TechnonesiaID - Teknologi penyimpanan data DNA kini memasuki babak baru setelah ilmuwan asal China berhasil menciptakan terobosan revolusioner berupa “kaset” DNA yang mampu menampung informasi dalam skala masif. Penemuan ini menjadi jawaban atas kekhawatiran dunia mengenai keterbatasan lahan dan energi untuk pusat data (data center) konvensional yang kian membengkak. Para peneliti mengembangkan sistem bernama DNA Cassette Tape, sebuah metode yang menggabungkan biologi molekuler dengan mekanisme penyimpanan mekanis tradisional.
Sistem inovatif ini menggunakan untaian DNA yang menyatu dengan strip plastik sepanjang 100 meter. Kapasitasnya sangat mencengangkan, di mana satu gulungan pita tersebut mampu menyimpan hingga 3 miliar lagu. Jika ilmuwan memperpanjang pita tersebut hingga 1 kilometer, maka teknologi penyimpanan data DNA ini sanggap menampung sekitar 362 ribu terabyte data atau setara dengan 60 miliar foto berkualitas tinggi.
Angka tersebut jauh melampaui kemampuan perangkat keras yang kita gunakan saat ini. Sebagai perbandingan, mayoritas laptop kelas atas hanya memiliki kapasitas penyimpanan antara 0,5 hingga 2 TB. Sementara itu, smartphone yang umum beredar di pasaran hanya berkisar pada kapasitas 125 GB atau 256 GB. Dengan kata lain, satu gulungan pita DNA ini bisa menggantikan jutaan perangkat penyimpanan silikon yang ada di dunia saat ini.
Baca Juga
Advertisement
Keunggulan Teknologi Penyimpanan Data DNA Dibandingkan Media Konvensional
Para penulis penelitian dalam jurnal Live Science menegaskan bahwa DNA memiliki potensi besar sebagai media informasi generasi berikutnya. Hal ini karena DNA menawarkan kepadatan penyimpanan yang sangat tinggi dalam ruang yang sangat minim. Struktur heliks ganda DNA memungkinkan informasi tersimpan dalam unit molekuler yang jauh lebih kecil daripada transistor pada chip komputer mana pun.
Penggunaan teknologi penyimpanan data DNA dengan konfigurasi gulungan pita bertujuan untuk memaksimalkan pemanfaatan ruang material. Tim peneliti menjelaskan bahwa desain ini memperluas area fisik dan kapasitas penyimpanan hanya dengan meningkatkan panjang pita, tanpa memerlukan ruang penyimpanan yang luas secara horizontal. Ini adalah solusi cerdas untuk mengatasi krisis ruang di pusat data global yang saat ini mengonsumsi lahan luas dan energi listrik dalam jumlah besar.
Selain kapasitas, aspek keberlanjutan menjadi nilai tambah utama. Pusat data berbasis silikon memerlukan pendinginan aktif terus-menerus agar tidak mengalami overheating. Sebaliknya, teknologi penyimpanan data DNA bekerja secara pasif dan tidak membutuhkan daya listrik saat data hanya disimpan, sehingga jauh lebih ramah lingkungan dan hemat biaya operasional jangka panjang.
Baca Juga
Advertisement
Ketahanan Luar Biasa Hingga Puluhan Ribu Tahun
Salah satu tantangan terbesar dalam penyimpanan data digital adalah usia pakai media penyimpanan. Hard disk dan SSD biasanya hanya bertahan sekitar 5 hingga 10 tahun sebelum risiko kerusakan data meningkat. Namun, tim peneliti China membuktikan bahwa penyimpanan di DNA memiliki kemampuan untuk diawetkan dalam waktu yang sangat lama. Mereka menyimpan untaian DNA pada kerangka organik logam yang disebut MOF (Metal-Organic Framework).
Lapisan perlindungan MOF ini bertindak sebagai perisai terhadap faktor lingkungan yang merusak. Berdasarkan hasil pengujian, pita teknologi penyimpanan data DNA ini mampu bertahan lebih dari 345 tahun jika disimpan pada suhu ruangan. Jika suhu diturunkan hingga 0 derajat Celcius, masa pakainya melonjak drastis hingga 20.000 tahun. Ketahanan ini memastikan informasi penting umat manusia dapat tersimpan melintasi peradaban tanpa takut kehilangan data akibat degradasi material.
Keunikan lainnya terletak pada kemudahan pemeliharaan. Jika pita fisik mengalami kerusakan atau terputus, para peneliti mengklaim bahwa pita tersebut bisa diperbaiki hanya dengan menggunakan perekat transparan biasa tanpa merusak integritas data di dalamnya. Hal ini hampir mustahil dilakukan pada cakram optik atau piringan magnetik hard disk yang sangat sensitif terhadap goresan sekecil apa pun.
Baca Juga
Advertisement
Mekanisme Kerja dan Proses Pengambilan Data
Untuk mengelola data yang sangat padat, peneliti menerapkan sistem pelabelan yang canggih. Tiap bagian pita dicetak dengan kode batang (barcode) khusus yang berfungsi sebagai indeks. Kode batang ini menunjukkan file mana saja yang tersimpan di bagian pita tersebut, sehingga proses pencarian data menjadi lebih terorganisir dan cepat.
Cara kerja perangkat pembacanya pun sangat unik, menyerupai pemutar kaset lawas (walkman). Kamera khusus ditempatkan pada mesin pemutar yang memiliki dua rol penggerak. Saat pita bergerak di antara dua rol, kamera akan memindai kode batang untuk menemukan file yang diminta. Setelah posisi file ditemukan, bagian pita tersebut akan dicelupkan ke dalam larutan basa untuk melepaskan untaian DNA dari kerangka pelindungnya.
Setelah DNA terlepas, mesin akan melakukan proses pengurutan (sequencing). Urutan basa nitrogen yang terdiri dari Adenin (A), Sitosin (C), Guanin (G), dan Timin (T) kemudian diterjemahkan kembali oleh algoritma komputer menjadi kode biner (0 dan 1). Hasil akhirnya adalah file digital utuh, baik itu berupa lagu, foto, maupun dokumen teks, yang memiliki kualitas persis sama dengan aslinya.
Baca Juga
Advertisement
Meskipun saat ini proses membaca dan menulis data DNA masih memerlukan waktu lebih lama dibandingkan akses ke SSD, para ilmuwan optimis bahwa kecepatan ini akan meningkat seiring perkembangan teknologi bioteknologi. Implementasi teknologi penyimpanan data DNA di masa depan diprediksi akan menjadi standar baru bagi pengarsipan data jangka panjang bagi pemerintah, perpustakaan nasional, hingga perusahaan teknologi raksasa.
Dunia kini sedang memperhatikan bagaimana China memimpin perlombaan penyimpanan data biologis ini. Dengan keberhasilan menciptakan sistem kaset DNA, impian untuk menyimpan seluruh pengetahuan manusia dalam satu ruangan kecil bukan lagi sekadar fiksi ilmiah. Kemajuan teknologi penyimpanan data DNA ini menandai era di mana biologi dan informatika menyatu demi menjaga warisan digital manusia tetap abadi.
Baca Juga
Advertisement
- Instagram : @technonesia.id
- Facebook : Technonesia ID
- X (Twitter) : @technonesia_id
- Whatsapp Channel : Technonesia.ID
- Google News : TECHNONESIA