Close Menu
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

5 Juni 2026 | 13:02

Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar

4 Juni 2026 | 07:27

HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa

3 Juni 2026 | 05:22
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara
  • Strava Rilis Fitur Baru: Olahraga Kini Makin Personal, Ada Terapi Fisik dan Anti Nyasar
  • HP Paling Laris di Dunia 2026, Apple dan Samsung Berkuasa
  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?
  • Komunitas Supermoto Makassar Jelajahi Wisata Ikonik Sulsel
  • Inovasi Gigabyte Computex 2026: Era Baru Teknologi AI
  • HP Gaming Terbaik 2026: 6 Pilihan Performa Monster Rp2 Jutaan
  • Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota
Rabu, Juli 8
Facebook Instagram YouTube TikTok WhatsApp X (Twitter) LinkedIn
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • OtoTekno
    • Elektronik
    • Gadget
    • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
TechnoNesia.IDTechnoNesia.ID
  • Berita Tekno
  • Trending
  • Gadget
  • Elektronik
  • Otomotif
  • Tech
  • Game
  • Aplikasi
  • Anime
Beranda » Berita Tekno » Gelar hukum dan kedokteran Disebut Sia-sia Karena AI?
Berita Tekno

Gelar hukum dan kedokteran Disebut Sia-sia Karena AI?

Ana OctarinAna Octarin5 April 2026 | 05:22
Bagikan Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Tumblr Email Telegram Pinterest
Gelar hukum dan kedokteran
Gelar hukum dan kedokteran (Foto: www.cnbcindonesia.com)
Bagikan
Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TechnonesiaID - Gelar hukum dan kedokteran kini tengah menjadi sorotan tajam di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI yang semakin tidak terbendung. Pernyataan kontroversial ini muncul dari Jad Tarifi, sosok yang dikenal sebagai pendiri tim AI generatif pertama di Google. Menurut pandangannya, investasi waktu bertahun-tahun yang dikorbankan mahasiswa untuk meraih gelar di bidang hukum atau medis berisiko menjadi langkah yang sia-sia.

Tarifi memberikan peringatan serius bahwa kecepatan inovasi AI akan jauh melampaui waktu yang dibutuhkan seseorang untuk menyelesaikan pendidikan profesinya. Saat seorang mahasiswa akhirnya lulus dan siap terjun ke dunia kerja, teknologi AI diprediksi sudah mencapai level yang mampu menangani tugas-tugas kompleks yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh manusia. Hal ini menciptakan celah besar antara apa yang dipelajari di bangku kuliah dengan kebutuhan industri yang sudah terdisrupsi.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Untuk mendapatkan gelar hukum dan kedokteran, seorang individu biasanya harus menghabiskan waktu hampir satu dekade, mulai dari masa perkuliahan, praktik kerja, hingga sertifikasi profesi. Durasi yang sangat panjang ini menjadi titik lemah di era digital yang bergerak dalam hitungan bulan, bukan lagi tahun.

Baca Juga

  • Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara
  • Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Advertisement

Relevansi Gelar Hukum dan Kedokteran di Tengah Dominasi AI

Jad Tarifi menekankan bahwa pada saat seseorang menyelesaikan gelar PhD atau spesialisasi tertentu, teknologi AI mungkin sudah menyelesaikan masalah-masalah teknis yang selama ini menjadi inti dari pendidikan tersebut. “AI sendiri akan hilang dalam artian menyatu dengan sistem saat Anda menyelesaikan gelar PhD. Bahkan hal-hal seperti penerapan AI pada robotika akan terpecahkan saat itu,” ujar Tarifi dalam sebuah wawancara yang dikutip dari Fortune.

Kritik utama Tarifi tertuju pada metode pendidikan konvensional yang masih sangat mengandalkan sistem hafalan. Di sekolah kedokteran, mahasiswa dituntut menghafal ribuan terminologi medis dan prosedur klinis. Sementara itu, di fakultas hukum, mahasiswa harus menguasai tumpukan pasal dan preseden hukum yang sangat masif. Padahal, database AI mampu mengakses dan memproses informasi tersebut dalam hitungan detik dengan akurasi yang terus meningkat.

