa Ngebut?

Melihat ketiga tantangan tersebut, jelas bahwa percepatan adopsi 5G di Indonesia memerlukan kerja sama dari berbagai pihak. Pemerintah perlu meninjau kembali struktur biaya regulasi agar lebih ramah investasi. Ini akan memberikan ruang napas bagi operator untuk berinvestasi lebih besar pada teknologi baru.

Baca Juga

  • Serangan Houthi ke Israel Memantik Eskalasi Militer AS di Iran
  • Bahaya stasiun pengisian daya publik yang Mengintai Pengguna HP

Advertisement

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur dasar seperti serat optik harus terus digenjot hingga ke pelosok. Tanpa fondasi ini, mimpi 5G merata akan tetap menjadi mimpi.

Pada akhirnya, walau terasa lambat, perjalanan menuju 5G tetap berjalan. Namun, jangan berharap kecepatan internet kita akan melesat dalam waktu dekat. Prosesnya bertahap, kompleks, dan membutuhkan solusi cerdas dari regulator, operator, dan kesiapan pasar itu sendiri.

Baca Juga

  • Mikroba Tertua dalam Batu Kuno Ditemukan, Berusia 2 Miliar Tahun
  • Dampak Media Sosial pada Remaja: Psikolog Beri Kesaksian Ahli

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
5G ATSI internet cepat operator seluler Teknologi
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleTerungkap! 3 Fakta Penting Denda TikTok Caplok Tokopedia Rp15 Miliar
Next Article 3 Fakta Mengejutkan Kesepakatan TikTok Trump, China Tak Tergoyahkan!
Olin Sianturi
  • Website

Olin Sianturi adalah seorang Content Writer di Media TechnoNesia dan GadgetVIVA, berpengalaman dalam menulis artikel informatif dan SEO-friendly. Spesialisasinya mencakup teknologi, gadget, elektronik, game. Dengan gaya penulisan yang menarik dan mudah dipahami, Olin mampu menghadirkan konten berkualitas yang relevan dan bernilai bagi pembaca.

Artikel Terkait

Tablet Murah untuk Menulis: 3 Rekomendasi Terbaik Harga 2 Jutaan

Olin Sianturi31 Maret 2026 | 00:54

Aturan Batas Usia Media Sosial: Komdigi Tegur TikTok-Roblox

Iphan S31 Maret 2026 | 00:22

Bahaya Nasihat AI Chatbot: Studi Stanford Ungkap Sisi Gelap

Iphan S30 Maret 2026 | 22:22

Quick Share Samsung Apple Kini Tersedia di Perangkat Galaxy Lama

Olin Sianturi30 Maret 2026 | 21:22

Pembatasan Media Sosial Anak di Indonesia Disorot Media Asing

Ana Octarin30 Maret 2026 | 17:54

Aturan Batas Usia Media Sosial: YouTube dan Meta Belum Patuh

Iphan S30 Maret 2026 | 15:54
Pilihan Redaksi
Elektronik

Kulkas Satu Pintu Terbaik 2026: Pilihan Estetis dan Awet

Olin Sianturi26 Maret 2026 | 14:00

Kulkas satu pintu terbaik 2026 menjadi incaran utama keluarga Indonesia yang ingin mempercantik area dapur…

Misteri Kuno Lapisan Es Mencair: Dunia Masa Lalu Terungkap

26 Maret 2026 | 08:05

Penutupan Aplikasi Sora OpenAI: Strategi Baru Demi IPO 2026

26 Maret 2026 | 11:15

Rice Cooker Digital vs Manual: Mana Paling Untung di 2026?

26 Maret 2026 | 07:55

Layanan Motorist Pertamina 2026 Siaga Bantu Pemudik Kehabisan BBM

26 Maret 2026 | 07:30
Terbaru

Tablet Murah untuk Menulis: 3 Rekomendasi Terbaik Harga 2 Jutaan

Olin Sianturi31 Maret 2026 | 00:54

Aturan Batas Usia Media Sosial: Komdigi Tegur TikTok-Roblox

Iphan S31 Maret 2026 | 00:22

Bahaya Nasihat AI Chatbot: Studi Stanford Ungkap Sisi Gelap

Iphan S30 Maret 2026 | 22:22

Quick Share Samsung Apple Kini Tersedia di Perangkat Galaxy Lama

Olin Sianturi30 Maret 2026 | 21:22

Pembatasan Media Sosial Anak di Indonesia Disorot Media Asing

Ana Octarin30 Maret 2026 | 17:54
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.