Kondisi ini membuat mahasiswa yang mengejar gelar hukum dan kedokteran berpotensi masuk ke pasar tenaga kerja dengan bekal pengetahuan yang sudah usang. Ketika kurikulum pendidikan belum sempat diperbarui, teknologi AI sudah melangkah ke tahap berikutnya, menciptakan standar kerja baru yang mungkin tidak lagi memerlukan intervensi manusia untuk tugas-tugas administratif dan analisis data dasar.

Baca Juga

  • Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota
  • Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Advertisement

Disrupsi Akademik dan Percepatan Inovasi

Bukan hanya gelar profesi dasar, Tarifi juga menyoroti gelar akademik lanjutan seperti PhD. Ia berpendapat bahwa nilai tambah dari gelar tersebut kian menyusut karena percepatan inovasi di bidang AI melampaui waktu penyelesaian riset. Seringkali, temuan riset yang dilakukan selama bertahun-tahun sudah ditemukan atau dipecahkan oleh algoritma AI sebelum disertasi tersebut diterbitkan.

Dunia medis, misalnya, sudah mulai merasakan dampak ini melalui penggunaan AI dalam diagnosis radiologi dan penemuan obat baru. Di sisi lain, dunia hukum mulai menggunakan AI untuk meninjau ribuan dokumen kontrak dalam waktu singkat. Tantangan bagi pemilik gelar hukum dan kedokteran adalah membuktikan bahwa mereka memiliki nilai lebih yang tidak bisa sekadar digantikan oleh barisan kode pemrograman.

Tarifi berargumen bahwa keberhasilan di masa depan tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak kredensial akademik atau gelar yang berderet di belakang nama seseorang. Fokus utama akan bergeser pada kemampuan individu untuk beradaptasi dengan alat-alat teknologi sambil tetap mempertahankan esensi kemanusiaannya.

Baca Juga

  • Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!
  • Potensi Gempa Besar Ciremai Terlacak dari Struktur Tanah Terbalik

Advertisement

Keterampilan Manusia yang Tak Tergantikan Mesin

Meskipun prediksi ini terdengar suram bagi dunia akademisi, Tarifi memberikan solusi bagi generasi muda. Ia menyarankan agar mahasiswa tidak hanya terpaku pada pengumpulan gelar, tetapi mulai mengasah keterampilan yang tidak mudah ditiru oleh kecerdasan buatan. Kemampuan berempati, kesadaran emosional, dan hubungan antarmanusia yang kuat adalah aset yang akan tetap mahal harganya.

Seorang dokter mungkin bisa digantikan oleh AI dalam hal mendiagnosis penyakit berdasarkan gejala klinis, namun AI tidak bisa memberikan dukungan emosional kepada pasien yang sedang menghadapi masa sulit. Begitu pula dengan pengacara; meskipun AI mampu menyusun draf kontrak, kemampuan negosiasi yang melibatkan intuisi dan pemahaman mendalam terhadap psikologi lawan bicara tetap menjadi domain manusia.

Oleh karena itu, pemegang gelar hukum dan kedokteran di masa depan harus mampu memposisikan diri sebagai mitra teknologi, bukan pesaing. Pengembangan diri secara emosional dan keterampilan interpersonal menjadi kunci agar tetap relevan di pasar kerja yang semakin kompetitif dan terotomatisasi.

Baca Juga

  • Pekerja Penutup Pintu Taksi Otonom Raup Ratusan Ribu
  • Penyebab Manusia Jarang Kidal Menurut Penelitian Terbaru

Advertisement

Pergeseran paradigma ini menuntut institusi pendidikan untuk segera merombak kurikulum mereka. Pendidikan tidak boleh lagi hanya berfokus pada transfer informasi, melainkan pada pengembangan perspektif unik dan pemecahan masalah yang kreatif. Tanpa transformasi ini, kekhawatiran Tarifi mengenai waktu yang terbuang sia-sia bisa menjadi kenyataan bagi banyak lulusan baru.

Pada akhirnya, teknologi memang akan mengubah cara kerja banyak profesi secara fundamental. Namun, perubahan ini seharusnya dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas layanan manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Tantangan besar bagi siapa pun yang sedang menempuh gelar hukum dan kedokteran adalah memastikan bahwa mereka belajar untuk menjadi lebih manusiawi di tengah dunia yang semakin digital.

Baca Juga

  • Penyelundupan Chip AI Nvidia ke China Diselidiki Taiwan
  • Krisis Chip Smartphone Global Bikin Penjualan HP Anjlok

Advertisement


Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Elektronik, Anime, Game, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TechnoNesia. Ikuti kami di :
  • Instagram : @technonesia.id
  • Facebook : Technonesia ID
  • X (Twitter) : @technonesia_id
  • Whatsapp Channel : Technonesia.ID
  • Google News : TECHNONESIA
Jad Tarifi karir masa depan Kecerdasan Buatan Pendidikan Tinggi Teknologi AI
Share. Copy Link WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Threads Telegram Email Pinterest
Previous ArticleChatGPT di Apple CarPlay: Cara Pakai dan Fitur Unggulannya
Next Article Tablet Windows Terbaik 2026: 6 Pilihan untuk Skripsi & Editing
Ana Octarin
  • Website

Ana Octarin adalah seorang Penulis Berita yang fokus pada teknologi, otomotif, serta tips dan trik seputar kehidupan digital. Dengan gaya bahasa yang lugas, informatif, dan mudah dipahami, Ana mampu menghadirkan konten yang tidak hanya relevan tetapi juga bermanfaat bagi pembaca. Berbekal pengalaman dalam menulis artikel SEO-friendly, Ana konsisten menyajikan berita terkini, ulasan mendalam, hingga panduan praktis yang membantu audiens tetap update dan melek teknologi.

Artikel Terkait

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Inovasi Gigabyte Computex 2026: Era Baru Teknologi AI

Olin Sianturi3 Juni 2026 | 03:07

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37

Modus Penipuan Kloning Suara Intai Anak Anda, Waspadalah!

Iphan S2 Juni 2026 | 19:37
Pilihan Redaksi
Aplikasi

Stop Gangguan! 7 Cara Ampuh Blokir Iklan di HP Android yang Tiba-tiba Muncul

Olin Sianturi20 Desember 2025 | 18:27

Bosan dengan iklan tiba-tiba? Pelajari 7 metode jitu menghilangkan iklan pop up Android dari Chrome,…

XL SATU ‘Manjakan’ Pelanggan dengan Penawaran Spesial di Bulan April

23 April 2025 | 13:23

7 Strategi Jitu Cara Menambah Followers TikTok Cepat (Update Algoritma 2026)

1 Februari 2026 | 00:59

3 Prompt Gemini AI Edit Foto: Ubah Diri Jadi Miliarder Emas & Dolar

2 Oktober 2025 | 20:20

Link Download FF Beta 1.118.1 Terbaru 2026 dan Cara Install

14 Mei 2026 | 19:55
Terbaru

Industri Teknologi dan Polisi Global Bongkar Sindikat Online Scams Asia Tenggara

Ana Octarin5 Juni 2026 | 13:02

Scan Wajah Nomor HP Baru Bayar Rp 3.000, Siapa yang Bayar?

Ana Octarin3 Juni 2026 | 04:37

Inovasi Gigabyte Computex 2026: Era Baru Teknologi AI

Olin Sianturi3 Juni 2026 | 03:07

Saham Softbank Melonjak, Kuasai Pasar Jepang Lampaui Toyota

Iphan S3 Juni 2026 | 01:37

Misi Penyelamatan Satelit Palapa: Kisah Heroik Astronaut NASA

Ana Octarin2 Juni 2026 | 22:37
technonesia-ads
TechnoNesia.ID
Member Of : Media Publica
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Terhubung Dengan Kami
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp LinkedIn
www.technonesia.id by PT Jotech Inovasi Mandiri © 2026 | All Rights Reserved

Media Publica Networks :

UpToDai Media Bekasi GadgetDiva Ronde Aktual

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.